Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
52. Rencana Mama Rita 3


__ADS_3

"Ehm... "Bu Rita berdehem sedikit gerogi. Lalu menatap suaminya meminta bantuan.


Sementara, Bu Mirna, Alya dan Ardi tampak dheg-dhegan menunggu Bu Rita membuka mulut.


"Saya mengumpulkan kalian di sini, karena.. " omongan Bu Rita terpotong.


"Kita akan membahas tentang pernikahan anak kita" sahut Tuan Aryo memotong istrinya.


"What?" tanya Ardi kaget, sedikit senang, tapi juga bingung padahal Ardi belum pernah cerita tentang Lian.


"Apa Om? Pernikahan? Maksudnya?" Alya sangat kaget dan tidak mengerti.


"Ya, Om ingin Kamu dan Ardi segera menikah" jawab Tuan Aryo singkat.


"Maksude piye? Kamu mau menjodohkan putriku yang berharga ini untuk anak sontoloyomu ini?" tanya Bu Mirna gusar. Bu Mirna hendak menolak, karena sejak awal Bu Mirna tidak suka dengan perangai Ardi.


"Sebentar Jeng, akan saya jelaskan" jawab Bu Rita tidak menyangka respon Bu Mirna tidak baik. Lalu Bu Rita melihat ke Alya dan Ardi.


"Maksudnya apa Tante?" tanya Alya dengan panggilan berbeda karena syok.


Bu Rita pun menunduk, ragu keputusanya salah dan akan dibenci Alya. Bu Rita menelan salivanya, kembali bertekad niatnya benar dan harus berhasil.


"Alya, ada yang mau Mama sampaikan" jawab Bu Rita lembut dan hati-hati.


Mendengar kata Alya, Ardi kaget dan melihat ibunya. Ardi tidak menyangka perempuan yang dia kenal Lian adalah Alya. Yang hendak dikenalkan ibunya.


"Alya Mah?" tanya Ardi berbisik "Dia Lian bukan Alya".


"Diam kamu!" Bu Rita menginjak kaki Ardi tidak menghiraukan pertanyaan Ardi.


"Mas Aryo, Jeng Rita, terus terang saja saya tidak setuju kalau tiba-tiba begini, apalagi anakku dijodohkan dengan anakmu yang sontoloyo ini" Bu Mirna menerobos percakapan, tidak terima punya mantu sombong dan tidak ramah.


Alya tersenyum lega mendengar ibunya membelanya. Sementara Ardi, geram, merasa terhina dengan pernyataan Bu Mirna. Melihat situasi yang memanas. Bu Rita mengambil senjatanya yang tersimpan di amplop.


"Tapi anak-anak kita saling mencintai Jeng" jawab Bu Rita melancarkan aksinya. "Iya kan Nak?" tanya Bu Rita menatap Alya dan Ardi.


Ardi menggaruk kepalanya. Drama apa yang dibuat ibunya. Bisa-bisanya ibunya berkata begitu.


Alya sangat syok dengan pernyataan Bu Rita."Saling mencintai, mencintai darimananya?" batin Alya tidak masuk akal.


"Alya nggak ngerti, apa maksud Mama Rita?" tanya Alya dengan wajah pucat dan keringetan.


Lalu Bu Rita mengeluarkan foto-foto di dalam amplop. Semua mata tertuju pada foto-foto itu. Wajah Alya langsung merah padam dan menahan malu. Tidak pernah menyangka, bahkan ada orang yang menguntitnya, mengambil fotonya. Ini tindak kriminal.


"Pah!" Ardi memekik kecewa menatap papahnya yang sedari tadi tampak tenang. "Ardi sudah dewasa Pah, kenapa papah masih saja menyewa pengawal buat buntuti Ardi?" tanya Ardi kecewa terhadap Ayahnya.


"Papah, tidak akan menyewa pengawal kalau kamu menuruti perkataan papa dan mamahmu" jawab Tuan Aryo tenang.


"Dan terima Arlan jadi sopirmu" lanjut Tuan Aryo, dia ingin Ardi punya sopir dan asisten agar tidak bertindak sesuka hati.


Sementara Bu Mirna meraih foto-foto anak kesayanganya. Bu Rita agak kaget melihatnya. Alya terlihat dekat dengan Ardi si laki-laki tidak sopan. Tapi tidak ada yang salah dengan foto itu. Hanya nampak seperti dua sejoli yang sedang malu-malu kencan pertama kali. Itu bukan sesuatu yang genting hingga dia ditelepon tengah malam.


"Jadi bagaimana Jeng?" tanya Bu Rita ke Bu Mirna.


"Kalian berdua" tutur Bu Rita menatap Ardi, "Kami orang tua kalian, kami akan sangat bahagia dengan kejujuran kalian, jujurlah kepada kami, jangan bertindak di belakang hingga salah langkah" lanjut Bu Rita menatap Alya.

