Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
136.Bukti


__ADS_3

Tbc di Jogja


Alya dan Ardi berpandangan tersenyum mendengar Anya dan Farid kompak mau jemput Dinda. Itu berarti mereka pergi bersama. Ardi menggenggam tangan Alya kemudian mengajak kembali ke ruangan Bu Mirna.


"Mas kok Kak Farid bisa ke sini?"


"Dia mau ada seminar katanya" jawab Ardi.


"Jadi bukan Mas yang suruh dia kesini?"


"Bukan sayang, ngapain mas nyuruh-nyuruh" jawab Ardi.


Saat masuk ke dalam ternyata Bu Mirna sedang dipriksa. Ardi dan Alya sebagai wali pasien mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter. Alhamdulillah Bu Mirna sore ini sudah boleh pulang. Setelah selesai memeriksa dokter pergi melanjutkan pekerjaanya.


"Bu" panggil Ardi duduk di depan Bu Mirna sambil memegang tangan mertuanya.


"Nopo?"


"Ardi serius lho Bu! Ibu ikut ke Jakarta ya" tutur Ardi lembut. Kali ini Ardi berbicara sopan dan serius.


Bu Mirna menghela nafasnya. Membalas memegang tangan menantunya.


"Rumah ibu di Jogja, ibu ndak mau kemana-mana"


"Tapi Alya pengen rawat ibu" sambung Alya ikut duduk di ujung bed dekat kaki Bu Mirna.


"Iya Bu, ikutlah dengan kami" imbuh Ardi lagi.


Bu Mirna diam tidak menjawab menatap anak dan mantunya. "Sekarang yang penting pulang dulu. Yuk siap-siap!"


Alya mengangguk lalu mengemasi barang-barang. Bu Mirna memang sudah membaik. Tapi tangan kirinya sudah tidak normal seperti sebelumnya. Tekanan darahnya juga sudah turun tapi masih harus rutin minum obat setiap hari. Alya berfikir, ibunya tidak boleh tinggal sendirian.


Sementara Alya berkemas, Ardi keluar mendapat panggilan dari Dino. Meski baru dua hari ditinggal ternyata Dino sudah cukup kewalahan mengerjakan tugas tanpa bosnya itu. Itu berarti Ardi tidak boleh lama-lama di Jogja.


"Dari siapa Maas?" tanya Alya lembut setengah berbisik.


"Dino" jawab Ardi lesu, sambil berfikir, bagaimana dia akan pulang.


Ardi harus segera kembali ke Jakarta. Ardi juga tahu pasti Alya masih ingin di Jogja. Tapi Ardi sendiri tidak mau jauh-jauh dari istrinya, apalagi terpisah lama.


"Apa ada sesuatu? Semua baik-baik saja kan?" tanya Alya perhatian.


"Emem" jawab Adi mengangguk dan tersenyum sendu.


"Temen-temen gimana Mas? Kita pulang nunggu mereka atau gimana?"


"Mereka udah dewasa, biarin mereka jalan-jalan. Nanti mas telp Dika untuk langsung ke rumah. Kita pesan taksi aja?" jawab Ardi tersenyum. "Apa perlu kita beli mobil buat disini?" tanya Ardi.


"Siapa yang mau rawat dan make, kita rayu aja ibu mau ikut kita" bisik Alya ke suaminya sambil melirik ke Bu Mirna


"Siip" jawab Ardi memberikan jempol. "Mas urus administrasi dulu yah" pamit Ardi ke Alya. Tapi Ardi tetap berfikir ingin menyediakan mobil di rumah mertua.


****


"Aa Farid ngapain sih ikut-ikutan mau jemput Dinda. Emang kenal?" tanya Anya kesal di perjalanan. Anya berniat keluar dan janjian dengan Agung.


"Mas Dika emang kenal sama Dinda Mas?" tanya Farid ke Dika menjawab pertanyaan Anya.


"Ndak Mas, saya cuma manut sama perintah Mas Ardi" jawab Dika sopan.


"Denger kan Neng? Mas Dika aja nggak kenal mau jemput. Mang A'Farid harus kenal dulu baru boleh ikut jemput?" tanya Farid cerdas menskak mat Anya.


"Hemmmm" jawab Anya manyun lalu diam. Anya memikirkan bagaimana caranya bisa bertemu Agung.


