Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
264. Adik Ipar


__ADS_3

Sambil menunggu istrinya bangun dari tidurnya, iseng- iseng Ardi membuka ponsel Alya. Ternyata ada beberapa panggilan dan pesan dari Intan. Ardi membacanya dengan teliti, lalu meletakan ponselnya lagi. 


Dipandanginya wajah yang manis dan imut itu. Hanya dari bentuk bibirnya yang mungil, semua orang bisa membaca hati Alya memang lembut. Meski dulu sering kali bibir itu mengkerucut dan membuat Ardi pusing tujuh keliling.


“Hhh” Ardi menghela nafassnya.


Saat perjalanan ke rumah sakit setelah mengantar baju dari kos Anya. Alya memang sudah membahas tentang Intan, meski Ardi belum memberi ijin, setidaknya Alya sudah jujur, terbuka dan tidak sembunyi- sembunyi. Kalau Alya masih berhubungan dengan Intan. 


Sebenarnya Alya tidak seratus persen salah dan berusaha menjadi istri yang baik. Tapi Ardi tetap kesal. Dan merasa masih terkhianati. Ardi diam sampai akhirnya tertidur.


Perlahan Alya membuka matanya. Rupanya dia sudah tidur lebih dari 5 jam. Alya mengedarkan pandangan, susunan tempatnya tidak asing, tapi warna dan bentuk perkakasnya berbeda. Alya tahu dirinya di rumah sakit, tapi bukan tempat kerjanya atau milik keluarga Gery. 


Terdengar dengkuran halus di sampingnya. Ardi menyandarkan kepalanya di samping Alya. Karena saking lelahnya sampai melongo.


“Maas” panggil Alya lembut dengan suara khas bangun tidur. Ardi masih belum terbangun. 


Alya bangun dan duduk. Lalu menggerakan tanganya, disusupkanya pelan membelah barisan rambut suaminya.


Alya menyunggingkan senyum manisnya, mau dari dekat atau jauh Ardi memang tampan. Alya bersyukur memilikinya. 


“Suamiku sayang, bangun” tutur Alya lembut menepuk pipi Ardi


“Emmpt” Ardi menggeliat dan membuka matanya. 


“Nanti pegel lho lehernya, jangan tidur meringkuk begitu. Kenapa nggak naik aja, sini tidur di samping Lian” Alya menepuk tempat tidurnya. Sebelumnya kan mereka akan berbagi tempat tidur. Semakin sempit tempatnya semakin membuat mereka senang.


“Kamu udah bangun? Gimana? Udah enakan? Apa masih pusing? Mana yang sakit, katakan sama Mas?” ucap Ardi menyerbu dengan banyak pertanyaan tidak menjawab ajakan Lian. 


Alya tersenyum sangat bahagia, Ardi  benar- benar memperhatikan dan peduli denganya. 


“Lian nggak apa- apa Mas. Kenapa Lian ada di sini?"


"Tadi kamu pingsan, Gimana masih pusing?” tanya Ardi lagi melupakan kekecewaan dan kekesalanya.


Karena Faktanya cinta memang selalu lebih kuat. Sebanyak apa salah sesorang akan terhapus dengam adanya sayang. tanya Alya lagi.


"Nggak Mas. Lian baik-baik aja! Mia gimana?"


“Jenazahnya udah dibawa pulang! Mama, papah, Ida dan Faisal yang mengurusnya, kamu tenang aja. Dia dimakamin di makam keluarga kita kok!"


"Oh, syukurlah"


Alya menundukan wajahnya ke bawah mengatur emosinya, sekarang sudah bisa lebih tenang menghadapi kenyataan. 


“Kenapa Mia bisa meninggal ya Mas? Apa dia bunuh diri? Di bunuh? Atau sakit?” celetuk Alya kemudian.


“Udah itu semua urusan polisi dan anak buah papah, kamu nggak usah banyak pikiran, fokus sama baby kita ya!” ucap Ardi pelan sambil menggenggam tangan Alya. 


“Apa Mia meninggal karena kita?” tanya Alya lagi dengan tatapan polosnya.


“Ssstt” Ardi menghentikan bicara Alya dengan telunjuknya.


“Sayangkuh, dengerin Mas, hidup dan mati seseorang adalah takdir, jalan Mia memang sudah seperti ini. Kita nggak salah, dia meninggal bukan karena kita, jangan pernah berfikir menyalahkan takdir, oke?” 