__ADS_1


Bu Rita sangat berharap perkiraanya benar. Bu Rita mengira Alya dan Ardi memang sudah jadian. Makanya Alya nolak Farid. Tapi ada yang aneh dengan Ardi karena menolak dikenalkan dengan Alya. Makanya mempertemukan mereka dengan cara seperti ini adalah tindakan tepat.


"Nggak Mah. Ini salah paham. Alya akan jelaskan, kejadian sebenarnya tidak seperti yang terlihat di foto!" jawab Alya mencoba menjelaskan dan meluruskan. Bahwa tidak ada hubungan apapun di antara keduanya.


Bu Rita merasa kecewa dengan penjelasan Alya. Bu Rita menelan salivanya. Lalu mengingat satu bukti lagi.


Ardi masih tidak bisa menerima kalau perempuan yang dia dekati adalah Alya. Tanganya mengepal merasa dibohongi. "Jadi dia adalah Alya? Perempuan ini Alya?" guman Ardi memperhatikan apa yang terjadi di depanya.


"Mah Ardi butuh bicara dengan Lian" jawab Ardi di tengah-tengah ketegangan.


Bu Rita mengangguk, mempersilahkan Ardi berbicara dengan Alya.


Ardi bangkit dan meraih tangan Alya yang duduk di pinggir.


"Ikut aku" Ardi menyeret Alya.


"Apa sih mas?" jawab Alya kesal berusaha melepaskan genggaman tangan Ardi.


Ardi membawa Alya taman di depan ruang keluarga. Ardi memegang Alya dan menempatkan Alya berdiri menempel tembok. Ardi mengunci Alya dengan Ardi beridi di hadapanya dan tangan menahan tembok.


Alya menelan salivanya. Jantungnya berdebar-berdebar bertatapan sedekat itu dengan Ardi. Alya menyimpan penyesalan, kaget dan tidak mengerti, kenapa Alya di tempatkan di situasi nggak jelas seperti sekarang.


"Katakan kalau kamu bukan Alya" ucap Ardi menatap Alya serius.


"Apa maksudmu?" jawab Alya menahan debaran jantungnya.


"Siapa namamu? Katakan padaku kalau kamu bukan Alya!"


Alya diam meraih nametag yang masih menggantung di Id Card_nya. Lalu menunjukan ke muka Ardi.


"dr. Alya Berlian S" Ardi melotot membaca nama Alya.


Melihat Ardi gusar Alya diam mengatur nafasnya. Meredam emosi dan mencoba menetralkan stressnya.


"Katakan kamu bukan guru ngaji di panti" sambung Ardi menanyakan kembali.


"Aku memang bukan guru. Aku hanya berkunjung sesekali waktu" jawab Alya pelan.


Lalu Ardi kembali menatap Alya dalam.


"Jadi Lo sengaja tinggal di apartemen, buat merayuku dan bekerja sama dengan mamaku? Agar aku menikahimu?" tanya Ardi kasar.


Wajah Alya langsung memerah darahnya langsung naik mendengarnya. Alya sangat tidak terima dikatai menggoda laki-laki. Padahal jelas-jelas Ardi yang selalu mendatanginya.


"Plak!" Alya menampar Ardi.


"Berani ya Kamu!" ucap Ardi menyentuh pipinya yang terasa pedas. Tidak menyangka perempuan berwajah lembut di depanya berani menampar.


"Jaga mulutmu! bahkan aku menyesal pernah menerima bantuan dari keluargamu, sampai aku harus bertemu dengan laki-laki tua berotak kerdil sepertimu" jawab Alya sinis balik mengatai Ardi.


"What? Kamu mengataiku?"


"Ya! Sebuah kesalahan buatku karena tidak dari awal aku cari kos! Selesaikan masalah kesalah pahaman di luar dan jangan temui aku lagi!" ancam Alya melotot di depan Ardi.


"Bukankah ini yang kamu rencakan. Bukanya kamu yang ingin menikah denganku? Dan menggodaku?"

__ADS_1


"Brug!" Alya mendorong Ardi sekuat tenaga sampai terjatuh.


"Sial" Ardi mengumpat dan mengepalkan tanganya.


"Dengar baik-baik Tuan Ardi Gunawijaya. Bahkan aku menyesal karena sudah mengenalmu dan keluargamu. Aku juga menyesal menolak Kak Farid jika endingnya begini" ucap Alya sinis. "Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki kekanakan sepertimu!" lanjut Alya mengatai Ardi yang beridiri di depanya.


Tangan Ardi mengepal menatap kepergian perempuan berbaju scrub dan berjilbab itu. Ardi tidak terima dihina dan dikata-katai. Ardi bertekad membuat Alya menyesali kata-katanya.


****


Di Ruang keluarga.


"Foto ini tidak menunjukan apapun, Jeng" tutur Bu Mirna meletakan foto-foto Alya dan Ardi.


"Semenjak pengawal anakku tau dia sering mendatangi putrimu, suamiku mengaktifkan cctv di apartemenku, coba lihatlah video ini" Bu Rita mengambil rekaman dari laptop Tuan Aryo.


