
****
Kosan Anya.
Dua dokter imut dan cerewet menunaikan sholat maghrib berjamaah di kamar. Alya sebagai imamnya dan Anya sebagai makmumnya. Setelah saling memanjatkan do'a, mereka melipat mukenahnya dan kembali mengobrol.
"Gue bisa jadi orang bener nih kalau tiap hari lo ke sini" ucap Anya ke Alya.
"Maksudnya jadi baik? Emang kamu selama ini buruk?"
"Gue sholatnya bolong-bolong. Kalau ada lo, lo kan cerewet banget ingetin gue sholat!" jawab Anya.
"Ya aku doain deh, semoga kamu punya suami siaga yang selalu rajin ajak kamu sholat bareng" jawab Alya ramah.
"Hum sayangnya Agung nggak begitu rajin juga. Hehe" sahut Anya merasa konyol karena pacarnya sama-sama sering males sholat.
"Emang kamu yakin jodoh kamu Si Agung?" tanya Alya menasehati.
"Ya yakinlah. Gue cinta sama Agung. Kita akan berjuang buat nikah!" jawab Anya semangat.
"Nggak ada yang tahu tentang jodoh Anya. Buktinya aku? Aku nggak pernah nyangka bakal nikah sama Mas Ardi, padahal di kampung ibuku pengen nikahin aku sama anak pak kyai yang baiiiik banget, perhatian. Nikahnya sama Mas Ardi yang nyebelin"
"Ya itu kan nasib lo. Gue ogah ya. Gue mau nikah sama pacar gue!"
"Emang ortumu setuju. Ortumu kan jodohin kamu kan sama orang lain yang kamu critain itu?"
"Iiih kok Lo jadi cerewet gini sih? Mut lo udah baikan ya? Kok lo jadi doain gue putus ama Agung? Cowok yang dijodohin sama gue. Dia juga punya cewek yang dia cinta. Kita sepakat buat tunda tunangan biar kita usaha kejar cinta kita masing-masing. Ortu kita aja yang nyebelin" jawab Anya ke Alya yang terlihat lebih segar.
"Tapi namanya takdir nggak ada yang tahu. Emang kamu bisa jamin Agung setia?" jawab Alya tersenyum sangat manis.
"Ah tau ah, sebbel gue lo bahas gitu! Gue yakin dia setia. Gue juga setia kok! Gue laper niih" ucap Anya memegang perutnya.
"Aku masakin, apa mau beli?"
"Nggak, gue nggak mau lo kecapekan masakin gue. Bisa digantung nanti sama suami lo" jawab Anya bersungut.
"Ya udah beli" jawab Alya memberi keputusan.
"Beli apa yah? Mau beli langsung apa pesen nih?"
"Mmmm lamongan depan rumah sakit aja" usul Alya memberi solusi karena itu satu-satunya warung makan favorit Alya.
"Oh iya yah! Situ kan enak. Yuuk!" ajak Anya semangat.
"Bentar siap-siap dulu" jawab Alya menarik tas pakaianya dan mencari kardigan dan jilbab.
__ADS_1
"Buruu. Gue laper pake banget!" jawab Anya.
"Yaya" dengan buru-buru Alya mengambil jilbab pashmina instan dan kardigan .
Mereka berdua naik motor menuju warung lamongan legendaris di depan rumah sakit. Alya sejenak melupakan kerinduan yang menyesakan terhadap suaminya. Kebawelan Anya membuat hormon bahagia Alya kembali bekerja. Alya kembali ceria seperti sebelum hamil. Dan ternyata Alya lupa membawa ponselnya yang dari pagi tidak lepas dari genggamanya.
"Eh Al. Lo nggak kangen sama apartemen depan?" tanya Anya ke Alya.
Alya menatap gedung apartemen di depanya itu dengan tersenyum. Alya merasa kenangan di apartemen Megayu sangat manis. Tempat pertama ketemu Ardi, tempat dimana Alya menyerahkan kesucianya pada suaminya. Tempat dimana Alya hidup berdua dengan Ardi. Masak bareng, cuci piring bareng, hidup tanpa pembantu. Meski sebentar tapi Alya sangat nyaman.
"Kangen banget" jawab Alya singkat.
"Lo nggak pengen maen?"
"Kata supir suamiku mau dijual, udah pindah tangan"
"Ah masa? Suami lo kan kaya, dijual uangnya buat apa? Menurutku nggak dijual deh" jawab Anya spontan.
"Ya nanti deh aku tanyain ke suamiku, kalau belum dijual bisa buat tempat istirahat" jawab Alya berfikir benar juga, buat apa Ardi jual apartemen kecil. Padahal Ardi punya usaha banyak.
"Kenapa lo pindah sih? Terus kenapa lo bohong ke gue lo tinggal di rumah tante lo?" tanya Anya lagi mengingat Alya banyak berbohong.
"Aku nggak bohong. Kan aku bener. Mas Ardi kan anak Tante Rita. Aku pindah sama Mas Ardi ya kan sama aja ke rumah Tante Rita. Mas Ardi maksa pindah gara-gara kamu, hehehe" jawab Alya tersenyum dan membela diri tidak mau terkesan jahat karena berbohong
"Sini aku bisikin" jawab Alya nyengir. Lalu Anya mendekatkan telinganya. "Malam itu sebelum kamu dateng, malam pertamaku" bisik Alya.
"Woooh, omaigat. Pantes jalan lo aneh banget! Terus suami lo jutek banget! Pasti dia bete banget ya sama gueh? Hahaha. Terus kenapa lo nyuruh gue nginep?"
