
Dentingan alarm, low alert ataupun high alert dari bed set monitor di IGD terdengar bersahut-sahutan. Suara itu membuat susunan irama.
Irama yang memacu jantung memompa lebih keras dan memaksa otak berfikir lebih cepat mengambil keputusan, untuk beberapa pekerja kemanusiaan di ruang itu. Mereka harus gesit ketika memlihat angka-angkanya di luar batas normal.
Beberapa orang lagi menjadi kebal seakan kupingnya tuli, mereka fokus terhadap apa yang mereka kerjakan di tanganya. Beberapa lagi, acuh tak peduli karena memang mereka tidak mengerti.
"Dokter Gery belum aktif ya?" tanya Dokter Ana.
"Belum Dok. Rencana nanti siang saya jenguk" jawab Dokter Alya.
"Duh Dokter anestesinya ada nggak ya? Pasien 1A butuh operasi segera" tanya Dokter Ana.
"Ada tapi jadwal malam" jawab Alya.
"Konsul aja kali ya?"
"Menurutku perbaikan KU, rujuk rumah sakit yang lebih lengkap Dok. Kasian kalau menunggu malah memperburuk" tutur Alya.
"Oke, iya sih itu yang terbaik" jawab Dokter Ana.
"Dok pasien 1B sudah selesai di heacting untuk luka luarnya. Keadaan pasien memburuk. TD 80/60 mmHG, N: 50x/m Dok" lapor perawat.
"Duh, masukan injeksi untuk memperbaiki nadinya. Sesuai yang kutulis" jawab Alya.
"Baik Dok!"
"Telpon ruang ICU yaa... dia rawat ICU".
"Baik Dok"
"Oh iya gimana udah dapet rujukan?"
"Ratna lagi cari rumah sakit rujukan Dok"
"Oke. Pasien 1C, udah stabil? Respirasi berapa! Saturasi terakhir? Nebulizernya udah selelsai belum?" tanya Alya lagi ke perawat.
"5 menit lagi Dok"
"Baiklah. Udah telepon bangsal penyakit dalam?"
"Belum Dok"
"Pesan kamar kelas 2 ya"
"Siap Dok" jawab perawat.
"Pasien 1D, tinggal nunggu hasil Laborat ya? Drip pacracetamol udah masuk kan?"
"Udah Dok"
"Oke, Makasih Mba" ucap Alya tersenyum.
Lalu Alya meneruskan pekerjaanya melengkapi RM. Setelah melengkapi rekam medis Alya berdiri berkeliling memastikan laporan kerja perawat benar adanya.
Belum Alya selesai memeriksa pasien telpon Rumah Sakit berbunyi. Alya kemudian berlari menjawabnya. Tidak peduli sedang hamil Alya selalu gesit dalam bekerja.
"Selamat Pagi, dengan IGD RSUD xx, saya Dokter Alya, ada yang bisa saya bantu" sapa Alya terhadap klien yang menelpon.
Ternyata telepon berasal dari salah satu puskesmas, yang hendak merujuk pasien melahirkan karena posisi bayinya bukan kepala.
"Bisa disebutkan diagnosa lengkapnya Ibu?" tanya Alya lagi. Setelah Alya bertanya-tanya, Alya mengkonfirmasi bagian kebidanan UGD.
"Mohoh ditunggu 5 menit lagi ya. Kami konfirmasikan ke bangsal terkait"
Lalu Alya memanggil rekan Bidanya, yang ternyata sedang sibuk menerima persalinan.
"Mba... mau ada rujukan nih letak Lintang, gimana? Bisa terima? Dokter pengganti Dokter Gery jam berapa sih?" tanya Alya ke Bidan
"Kalau keadaanya bagus bisa Dok. Dokter Andre nanti datang jam 19.00" jawab Bidan yang terlihat sedang menjahit jalan lahir pasien.
"Oke berarti gue terima ya, lapor Dokter Siska kan?"
"Ya Dok" jawab Bidan lagi.
Lalu Alya kembali menelpon dan memberi kepastian ke pihak puskesmas.
"Haaaah" Alya duduk menghela nafasnya dan memegang perutnya.
"Sehat-sehat baby, bekerja samalah sama ibu ya" batin Alya berkomunikasi dengan anaknya agar seterong diajak bekerja keras.
Meski tidak mengeluh sebenarnya Alya juga sesekali merasa kram dan sakit pinggang.
