
Entah sudah sampai ke dunia mana. Karena saking lelahnya atau efek hamilnya, Alya tetap tidak bangun.
Meski sekarang ditempati Bu Mirna, tapi kamar itu, kamar yang di tempati Alya pertama datang ke rumah itu. Padahal baru mau jam 8 Alya tetap terlelap di bawah selimut dengan nyaman.
Tapi itu semua memang kesempatan emas untuk Alya. Kalau bersama suaminya mana bisa. Pasti tangan Ardi bergerilya kemana- mana. Sebelum Ardi tidur, Alya berasa menjadi mainan yang terus diulak alik Ardi.
Sementara Ardi merasa mendapatkan acc dari ibu mertuanya berjalan dengan hati berbunga- bunga. Hayalanya bakal tercapai, malam ini akan dilalui dengan indah bersama istrinya. Ardi kemudian masuk ke kamar mertuanya itu.
“Ck..” Ardi berdecak melihat rambut Alya yang menyembul di bawah selimut. Tapi tubuhnya masih tertutup. Ardi merasa benar-benar dibodohi oleh rasa khawatirnya yang berlebihan.
Ardi kemudian ikut naik ke ranjang, masuk ke dalam selimut, menelusurkan kedua tanganya memeluk perut istrinya hangat.
“Sayang kok tidur di sini, bangun yuk! Ini kan kamar Ibu” bisik Ardi sambil menciumi pundak istrinya.
Perlakuan Ardi membuat Alya kegelian dan menggeliat. Tapi masih malas bangun.
“Yuk bangun yuk!” ucap Ardi lagi membangunkan Alya.
“Ih” akhirnya Alya tersadar.
Menyadari tangan Ardi, Alya menghempaskan suaminya. Sebagai ekpresi betapa kesalnya Alya.
Alya membuka matanya malas, Alya bangun dan langsung mengkerucutkan bibirnya, menunduk ke bawah tidak mau menatap Ardi.
“Kok kasar sih Yang?” tanya Ardi tersinggung.
“Hhhh ganggu aja, kenapa ibu ijinin dia masuk sih? Jadi gagal kan ini pasti nanti” batin Alya rencana ngambeknya berantakan.
Tidak tahu dia sudah menimbulkan kekacauan melebihi targetnya.
“Ke kamar kita yuk! Ngapain tidur di sini? Nggak baik tidur di sini Sayang” tanya Ardi ikut bangun dan membelai lembut rambu Alya yang berhamburan.
“Nggak usah pegang- pegang!” tutur Alya masih cemberut dan menangkis tangan Ardi.
“Kamu kenapa sih?” tanya Ardi gusar.
“Tau! Udah sih sana pergi! Nggak usah ganggu aku!” usir Alya semakin kasar.
“Yang!” panggil Ardi dengan nada sedikit keras tidak terima dengan sikap Alya yang semakin menjadi.
“Lian nggak mau tidur sama Mas! Sana keluar!” usir Alya dengan wajah sangat menyebalkan, sudah rambutnya acak-acakan, mulutnya cemberut matanya mata bantal. Alya merasa masih kesal ke Ardi.
“Kok gitu? Apa salah Mas?” tanya Ardi akhirnya terpancing ikut emosi. Ardi frustasi menghadapi Alya dan merasa Alya sangat aneh.
“Pokoknya Lian mau tidur di sini, titik!” ucap Alya lagi watak kerasnya keluar.
“Jelasin dulu kenapa ingin tidur di sini?” tanya Ardi lagi, merasa sekarang perlu tegas ke Alya. Dan mengeluarkan jiwa kepemimpinanya.
Nggak tau apa Ardi dibuat pusing sampai nangis dan sekarang Alya tanpa rasa bersalah malah bentak- bentak suaminya nggak sopan. Ardi merasa ada yang nggak beres dengan istrinya.
“Kenapa Lian harus jelasin? Terserah Lian suka- suka Lian” Alya masih membantah suaminya.
