Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
206.Pasir.


__ADS_3

Di atas kasur mewah milik besanya itu, Bu Mirna menceritakan kisah masalalunya ke anaknya yang sebelumnya dia simpan rapat. Alya hanya tau ayahnya meninggal saat dia berusia 7 tahun.


Dulu Alya tinggal di kota tapi lantas pindah ke daerah. Bu Mirna juga bekerja keras sendirian menghidupi Alya dengan berbagai pekerjaan.


Bu Mirna pernah menjadi tukang cuci, pernah menjadi tukang bersih-bersih jalan, pernah juga menjadi pelayan rumah makan. Sampai akhirnya Bu Mirna mendapatkan jalan mencari rejeki dengan keterampilanya memasak.


Alya hanya mengingat ayahnya lewat foto dan beberapa memory acak tentang masa kecilnya. Bapak Alya memang sangat menyayangi Alya dan Bu Mirna. Tapi tidak sekalipun Alya bertemu dengan kakek nenek Alya dari bapaknya itu.


"Dulu ibu juga kuliah Nduk" ujar Bu Mirna cerita lagi.


"Ibu kuliah dimana? Ambil jurusan apa?" tanya Alya.


"Ibu kuliah ambil akuntansi, ibu kuliah di sini. Ibu dulu ingin bekerja di kantoran" tutur Bu Mirna sendu.


"Terus kenapa ibu tidak lanjut kuliah?"


"Waktu ibu dapat tugas KKN, ibu melakukan tugas belajar di sebuah perusahaan. Ibu magang di sana, dan ibu bertemu bapakmu?"


"Oh, bapak karyawan di sana?" tanya Alya serius.


Bu Mirna kemudian menggelengkan kepalanya tersenyum.


"Lantas?"


"Bapakmu anak dari pemilik perusahaan itu?"


"Apa Bu? Jadi bapak orang kaya?" tanya Alya.


Bu Mirna mengangguk kemudian Bu Mirna mengelus rambut Alya, sambil tersenyum.


"Itu sebabnya dulu ibu takut kalau kamu nikah sama orang sini"


"Jadi bapak asli orang ini juga?"


"Iya. Tapi bapakmu memilih melepas semuanya dan menikahi ibu. Bapakmu dicoret dari keluarga kakekmu. Kakek nenekmu benci sekali ke ibu. Karena bapakmu menolak dijodohkan dengan pilihan kakekmu, bapak diusir"


"Ya ampun, Bapak"


"Iya. Ibu dan bapak diteror, diancam, sehingga kami memutuskan pergi dari Jakarta. Dan kamu hadir di tengah-tengah kami, kamu penyemangat kami"


"Ah Ibuuk"


"Makanya kamu harus bersyukur, kamu dapet jodoh, yang beda kasta dengan kita. Tapi mertuamu menyayangimu"


"Iya Bu. Alya sangat bersyukur"


"Jaga suamimu, hormati mertuamu. Jadilah menantu dan istri yang solikhah ya"


"Iya Bu. Alya akan berusaha seperti itu"


"Ibu selalu berdoa, setiap malam setiap waktu. Kamu dapet jodoh yang sayang, kamu juga disayang mertua. Dan Alloh kabulkan itu sekarang, ibu sangat bahagia" tutur Bu Mirna lagi.


"Iya Bu. Alya juga sayang banget sama Mas Ardi dan Bu Rita. Mas Ardi selalu mengistimewakan Alya. Bu Rita juga, kadang Alya berfikir kenapa nasib Alya begitu baik. Ternyata semua ini karena doa ibu" tutur Alya lagi.


Kemudian Bu Mirna mengelus perut Alya.


"Yang sehat ya jabang bayii, suatu saat nanti semoga kita bisa ketemu saudara bapakmu. Bapak masih punya kakak satu" tutur Bu Mirna lembut. Alya sangat senang ibunya berada di sisinya.


"Oh ya? Jadi Alya punya om?"


"Kamu juga punya sepupu" tutur Bu Mirna.


"Oh iya? Siapa Bu?"


Di saat Ibu, anak dan jabang bayi itu sedang bermesraan. Bu Mirna hendak menjawab. Pintu kamar mereka di ketok.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Alya mendengar pintu diketok.


"Ini Mamah sayang" jawab Bu Rita.


"Mamah" jawab Alya kaget dan malu, lalu membuka selimutnya bangun dan membuka pintu kamarnya untuk mertuanya.


"Duuh senengnya kalian yang untel-untelan" tutur Bu Rita iri ke sahabatnya punya anak perempuan.


"Kan kemarin Alya juga udah tidur sama Mamah juga, mamah mau ikut gabung lagi?" jawab Alya ke mertuanya. Bu Rita hanya tersenyum.


"Ada apa to Jeng? Kamu nggak dicariin suamimu?" tanya Bu Mirna.


"Nggak, Mas Aryo udah tidur. Aku wa Ardi nggak dibales, telpon nggak diangkat. Coba tanyain udah sampai mana? Mamah kok khawatir ya" ucap Bu Rita ke Alya.


"Oh iya. Alya juga lagi mau tanya itu Mah, dari tadi sih lagi wa_nan. Tapi, ini belum balas lagi" jawab Alya.


"Telpon lagi coba sayang, dia kan kalau kamu yang telpon gercep"


"Iya Mah" jawab Alya menurut.


****


"Berlian istriku yang manis. Tolong jangan nikah lagi. Mas nggak sanggup bayangin kamu disentuh laki-laki lain" celoteh Ardi di dalam kegelapan sambil memejamkan mata dengan deguban jantung yang begitu keras.


Mobil mereka terhenti dalam kegelapan suasananya sunyim.


