
Di sebuah gedung yang tinggi dan megah, di pintu masuk berdiri para abdi negara. Mengawal dan memastikan keamanan pertemuan para orang penting dan berpengaruh di negaranya. Lampu kamera yang dipegang oleh beberapa orang berseragam dan menggantung di lehernya ada di setiap sudut ruangan. Mereka diawasi media.
Ardi dan Tuan Aryo sebagai pengusaha berpengaruh di negaranya mendengarkan penjelasan presiden dengan seksama. Mematuhi tata tertib dan demi kelancaran acara, semua ponsel peserta rapat penting itu dimatikan. Baik Ardi dan Tuan Aryo tidak memperdulikan ponselnya.
*Mohon maaf ini aturan di negara fiktif ya, Author belum pernah rapat sama Presiden jadi tidak tau, yang pasti setau author, kalau ujian atau rapat serius hp memang di non aktifkan.
Rapat berlangsung lama, karena dihadiri oleh beberapa menteri, duta besar dari negara lain, dan tamu undangan Presiden dari negara lain. Mereka membahas investasi, pengembangan usaha, kerjasama dan lain sebagainya Tuan Aryo dan Ardi sangat konsentrasi dan tidak memikirkan apapun selain materi rapat.
****
Siang itu matahari bersinar cerah, memancarkan cahayanya dengan adil ke segala arah. Menghangatkan hati para insan yang menjalani kehidupan di muka bumi ini, semua itu selaras dengan hati yang sedang berbunga.
Apapun alasanya Farid tetap bahagia pergi bersama Anya. Bahkan jika di pikiran orang- orang lampu merah dan macet itu menyebalkan, buat Farid itu harapan. Farid berdoa di setiap lampu apil, selalu menyala merah saja, agar waktunya bersama Anya semakin lama. Menatap wajah tenangnya Anya sangat menyenangkan baginya.
“Eneng udah makan Neng?” tanya Farid membuka pertanyaan.
“Udah” jawab Anya singkat dan membuang pandangan ke jalan. Meski di acara lamaran Anya terlihat romantis menerima Farid, tapi nyatanya, Anya masih tengsin dan canggungan. Tapi Farid mengerti itu. Anya memang pemalu.
“Gimana semalem pasienya ramai?” tanya Farid lagi.
“Lumayan rame”
“Berarti sekarang ngantuk dong?”
“Ramenya sebelum jam 12 kok, jadi masih sempat tidur”
“Oh gitu? Berarti kalau udah nikah nanti Aa sering ditinggal malam ya?” tutur Faride mempercandai Anya.
“Ehm” membahas pernikahan membayangkan kehidupan setelah meikah Anya menjadi malu dan canggung, bahkan wajah Anya memerah seperti kepiting rebus.
Dan bayangan Anya yang pertama muncul adalah, bagaimana Anya akan menemui malam pertamanya dengan laki- laki di sampingnya ini.
“Neng kenapa??” tanya Farid tersenyum.
Saat Anya malu terlihat sangat imut, rasanya tidak sabar ingin segera sampai di hari akad. Farid ingin menyentuh kepala Anya dan mengusapnya tapi dia tahan.
“Nggak apa-apa” jawab Anya menoleh ke Farid.
“Tidak usah malu, pernikahan kita sebentar lagi lho!”
“Uhuk... uhuk...” Anya semakin batuk mendengar kata menikah lagi. Reflek tangan Farid menepuk-nepuk bahu Anya.
Dheg
Pandangan mereka saling bertemu, wajah mereka juga saling berhadapan dengan sangat dekat. Anya menelan ludahnya salah tingkah. Jantungnya berdebar sangat kencang. Untung mereka sedang nyetir, Anya bisa langsung menghindar.
*“A’ Farid ternyata ganteng juga” *batin Anya lamenepis tangan Farid dan menatap ke luar jendela.
“Ehm.... ehm..” Farid kemudian berdehem.
__ADS_1
Tiba- tiba ponsel Farid berbunyi memecahkan kecanggungan. Farid hanya melirik sekilas, ada nama perempuan dengan keluar gambar profil perempuan cantik dan imut. Anya ikut melihatnya, bibir Anya kemuian mengkerucut, entah apa namanya, tiba- tiba rasanya kesal dan sakit.
“Kok nggak diangkat A’?” tanya Anya jutek.
“Kan lagi nyetir Neng, katanya kalau lagi nyetir nggak boleh mainan ponsel” jawab Farid.
“Masa?”
“Kok masa?”
“Bukan karena lagi bareng sama Anya makanya nggak diangkat?” tanya Anya dengan muka sewot.
