
Kata orang berilmu, dikatakan bodoh jika seseorang jatuh ke lubang yang sama. Meski Alya selamat karena berpegangan pada pagar tangga, Bu Rita tetap menganggap kejadian semalam sesuatu yang penting untuk ditindak lanjuti.
Pagi-pagi sekali Bu Rita memanggil semua ART nya termasuk satpam dan tukang kebun. Mereka berkumpul di halaman belakang rumahnya. Bu Rita dan Tuan Aryo berdiri dengan tatapan tajamnya.
"Siapkan Pak Rudi" tutur Tuan Aryo memberi perintah ke Pak Rudi menyuruh karyawan berbaris rapih.
Lalu mereka berbari rapih seperti hendak upacara. Bahkan sebelum Tuan Aryo berbicara, mereka memberikan hormat dan berdoa. Setelah itu Tuan Aryo membuka sambutan.
Para pekerja menebak-nebak sendiri. Ini adalah hal yang sangat jarang dilakukan. Bahkan Bu Siti yang bekerja puluhan tahun, menghitung kegiatan dikumpulkan Tuan Aryo baru 3 kali.
Pertama saat Nenek Ardi sakit keras hendak meninggal, kedua saat Ardi patah hati, dan yang ketiga sekarang. Mereka kemudian saling mengoreksi diri salah apa mereka. Kalau mau dinaikan gaji jelas tidak begini caranya. Tau-tau nambah aja gaji mereka.
"Selamat pagi semuanya" sapa Tuan Aryo
"Pagi Tuan?" jawab Karyawan dengan posisi siap.
"Apa kalian tau kenapa kalian saya kumpulkan di sini?"
"Tidak Tuan"
"Siapa yang bertugas membersihkan lantai? Maju ke depan! Berbaris di sisi kanan" tanya Tuan Aryo sekaligus memerintah.
Lalu 5 orang ART dengan ragu-ragu dan langkah gemetaran maju. Mereka ada Mba Ida, Mia, Ati, Yuyun dan Tina.
Tuan Aryo dan Bu Rita memandangi mereka dengan seksama. Dari ujung kaki sampai kepala satu persatu.
"Saya ingatkan kalian berlima, mulai hari ini jangan membersihkan lantai dengan sabun. Kalau sampai ada tercecer sabun. Kalian saya pecat!" tutur Tuan Aryo kepada kelima pelayan.
"Satpam , angkat tangan!" lalu ke 8 satpam mereka angkat tangan.
"Sopir?" ke 4 sopir mereka angkat tangan juga.
Terakhir tukang kebon dan juru masak.
"Saya hanya ingin peringatkan ke kalian semua. Bekerjalah dengan baik. Menantuku sedang mengandung penerus Gunawijaya, sedikit saja dia tergores karena kalian. Kalian akan berakhir di rumah ini, bukan hanya karir kalian tapi hidup kalian. Mengerti?" Ucap Tuan Aryo singkat.
"Mengerti Tuan" jawab semua pekerja.
"Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Terima kasih, selamat pagi" tutup Tuan Aryo kemudian berlenggang begitu saja.
Semua pekerja bernafas lega tapi mereka bertanya-tanya. Apa salah mereka, ada apa dengan Nyonya Mudanya yang sedang hamil itu. Bu Rita sendiri tidak menyangka suaminya berkata seperti itu.
Padahal Bu Rita sudah fokus sama tukang pel mau memberitahu kalau ngepel yang hati-hati jangan sampai sabunya tumpah.Tidak tahu ada kado misterius pagi kemarin.
"Sudah bubarkan" tutur Bu Rita memberi komando ke Pak Rudi lalu mengekori suaminya.
"Pah, tunggu Mamah" panggil Bu Rita.
"Papah pelan kok Mah" jawab Tuan Aryo ke istrinya.
"Maksud Papah ngomong kaya tadi apa Pah?" tanya Bu Rita.
"Nggak apa-apa, mamah nggak usah khawatir!"
"Kalau papah nggak crita justru Papah bikin mamah khawatir"
"Baiklah, ayo kita masuk nanti Papah ceritain" ajak Tuan Aryo ke kamar.
Lalu Tuan Aryo duduk di kamarnya, membuka laptop hendak menunjukan sesuatu.
"Katakan ada Pah? Apa pelayan kita ada yang berhianat?"
"Berdoa saja tidak. Papah cuma beri peringatan ke mereka, kejadian akhir-akhir ini yang nenimpa Ardi dan Alya harus buat kita waspasa Mah, Alya jatuh dari tangga itu mencurigakan" tutur Tuan Aryo menyampaikan kegelisahanya.
