
"Kenapa ketawa?" tanya Ardi ke Alya yang cengengesan berdiri di sampingnya.
"Seneng aja!" jawab Alya dengan wajah sumringah.
"Kenapa senyumnya imut sekali, bahkan dia belum memakai make up,?" gumam Ardi melihat Alya menahan hasrat untuk mencium Alya.
Alya memang sangat imut saat tersenyum. Jangankan laki-laki dewasa yang lama menjomblo seperti Ardi, Dinda dan Anya yang sesama perempuan juga sering dibuat gemas mencubit Alya.
"Apa yang membuatmu senang?" tanya Ardi lagi.
"Sayang sekali aku lupa merekammu, apa kata mba Ida dan Mba Mia ya kalau melihatnya?" jawab Alya meledek Ardi.
"Dasar!" Ardi berlalu sambil memercikan air ke wajah Alya.
"Aw...kotor tau!" jawab Alya mengusap wajahnya.
Ardi mengambil baju dan celananya yang kotor. Lalu melempar ke Alya
"Tanggung jawab! Cuci!"
"Ish, kasar sekali" Alya mendesis sambil manyun. "Kenapa nggak dibawa ke laundry aja sih?" jawab Alya memberikan usul.
Ardi diam tidak mendengarkan Alya. Lalu berbaring di sofa memainkan ponselnya.
Menyadari dicueki Alya mengambil baju dan celana Ardi, lalu membawanya ke tempat cucian untuk mencucinya. Toh mencuci satu baju akan cepat selesai daripada harus berdebat masalah laundry.
"Sepertinya ini kemeja mahal, sebaiknya jangan pake mesin cuci" gumam Alya membaca merek kemeja Ardi.
Alya melirik ke Ardi yang sedang rebahan, lalu menutup pintu tempat mencuci, Alya melepas jilbabnya. Digulungnya lengan panjang baju Alya. Alya mengisi air bak dengan deterjen, direndamnya pakaian Ardi. Lalu Alya mencuci pakaian Ardi dengan tanganya.
Tanpa diketahui Alya, Ardi memperhatikan Alya dari dinding kaca atas sebelah pintu. Karena dinding pembatas ruang cuci dan ruang tengah, bagian bawah batu alam bagian atas kaca.
Setelah Alya selesai menjemur, Ardi kembali duduk di sofa. Alya membersihkan dirinya, merapihkan pakaianya dan mengenakan jilbab kembali. Alya masuk ke ruang tengah lagi.
"Apa dia tidur?" gumam Alya melihat Ardi berbaring miring.
"Katanya mau kerja, bahkan dia tidur, ishh dasar pemalas"
Alya mengambil tasnya, melihat jam di ponselnya.
"Sepertinya sudah buka toko bajunya. Aku keluar sekarang aja"
Alya keluar menuju ke swalayan yang ditunjukan Ardi. Pagi itu Alya pergi memilih naik angkutan umum, sebab jarak swalayan dan apartemen tidak terlalu jauh.
Sampai di swalayan Alya mencari kemeja dan celana sesuai ukuran yang sudah dia catat. Setelah Alya mendapatkanya Alya kembali ke apartemen.
"Thing Thong" Alya memencet Bel.
__ADS_1
"Thing Thong" Alya memencet Bel lagi.
"Mobilnya masih ada di parkiran, apa dia tertidur, masa nggak denger sih?" gumam Alya kesal tidak kunjung dibukakan pintu
"Thing Thong" Alya memencet bel sekali lagi. Tetap tidak dibuka. "Sepertinya dia benar-benar tidur" gumam Alya lagi mengambil keputusan masuk sendiri. Alya memencet sandi apartemen.
Benar saja, Ardi yang tadi pura-pura tidur, kini benar-benar terlelap. Bahkan Ardi mengeluarkan dengkuran halus, tangan satunya di angkat ke kepalanya sehingga bulu ketek Ardi terpampang jelas.
"Ck ck ck, sepertinya dia sangat lelah, padahal kan ini masih pagi" gumam Alya.
Alya meletakan bingkisan kemeja di bawah kaki Ardi. Jam kerja Alya masih 4 jam lagi, lalu Alya duduk di ujung sofa di bawah kaki Ardi. Dipandanginya laki-laki yang sedang tidur terlelap itu.
"Dia benar-benar mirip Bu Rita? Hanya saja mata dan bentuk wajahnya mirip Tuan Aryo, perpaduan yang sempurna? Tapi kenapa sifatnya jauh berbeda?" Alya menghela nafasnya.