Rekaman itu memang tidak utuh dan jelas. Hanya terlihat Alya berjalan memapah Ardi ke kamar. Lalu Alya keluar membawa pakaian. Setelah itu balik ke kamar dan mati lampu. Tidak ada aktivitas lagi yang terekam kamera sampai pagi. Saat pagi-pagi baru Alya keluar kamar.


Bu Mirna menatap dan menonton video tanpa suara itu. Videonya mengambang, menyisakan pertanyaan, tapi tidak ada jawaban apa yang terjadi di dalam kamar. Kecuali dari si pelaku di dalam kamar itu. Video itu hanya menjelaskan mereka bermalam berdua di dalam satu kamar.


"Saya percaya putriku" jawab Bu Mirna menelan saliva sedikir ragu.


"Saya juga mencoba mempercayai anakku dan putrimu Mir. Itulah kenapa saya mengundangmu dan mempertemukan mereka. Kita dengarkan mereka" jawab Bu Rita menjelaskan ke Bu Mirna.


Pak Aryo tampak yakin kalau pernikahan yang diinginkan Bu Rita akan segera terjadi. Tuan Aryo ingin agar Putranya segera mengakhiri masa lajangnya. Meskipun dalam hatinya yakin Ardi dan Alya tidak melakukan apapun. Dia bersengkokol menggiring opini ke Bu Mirna bahwa terjadi sesuatu antara Alya dan Ardi.


"Putrimu cantik Bu Mirna, Anakku sudah tidak muda lagi, tidak ada jaminan ketika mereka bermalam bersama dalam satu ruang, foto-foto ini sebagai petunjuk, ada saling ketertarikan di antara mereka" Tuan Aryo menambahkan.


"Saya hanya ingin bertanggung jawab, dan menebus kesalahanku sudah lalai menjaga Alya. Ardi anak kandungku aku berdosa jika diam saja. Daripada dibiarkan, malah jadi keterusan, semakin cepat semakin baik bukan?" tambah Bu Rita meyakinkan Bu Mirna. Bahwa menikahkan mereka adalah hal terbaik.


Bu Mirna semakin terpojok, nyalinya ciut. Hatinya tergores. Apa putrinya benar-benar melakukan hal sehina itu? Padahal Bu Mirna hendak menjodohkan Ustad di kampungnya dengan Alya. Dia baru ketrima PNS mengajar di SMAN. Tapi apa jadinya kalau ustad itu tau kalau Alya sudah tidak perawan lagi.


"Bagaimana Jeng?" tanya Bu Rita ke Bu Mirna yang tampak diam.


Lalu datang Alya datang dari laur dan duduk menatap ibunya.


"Alya, jelaskan ke Ibu tentang video ini" ujar Bu Mirna lemah menunjukan video ke Alya.


Alya membuka video itu, mulutnya tercekat bahkan di apartemen ada cctvnya. "Picik sekali keluarga Bu Rita?"gumam Alya tidak menyangka, Bu Rita yang dikenal berhati malaikat bahkan menyabotase kegiatannya. Ardi datang mengekor di belakang Alya.


"Ya Bu, Mah, Pah. Kami melakukanya" ceplos Ardi dari belakang, membuat semua bengong. Ardi yang bukan anak muda lagi menangkap arah pembicaraan orang tuanya.


"Apa Nak?" tanya Mama Rita ikut tidak percaya.


"Melakukan apa Mas? Jangan ngawur kamu!" bentak Alya masih tidak percaya dengan pernyataan Ardi.


"Plak" Bu Mirna menampar Alya. Ardi, Bu Rita dan Pak Aryo kaget melihatnya. Tidak mengira Bu Mirna akan menampar Alya. Ada rasa kasian terhadap Alya. Tapi mereka tidak berhak mencampuri urusan ibu dan anak.


Alya memegang pipinya. Bibirnya tercekat. Air mata Alya mengalir. Ibunya mempercayai apa kata Ardi dan video itu.


"Bu.... ini tidak seperti yang Ibu pikir, Alya bisa jelasin, percayalah Bu!" jawab Alya terbata, Alya merasa terpojokan.


"Ibu malu Nak sama kamu, Ibu malu, Ibu kecewa. Bahkan kamu berduaan dengan laki-laki sembrono ini!"


"Ibu percayalah dengan Alya. Video ini tidak menjelaskan apapun, tidak ada bukti apa yang terjadi di dalam kamar, Alya tidak melakukan apapun" Alya mencoba menjelaskan dengan jujur.

__ADS_1


"Saya mohon maaf Bu, saya khilaf. Kami melakukanya. Saya akan bertanggung jawab, saya akan menikahi Alya secepatnya" jawab Ardi menyela pernyataan Alya.


Alya menelan salivanya, mendengar pernyataan Ardi yang tidak masuk akal. Tangan Alya mengepal, air matanya menetes tidak bisa melawan.


__ADS_2