
Setelah selesai makan mereka semua sholat isya. Bu Mirna istirahat di kamar. Anya dan Dinda, tidak terkecuali Alya sebagai tuan rumah membereskan piring-piring dan alat masak, dan membawanya ke tempat nyuci di belakang.
Alya tau kedua temanya anak orang kaya yang tidah terbiasa beres-beres, jadi Alya merasa Alya harus turun tangan sendiri dan tidak ingin buat susah temenya. Alya pun dengan cekatan mengumpulkan alat dan piring kotor ke tempat mencuci piring yang berada di luar.
Sementara Ardi, Dika dan Farid karena asik ngobrol dan nonton bola tidak ngeh dan memperhatikan. Alya yang merasa dirinya sehat pun biasa saja melakukan pekerjaan rumah itu. Alya merasa itu semua pekerjaan enteng dan mudah.
"Taruh aja, biar aku yang nyuci" ucap Alya ke Dinda.
"Beneran nggak apa-apa, dingin lho Al?" tanya Dinda.
"Iya nggak apa-apa, biar aku yang nyuci, sana kamu istirahat, kamu kan baru perjalanan tadi siang" jawab Alya ramah.
"Makasih banget ya Al" jawab Dinda senang. Dinda memang tidak pernah cuci piring selama di rumah.
"Al, aku bantu ya! Tapi kenapa nggak nyuci di wastafel dapur di dalam sih?" sambung Anya meletakan alat pemanggang dan ingin membantu.
"Tempatnya sempit, ini barang lumayan kotor dan banyak. Enak di sini, udah aku aja yang cuci. Kalian istirahat, kan besok kalian mau ada acara" jawab Alya lagi dengan lembut dab ramah tidak ingin merepotkan tamunya
"Bener?" tanya Anya.
"Iyah" jawab Alya mengangguk dan memastikan. Alya baik-baik saja. Toh itu kan rumah Alya.
Lalu Anya dan Dinda meninggalkan Alya.
"Gue belon sikat gigi. Gue sikat gigi dulu ya" ucap Dinda di depan pintu kamar mandi.
"Oke. Gue udah tadi pas wudzu. Gue ke kamar dulu yah!" jawab Anya.
"Oke"
Anya berjalan biasa aja melewati ruang tv hendak masuk ke kamar. Karena kamar Anya menghadap ruang tv. Di siru Ardi, Farid dan Dika tampak asik tiduran di atas kasur lantai berlindung di bawah selimut.
Melihat Anya, Farid dan Ardi menoleh. Farid menatapnya dalam, seakan Farid ingin menyampaikan sesuatu tapi ditahan. Sementara Ardi spontan bertanya.
"Dokter Anya, Berlian mana?"
"Berlian?" tanya Anya mengulangi. Farid juga ikut bertanya dalam hati. Anya dan Farid berfikir sejenak.
"Oh Alya maksudnya?" tanya Anya lagi menjawab sendiri pertanyaan. Farid juga baru ikut ngeh. Ternyata panggilan Ardi ke Alya, Berlian. Kan emang namanya Alya Berlian Sari. Jadi cerita yang dia sampaikan benar.
"Ya siapa lagi? Dimana istriku? Dinda juga dimana" tanya Ardi lagi.
"Alya lagi cuci piring, kalau Dinda sikat gigi" jawab Anya biasa aja.
"Hah? Lian cuci piring? Sendirian? Dimana?" tanya Ardi spontan langsung bangun dengan wajah terkejut dan gusar.
Farid, Dika dan Anya sedikit heran dengan ekspresi dan respon Ardi.
"Iya, sendiri, di halaman belakang dekat sumur"
"Apa? Kok di luar? Kok kamu tinggalin sih!" Ardi semakin gusar lalu duduk dan menyingkap selimutnya.
"I-iya?" jawab Anya terbata sedikit gelagapan.
Sewaktu Anya dan Alya bersama di kosan, atau apartemen atau rumah sakit. Anya biasa liat Alya cuci piring, jadi menurut Anya biasa aja.
"Lo gimana sih jadi temen, lo perempuan perempuan juga. Tega banget. Otak lo dimana? Mikir nggak sih biarin Dia cuci piring sendirian? Malam-malam begini" omel Ardi spontan sambil meletakan remote TV dan bangun.