Kalau tadi di jalan ada Pak Arlan dan Faisal, Alya menahan karena malu, sekarang di kandang Alya ingin ungkapin semua amarahnya. Alya berbicara ketus sesukanya.
“Alya Berlian Sari! Kau!” bentak Ardi emosi saking sudah tidak tahanya dari pagi sudah selalu dibuat senam jantung. Tapi kenapa Alya tidak juga mengerti, seberapa khawatirnya Ardi.
Untuk pertama kalinya Alya dibentak Ardi, Alya menangis merasa Ardi kelewatan. Sudah membuat cemburu malah bentak- bentak.
"Kenapa malah nangis sih?" tanya Ardi benar-benar dibuat pusing sama Alya.
Dan di saat seperti itu, Bu Rita yang baru siuman yang hendak menemui Alya ditemani Bu Mirna sudah ada di depan pintu menyaksikan pertengkaran anak dan menantunya.
Mereka berdua sama- sama tertegun dan malu. Bu Rita menyalahkan Ardi berbicara tinggi ke Alya. Bu Mirna menyalahkan Alya jadi perempuan tidak sopan ke suaminya.
Semntara Tuan Aryo yang mau ke ruang kerja, ingin memeriksa cctv dan cari tau detail lengkap kejadian tadi pagi, mampir dan menegur istri dan besanya.
“Ehm, Mah, ini urusan mereka. Tinggalkan mereka Mah” tegur Tuan Aryo.
Suara Tuan Aryo membuat Ardi dan Alya menoleh dan malu. Karena ternyata orang tuanya mendengarkan mereka bertengkar.
Meski sudah ditegur Tuan Aryo. Bu Mirna dan Bu Rita tidak mengindahkan.
“Ardi!” panggil Bu Rita ingin memberi pelajaran.
__ADS_1
“Alya!” panggil Bu Mirna merasa malu terhadap sikap Alya.
“Ibu? Mamah?” gumam Alya lirih menahan malu.
“Haishh” Ardi mendesis merasa sangat menyebalkan.
Sudah istrinya tantrum nggak jelas, ditambah ada yang ikut campur di urusan rumah tangganya. Belum lagi anak buahnya belum laporan.
Melihat suasana tindak kondusif Tuan Aryo menengahi. Tuan Aryo tahu gelagat istrinya mau masuk ke ranah rumah tangga anaknya yang tidak seharusnya di lewati. Mencegah itu terjadi Tuan Aryo mempunyai ide.
“Nak Alya, Ardi, ayo turun, Papah ingin ajak kalian makan malam” tutur Tuan Aryo di luar dugaan Bu Rita dan Bu Mirna. Bu Rita dan Bu Mirna sampai melongo. Kok tiba - tiba ada acara makan malam di luar.
“Maksud papah apa?” tanya Bu Rita.
“Bu Besan, Mamah Rita istriku sayang. Ayo kita siap- siap sudah lama kita nggak makan di luar! Jangan berdisi nontonin anak-anak!" tutur Tuan Aryo membubarkan barisan, dan menggandeng Bu Rita pergi.
“Ya Pah” jawab Ardi bahagia, papahnya benar- benar bisa diandalkan.
“Denger kata Papah kan ayo kita siap- siap” bisik Ardi mengajak Alya keluar dari kamar ibunya.
Karena ketangkap basah orang tuanya Alya pun tidak berani bertingkah. Sambil merapihkan rambutnya dan menunduk Alya turun dari kasur Bu Mirna dan mengikuti suaminya.
Saat berpapasan dengan Bu Mirna di pintu, Bu Mirna dengan tatapan tajam menoel Alya tangan Alya.
“Ibu perlu ngomong sama kamu nanti. Jangan malu- maluin ibu, kalau nggak ibu mau pulang ke Jogja”
“Iya Bu, nanti ya. Maafin Alya” ucap Alya lirih, melirik Ardi yang sudah berjalan cepat masuk ke kamarnya.
Alya kemudian terpaksa menyusul Ardi masuk ke kamarnya.
“Istri mang ditakdirkan nggak boleh protes, harus selalu nurut” batin Alya kesal merasa gagal ngambek.