"Dokter Gery, Dokter Gery. Kenapa harus sakit segala sih Dok? Banyak yang nyariin kamu Dok?" batin Alya tiba-tiba mengingat sahabat suaminya itu.
Di rumah sakit baru itu, dokter anestesinya hanya ada satu dan belum tetap. Jadi kalau ada kegawatan yang butuh operasi, dokter umum dan perawat dibuat repot harus merujuk.
Di saat Alya melamun, perawat datang hendak laporan ke Alya dan Ana, selalu Dokter jaga pagi itu.
"Rumah sakit pusat ortopedi acc terima rujukan dari kita Dok"
"Oke, pasien stabil kan?" tanya Dokter Ana.
"Stabil Dok"
"Cukup perawat atau sama aku Dok ngerujuknya?" tanya Alya menawarkan diri.
__ADS_1
Karena beberapa dokter spesialis menghendaki Dokter Magang ikut merujuk dan bertanggung jawab selama di perjalanan.
"Dokter Alya kuat? Dokter lagi hamil lhoh" tanya Dokter Ana, dokter umum tetap di umah sakit itu.
"Saya boleh duduk di depan sama driver nggak?"
"Boleh, pasien stabil kok. Nanti di belakang keluarga dan perawat"
"Kalau boleh duduk di depan, nggak apa-apa insya Alloh babyku kuat kok! Deket ini" jawab Alya tersenyum.
"Oke" jawab Dokter Ana acc.
Entahlah jika Ardi dan keluarga besarnya tau. Mereka pasti akan murka Alya berangkat merujuk pasien.
Lalu beberapa perawat menyiapkan segala keperluan rujukan. Dan juga menunggu kedatangan keluarga pasien.
Kebetulan driver rumah sakit tidak ada yang stand by. Mereka juga sedang melakukan perjalanan kerja bersama petugas bangsal rawat.
Salah satu ambulan ada yang sudah selesai. Tapi masih dalam perjalanan kembali ke rumah sakit.
"Sambil nunggu makan dulu Dok, atau jajan aja? " tawar Dokter Ana.
Alya kemudian diam. Mengingat pesan mertua dan suaminya. Alya kan kalau makan sesuatu harus dicicipi dulu dan dipastikan tidak beracun.
"Dok, beli alpukat kocok aja ya! Di depan ada alpucok enak" ucap perawat menyela, memberikan ide.
Karena Alya tidak menjawab, Dokter Ana yang memutuskan dan bersedia membayar agar beli sejumlah pegawai.
Alya tidak bisa menolak. Seperti apapun ketatnya peraturan di keluarga Alya, jika sudah bergabung bersama teman-temanya semua menjadi tidak berlaku.
Alya menjadi manusia biasa seperti teman- temanya. Jajan dari pedagang kaki lima dan menikmatinya dengan segar. Saat minuman datang, semua juga mengambil secara acak. Jadi tidak mungkin dikasih racun. Dinikmati saja.
"Ahh, daripada di rumah was was. Selalu makan di luar bareng temen- temen aja kali yaak, hehe?" batin Alya tersenyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum Dok?" tanya perawat.
"Alpucoknya enak" jawab Alya asal.
Sambil menunggu driver tiba dan berangkat merujuk Alya dan perawat bersantai. Lalu Alya mengambil ponselnya yang sejak kemarin dianggurkan.
Selama Ardi ada di dekatnya, Alya akan susah memegang ponsel apalagi bermain. Karena aturan Ardi, perhatian Alya hanya boleh untuknya saja.
"Mba Intan" gumam Alya dalam hati.
Ternyata tadi malam Intan menerima tawaranya.
"Sepertinya Mba Intan butuh uang, dia benar-benar keluar dari butik" batin Alya.
Alya yakin dengan segenap hatinya Intan sudah berubah. Alya bisa merasakan dari tatap mata dan suaranya. Alya sangat ingin membantu Intan.
Tapi kan Alya sendiri yang meminta Intan membuat gaun untuknya. Kalau Alya membatalkan Alya tidak nyaman rasanya. Seperti PHP.
Kemudian Alya berfikir, agar Intan tetap buat, tapi nanti diserahkan pada Dara dan katakan itu dari Dara bukan Intan. Saat Alya hendak mengetik pesan Dirver ambulan datang. Alya menyimpan ponselnya lagi, menunda membalas pesan Intan dan kembali bekerja.