Farid ikut syok, tidak menyangka Ardi berkata kasar begitu ke Anya. Farid juga tidak terima. Anya sendiri berdiri gemetaran dan tidak menyangka Ardi segitu marah dan kasar.
"Maaf" jawab Anya lirih dengan wajah pucat dan gelagapan.
"Lo tau kan dia lagi hamil. Malam-malam dingin begini. Kok lo tinggalin dia gitu aja sih, dia cuci piring sendirian, lo punya perasaan nggak sih. Payah lo ya!" bentak Ardi lagi berdiri dan menunjuk wajah Anyam
Dika hanya diam memperhatikan kejadian di depanya itu. Anya pun dibentak begitu matanya berkaca- kaca tidak bisa menjawab. Merasa Ardi berlebihan dan kasian melihat Anya. Farid merasa perlu menegur Ardi.
"Ar, lo nggak boleh ngomong gitu dong ke Anya!" tegur Farid ke Ardi ikut bangun dan meraih pundak Ardi.
"Kenapa? Lo belain dia karena dia calon istri lo. Istri gue lagi hamil Bro. Dia biarin istri gue kerja sendirian malem-malem begini, ajarin tuh!" jawab Ardi tidak terima menoleh ke Farid emosi.
"Ya gue tau. Tapi lo nggak perlu berlebihan, marah-marah gini. Lo bisa kan tanya baik-baik" sambung Farid lagi
"Baik-baik gimana maksud lo? Minggir lo. Kalau istri gue masuk angin, sakit, kecapekan lo mau tanggung jawab!" jawab Ardi lagi semakin tidak terima.
Semenjak di apartemen Aerim dan rumah utama Tuan Aryo. Ardi memang melarang keras Alya melakukan pekerjaan rumah. Semua dilakukan pelayan. Ardi benar- benar memperlakukan Alya sebagai Nyonya.
__ADS_1
"Tapi nggak bisa dong lo marah-marah gini. Lo juga salah. Pastiin dulu apa yang terjadi dan gimana keadaan Alya. Lo berlebihan Ar" jawab Farid lagi membela Anya.
"Nggak apa A' Farid. Kak Ardi. Saya yang salah. Saya biarin Alya sendirian. Iya saya balik, biar Anya bantu" jawab Anya sambil terisak dan menunduk.
"Basi kalian berdua. Nggak perlu! Minggir!" jawab Ardi menepis Farid, lagi lalu bergegas ke dapur.
Dinda yang papasan dengan Ardi sedikit bingung. Ardi berjalan emosi tidak menatap Dinda. "Apa yang terjadi?" batin Dinda melihat Ardi.
Anya menangis menunduk. Lalu Farid meraih bahu Anya dan memapahnya buat duduk di kursi ruang tamu. Dika masih terpaku memilih tidak ikut campur dan tetap di depan tivi fokus menonton tivi.
****
Di ruang TV
"Ada apah?" tanya Dinda lirih ke Dika.
"Mas Ardi marah ke Mba Anya" jawab Dika berbisik.
"Marah? Kenapa?" tanya Dinda kaget sambil melirik dan melihat Anya terisak.
"Mas Ardi nggak terima, Mba Alya dibiarin cuci piring sendirian" tutur Dika lagi masih berbisik.
"Ups, kalau gitu gue salah juga dong" jawab Dinda juga merasa bersalah, Dinda juga ninggalin Alya.
"Udah diam aja. Daripada salah omong" tegur Dika memilih posisi aman.
"Emang marah banget ya?" tanya Dinda lagi.
"Iya. Saya juga baru liat Mba, ternyata Mas Ardi segitunya ya sama Mba Alya. Galak banget" sambung Dika masih berbisik ngomongin Ardi.
"Gue nggak tau, gue kan nggak pernah bareng suami Alya, baru kali ini gue bareng mereka" sambung Dinda lagi bercerita.
"Denger-denger dari Mas Fatan Mas Ardi kan bos besar Mba, jadi mungkin kita juga harus memperlakukan Mba Alya seperti Nyonya" jawab Dika lagi masih berbisik.
