Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
195. Jenguk.


__ADS_3

"Telpon dari siapa Mas?" tanya Alya sambil mengeringkan rambut sehabis mandi.


Karena dirawat di rumah sakit pribadi milik keluarga Gery. Ardi menyulap ruang rawat seperti rumahnya sendiri. Alya pun bersikap seperti di rumah sendiri.


"Gery" jawab Ardi.


"Dokter Gery? Ada apa? Butuh bantuan kita? Dokter Mira kan dateng tadi, berarti udah ada yang jaga dong" tanya Alya peduli.


"Nggak tahu, dia songong apa gimana sih?" tanya Ardi curhat ke istrinya.


Gery kan tadi pagi belum sadar, dia juga paling remek kok bertingkah ajakin Ardi ke hotel. Begitu fikir Ardi.


"Iih Mas sukanya gitu, temen sendiri dikatai songong" ucap Alya.


"Sayang, Gery kan baru sadar. Dia ngajakin mas ke hotel. Kan songong dia tuh"


"Hotel?" tanya Alya


"Iya"


"Hotel mana?"


"Coninten"


"Bentar-bentar, Lian baru inget. Dokter Mira pernah kasih undangan ke Lian Mas, nanti malam kan acara lamaranya Dokter Mira sama Tito seharusnya" jawab Alya.


"Waaah, apa Gery mau tunanga? Wah parah dia"


"Kok parah sih Mas?"


"Dia mau nekat tunangan dengan keadaanya yang begitu? Kan gila tuh, dia baru semalem lho dioperasi" tanya Ardi peduli.


"Ya nggak parah Mas, itu keren!" jawab Alya memuji Gery.


"Kamu muji Gery?" tanya Ardi cemburu.


"Ck. Ya kan emang keren Mas. Dokter Mira juga pasti terharu, Dokter Gery buktiin cintanya dengan cara yang keren menurut Lian, mengorbankan jiwa dan raga, apalagi ditambah dia nekat gantiin tunangan dengan keadaanya yang sekarang, ah bahagianya Dokter Mira" ucap Alya lancar memuji Gery dengan mata berbinar-binar.


Alya tidak sadar ucapanya membuat otak suaminya mendidih.


"Puji aja terus puji aja terus. Emang mas nggak keren apa?" celetuk Ardi mulai kumat lagi dengan kening mengkerut dan mata ketarik ke dalam.


"Ih kok mas gitu sih? Ya kan bener yang Lian bilang, harusnya mas bangga dong punya temen kaya dia" jawab Lian tidak sadar suaminya cemburu.


"Udah stop! Mas nggak suka kamu bahas-bahas laki-laki lain"


"Kan Mas yang duluan mulai. Lian yang ngomentarin"


"Stop! Diam nggak usah ngomong!"


"Iya, iya Lian nggak bahas lagi" jawab Alya mengkerur heran ke suaminya.


"Dulu aja baik-baikin Farid, sekarang baik-baikin Gery. Sayang kamu tuh cinta nggak sih sama Mas?"


"Astaghfirulloh, suamiku sayangkuuh cintaku, Lian cintaaa banget sama Mas, ini lhoh di sini ada dhedhe Utun"


"Hemm abis kamu muji-muji orang terus, dulu juga sama mas nggak nurut. Apa mas harus nyuruh orang nyelakain kamu terus mas tolongin biar kamu muji mas, baik sama mas?"


"Oh jadi mas pengen dipuji Lian? Hahaha" jawab Lian tertawa menertawai suaminya kalau cemburu menurutnya lucu.


"Ya iya. Kamu cuma boleh puji cintanya Mas, cuma cintanya mas yang paling besar buat kamu"

__ADS_1


"Iya ya Mas, Lian tau, Mas yang terbaik, pokoknya the best lah, Lian juga nurut kok" jawab Alya menenangkan suaminya.


"Bener?"


"Iya bener, ya ampuun"


"Ya udah sinih" ucap Ardi merentangkan tangan ingin dipeluk istrinya. Alya kemudian menyambutnya dengan baik.


"Dasar bayi tua" jawab Alya mendekat ke suaminya.


(*** yang baca jangan muntah dengan kelebaian Ardi ya)


Ardi memang sangat suka memeluk istrinya di setiap moment. Terutama jika Alya selesai mandi dan keramas. Rambut Alya seperti candu baginya.


Sebenarnya Ardi juga sudah jauh membaik. Kalau mau pulang pun sudah bisa, hanya tinggal luka-luka luar yang bisa Alya obati sendiri di rumah. Tapi Ardi sengaja masih ingin di rumah sakit agar Alya tidak bekerja.


Tidak peduli di rumah sakit, Alya mengikuti kemauan suaminya. Ikut naik ke tempat tidur Ardi. Bermesraan, membelai rambut Ardi dengan jari jemari lembutnya sambil melihat acara televisi.


Saat mereka sedang bermesraan, suara pintu terdengar. Alya segera turun dan mencari jilbabnya menutupi auratnya, yang sudah diklaim Ardi, hanya dia yang boleh melihatnya.


"Eh, ada tamu" ucap Alya menyambut tamunya masuk.


"Alya, kok lo! Ada apa? Siapa yang sakit?" tanya tamunya benar-benar kaget yang membukakan pintu Alya.