"Siap berangkat Dok"
"Ayo berangkat! Bismillah, surat rujukan dan surat tugas lengkap ya?"
"Lengkap Dok"
Alya, Perawat dan Driver kemudian berangkat menuju ke rumah sakit rujukan. Melakukan tugas kemanusian memperjuangkan keberlangsungan hidup pasienya. Karena ketiadaan Gery membuat pasien diserahkan ke rumah sakit lain.
Selama perjalanan Alya dan perawat selalu rutin memeriksa keadaan umum pasein. Sampai tempat rujukan pasien aman.
Alya kemudian melakukan operan. Setelah serah terima dan beberapa berkas beres Alya kembali pulang ke rumah sakitnya.
"Alhamdulillah lega ya" ucap Alya mengajak perawat ngobrol
"Iya Dok. Alhamdulillah"
"Mau mampir nggak Dok?" tanya driver.
"Nggak usah balik langsung aja" jawab Alya.
Saat di perjalanan pulang, Alya melihat bapak-bapak seragam orange memegang sapu tampak terjatuh memegang perutnya.
"Pak berhenti ada orang pingsan" tutur Alya ke driver.
Driver berhenti, Alya dan perawat segera turun memeriksa. Beberapa pejalan kaki juga ikut mendekat.
Karena Alya dan perawat memakai seragam, masyarakat menepi dan membiarkan Alya menolong.
"Dia ada respon dengar. Nafas dan nadinya juga normal, tapi dia kesakitan makanya nggak jawab pertanyaan kita. Kita bawa ke rumah sakit sekarang" tutur Alya ke perawat, setelah memeriksa.
"Baik Dok"
Perawat dan masyarakat membantu menaikan pegawai pembersih jalan itu. Kali ini Alya duduk di belakang.
"Pakaikan oksigen nasal kanul Mba" perintah Alya ke perawat. Alya kemudian memeriksa pasien lebih lengkap.
"Kolik abdomen kalau nggak salah apendik, nanti langsung periksa radiologi ya. Apa kita bawa analgetik?" tanya Alya ke perawat.
"Sebentar Dok" jawab perawat memeriksa kotak obat.
"Habis dok"
__ADS_1
"Ya udah nggak apa-apa sebentar lagi sampai kok" jawab Alya
Kemudian Alya menepuk pelan tangan pasien dan berkata lembut ke telinga pasien.
"Bapak dengar saya, Pak. Bertahanlah Pak, tahan sakitnya ya, ambil nafas panjang dan keluarkan pelan. Sebentar lagi sampai rumah sakit, kita akan tolong bapak"
Meski ucapan Alya tidak dibalas, Alya tetap tersenyum hangat. Perawat menatap Alya penuh kagum. Alya sendiri menatap Bapak berseragam oren ini dengan tatapan sendu.
Laki-laki tua yang rambutnya mulai beruban, kulitnya mulai mengkeriput. Tapi bapak ini masih mengayunkan tanganya memegang sapu membersihkan jalananan. Alya menjadi tersentuh.
Tidak lama mereka sampai di rumah sakit. Bapak seragam oren ini segera disambut dengan brankar. Dokter Ana bertanya pada dokter Alya, anter pasien, pulang dapet pasien juga.
"Oleh-oleh Dok" ucap Alya membercandai rekanya.
Lalu perawat memasang infus sesuai instruksi Dokter.
"Injeksi ketorolac dan ranitidin ya, nanti periksa radiologi. Kalau sudah sadar hubungi saya"
"Baik Dok, tapi kita tidak menemukan identitas pasien Dok. Untuk persetujuan tindakan dan biaya gimana Dok?" tanya perawat.
"Kita bantu meredakan sakitnya dulu. Kalau sudah sadar kita bisa anamnesa, identitasnya dan keluarganya. Untuk biaya tidak usah dipikirkan. Nanti urusan saya" jawab Alya lembut ke perawat.
Alya memandangi tubuh tua yang menahan skit itu. Alya Iba melihat bapak tua masih bekerja keras di jalan sampai pingsan di jalan. Dari pakaianya Alya juga menebak bapak tua ini tidak punya uang.
"Baik Dok" jawab Perawat
"Yang penting selamat dulu" jawab Alya lagi.