Mereka pun sampai di stasiun. Anya menelpon Dinda dimana mereka berada. Setelah telponan, Dinda muncul, Dinda setengah berlari menunju ke Anya. Dan mereka berpelukan.


"Iuey... nyebelin banget sih. Pergi nggak ajak-ajak!" gerutu Dinda masih merasa terabaikan.


"Kan sekarang kita udah bareng. Gue juga belum kemana-mana kok. Pokoknya kita harus seneng-seneng disini" ucap Anya girang.


"Oke" jawab Dinda histeris lalu melirik ke Dika dan Farid.


Farid dan Dika di samping mobil memperhatikan mereka berdua sambil bersedekap. Mata Dinda terhenti saat melihat Dika.


Dinda tertegun melihat pria yang terlihat lebih muda darinya, tapi tatapanya tampak matang dan tenang. Pakaianya yang menggunakan kaos berkerah berwarna abu, celana jeans yang rapih dan jam tangan sportnya membuat Dika tampak lebih matang dan mapan. Didukung tubuh Dika yang berotot tidak terlalu tinggi tapi tampak bugar. Kulitnya sawo matang tapi bersih, membuat Dika terlihat maco.


"Mereka siapa?" bisik Dinda ke Anya.


"Oh ya, kenalin! Dia Mas Dika, sopir suaminya Alya selama di sini" tutur Anya ke Dinda menunjuk ke Dika.


Dika menundukan kepala tanda hormat begitu juga Dinda.


"Supir?" gumam Dinda sedikit kecewa. Sayang banget kalau laki-laki sekeren dia cuma supir. Padahal Dinda naksir dan ingin kenalan dengan Dika.


"Kalau ini. Aa Farid, dia" tutur Anya menunjuk ke Farid

__ADS_1


"Saya calon" sambung Farid mau memperkenalkan diri tapi dipotong Anya


"Dia teman suaminya Alya" sahut Anya memotong pembicaraan Farid. Farid menelan ludahnya sambil memandang Anya penuh ancaman.


Dindapun mengangguk dan memperkenalkan diri. Lalu mereka masuk ke mobil.


"Nyuwun sewu, Mbak Mas, Mas Ardi barusan ngabari, Bu Mirna sudah dibawa pulang. Ini kita langsung ke rumah Mbak Alya atau mau mampir?" tanya Dika sopan.


"Barang-barang gue gimana? Tas gue kan masih di rumah sakit?" tanya Anya.


"Sepertinya sudah dibawa Mbak Alya ke rumah Mba" jawab Dika.


"Yah. Padahal kan gue mau nyari hotel aja" gerutu Anya.


"Kok nyari hotel sih Nya? Kata lo kan di rumah Alya enak pemandangan dan suasananya. Gue juga pengen nginep di Alya aja. Gue kesini butuh udara segar" tanya Dinda tidak terima jika nginep di hotel.


"Hemmm" jawab Anya, menelan ludah melirik ke Farid bingung mau jawab Dinda apa.


Anya betah banget di rumah Alya, hanya saja suami Alya sok ngatur dan galak banget. Nggak punya malu lagi, mesra-mesraan di sembarang tempat. Sekarang ditambah ada Farid.


"Enggih Mba, daerah situ dekat dan banyak pariwisata. Mbaknya bisa liburan dan piknik besok" jawab Dika menimpali.


"Benarkah?" tanya Dinda kegirangan.


"Iya. Bisa naik jeep, buat ikut lava tour, seru lho Mbak" sambung Dika lagi. Farid ikut mendengarkan dengan seksama.


"Ya udah ke rumah Alya aja. Gue sabar, gue pengen banget main ke pegunungan gitu" jawab Dinda antusias. Sementara Farid dan Anya saling berpandangan.


"Ya udah iya ya. Nginep tempat Alya lagi!" jawab Anya memutuskan.


Mendengar rencana liburan Farid sangat tertarik apalagi ada Anya. Tapi bagaimana dengan undangan eminar ilmiahnya. Bagaimana dengan program lanjut S3nya. Sepertinya Farid harus mengubah rencananya.


"Berarti langsung pulang ya?" tanya Dika menegaskan.


"Iya" jawab Dinda bersemangat.