“Ya nggaklah, apa hubunganya angkat telepon ada dan nggak ada Neng?” jawab Farid lagi.
“Ya adalah”
“Apa”
“Tauk, pikir aja sendiri!”
“Aissh”
“Dasarr” gerutu Anya kesal dengan lirih tapi Farid masih mendengar. Farid tersenyum lagi melihatnya. Anya terlihat jelas sedang cemburu.
“Nanti kalau telpon lagi, Neng aja yang angkat”
“Kok gitu?” tanya Anya tidak habis pikir.
“Ih apaan sih?”
“Itu mahasiswi yang bimbingan sama Aa’ Neng paling minta konsul, Neng pernah jadi mahasiswa kaan?” terang Farid memberitahu Anya agar tidak salah paham.
“Ehm” Anya berdehem salahtingkah lagi dan mengusap tengkuknya malu.
Spontan akhirnya Farid meraih kepala Anya dengan lembut dan mengusapnya.
“Jangan cemburuan ya!” ucap Farid tersenyum.
Dheg “Apa ini, kenapa rasanya sebegini dheg- dhegan” batin Anya.
“Aa itu kantor polisi, kelewatan” seru Anya menyadari sudah melewatkan tempat Alya melewatkan
kantor polisi.
“Oh iya, putar balik” jawab Farid, karena jalan satu arah Farid maju dan mencari tempat untuk putar
balik.
Lalu mereka sampai ke tempat penyidikan. Ida, Mang Itong dan beberapa yang lain tampak duduk di kursi
__ADS_1
tunggu, sementara Alya sendiri tampak bangun dan seperti hendak masuk. Tapi karena melihat Anya dan Farid Alya berhenti dan memilih menemui Farid dan Anya dulu.
“Kalian?” tanya Alya dengan wajah berbinar.
Anya berlari kecil dan kemudian memeluk Alya.
“Apa yang terjadi, kenapa begini? Lo baik- baik aja kan?” bisik Anya.
“Aku baik, tukang kebun di tempatku pingsan setelah makan maakanku dan aku meneukan obat ini” cerita Alya.
“Sampaikan itu didalam, tenang ya!” ucap Farid ikut memberi dukungan.
“Makasih ya kalian udah dateng, ohya Nya, nanti jaga siang gimana?” tanya Alya khawatir.
“Aiih, masih sempet mikirin kerjaan, gampang Mah” ucap Anya.
“Ardi dan om Ayo udah tau belum?”tanya Farid.
Alya menggelengkan kepala. Dari dalam polisi datang lagi mengingatkan Alya. Tapi belum Alya menjawab iya polisi itu terhenti dan memperhatikan Farid.
“Pak Farid?” tanya polisi lalu menghampiri dengan sopan bahkan mencium tangan Farid dengan hormat. Di sini Farid terlihat sangat berwibawa dan dihormati. Alya dan Anya pun dibuat terpana melihatnya.
“Apa kabar Pak?” tanya polisi tampan itu.
“Baik, kamu apa kabar sukses?”
“Alhamdulillah Pak? Bapak ada perlu apa di sini?”
“Kamu tau siapa klienmu ini?” tanya Farid menunjuka ke Alya.
“Dokter Alya, istrinya Tuan Ardi Gunawijaya” jawab Polisi cerdass ingat nama di formulir di
dalam.
“Jangan galak dan lama- lama menanyainya, dia sedang hamil, kamu tau kan akan berhadapan dengan
siapa kalau dia kenapa- kenapa? Dia orang baik, aku menjaminya” ucap Farid lagi.
“Saya hanya berusaha menjalankan tugas dengan baik dan profesional sperti yang bapak ajarkan, tanpa memandang kedudukan”jawab Polisi itu dengan santun.
Farid menepuk bahu polisi itu dengan pelan dan bangga.
“Aku percaya padamu, selesaikan tugasmu dengan baik!” ucap Farid.
“Baik Pak! Mari ikut saya Dokter Alya!” ucap Polisi sopan, menganggukan kepala menghormati Anya dan Farid hendak mengajak Alya ke ruang penyidikan.
Semua pembantu yang datang sudah ditanyai, Alya terakhir dan tentu saja tinggal Mia. Seperti kata Anya, Farid melirik ke karyawan di rumah Tuan Aryo satu- satu.
“Tadi siapa A’?” tanya Anya penassaran kenapa polisi begitu hormat Farid.
__ADS_1
“Mahasiswaku dulu, tenang mereka bekerja profesional. Alya akan baik- baik saja” jawab Farid.
Lalu dari arah luar tampak Mia jalan dengan langkah yang ragu. Ida dan Bu Siti menyambut Mia, Faridpun memperhatikan dengan seksama.