“Kasian Mia, Mas” 


“Mungkin menurut Tuhan ini yang terbaik buatnya, agar dia terbebas dari keluarganya. Yakin saja Tuhan lebih mencintainya!” 


“Apa sudah dimakamkan?”


“Mas belum telpon mamah lagi, mas ketiduran” 


“Ponsel Lian mana?” tanya Alya . 


Ardi memberikanya ke Alya dengan tatapan canggungnya mengingat pesan yang Ardi baca. Alya yang sensitif merasa tatapan Ardi aneh.


“Kenapa Mas?” 


“Ehm” Ardi berdehem, istrinya sedang sakit, tidak pantas Ardi marah, tapi Ardi ingin memberi pelajaran. 


“Kenapa kamu nggak patuh sama Mas?” tanya Ardi lembut. Meski terkandung aura kekecewaan. 


“Lian nggak patuh? Lian patuh kok” jawab Alya membela diri tidak sadar kesalahanya. 


“Kenapa kamu kembali menghubungi Intan padahal udah Mas blokir nomernya?” tanya Ardi mulai menampakan wajah muramnya. 


“Ooh itu?” Alya merasa tertohok, nyalinya menciut, dalam hal ini Alya memang salah, meskipun hati kecil Alya mempunyai banyak alasan. 


Alya menggigit bibir bawahnya dan menunduk merasa bersalah. Saat seperti ini, Alya terlihat sangat imut, Ardi terus mempertajam tatapanya, ingin mendengar kata maaf dari Alya.

__ADS_1


Tapi hati yang tadinya marah berubah, berganti menjadi nap-su ingin menghabisi wajah imut di depanya itu dengan bibirnya.


“Jawab kenapa?” tanya Ardi lagi masih dengan tatapan ganasnya.


“He..” Alya nyengir menatap Ardi, mau beralasan tapi takut.


Sesungguhnya meski Alya sudah menguasai hati Ardi dan menjadikan miliknya. Tapi Alya juga takut dan tidak mampu menghadapi kemarahan Ardi.


Ardi sendiri menahan ekspresinya di posisi ingin menghakimi, meski sesungguhnya sikap polos Alya justru membangunkan benda kecil di pangkal paha Ardi yang beberapa hari dianggurkan.


Segimana Alya menggodanya Ardi nggak boleh luluh, meski akhirnya nanti luluh, tapi Ardi ingin selanjutnya, Alya benar- benar patuh dan segan terhadap suaminya.


"Kenapa nyengir?" tanya Ardi lagi mengintimidasi.


Alya menunduk.


“Maaf Mas, Lian Cuma pengen berteman sama Mba Intan, Lian kasian liatnya. Lian juga udah cerita kan? Bapak- bapak tukang sapu yang Lian cerita itu bapaknya Mba Intan. Lian udah cerita kan sama mas?” lirih Alya menjelaskan.


“Mas ijinin kamu bantu bapaknya , tapi bukan berarti kamu berteman dan janjian ketemu di belakang Mas. Kamu tau? Mas ngerasa kamu seperti menghianati Mas” ucap Ardi mengutarakan kekecewaanya.


Mendengar penuturan Ardi, secepat kilat, Alya meraih tangan suaminya. 


“Maafin Lian, pleaase, Lian kemarin mau ijin Mas, tapi kan suasananya nggak mendukung. Mba Intan cuma mau ucapin makasih sama bapaknya. Mba Intan juga mau kasih kado buat resepsi kita, Lian ngrasa itu tulus, jadi Lian mau, maafin” ucap Alya dengan mata memohon.


Ardi menelan salivanya menatap istri imutnya itu.


“Sayang. Kamu tahu kan siapa Intan? Dia mantan tunangan Mas. Mau seperti apapun? Dia wanita yang pernah ada di hidup mas" tutur Ardi.


Alya masih menunduk mendengarkan.


"Mas nglakuin ini demi kamu! Mas nggak mau dia hadir di hidup kita, Mas nggak mau kamu nangis- nangis cemburu nggak jelas. Kamu tahu gimana kesalnya mas tiap kamu curiga ke mas, nolak mas gara- gara kamu suudzon sama Mas. Mas sayang sama kamu, mas mau hanya kamu, mas mau kita bahagia terus, nggak ada yang ganggu!” 