Anya diam manyun memegang ponselnya. Masih berusaha menghubungi Agung. Dan kali ini Agung menjawab. Mereka pun janjian di kafe dekat RSUP Sar***o.


"Din kamu nggak laper?" tanya Anya mencari alasan agar Anya bisa kabur dan ketemu Agung.


"Nggak begitu sih, tapi ya lumayan juga" jawab Dinda jujur tapi tidak menyenangkan Anya.


"Laper aja sih, kita mampir cari makan yuk" ajak Anya setengah maksain buat makan.


"Lhoh Neng kita kan baru makan?" sahut Farid dari depan.


"Ya udah kalau mau mampir, mau mampir kemana Mbak?" tanya Dika sopan.


"Kalau RS S masih jauh nggak? Tau kafe Mantap nggak?" tanya Anya menunjukan nama kafe yang ditunjukan Agung.


"Agak jauh sih mbak. Tapi kalau mbaknya mau. Saya antar kesana" jawab Dika.


"Mau makan doang kok jauh-jauh sih Neng? Di sekitaran rumah Alya kan banyak. Cari yang sejalan aja!" sahut Farid merasa ide Anya mencurigakan.


"Ehm" Anya berdehem kesal. "Pokoknya ke kafe mantap ya Mas Dika" jawab Anya bersikukuh.


"Nggeh Mbak" jawab Dika. Farid pun diam tidak membantah.


Dika tau kafe itu tempat nongkrong mahasiswa dan dokter-dokter. Karena Dika sendiri jika ketemuan dengan teman mahasiswanya ke situ juga. Lalu mereka menuju ke kafe Mantap.


"Apa istimewanya sih Mas, kafe mantap itu?" tanya Farid.


"Tempat nongkrong mahasiswa Mas" jawab Dika.


"Bagus Nggak? Makananya enak nggak?" tanya Dinda menimpali.


"Kalau makananya standar Mbak, tapi kalau tempatnya enak buat santai" jawab Dika jujur.


"Kok Mas Dika tahu?" tanya Anya.


"Saya dan teman-teman kampus juga suka ke situ" jawab Dika sopan.


"Lhoh Mas Dika kuliah?" tanya Dinda antusias dan penasaran.


"Iya Mba, saya kuliah semester 5" jawab Dika lagi.


"Oh gitu? Wah keren ya? Kok bisa jadi supir Kak Ardi?" tanya Dinda lagi. Mereka berdua mengobrol di luar topik pembicaraan awal.


"Sampingan Mba. Kebetulan saya ingin berkenalan dengan Mas Ardi" jawab Dika polos.


"Oh..kuliah dimana mas?" tanya Dinda lagi menunjukan ketertarikan.


Anya pun menatap Dinda sambil berdecak. Anya curiga melihat semangatnya Dinda mengobrol.


"Di UGM Mba" jawab Dika lagi.

__ADS_1


"Wah, orang pintar ternyata, ambil jurusan apa?" tanya Dinda lagi semakin berbinar. Ternyata Dika bukan supir biasa. Sepertinya naksir Dika bukan kesalahan.


"Jurusan nggak terkenal Mba, asal kuliah aja" jawab Dika merendah.


"Emang apa?"


"Biologi"


"Oh Biologi. Nyambung dong sama gue" jawab Dinda lagi dengan nada centil dan ceria.


"Ehm" Anya mendehem mulai geli melihat Dinda berbinar- binar dan centil. Masa iya Dinda naksir berondong.


"Masih jauh nggak sih Mas?" tanya Anya memotong obrolan Dinda dan Dika.


"Itu udah keliatan Mba" jawab Dika menunjuk kafe dengan taman yang asri dengan nama "MANTAP"


Dinda tampak senang melihat suasananya. Sementara Anya, panik dan gusar membuka tutup layar ponselnya. Farid terus memperhatikan gerak gerik Anya.


Mereka berempat turun. Dinda dengan semangat mensejajari Dika untuk masuk ke kafe. Anya tampak celingukan mencari seseorang. Farid dibelakang masih terus mengawasi Anya.


"Mau duduk dimana Mas Mba?" tanya Dika.


"Di sana!" tunjuk Dinda ke arah meja di pojokan kafe dekat taman dan kolam.


"Oh nggeh" jawab Dika mengangguk. Dinda dan Dika pun berjalan menuju ke meja itu. Sementara Anya yang mencari Agung tidak fokus dan tertinggal dari mereka.