Di kamarnya Ardi menunggu Alya di dekat pintu, setelah Alya masuk Ardi langsung mengunci pintunya.
“Kok dikunci Mas?” tanya Alya merasa Ardi curang.
“Diam! Duduk!” ucap Ardi tegas.
Alya menelan salivanya, ternyata suaminya saat marah seram. Tapu kenapa sekarang Ardi marah. Kan harusnya Alya yang marah. Alya kemudian menunduk diam mengikuti perintah Ardi.
“Kamu udah ganti baju tidur, pindah ke kamar ibu, maksudnya apa?” tanya Ardi mengintervensi.
Alya diam menunduk tidak mau menjawab.
“Oke kalau nggak mau jawab. Kamu tau pas mas keluar kamar mandi nyari kamu nggak ketemu? Mas kira kamu diculik atau dicelakain orang. Mas khawatir sama kamu, sampai mas telpon orang luar, Mas suruh papah Mamah nyari kamu. Dan ternyata kamu tidur!” omel Ardi ingin Alya tau apa yang terjadi.
Alya masih diam merasa tidak bersalah.
"Tau nggak?" tanya Ardi kesal.
“Ya maaf” ucap Alya lirih.
“Dan kamu tau? Mamah itu sampai pingsan nyariin kamu”
“Mamah? Pingsan? Kok bisa?” tanya Alya tidak percaya,masih merasa dirinya tidak bersalah.
“Ya bisalah, masalah kita belum selesai Sayang. Mia itu suruhan Lila dan kakaknya, anak buah Mas sekarang lagi nyari mereka, dan kita nggak tau siapa aja yang bekerja pada Lila sebelum Lila ketangkep. Kita sedang dalam keadaan waspada. Malah kamu begini"
"Begini gimana?"
"Ya kamu bikin mas khawatir, tidur di kamar ibu nggak ijin. Kamu tau nggak gimana seisi rumah khawatirin kamu?” omel Ardi lagi.
“Ya kan, Alya cu-“jawab Alya masih mau membantah tapi dipotong Ardi.
“Alya istriku!” panggil Ardi memotong dengan nada membentak. “Ingat Mas suamimu, Mas belum selesai bicara!”
“Ehm, iya” jawab Alya menunduk.
“Di saat seperti ini tolong jangan buat masalah, dan jangan mas tambah pusing. Kenapa kamu bersikap seperti anak kecil begini? Hah?”
Alya diam, sambil berfikir tapi masih gengsi untuk minta maaf.
Di saat seperti itu orang tua mereka mengetok pintu kamar memberitahu kalau mereka sudah siap buat makan malam di luar.
__ADS_1
“Ar, Al, yuk makan di luar yuk. Mamah tunggu ya!” ucap Bu Rita.
“Mamah duluan Mah, Ardi dan Alya nyusul, wa tempat makanya aja!” jawab Ardi masih ingin selesaikan masalah dengan istrinya.
“Oke” jawab Bu Rita meninggalkan Ardi.
Tuan Aryo sudah menegur Bu Rita agar tidak ikut campur. Biar Ardi selesaikan masalahnya sendiri.
Setelah terdengar suara Bu Rita menjaug. Lalu Ardi kembali menatap tajam ke muka Alya.
“Jawab pertanyaan Mas, kamu kenapa? Jangan kaya anak kecil Yang, mas tau kamu lagi marah, tapi marah kenapa? Sebutin salah mas apa?” tanya Ardi lagi.
Merasa disidang suaminya. Alya tidak menjawab dan akhirnya lolos lagi air matanya. Senjata Alya saat tersudut adalah air matanya.
“Ck” Ardi hanya berdecak tidak tahan dengan air mata istrinya itu.
Ardi langsung meraih Alya dan menariknya masuk dalam pelukanya.
“Berapa kali sih mas bilang, katakan ada apa? Kalau ada sesuatu jangan dipendam. Mas sayang banget sama kamu. Tolong jangan begini” tanya Ardi frustasi sambil mengelus bahu Alya.