“Iya Mas, Lian minta maaf atas seeemua kesalahan Lian yang dulu. Mulai sekarang Lian akan terus percaya sama Mas, Lian juga nggak akan cemburu- cemburu nggak jelas lagi. Lian juga mau satu-satunya buat mas. Tapi please, maafin Lian. Sekali inii aja, temani Lian ketemu mba Intan dan papahnya. Abis itu Lian janji nggak akan hubungi Mba Intan lagi” 


“Janji?” tanya Ardi merasa senang.


“Janji” jawab Alya mengangguk.


“Tapi sekarang kan udah lewat dzuhur Sayang, kamu janjian jam 8 kan?” jawab Ardi tersenyum , mengingatkan Alya. 


“Oh iya yah? Mba Intan wa lagi nggak? Di rumah kan juga ada pemakaman Mia, terus gimana Mas?” 


“Tauuk” jawab Ardi mengangkat bahunya seakan mensyukuri. Segimana Alya membuat rencana kalau tanpa seijin Ardi nggak akan berhasil.


"Nanti aja!" jawab Ardi mendekat ke Alya. meraih dagunya dan mendaratkan bibir tebalnya ke bibir mungil Alya. Melampiaskan rasa gemasnya yang sedari tadi dia tahan. m


****


Flascback beberapa jam di Rumah Tuan Aryo. 


“Nurmala?”


“Mas Didik!” 


Seperti tiba- tiba di pukul dengan tongkat besar dari belakang, dada Bu Mirna dan Pak Didik tiba- tiba sesak dan sakit. Mereka berdua membisu tidak bisa berkata apapun. 


Apa rencana Tuhan, sehingga mereka harus dipertemukan kembali?


“Ini yang aku takutkan jika Alya menikah dengan orang Jakarta, dan semua persis seperti apa yang aku kira” batin Bu Mirna dengan wajah masamnya.


Bu Mirna mau pergi menghindar dan seperti tidak sudi berbicara dengan Tuan Didik. Tapi sebagai besan yang baik, Bu Mirna tetap harus bersikap terhormat dan berbudi terhadap tamunya.


“Kenapa kamu ada di sini Nurmala?” tanya Pak Didik, awal mengira Bu Mirna Art Tuan Aryo. Tapi kenapa semua barang yang menempel di Bu Mirna tampak mahal. 


Walau bagaimanapun dua tahun lalu, Tuan Didik mempunyai hubungan kekeluargaan yang dekat dengan Tuan Aryo. Tuan Didik juga tahu siapa saja saudara Tuan Aryo. Jelas Bu Mirna bukan keluarganya.


“Seharusnya saya yang bertanya Mas. Kenapa kamu datang ke sini? Oh iya tentu saja kalian kan kan sesama orang kaya pantas kalian di sini?” ucap Bu Mirna sinis. 


Intan yang duduk mendengarkan menjadi penasaran.


“Maaf, papah dan ibu, apa kalian saling kenal? Ibu ini siapa” tanya Intan menyela.


Intan juga memperhatikan wajah Bu Mirna dengan seksama. Meski tidak sama tapi ada sedikit kemiripan dari bibirnya dengan Alya.


“Ehm”  Bu Mirna dan Tuan Didik berdehem. Hendak menjelaskan ke Intan.


“Dia Budhemu Nak” tutur Tuan Didik akhirnya melepaskan kata yang membuat Intan tercengang. 


“Budheku?” tanya Intan kaget. 

__ADS_1


“Jadi dia anakmu?” tanya Bu Mirna menoleh ke Intan dan Baby El.


“Apa kamu bekerja di rumah ini? Kalau boleh tau siapa yang meninggal?” tanya Tuan Didik sangat penasaran.  


Belum Bu Mirna menjawab suara sirine datang memasuki halaman. Diikuti mobil mewah Tuan Aryo dan Bu Rita.


Intan dan Tuan Didik menjadi semakin dheg-dhegan. Jenazah diturunkan, Bu Rita dan Tuan Aryo juga ikut turun, tapi kenapa mereka tidak melihat Ardi dan Alya. Tapi kenapa Tuan Aryo dan Bu Rita tampak tenang dan tidak menangis.


Tidak mungkin isi peti itu Ardi atau Alya kan? Pasti banyak yang melayat dan Bu Rita akan histeris. 


Tuan Aryo turun menyalami para perangkat desa, ulama dan beberapa pelayat. Sementara Bu Rita memisahkan diri karena dia perempuan.


