
"Gery" panggil Mira berkaca-kaca saat membuka pintu ruang rawat Gery.
Gery yang sedang menggerutu dikerjai sahabatnya yang menyebalkan itu seperti didatangi dewa penolong.
"Mira?" gumam Gery bahagia.
Mira tidak menjawab panggilan Gery, Mira berjalan cepat merengkuh tubuh lemah Gery dengan hangat. Tubuh yang sudah direlakan untuk menyelamatkanya.
Mira tidak tahu harus membalas dengan cara apa? Mira hanya punya cinta untuk Gery. Di tatapnya setiap kasaa dan hipavik yang membalut beberapa bagian tubuh laki-laki tampan itu.
Seakan menjadi untaian kata yang menjelaskan betapa besar cintanya untuk Mira. Tidak ada yang lebih dari itu.
Mira meneteskan air matanya lagi, jari-jarinya menelusuri wajah tampan Gery, menyentuh ujung bibir nya yang masih biru.
"Pasti sakit ya?" tanya Mira dengan lembut.
Gery tersenyum, tanganya yang masih terpasang selang infus diangkatnya. Meraih tangan Mira yang menyentuh pipinya. Gery balik mencium tangan itu dengan lembut kemudian menggenggamnya.
"Tidak ada yang lebih sakit selain melihatmu menangis, jangan nangis lagi" tutur Gery sambil membersihkan air mata Mira.
"I love you" bisik Mira dengan mesra.
"Apa kamu sekarang sudah percaya?" tanya Gery menggenggam tangan Mira memandang wajah cantik dengan mata sembab di hadapanya itu.
"Percaya apa?"
"Tentang cintaku?"
"Aku benci mendengar pertanyaanmu" jawab Mira menunjukan wajah cemberut.
Mira bukan hanya percaya, Mira sangat mengagumi bukti cinta yang Gery berikan. Itu cinta terhebat yang Tuhan kirimkan setelah cinta orang tuanya. Cinta yang Mira kita hanya ada di novel fiksi kini dia rasakan nyata.
"Kenapa?" tanya Gery manja.
"Apa tidak cara lain buatmu membuktikan itu padaku? Ini terlalu menyakitkan buatku!"
"Kenapa menyakitkan?"
"Aku sakit melihatmu terluka begini. Ini juga akan membuatku berhutang padamu. Dan ini terlalu besar buatku, aku akan susah membayarnya"
"Benarkah? Itu artinya kamu hanya berhutang padaku?"
"Bukan seperti itu, kau membuatku iri. Kau bisa menemukan kata yang banyak untuk nyatakan cintamu. Sementara aku, kau hanya buatku merasa bersalah karena harus melihatmu begini?"
"Tidak usah merasa bersalah. Aku akan segera pulih, percayalah"
"Aku sangat takut"
"Apa yang kamu takutkan?"
"Mengejarmu sungguh melelahkan, aku tidak mau saat aku sampai kamu malah, aku tidak mau kehilanganmu"
"Ck. Segitu lemahkah aku di pikiranmu, aku tidak akan mudah pergi. Kamu tidak perlu mengejarku lagi, aku akan di sisimu, kita akan berjalan bersama. Aku akan tepati janjiku"
"Janji?"
"Apa kamu lupa? Mendekatlah, bolehkah aku menciummu?"
Mira pun mengangguk mendekatkan dirinya ke Gery saat Gery hendak mencium, mereka mendengarbsuara berisik dari arah pintu.
__ADS_1
"Biarkan Ndot!"
"Minggir! Dia putriku"
Ayah Mira dan Tuan Nando tampak ribut di depan pintu. Dokter Nando tampak mencegah Tuan Bayu masuk. Tapi Tuan Bayu nekat. Rupanya kedua bapak mereka sudah sedari tadi di balik kaca.
"Ehm. Ehm" Ayah Mira dan Dokter Nando berdehem.
"Papah?" ucap Gery dan Mira bebarengan sama-sama menoleh ke Papanya masing-masing.
"Memang ya kamu anak nakal tidak jauh berbeda dari ayahmu. Masih sakit mau macam-macam! Tunggu halal dulu!" ucap Tuan Bayu ke Gery.
"He... Pagi Om" sapa Gery membetulkan posisi bantalnya menyapa calon mertuanya.
"Papah sejak kapan di sini?" tanya Mira malu.
"Sejak tadi. Maafkan Papamu ini dia memang begitu sejak dulu" bela Tuan Nando merasa kasian ke putra dan calon menantunya itu diganggu.
Selanjutnya mereka berempat mengobrol dengan damai. Menempatkan diri sebagai ayah dari putra putri mereka. Tuan Bayu berterima kasih pada Gery.
****
"Kalau kamu ingin memilikinya yang penting nikah dulu! Sikap dan hubungan kalian bisa diperbaiki setelahnya. Toh kalian sudah saling kenal dan orang tua merestui. Segerakan!"