“Lian nggak suka, mas deket- deket sama cewek di restoran itu, Lian sebbel” ucap Alya sambil menangis akhirnya mengungkapkan perasaanya.
“Astagah” ucap Ardi melepaskan pelukanya sambil berdecak merasa konyol. Ternyata Alya cemburu.
Lalu Ardi meraih kedua pipi Alya dengan kedua tangannya agar menghadap ke arahnya.
“Jadi daritadi kamu cemburu sama Ara?” tanya Ardi dengan senyuman konyolnya.
“Huum” jawab Alya mengangguk dengan sangat imut.
Ardi mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alya dengan hangat, menyesapnya dengan penuh ga**rah, menumpahkan segala amarah, menukarkan dengan paduan rasa yang saling menghangatkan dengan nafas mereka berpadu menjadi satu.
Alya hanya pasrah mengikuti arah suaminya. Lalu Ardi memasukan lidahnya dan bermain di sana. Merilekan semua ketegangan yang sempat terjadi.
Setelah merasa lega, Ardi melepaskanya pelan dan menatap Alya dengan senyuman.
“Maafin Mas kalau sikap Mas. buat kamu cemburu” tutur Ardi pelan.
“Nggak!” jawab Alya merajuk.
“Dia sahabat mas Sayangkuh, dia juga udah tunangan mau nikah juga, dia juga non muslim, kamu nggak perlu cemburu! Mas tadi juga udah kenalin kamu kedia kan?" jawab Ardi berusaha menenangkan.
“Maas” gantian Alya yang bentak Ardi. Masih sempet bela diri.
“Ya maaf” jawab Ardi mengalah dan kembali duduk memperhatikan istrinya yang masih merajuk.
“Lian nggak mau punya Lian disentuh- sentuh orang, haaii heloo cipika cipikii, apaan itu. Kessell” omel Alya akhirnya menumpahkan kekesalanya sambil memperagakan suaminya dan Ara. Alya meremas bajunya sangat kesal.
Ardi melihat dan merasakan kekesalan alya sekarang. Karena dirinya juga sering merasakan semua itu. Ardi langsung memeluk Alya lagi,
“Iya maaf! Mas janji, nggak akan ada perempuan lain yang mas ijinin sentuh Mas!” ucap Ardi menenangkan Alya.
“Janji sekarang? Nggak tau kalau nggak ada aku?”
“Janji Sayang. Mas minta maaf, suer mas janji! kalau nggak kita beli kamera pengawas kita pasang di tubuh kita masing- masing, gimana? Mau begitu biar kamu percaya?"
“Nggak perlu. Awas aja kalau centil- centil lagi! Jangan sentuh Lian dan anak Lian!” ancam Alya cemberut.
“Iya, iya nggak, mas minta ampun, Sayangku. Iya Mas salah. Pukul mas biar kamu lega!”
“Aku nyimpen nomor cwok doang nggak boleh, Mas centil_ centil. Ihhh kesell jijik aku ingatnya” umpat Alya lagi mengungkapkan kekesalanya.
“Udah- udah cup cup" rayu Ardi mengusap-usap kepala Alya. Alya hanya mendelik ke Ardi.
"Udah yuk ah. Ganti baju kita susul papah mamah” ajak Ardi merasa masalahnya sudah selesai.
Malam itupun Alya gagal buat Ardi kesel dan ngambek. Mereka memang bergantung satu sama lain. Dan sama-sama pencemburu tingkat dewa.
Tetep aja Alya nggak bisa jauh dari Ardi dan Bu Mirna pasti marah kalau Alya tidur di kamar lain tanpa persetujuan suaminya.
Malam itu apapun masalah yang mereka hadapi, kaluarga Tuan Aryo tetap tenang dan harmonis. Sepulang makan malam, Ardi menyempatkan mengajak Alya jalan-jalan menyusuri jalan, menikmati suasana malam yang romantis.
Malam itu mereka kembali mesra dan tetap tidur bersama.
__ADS_1