Alya tersenyum, lalu dia mengambil ponselnya, lalu difotonya Ardi yang sedang mendengkur. Alya juga merekamnya. "Hihihi, kapan-kapan aku tunjukan ke Mba Ida dan Mba Mia"
"Sudah jam 10 lebih, apa dia tidak bekerja? Apa aku bangunkan saja ya? Tapi dia terlihat lelah, biar sajalah"
Alya berdiri dan berjalan ke kamar menghindari dengkuran Ardi. Mengusir bosan Alya rebahan dan memainkan ponsel. Alya pun ikut tertidur.
****
"Kriiiing Kriiiiiing" Alarm Alya berbunyi. Alyapun terbangun, diraihnya sumber suara itu.
"Astaghfirulloh sudah jam setengah satu. Aku belum mandi" guman Alya kaget melihat jam.
"Apa dia akan kesini lagi?" gumam Alya. Alya berjalan ke meja makan berniat makan siang. Dibukanya tudung saji di meja makan. Mata Alya terbelalak melihat menu isi meja.
"Ya Alloh, dia menghabiskan tumisnya, bahkan aku hanya disisai 3 ekor udang, rakus sekali dia?"
Ternyata Ardi sempat makan siang sebelum pergi.
****
"Tumben lo telat?" tanya dr. Anya.
"Iya, aku ketiduran" jawab dr. Alya.
"Ada SC Cito, sana loh siap -siap"
"Ok, doain lancar selamat yaak!"
Tanpa ragu-ragu dan penuh semangat Alya bersiap-siap ke ruang operasi. Alya berpartner dengan perawat, bersiap ke meja resusitasi. Alya juga sudah mulai hafal dengan ruangan-ruanganya, sehingga tidak salah ruang ganti lagi.
Alya juga tidak canggung dan bersitegang dengan Dokter Gery. Bahkan Dokter Gery yang masih suka dengan Alya beberapa kali membantu Alya. Sore itu Alya menjalankan jaga sorenya dengan semangat dan bahagia.
"Lucunya ya, punya baby twin" ucap Alya ke perawat.
__ADS_1
"Iya Dok, lengkap lagi ya Dok? Cwo Cwe"
"Gimana Dokter Alya? Bayinya sehat? " tanya Dokter Gery keluar dari kamar operasi.
"Alhamdulillah berhasil menangis kuat Dok"
"Siip" jawab Dokter Gery memberikan jempolnya yang masih memakai sarung tangan. "Beratnya berapa, berapa? "
"Yang baby boy 3,3 kg, yang baby queen 3,1 kg" jawab salah satu perawat rekan Dokter Alya.
"Wah gede ya? Pantes ibunya perdarahan" jawab Dokter Gery
"Perdarahan kah Dok?" tanya Dokter Alya.
"Iya, makanya kamu kalau hamil baby twin jangan gede-gede" jawab Gery menatap ke Alya.
Mendengar perkataan dr. Gery, Alya hanya menatap dr.Gery penuh arti, lalu melanjutkan pekerjaanya.
"Dokter Gery pengen punya baby twin juga?" sahut salah satu perawat sambil merapihkan bayi.
"Iya sus" jawab Gery ke suster sambil ngelirik ke Alya.
"Hayuk atuh gera Dok, di proses baby twinya" ledek perawat membuat Dokter Alya tersipu.
"Diproses gimana Sus?" tanya Dokter Gery sok nggak paham.
"Ya diajak ke pelaminan atuh Dok, dihalalin biar bisa diproses pencetakan baby twin_nya" jawab salah satu perawat sambil membereskan Alat.
"Nunggu lampu ijo Bu" jawab dr. Gery.
"Lah emang lampunya belum ijo?" tanya perawat lagi.
"Masih kuning Bu, nggak ijo-ijo, doain ya Buu" jawab Dokter Gery melirik ke Alya yang terlihat sedang melengkapi rekam medis bayi.
"Tak doain Dok biar lampunya segera ijo, biar kita-kita pada kondangan" jawab perawat.
"Sudah rapih dan stabil kan?" tanya Alya menghentikan obrolan perawat dan dr. Gery.
"Sudah Dok, alat-alat juga sudah dirapihkan"
"Ya sudah bawa ke ruangan ya" pinta dr. Alya ingin segera menyudahi pekerjaan di meja resusitasi.
"Mari Dokter Gery, kita balik ke bangsal ya Dok" sapa salah satu perawat.
"Silahkan Suster, Dokter Alya" jawab dr. Gery membalas anggukan hormat perawat. Alya pun hanya ikut terseyum di balik masker.
"Alya..Alya, kenapa kamu tetap dingin dan mengabaikanku, apa sebenarnya kamu sudah punya pacar? Kenapa susah sekali mendekatimu?" gumam Gery melihat Alya pergi ke ruang ganti.
__ADS_1