"Ya gue tau suami Alya kaya. Tapi kan Alya biasa aja. Malah dia yang nyuruh gue keluar. Kita kan juga bukan pelayan" jawab Dinda lagi tidak terima kalau disalahkan.
"Kasian Mba Anya" sambung Dika lagi.
"Kenapa?"
"Nangis?"
"Iya"
"Ih suami Alya berarti lebay banget ya. Kenapa juga nggak sewa pelayan kalau gitu"
"Susah kali Mba. Bu Mirna dan Mba Alya kan terbiasa melakukan pekerjaan sendiri" jawab Dika lagi menerangkan keadaan di desanya. Lagian kan ini pertama kalinya mereka pulang kampung setelah menikah.
"Berarti bukan salahnya kita kan yaak? Emang Alya sendiri yang mau kok" jawab Dinda lagi menceritakan yang sesungguhnya.
"Ya udah semoga baik-baik aja, Mas Ardi khawatir Mba Alya sakit. Semoga semua baik-baik aja dan Mas Ardi berubah moodnya" tutur Farid menenangkan Dinda.
"Jadi nggak enak nih gue" jawab Dinda.
"Udahlah nggak usah dipikirin saya yakin nanti baikan lagi mereka. Mas Ardi dan Mas Farid kan berteman akrab juga, pasti baikan lagi"
"Aamiin"
Lalu Dika dan Dinda melanjutkan obrolan membahas yang lain sambil nonton tv.
****
Di ruang tamu.
"Hiks hiks" Anya masih menangis merasa dheg-dhegan dan tidak terima dibentak-bentak.
"Udah sih nggak usah nangis, Ardi emang orangnya gitu" tutur Farid lembut menatap kasian ke Anya.
"Anya udah nawarin A' buat bantu Alya" jawab Anya membela diri dan ngadu ke Farid. Karena sedang sedih Anya melupakan kekesalan dan malunya Anya tentang kejadian tadi sore.
"Aa percaya Neng" jawab Farid lagi dengan lembut.
"Alya sendiri yang nyuruh Anya sama Dinda ke kamar" sambung Anya lagi masih merasa dirinya tidak salah.
"Iya Neng iya, Aa percaya. Udah nggak usah nangis lagi. Biarin Ardi gitu. Mas udah hafal watak Ardi. Dia emang gitu, jangan diambil hati ucapanya"
__ADS_1
"Tapi kalau Alya kenapa-kenapa beneran gimana? Pasti Anya disalahin" tutur Anya lagi meneteskan air mata lagi kepikiran omongan Ardi.
"Positif thingking, nggak akan terjadi apa-apa, udah sih nggak usah dipikirin" Farid masih merayu Anya.
"Tapi Anya tetap takut. Kak Ardi marah-marah gitu"
"Ardi biasa marah-marah begitu. Nggak usah dipikirin! Yah!" tutur Farid mencoba memberitahu, marahnya Ardi bukan hal besar.
"Nggak dipikirin gimana? Anya kan jadi ngrasa nggak enak ada disini, kesanya Anya nyusahin Alya" jawab Anya masih mencurahkan perasaan sedihnya.
"Haish. Aa udah kenal Ardi bertahun-tahun. Liat aja besok udah baik lagi. Besok minta maaf baik-baik ke Alya dan Ardi" tutur Farid kembali menenangkan dan meyakinkan Anya, semua baik-baik saja.
Anya diam saja mendengarkan Farid, mengatur nafasnya dan menyeka air matanya.
"Udah mending sekarang kamu tidur aja. Besok katanya mau jalan-jalan kan?" lanjut Farid penuh perhatian.
Anya masih diam menenangkan pikiranya. Dan mencoba percaya perkataan Farid.
"Udah sana tidur" tutur Farid lagi.
"Aa besok mau ikut! Emang nggak jadi seminar?" tanya Anya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Masalah seminar gampang mah Neng. Aa bisa telp teman Aa atau ikut seminar lain waktu. Sepertinya jalan-jalan bareng kamu menyenangkan. Lagian orang tua Aa nggak ijinin Aa lanjut S3 sebelum nikah. Oh iya Aa minta maaf yah. Kejadian tadi siang" tutur Farid serius sambil menatap Anya mengingat keberanianya tadi siang.