"Ehm" Farid berdehem memperhatikan Anya.


"Kamu nyari siapa Neng? Dinda sama Dika udah nunggu tuh" tutur Farid menunggu Anya.


"A' Farid kenapa nungguin Anya. A' Farid duluan aja!"


"Anya, kamu nunggu pacar kamu? Ada A'Farid di sini lho! Kamu nggak hargain Aa" tutur Farid merasa dia calon suaminya.


"Hargain gimana maksudnya si A?"


"Kamu tau kan Abi mu telp Aa, Aa suruh jaga kamu. Bulan depan kita tunangan"


"A' bukanya kita udah sepakat buat gagalin perjodohan ini? A' Farid juga nggak cinta kan sama Anya. Udah A' Farid nggak usah ikut campur urusan Anya"


"A' Farid setuju dengan pertunangan kita" jawab Farid tegas.


"Kenapa? Karena Alya udah nikah? Bukan karena A'Farid cinta sama Anya kan?" jawab Anya sambil membuang muka dan kesal.


"Bagaimana kalau Aa cinta sama kamu?" tutur Farud pelan masih di depan pintu masuk kafe.


Anya menelan salivanya dan membuang muka dari Farid. Pandangan mata Anya tertuju dari laki-laki yang dia rindukan.


Sesosok pria berkacamata dengan tubuh tinggi kecil, dan rambut sedikit gondrong diikat ke belakang. Agung memang tidak sesispack Farid. Mungkin karena kesibukanya selama menempuh pendidikan spesialis Agung sedikit kurus.


"Agung" panggil Anya merasa bahagia.


Farid pun menoleh ke lelaki itu. Dada Farid bergemuruh, nafasnya memburu. Wajah ceria dan mulut cerewet gadis kecil yang dulu menjadi sumber semangatnya, kini tercurah untuk orang lain bukan dia lagi. Ada rasa tidak terima di hati Farid. Sakitnya melebihi sakit saat tau Alya dimiliki Ardi.


Lalu Farid meraih tangan Anya dan menarik mendekat kepadanya. Masih di depan pintu masuk kafe dan tepat di depan Agung.


Farid meraih dagu Anya. Lalu mencium bibir Anya, ********** dengan paksa, tanpa permisi. Anya mencoba memberontak. Tapi Farid yang rajin olahraga tenaganya kuat menahan Anya. Farid melepaskan bibirnya saat Anya kehabisan nafas.


Anya gelagapan tidak percaya Farid menciumnya. Rasa apa ini? Lalu Anya berbalik melihat Agung. Ada rasa bersalah dan khawatir. Agung berdiri tertegun mengepalkan tangan dengan menelan ludah. Anya langsung menatap panik.


"Agung ini tidak seperti yang kamu lihat" tutur Anya mendekat ke Agung.


"Jadi ini maksud lo datang ke sini?" tanya Agung kecewa. Sambil tersenyum sinis dan menghela nafas.


"Gue calon suami Anya, bulan depan kita tunangan" sambung Farid percaya diri mengenalkan diri.


Anya mendengarnya langsung melotot marah. Agungpun mengeratkan rahangnya dan membuang muka sinis ke Anya.


"Oke makasih Nya. Kita sampai di sini saja" ucap Agung kecewa dan berbalik arah.


"Nggak ini nggak seperti yang kamu lihat Agung, gue bisa jelasin" tutur Anya mengejar Agung.


Sementara Farid membiarkan Anya menyelesaikan masalahnya dengan Agung. Tapi Farid tetap mengikutinya.


"Jelasin apalagi sih? Lo jelas-jelas ciuman sama laki-laki lain di depan gue. Siapa dia?"


"Dia yang maksa cium gue. Gue nggak cinta sama dia. Kita dijodohin!"


"Oh dijodohin? Hah?" tanya Agung semakin kecewa.


"Gue cintanya sama lo?"


"Oke kalau emang lo cinta sama gue. Buktiin!"


"Maksud lo? Lo kurang bukti apa lagi Gung? Gue kesini nyamperin lo. Buat lo"

__ADS_1


"Malam ini tidur di kosan gue!" jawab Agung menantang


"Hah?" tanya Anya kaget dan syok.


__ADS_2