"Tuh yang sakit" jawab Alya menunjuka suaminya sedang berbaring sambil memegang remot.


Anya dan Kak Farid kemudian masuk membawa dua karangan bunga segar dan buah.


"Siang Kak Farid, cie udah deketan nih? Udah akur" sapa Alya melihat seniornya di panti menyusul masuk di belakang Anya.


Farid tersenyum tersipu malu, sementara Anya mendengus kesal dan memanyunkan bibir.


"Makasih ya udah jenguk" jawab Alya menerima.


"Woy Bro. Kemajuan nih," sapa Ardi bahagia melihat sahabat rasa kakaknya itu datang bareng Anya.


"Gimana ceritanya lo bisa begini?" tanya Farid mendekat ke Ardi dan menyalaminya.


Sementara Aya mengajak Anya duduk di sofa penunggu. Alya kemudian mengambilkan minum dan snack untuk tamunya.


"Nggak apa-apa, biasa laki!" jawab Ardi sombong di depan Farid.


"Tapi lo baik-baik aja kan?" tanya Farid menunjukan kepedulianya.


"Gue nggak apa-apa kok!" jawab Ardi lagi semakin percaya diri, berantem adalah simbol kelelakian buat Ardi.


"Lo tambah ganteng sih Ar, banyak perban gini" ledek Farid ke Ardi.


"Sial lo" ucap Ardi memukul Farid.


Lalu mereka mengobrol menceritakan kejadian yang Ardi alami.


Anya dan Alya hanya mendengarkan laki-laki mereka mengobrol.


"Bu Rita katanya dirawat juga? Gimana keadanya? Di rawat dimana?" tanya Farid ditengah percakapan peduli ke Bu Rita.


"Biasa mah nyokap gue panikan, asthmanya kambuh, di samping kamar samping"


"Oh. Gue mau ngenalin Anya ke Bu Rita dan Om Aryo" turur Farid.


"Ya udah sono, Mamah Papah di samping. Oh ya jangan lupa jenguk Gery" ucap Ardi lagi.

__ADS_1


"Gery? Kenapa lagi tuh cecunguk?" tanya Farid tidak tahu berita lengkapnya hanya berdasar surat kabar.


Berita yang beredar hanya menyebutkan Penerus Gunawijaya dan rombongan. Selain orang terdekat tidak ada yang tahu cerita romansa dibalik berita penggerebegan bandar narkoba dan penganiayaan Penerus Gunawijaya.


"Ah lo kudet" jawab Ardi menghina Farid.


"Suer gue nggak tahu, Gery kenapa?"


"Ya gue begini nemenin Gery buat dapetin cintanya Mira Bro" ucap Ardi bercerita.


"Gue masih nggak ngerti maksud lo?"


"Ah pusing gue ngomong sama kutu buku kaya lo" jawab Ardi lagi.


"Nanti minta ceritanya sama Kak Gery aja Kak Farid" celetuk Alya nimbrung.


"Gery jadian sama Mira?" tanya Farid tidak tahu menahu perkembangan sahabatnya


"Iya" jawab Ardi.


"Wah endingnya sama Mira juga" jawab Farid berkomentar.


"Kak Farid sama Anya mau nemuin Mamah kan?" tanya Alya lagi.


"Iya" jawab Farid dan Anya bebarengan.


"Ayo Alya antar. Mamah juga penasaran tau Nya ke kamu" tutur Alya menggandeng Anya.


"Emang tau gue?" tany Anya.


"Ya kan Mama Rita tuh tante baik yang dulu sering aku cerita" jawab Alya mengingat masalalu sebelum kenal Ardi.


"Oh iya ya, hehe, gue juga penasaran secantik apa mertua lo" jawab Anya.


"Lo liat gue" jawab Ardi nimbrung, kegantengan Ardi memang menurun dari Bu Rita dipadu Tuan Aryo.


"Ya udah. Gue ke Bu Rita dulu ya" pamit Farid.


"Terus acara besok pagi gimana? Gue wajib dateng nggak nih?" tanya Ardi mengingat besok pagi seharusnya mereka ke Bogor.


"Ya terserah lo baiknya gimana? Kalau masih sakit doanya aja gue udah seneng kok, tapi gue berharap lo bisa ikut" jawab Farid melirik ke Anya. Yang penting Anya mau dan sah jadi tunangan dan istri.


"Gue usahain deh" jawab Ardi meyakinkan.


Mendengar jawaban Ardi yang sok mau dateng Alya terhenyak. Perasaan Ardi masih terus minta dilayani di setiap aktivitasnya dan mengeluh sakit, kok sok-sokan mau ke Bogor, yang bener masih sakit atau nggak.


"Mas" tegur Alya ke Ardi.


"Apa sayang?"


"Mas yakin mau ikut ke Bogor?" tanya Alya.


"Yakin" jawab Ardi mantap di depan Farid, lupa kalau daritadi bohongin istrinya.


"Berarti udah sehat nih?"


"Hehe udah"


"Hemmm" jawab Alya manyun.


Anya dan Farid yang sudah sangat muak dan paham kelakuan pasangan itu kemudian segera berpamitan menjenguk Bu Rita.

__ADS_1


__ADS_2