Anya gelagapan dan merasa dheg-dhegan ditatap Farid begitu. Anya juga malu mengingat peristiwa tadi sore. Anya kembali sadar mengingat seharusnya Any kan kesal ke Farid. Kenapa sekarang sedekat ini. Anya menangis, mengadu dan merasa tenang bersamanya. Malah bahas masalah nikah lagi.
"Ehm!" Anya berdehem menyembunyikan dheg-dheganya sudah tidak menangis lagi.
"Aa harap kamu bisa terima kenyataan Neng. Aa harap kamu bisa lupain pacar kamu. Aa harap, neng terima Aa dan rencana perjodohan kita" lanjut Farid berbicara serius terhadap hubungan mereka.
Wajah Anya semakin memucat. Anya memang sudah menyadari kalau Agung menyakitinya dan harus dilupakan. Tapi Anya juga masih belum bisa secepat itu menerima Farid.
Berdekatan dan berduaan dengan Farid begini rasanya membuat Anya mati kutu, apalagi membahas pernikahan mereka. Anya tidak bisa membayangkan Farid akan jadi suaminya. Otot-otot Anya serasa lemas tidak berdaya. Jantungnya berdetak kencang tidak beraturan. Anya bingung mau jawab apa.
"Ehm. Anya ngantuk A', Anya mau tidur. Makasih" jawab Anya salah tingkah, tidak ingin membahas pernikahan. Anya segera bangun dan setengah berlari ke kamar.
Farid hanya bisa menghela nafas sabar melihat Anya pergi.
****
Di sumur halaman belakang.
"Sayang apa-apaan ini. Taruh nggak?" ucap Ardi gusar melihat istrinya mengikat jilbabnya ke belakang. Menggulung lenganya menggosok panci bekas naruh daging dan ikan. Persis seperti ibu-ibu di pasar atau di desa.
"Apa-apaan gimana maksudnya Mas?" jawab Alya santai menoleh ke suaminya.
"Kamu tau ini jam berapa? Ini tuh udah malam. Kamu udah minum obat belum? Tidur!" tutur Ardi lagi semakin tidak terima. Istri seorang Ardi Gunawijaya yang di Jakarta, pelayanya banyak. Kini tampak seperti emak-emak.
"Oh itu. Iya, Lian selesain ini dulu, tanggung!" jawab Alya lembut sambil menyeka keningnya dengan tangan yang terdapat busa sabun.
"Tanggung gimana? Kenapa nggak yang lain aja sih yang ngerjain?" jawab Ardi semakin gemas ke istrinya. Masih saja tidak paham suaminya.
"Yang lain siapa?" tanya Alya polos. Alya merasa di rumahnya semua pekerjaan rumah tanggung jawab Alya.
"Temen-temenmu" jawab Ardi merasa seharusnya teman Alya menghormati Alya.
"Ish Mas ini sukanya gitu. Di sini kita nggak punya pelayan mas. Mereka tamu-tamu kita, udah sih nggak usah cemberut gitu" tutur Alya dewasa menasehati suaminya.
"Ya kan bisa besok sayang sekarang udah malam" ucap Ardi memberi solusi
"Tinggal bilas kok, udah Lian sabunin" jawab Alya menenangkan suaminya.
"Ya udah mas aja yang bilas. Udah sana-sana" jawab Ardi mengalah.
Itu satu-satunya cara menghentikan Alya. Ardi pun menggulung celananya jongkok dan mencuci panci-panci bekas daging kelinci dan ikan.
"Ya" jawab Lian tersenyum. Ardi cuma diam.
Seorang Ardi mencuci piring di sumur, bukan wastafel.
"Lian tunggu mas yah" tutur Lian tersenyum ingin menyenangkan suaminya yang tampak kesal.
"Udah diminum belum obat hamilnya?" jawab Ardi manyun.
"Iyah nanti Lian minum. Lian mau nungguin suami Lian yang ganteng dulu" jawab Lian menggoda suaminya agar tidak marah lagi.
__ADS_1
"Ehm" Ardi berdehem bahagia, tumben-tumbenan Alya tersenyum centil begitu.