"Auuw" keluh Farid tiba-tiba di sampingnya, memegangi kepalanya.


Ardi langsung diam berfikir. Dan menepuk-nepuk pipinya


"Gue nggak salah kan. Rid itu suara lo kan?" tanya Ardi ke Farid.


"Iya ini gue siapa lagi" jawab Farid kesal. Bisa-bisa nya di saat genting Ardi mikirin Berlian jadi janda.


"Apa kalau orang mati bareng, di alam barzah bakal bareng juga?" tanya Ardi ke Farid.


"Kita udah mati belum sih? Kita tadi jatuh ke jurang kan? Kok gue nggak sakit apa-aa?" tanya Ardi mengira mereka udah masuk ke jurang mobil meletus dan meninggal.


"Mati palalu? Gua pusing banget gini lo bilang nggak sakit, tongkat lu ngenain gue Bro" keluh Farid.


"Ya sory. Tapi ini beneran kita masih hidup? Apa alam barzah gelap begini?" tanya Ardi lagi.


"Berisik! Anya, Pak Arlan apa kabar? Neng... Pak Arlan!" panggil Farid ke Anya dan Pak Arlan


Sementara Pak Arlan dan Anya masih syok diam aja dengan nafas terengah-engah.


Tiba-tiba ponsel Ardi menyala, ada panggilan dari istrinya.


"Ya Tuhan Istri gue telpon. Di dunia masih bisa telpon ke beda alam gaes" ucap Ardi bahagia, bukannya mengangkat telpon tapi malah terbengong memandangi telpon.


"Ya emang kita masih di dunia Bos!" tegur Farid lagi masih menahan pening.


"Jadi istri gue nggak jadi janda" tanya Ardi lagi.


"Lo gila emang!"


"Pak Arlan, Pak. Baik-baik aja kan Pak?" panggil Ardi berusaha meraba Pak Arlan.


"Iya Tuan" jawab Pak Arlan masih gemeteran.


"Alhamdulillah masih hidup lo Pak?, Anya, lo sadar kan Anya" panggil Ardi.


"Iya Kak, Alhamdulillah" jawab Anya juga.


"Alhamdulillah, bener kita masih hidup ini?" jawab Ardi menghela nafas lega mereka beneran selamat.

__ADS_1


"Kita jatuh kemana sih? Kok gelap banget begini, coba nyalain hape" tanya Farid.


"Saya juga kurang tahu Tuan, coba nyalakan lampunya aja" pinta Pak Arlan lalu mereka menyalakan lampu.


Dan Alhamdulillah lampu masih nyala. Ternyata mobil masih bekerja dengan baik. Tapi samping kanan kiri mobil seperti tembok tapi bukan tembok, gelap tanpa cahaya.


"Coba nyalain mesinya Pak!" pinta Farid lagi.


"Siap Tuan!" Pak Arlan kemudian menyalakan stater, mobil menyala, tapi gelap.


"Bentar, bentar, ini pasir bukan sih?" tanya Ardi memperhatikan sisi mobil seperti ada buliran pasir yang masuk.


"Iya ini pasir! Kita nyungsep ke pasir!" teriak Farid kegirangan.


"Syukyurlah" ucap Anya.


"Mundurin mobilnya Pak!" perintah Ardi ke Pak Arlan.


"Siap Tuan" jawab Pak Arlan.


Pak Arlan kemudian berusaha menyalakan mesin mobilnya. Berusaha memundurkan. Memang jalanya terasa berat. Tapi sedikit-sedikit bisa keluar. Dan ternyata benar mereka nyungsep ke gunungan pasir.


Mobil depan mereka memang sedikit rusak, tapi beruntung mesin masih menyala dengan baik. Dan untung saja jarak mobil di belakang mereka agak jauh. Jadi mereka tidak nenimbulkan kecelakaan.


"Alhamdulillah syukurlah. Kita selamat" ucap Farid.


"Tapi sebaiknya kita jangan lanjutkan perjalanan" ucap Ardi memutuskan.


"Iya Tuan. Bahaya" sambung Pak Arlan.


"Kok bisa gini sih?" tanya Farid berfikir.


"Siapa perempuan yang yang dimaksud bini gue ya? Dia pasti dalangnya" tutur Ardi.


"Lo sih, kebanyakan musuh sih jadi orang. Gue kan yang kena!" tutur Farid


"Hemmm"


Lalu ponsel Ardi nyala lagi. Alya kembali menelpon. Ardi langsung mengangkat telpon.


"Halo Sayang"


"Mas sampai mana? Di wa nggak bales" tanya Alya lembut.


"Sayang Mas kecelakaan"


"Apa? Kecelakaan? Kecelakaan gimana? Dimana? Keadaan Mas gimana?" tanya Alya berisik terdengar panik dan ada dua perempuan ikut nimbrung.


"Berisik banget, sama Mamah ya?"


"Iya ini Mamah Nak. Kecelakaan dimana? Kamu gimana?" tanya Bu Rita mengambil alih telepon.


"Masih deket kok Mah. Ardi juga belum tahu dimana? Tapi kita selamat kok!" jawab Ardi menenangkan ibunya.


"Terus gimana? Mamah kesitu ya"


"Maah bilangin Papah, Ardi minta tolong susulin mobil lagi. Mobil yang ini remnya blong"


"Blong!" tanya Bu Rita kaget.


"Udah Mah. Nggak apa-apa. Ardi Farid dan semuanya sehat buruan kesini ya!".


"Oke, shareloc"


*****

__ADS_1


Hehehe Maaf ya readers.


Author akan kebut cerita ini. Semoga alurnya tetep rapih dan mudah dipahami..


__ADS_2