Melihat besanya datang Bu Mirna mendekat dan meninggalkan Tuan Didik. Karena banyak orang Bu Rita tidak memperhatikan tamunya hanya langsung duduk saja dan tidak melihat Intan. Padahal duduknya dekat.


“Jeng,  Alya dan Nak  Ardi mana?” tanya Bu Mirna merangkul bahu Bu Rita. Suaranya masih bisa didengar Intan dan Tuan Didik. 


“Alya pingsan, dia butuh istirahat jadi biar Ardi menjaganya dulu” jawab Bu Rita.


“Ealah bocah itu. Ada-ada saja” 


“Nggak apa- apa insya Alloh baik- baik saja, Alya syok dan kelelahan kok, kandunganya juga baik- baik saja” 


Di belakang Bu Rita dan Bu Mirna Tuan Didik dan Intan mendengarkan dengan jelas. Bu Rita dan Bu Mirna akrab dan membicarakan Alya.


Ada kelegaan, entah siapa jenazah di peti itu. Tapi yang pasti bukan Ardi dan Alya. Dan penasaran mereka berpindah,


“Kenapa Nurmala begitu dekat dengan Rita Gunawijaya. Siapa dia di rumah ini?”


“Jeng ada tamu yang datang, sepertinya menunggumu” tutur Bu Mirna ke Bu Rita. 


“Oh iya? Siapa?” 


“Mereka” jawab Bu Mirna menoleh dengan muka masam ke Intan dan Tuan Didik 


Bu Rita ikut menoleh kebelakang sehinga mereka saling tatap, Bu Rita menelan ludahnya sedikit kesal. Ngapain mantan calon mantu dan besanya datang. 


“Hhhh, ngapain mereka kesini?” Bu Rita mengehela nafasnya kasar kemudian memalingkan pandangan.


Tentu saja itu membuat Intan dan Tuan Didik tersinggung. Dan lebih merasa tidak enak adalah bu Mirna. 


"Mereka siapa?" tanya Bu Mirna ingin tahu ada hubungan apa adik Iparnya dan besanya.


Tapi Bu Rita justru terlihat kesal. Bu Mirna semakin penasaran. Mau menjelaskan kalau mereka kerabat bapak Alya jadi canggung.


Sensitif terhadap respon Bu Rita, Intan bangun dan menghampiri Bu Rita. Intan pikir, biar sesama perempuan yang bicara agar bisa sampai ke hati.


“Selamat pagi Tante” sapa Intan sopan.


“Ehm...” Bu Rita hanya berdehem dengan mimiknya yang tidak enak. 


“Maaf kedatangan kami kesini menganggu, kami ikut berbela sungkawa Tante. Kami kesini karena undangan Dokter Alya. Saya hanya ingin menyerahkan ini untuknya” ucap Intan menyerahkan paper bag. 


“Kamu kenal Alya?” tanya Bu Mirna menyela, memberikan respon berbeda. 


Intan mengangguk.


“Kemarin Alya menelponku tante, untuk datang kesini hari ini” jawab Intan 


“Apa kalian berteman baik?” tanya Bu Mirna lagi. Bu Rita sendiri menjadi heran. 


“Iya, Alya sangat baik terhadapku, papah juga menjadi pasien Alya. Kami datang kesini untuk bertemu denganya” jawab Intan. 


Tidak disadari mata Bu Mirna penuh tergenangi air, dan lama- lama airnya tumpah. Bu Mirna merasa semua yang terjadi di luar dugaanya. 


“Kamu kenapa Jeng?” tanya Bu Rita heran. Intan sendiri juga heran.


Tapi Tuan Didik yang duduk tidak jauh dari mereka mengerti. Meski baru menerka dengan deguban jantung yang sangat keras. 


“Tante siapanya Alya?” tanya Intan. 


“Dia besanku, dia ibunya Alya!” jawab Bu Rita. 


Intan dan Tuan Didik langsung membulatkan matanya. Intan tidak bisa berkata apa- apa.


Meski dia baru tahu barusan, kalau perempuan paruh baya adalah saudaranya. Tapi kenyataan kalau dia ibunya Alya membuatnya semakin parau dan tidak menyangka. 


Intan menundukan kepalanya dan ikut menangis. 


“Apa kalian saling kenal?” tanya Bu Rita. 

__ADS_1


“Dia adik sepupu Alya, Jeng. Mas Didik adik iparku” ucap Bu Mirna memberitahu Bu Rita.


“Hooh” 


__ADS_2