Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
188. Gara-gara Ardi


__ADS_3

Setelah berbincang dengan ayah Dokter Gery. Alya segera kembali ke kamar suaminya.


"Gimana keadan Gery sayang?" tanya Ardi ke istrinya setelah Alya masuk.


Bu Rita dan Tuan Aryo yang sedang menonton film acara bulu tangkis ikut menatap Alya dan menunggu jawaban menantunya.


Alya menatap lekat suaminya. Dan airmatanya lolos lagi. Alya menangis tidak tega membayangkan Dokter Gery.


"Hiks hiks hiks" Alya menangis dan berjalan mendekati suaminya. Kemudian Alya memeluk Ardi sekenanya.


Tuan Aryo dan Bu Rita dibuat bingung dengan sikap menantunya, begitu juga Ardi. Alya membenamkan wajahnya di dada bidang Ardi yang sedang berbaring setengah duduk. Alya memeluk suaminya erat.


"Jangan erat-erat sayang meluknya. Nanti kena infusnya. Perut Mas juga masih nyeri" ucap Ardi membercandai Alya.


"Ish" Alya melepaskan pelukannya mendesis. Lalu Alya mengelap air matanya.


"Bagaimana keadaan Gery? Dia baik-baik saja kan? Kenapa menangis? Katakan ada apa?" tanya Ardi ke istrinya dengan tatapan sayang.


"Dokter Gery belum sadar Mas, Alya takut" tutur Alya menjelaskan keadaan Gery dengan ekspresi khawatir.


"Ck. Mas suamimu lho! Segitunya khawatirin Gery" jawab Ardi malah salah tangkap. Alya terlihat begitu mencemaskan kawan yang menjadi manyan rivalnya.


Mendengar respon Ardi, Alya langsung memukul tangan Ardi yang masih lebam.


"Auuuuhh huh huh" Ardi reflek menarik tangannya lengan yang masih ngilu malah dipukul keras.


"Mas, Dokter Gery itu temenmu. Dia belum sadar, Dokter Gery antara hidup dan mati! Bisa-bisanya mas masih cemburu"


"Hmm. Iya tapi kamu nggak usah nangis-nangis gitu, Mas nggak suka liat ekspresi kamu khawatir nangisin orang lain, ke mas nggak, kamu cinta sama Gery?" jawab Ardi cemburu.


"Astaghfirulloh, tanya sama Mamah Mas. Lian juga khawatirin Mas, Lian hamil anak mas, Lian juga nangisin Mas" jawab Alya membela diri dan menoleh ke orang tuanya.


Tuan Aryo dan Bu Rita kemudian saling berdecak. Malu sendiri melihat anak dan menantunya dimana-mana tetap saja seperti anak kecil. Lalu mereka berdua mengeraskan volume acara bulu tangkis dan mengacuhkan pasangan yang menyebalkan itu.


"Ya Mas kan nggak liat gimana ekspresi kamu khawatirin Mas" jawab Ardi lagi.


"Tuh kan nggak bersyukur. Lian setiap saat setiap waktu khawatirin mas doain mas. Lian nggak tidur, di sini nungguin Mas. Dipikirnya Lian nggak pusing dan nahan mual begadang di sini?" mode emak-emak Alya keluar


"Jadi kamu ngeluh?"


"Bukan Ngeluh!"


"Terus apa? Ngrawat suami sendiri ngeluh"


"Ya ampun Mas. Mas bukan itu maksud Lian. Mas itu harusnya liat usaha Lian. Mas itu aneh tau nggak? Bisa-bisanya mas bandingin perhatian Lian ke Mas sama Dokter Gery"


"Ya abis kamu gitu"


"Mas. Mas suami Lian. Cintanya Lian tentu saja Lian akan lebih perhatian ke Mas, Lian ke Dokter Gery cuma jenguk sebentar. Bisa-bisanya mas cemburu"

__ADS_1


"Ekspresi kamu sangat menyebalkan"


"Ya Lian beneran takut Lian kasian sama Dojter Gery. Lian juga kagum sama pengorbanan Dokter buat Dokter Mira. Dokter Gery beneran berbaring belum sadar"


"Jadi maksud kamu, kamu mau mas berjuang kaya Gery?"


"Ih Mas kalau ngomong dijaga! Amit-amit, jangan sampai Mas sakit kaya gitu. Mas beginu aja Mamah sama Lian stress" jawab Alya.


"Kata kamu Gery keren kaya gitu buat Mira. Berarti cinta mas ke kamu nggak keren"


"Aiiih, bukan gitu juga" jawab Alya putus asa meladeni suaminya.