Kalau dilihat dari kulit dan wajahnya bapak tua itu mirip seseorang yang Alya kenal. Tapi entah siapa. Kulitnya juga bersih, tidak seperti tukang sapu yang lain.
Setelah beberapa saat. Pasien itu sadar, Alya dan perawat kemudian mendekat. Dan menyapanya dengan ramah.
"Selamat siang bapak. Apa kabar? Apa perutnya masih sakit? Yang dirasa sekarang apa?" tanya Alya ramah.
"Saya dimana? Saya harus bekerja" ucap bapak itu gelisah dan ingin bangun.
Dengan senyuman hangat dan sentuhan lembut. Alya menahan bapak itu dengan menyentuh lenganya.
"Bapak, bapak sekarang di rumah sakit. Bapak tadi pingsan di jalan. Berbaringlah, biar kita obati dulu ya" tutur Alya lembut.
"Saya tidak sakit. Saya tidak mau merepotkan anak saya. Saya harus bekerja, saya mau pulang" ucap Bapak itu.
"Bapak, kalau tidak diobati, bapak tidak bisa bekerja. Dan justru akan merepotkan anak bapak. Bapak diobati dulu ya" tutur Alya lagi.
Kemudian bapak ibu justru diam dan menangis.
"Kalau boleh tau siapa nama Bapak? Bapak tinggal dimana? Ada keluarga yang bisa saya hubungi?"
"Saya pulang saja Dok, saya tidak punya uang untuk berobat" ucap bapak itu.
"Apa bapak punya jaminan kesehatan?"
"Tidak, saya pulang saja Dok. Saya tidak mau buat anak saya sedih dan menjadi beban untuknya"
"Kalau boleh tau anak bapak umur berapa? Masih sekolah? Atau sudah bekerja?"
"Saya punya satu anak dan satu cucu balita. Tidak ada yang bekerja. Saya harus kerja"
Alya menghela nafasnya menahan iba. Kemudian Alya meraih tangan bapak tua yang mengkeriput itu.
"Bapak dengarkan saya. Kalau bapak mau bekerja, tinggalah di sini dulu sampai sembuh. Saya akan bantu bapak untuk membayar pengobatan Bapak, bapak tidak usah pikirkan biaya"
"Kenapa Dokter mau melakukan itu, saya tidak kenal Dokter" tanya Pak Didi menatap Alya.
"Karena saya tidak punya bapak, Pak. Saya juga kagum dengan semangat bapak bekerja. Saya ingin liat bapak tetap bekerja. Bagaimana? Mau ya? Bapak harus sembuh dan sehat untuk anak dan cucu bapak?" rayu Alya lagi dengan senyum manisnya.
"Saya tidak mau berhutang dan merepotkan. Saya pulang saja"
"Bapak, tidak repot kok. Alhamdulillah saya punya rejeki lebih. Saya ingin berbagi, saya tulus Pak. Mau ya?"
Bapak itu diam dan menatap Alya meneteskan air mata. Alya menatapnya dan menganggukan kepala meyakinkan bapaknya bersedia dibantu.
"Siapa nama Dokter?"
"Perkenalkan saya Alya Berlian Sari, suami saya memanggil saya Lian teman- teman biasa panggil Alya" jawab Alya tesenyum mengulurkan tangan.
"Baiklah Dokter Alya. Saya mau diobati" jawab Pak Didi akhirnya.
"Alhamdulillah, terima kasih sudah memberi kesempatan saya menolong bapak, Pak" tutur Alya lagi.
"Saya yang terima kasih Dokter"
"Yang penting bapak sehat ya. Setelah ini bapak ke ruang radiologi untuk diperiksa. Tapi sebelumnya, siapa nama Bapak?"
"Nama saya Didi"
"Pak Didi, bapak tanda tangani persetujuan tindakan ini ya. Tolong juga isikan nomer telepon keluarga Bapak, agar bisa kita kabari"
"Baik"
Pak Didi kemudian membubuhkan tanda tangan setuju terhadap semua tindakan. Dan memberikan nomor ponsel anaknya.
Perawat segera melakukan pemeriksaan sesuai instruksi. Alya kemudian mengambil nomer telepon keluarga Pak Didi dan hendak menelponya.
"Seperti tidak asing dengan nomor ponsel ini?" batin Alya memencet nomor ponsel yang diberikan pasienya.
__ADS_1