Kata-kata Ardi itu terus terngiang di telinga Farid. Dalam diamnya Farid mencengkeram stir mobilnya kencang. Ada tekad yang membara di dadanya.
Usia Farid sudah kepala tiga. Di antara Farid, Ardi dan Gery dia yang paling tua, meski hanya berjarak beberapa bulan. Ardi benar Farid harus segera menikah. Ardi memang sahabat terbaiknya, saranya Insya Alloh saran yang baik untuk dia ikuti.
Setelah beberapa menit mengendarai mobil, Farid sampai di depan perumahan kecil. Perumahan tempat dia mengantarkan istri sahabatnya itu kabur, dan ternyata di situ juga Farid didekatkan dengan Anya lagi.
Farid turun dari mobilnya. Mengingat kejadian tempo hari, disuguhi teh asin. Dan sekarang Farid sudah membawa persedian. Air Mineral 500 liter 5 botol dia taruh di jok belakang mobil.
"Thing thong. Assalamu'alaikum"
"Iya bentar" jawab penghuni kos, membukakan pintu untuk Farid.
"Cari siapa ya?"
Ternyata yang keluar teman kos Anya. Mahasiswa dari kampus di sebrang sana yang kos di situ.
"Neng Anya_nya ada?" tanya Farid sopan.
"Ada! Tunggu bentar ya, silahkan duduk, biar saya panggilkan dulu"
"Baik terima kasih"
Farid kemudian duduk di bangku kecil di teras kosan Anya. Masih di bangku yang sama dengan kemarin. Bayangan cangkir berisi teh asin yang tersaji di meja masih terlintas jelas.
Farid tersenyum sendiri justru menganggap konyol si Anya.
"Awas aja kalau udah nikah nanti. Belum tau siapa aku?" batin Farid dalam hati. Entah apa yang ada di bayangan Farid setelah menikah. Hanya dia yang tahu.
Jika bukan Farid mungkin akan marah, mengumpat atau kesal ke Anya. Tapi buat Farid yang penting nikah dulu. Itu senjata sakti yang diwariskan dari Ardi si ketua suhu. Pokoknya nikah dulu.
****
Anya sedang rebahan di kamarnya bermain game, menunggu jadwal trafel menjemput Anya untuk pulang ke Bogor. Mendengar teman memanggilnya Anya segera bangun, temanya memberitahu ada yang mencarinya.
"Nyari gue? Siapa?" tanya Anya ke teman kosnya.
__ADS_1
"Nggak tahu Kak, Kakak liat aja! Dia nunggu di teras"
"Oke! Makasih ya" jawab Anya mengambil ikat rambut, menggulung rambut sebahunya dan diikat ke atas.
"Siapa yak?" gumam Anya mengira-ira.
Dengan menggunakan celana jeans dan t shirt berwarna biru, Anya berjalan ke ruang tamu. Sebelum menemui tamunya Anya mengintip lewat tirai, memastikan siapa tamu jam segini.
"Aiiiih Si Kaku itu? Ngapain siiik, udah dibilang juga, gue mau pulang sendiri! Gue kerjain lagi baru tau rasa lo" batin Anya melihat ke jendela.
"Ehm" Anya keluar menampakan muka cemberut ke calon suaminya itu.
"Pagi Neng calon istri" sapa Farid kaku.
"Heh? Calon istri? Aa apaan sih?" jawab Anya manyun.
"Kan Neng yang bilang sendiri kemarin ke temen Aa, Neng calon istri Aa"
"Aish, kan Anya udah bilang, Aa jangan ke GR an, Anya itu belain orang tua Anya"
"Sama aja kan, Neng calon istri Aa".
"Hemm. Udah-udah, Aa mau ngapain ke sini?"
"Udah mandi kan?"
"Udahlah, udah cantik seger begini"
"Ya udah berangkat yuk!"
"Berangkat kemana? Nggak, Anya mau pulang sendiri" jawab Anya mengira Farid mengajak ke Bogor.
"Menyebalkan sekali ke Bogor berdua denganya, terus nanti dia nginep. Iyuuh nggak nggak!" batin Anya menebak.
"Memang siapa yang mau ajak Neng pulang?" tutur Farid menjawab Anya.
"Emang mau kemana?"
"Makanya Neng jangan GR dulu!"
"Ya emang mau kemana?"
"Neng udah nggak sabar buat acara besok pagi ya?" goda Farid ke Anya.
"Nggak"
"Kita ke rumah sakit sekarang Neng! Sabar ya? Aa ke Bogornya nanti sore"
"Ke rumah sakit? Ngapain A'? Siapa yang sakit? Rumah sakit mana?"
"Neng nggak nonton TV atau baca berita?"
"Nggak, memang ada apa A'? Anya udah pesen travel buat ke Bogor!"
"Batalin, Neng bareng Aa sama Papa Mama aja"
"Ya tapi kasih tau dulu, siapa yang sakit?"
"Coba neng buka headline news pagi ini!"
__ADS_1
"Hoh berita pagi?"
"Ya sudah ayok berangkat, nanti kamu tau sendiri"