"Pagi itu aku sedih banget. Aku butuh teman. Mas Ardi pergi seminggu nggak kasih kabar. Bahkan aku kira dia bakal ceraiin aku. Nggak tahu malam itu aku ngrasa seneng banget pas dia pulang lagi. Aku lupa batalin kamu. Dia juga terlihat keren saat imamin aku sholat, entah kenapa malam itu aku mau aja sama dia" jawab Alya bercerita.
"Itu lo udah nikah lama?"
"Belum baru semingguan!"
"Oooh. Nanti lo ceritain ya malam pertama lo, hahaha"
"Ish..kenapa semua orang ingin dengar cerita itu sih?" jawab Alya malu ke temanya.
Alya dan Anya lalu tertawa bersama. Sambil menikmati nasi lamongan. Tidak lama Dinda yang jaga sore datang ikut bergabung.
Alya, Anya dan Dinda menjadi betah mengobrol di lesehan warung tenda lamongan depan rumah sakit. Bahkan Alya tampak segar, dan sehat. Alya juga melupakan ponselnya di kamar Anya yang sedang dicharge.
****
Kantor Gunawijaya.
__ADS_1
"Kenapa nggak diangkat sih Yang?" gerutu Ardi menunggu dering telponya tersambung.
Ardi kembali memencet tombol panggilan. Tapi tidak diangkat juga. Ardi pun dibuat gemas dan kesal sendiri. Bahkan Ardi lebih khawatir dari Alya.
"Haduh, pasti marah dia, Sayang please maafin mas. Bisa semalaman nih gue didiemin" gerutu Ardi khawatir masih tetap memencet tombol panggilan.
"Din!" panggil Ardi ke Dino.
"Ya tuan" jawab Dino
"Arlan pulang atau masih nunggu?" tanya Ardi ke Dino. Karena meski punya sopir Ardi sering tidak sabaran dan menyuruh Arlan pulang saja.
"Menunggu Tuan" jawab Dino.
"Oke, telpon dia, siapin mobil, antar gue ke rumah sakit" perintah Ardi masih memegang ponsel dan menunggu dering telponya tersambung. Ardi malam ini tidak mau menyetir mobilnya sendiri karena harus memastikan telponya diangkat.
"Kamu baik-baik aja kan sayang?" gumam Ardi dalam hati, sambil berjalan masuk ke lift dan memikirkan alasan istrinya menelpon banyak sekali tapi ditelp balik tidak angkat.
Ardi masih memandangi ponselnya, masih menunggu jawaban istrinya. Ardi menyesal dari tadi tidak memegang ponsel dan menjawab panggilan istrinya.
Dino yang melihat tuanya panik dan bermuka masam hanya menggeleng-gelengakn kepala. Ardi tidak peduli sekitarnya, matanya tertuju pada ponselnya. Bahkan dering ponselnya di loudspeaker, agar jika istrinya mengangkat suaranya langsung terdengar.
"Ribet banget jadi orang ganteng dan kaya" ujar Dino dalam hati.
Sampai bawah Arlan sudah siap membukakan pintu mobil untuk Ardi. Sementar Dino bersiap pulang dengan mobilnya sendiri. Sampai di mobilpun Ardi tidak patah semangat menghubungi istrinya. Semakin Alya tidak menjawab, semakin bernafsu Ardi memencet tombol panggilan lagi.
"Kamu sedang apa sih Yang? Kenapa nggak diangkat telponya? Tolong jangan siksa mas begini" gumam Ardi masih semangat memencet tombol panggilan.
"Tambah kecepatanya Pak" perintah Ardi ke Arlan.
"Baik Tuan" jawab Arlan paham ekspresi Ardi. Untuk yang terakhir kalinya Ardi memencet tombol panggilan ke istrinya. Dan tetap saja tidak diangkat.
Karena kesal Ardi meletakan ponselnya dengan geram di bangku mobil. Ardi menghela nafasnya kasar. Membayangkan istrinya merajuk, mengomel atau bahkan menangis dan berfikir jauh lagi.
Padahal Ardi selalu merencanakan bisa mengajak Alya duduk, dan bercerita. Ardi merasa harus menyampaikan masalalunya tentang Intan. Ardi ingin Alya mengenalnya, Alya bisa menghadapi semua cobaan yang ada. Ardi ingin tidak ada kesalahpahaman lagi.
Tapi selalu saja tidak ada waktu. Dan saat mereka bersama selalu ada saja kesalah pahaman kecil. Jadi jangankan menjelaskan masalah masalalu. Alya diam dan menurut saja Ardi sudah sangat lega.
"Semoga dia baik-baik saja dan tidak marah" gumam Ardi menyandarkan kepalanya di mobil.
Karena pesan Alya ada 20. Ardi tidak membaca dan scroll pesan Alya secara lengkap. Ardi tidak membaca informasi penting kalau Alya sudah pulang dan menunggu di kos Anya karena barang Alya banyak.
Ardi hanya membaca pesan Alya yang terakhir. Alya berulang kali menanyakan kapan pulang? Apa meetingnya sudah selesai? Kenapa telponya tidak diangkat?
Ardipun menyuruh Arlan menuju ke rumah sakit. Sekitar 30 menit Arlan dan Ardi sampai di rumah sakit. Ardi langsung turun dan berjalan setengah berlari dengan cepat menuju ruang rawat. Dengan nafas ngos-ngosan Ardi membuka pintu ruang rawat Alya.
__ADS_1