Sedang sakit masih saja Ardi berfikir kekanak-kanakan begitu.


Karena jengah dan tidak tahan menahan kesal mendengar anak dan menantunya bertengkar, Bu Rita dan Tuan Aryo berdiri. Mereka berpamitan mau kembali ke ruang rawat Bu Rita.


"Papah Mamah mau kemana?" tanya Ardi tidak menghiraukan Alya melihat Papanya mendorong kursi roda Bu Rita.


"Pusing Mamah dengerin kalian" jawab Bu Rita.


"Maafin kami Mah" jawab Alya malu bertengkar di hadapan mertuanya.


"Mamah mau ke kamar mamah aja!" jawab Bu Rita


"Tapi Lian mau pulang Mah, minta tolong temani Mas Ardi dulu" jawab Alya mencegah mertuanya keluar dari ruangan Ardi.


"Pulang?" tanya Ardi kesal semakin cemburu dan merasa diacuhkan.


"Liat pakaian Lian Mas, Lian belum bawa apa-apa" jawab Alya menunjukan dirinya berpakaian tidak pantas.


"Kan bisa telpon pelayan sayang. Arlan juga bentar lagi ke sini?" jawab Ardi memberitahu.


"Mas ijinin Pak Arlan ke kamar kita? Ambil pakaian Lian? Pakaian dalan juga?"


"Ya nyuruh Ida apa Mia sayang" jawab Ardi lagi.


Mereka berdua kembali beradu pendapat. Bu Rita menggelengkan kepalanya tambah pusing.


"Ayo Pah" ajak Bu Rita ke Tuan Aryo keluar.


"Mah di sini dulu" cegah Alya.


"Kalian berdua ini pada nggak malu sama umur, Papa malu liat kalian begini" jawab Tuan Aryo.


Ardi dan Lian terdiam merasa terhakimi dengan ucapan Tuan Aryo. Tapi ucapan Tuan Aryo benar.


"Maaf Pah. Lian mau ambil ponsel dan dompet Lian yang tertinggal. Lian pulang sebentar setelah itu segera kembali ke sini. Minta tolong temani Mas Ardi dulu" tutur Alya memberi alasan.


"Kamu nggak bawa hape?" tanya Bu Rita.

__ADS_1


"Nggak Mah. Makanya Lian mau pulang dulu" jawab Alya.


"Ya udah Mamah di sini dulu temani Ardi. Biar Mamah telpon Arlan suruh jemput" jawab Bu Rita memberi solusi.


"Baik Mah" jawab Alya bersiap-siap pulang.


Tapi ternyata Ardi tidak mau ditinggal istrinya.


"Nggak. Kamu nggak boleh pulang. Mamah kalau mau istirahat m, istirahat aja. Nggak usah pulang!" tutur Ardi memberi perintah.


"Mas Lian mau mandi"


"Mandi sini" jawab Ardi.


"Baju ganti Lian baju ganti Mas?"


"Biar diurus sama Arlan dan orang rumah. Kasih tau mereka apa saja yang harus dibawa, catat sini biar mas kirimkan ke Arlan" ucap Ardi memberi solusi.


"Hemm, iya" Alya berhenti berargumen memilih patuh. Perintah Ardi tidak bisa ditolak lagi.


"Sepertinya Ardi benar Lian, kamu di sini saja. Urus bayi besarmu ini. Mamah mau jenguk Gery sendiri saja, abis itu istirahat" jawab Bu Rita mantap meninggalkan ruang rawat anaknya.


"Ya Mah" jawab Alya patuh.


Bu Rita dan Tuan Aryo pergi. Alya kemudian duduk dengan muka cemberut memikirkan ponselnya.


****


"Gimana? Kita mau ke rumah sakit mana?" tanya Ayah Mira sudah berada di dalam mobil Gery.


"Teman Mira belum angkat telpon Mira Pah"jawab Mira panik Alya ditelpon tidak kunjung diangkat.


"Tapi nyambung?" tanya Ayah Mira.


"Nyambung Pah. Tapi nggak diangkat"


"Teman yang lain?"


"Teman yang lain kan nggak tahu kejadianya Pah?"


"Kok bisa?"


"Temen Mira itu istri Ardi. Ardi kan juga dirawat bareng Pah"


"Sepertinya temanmu tidak membawa ponselnya. Cari tahu di surat kabar saja"


"Kalau di berita di rumah sakit Harapan sehat di pesisir dekat TKP Pah"


"Ya udah kita kesana saja"

__ADS_1


__ADS_2