"Kok serem si Pah?"
"Lihat rekaman cctv ini!" ucap Tuan Aryo memberikan cctv hotel tempat resepsi Gery dan depan rumahnya, pelakunya sato orang.
"Papah kenapa baru cerita ke Mamah si Pah?"
"Papah pastikan dulu baru cerita. Tapi Papah curiga, kenapa Alya bisa jatuh dan ada sabun di lantai tangga?" tutur Tuan Aryo lg.
"Iya sih Pah, terus gimana dong Pah?"
"Papah akan pasang cctv di setiap ruangan"
"Oke manah setuju Pah"
"Mulai sekarang hati-hati, tapi jangan perlihatkan ke mereka"
"Ya Pah"
"Ya udah Papah mau mandi, siapin baju buat ke kantor"
"Iya Pah"
****
Di kamar lantai dua rumah itu, sepasang suami istri sedang mengeringkan rambut mereka setelah keramas di hari yang masih petang. Mereka mandi pagi-pagi setelah menghabiskan malam yang panas dan panjang.
"Sayang" panggil Ardi ke Alya yang sedang berdiri masih dengan handuk kimononya.
"Hmmm" Alya hanya berdehem mengibaskan rambutnya.
"Ukuranmu nambah ya?" bisik Ardi sambil memeluk dari belakang.
"Heeh? Ukuran?" tanya Alya mengernyitkan dahi menoleh ke suaminya.
"Ini, ini dan ini" bisik Ardi lagi tanganya mulai berkelana ke aset-aset Alya yang mulai mekar karena kehamilanya.
"Ish" Alya mendesis dan memukul tangan suaminya yang mulai nakal.
"Kok dipukul sih?" tanya Ardi tida terima, itu kan miliknya, boleh dong pegang-pegang.
"Maksud mas ukuranya nambah apa? Lian sekarang gendhut? Iya?" tanya Lian garang dan tersinggung.
"Bukan gendhut, tapi lebih seksi, Mas suka tau"
"Hmmm, masa?"
"Iya, beneran! Boleh pegang lagi nggak?" goda Ardi nakal.
"Ish, nggak! Mas ngatain Lian gendut"
"Bukan, tapi seksi. Mas suka!"
__ADS_1
"Nggak!"
"Kenapa?"
"Ini buat dhedhek, nggak boleh pegang-pegang!"
"Kan dhedheknya belum keluar, Sayang?"
"Nggak. Nggak. Semalem udah dikasih juga" jawab Lian masuk ke ruang ganti.
Ardi mengekor di belakangnya, tapi Alya langsung pintunya.
"Haiisshh" Ardi hanya mendesis menggigit jarinya. Dasar Ardi tidak ada puasnya.
Tidak berapa lama Alya keluar sudah dengan balutan gamis panjang dan jilbabnya. Itu tandanya lampu merah untuk keingan Ardi dikibarkan.
Ardi, memandang istrinya cemberut lagi.
"Kenapa gitu liatin Lianya Mas?" tanya Alya liat suaminya cemberut seperti anak kecil tidak dikasih permen.
"Dasar pelit" gerutu Ardi sambil berjalan masuk ke ruang ganti.
"Apa Mas?" tanya Alya mendengar suaminya mencibir.
"Nggak" jawab Ardi dari dalam
"Ulangi coba, Lian denger lhoh"
"Nggak itu tadi cicak jatooh"
"Nggak bukan itu?" ucap Lian lagi. Mereka berdua meski terhalang tembok masih bersaut-sautan.
"Brak" Ardi membuka pintunya sudah dengan balutan kemeja putih.
"Bilang apa tadi?" tanya Alya mode galak.
Ardi menelan salivanya. Siap-siap nih ucapanya jadi bumerang yang menyiksanya.
"Nggak udah lupain!"
"Oke, Mas ngatain Lian pelit, awas aja. Nanti malam Lian tidur sama Ibu" ancam Lian tidak terima dikatai pelit.
"Nggak kok nggak bilang pelit" jawab Ardi
"Lian denger kok" jawab Alya sambil mengoleskan lipstik mode galak.
"Ya maaf"
"Nggak dimaafin"
"Maafin lah" tutur Ardi memohon.
"Pokoknya Lian tidur sama Ibu!" ucap Lian lagi mode ngambek.
Tapi sebenarnya Lian hanya senang mengerjai suaminya. Enak aja dibilang pelit padahal Lian selalu berusaha memberikan servis yang memuaskan.
"Dasar laki-laki, sekali-kali dikerjai aja" batin Lian
"Jangan atuh sayang"
"Lian pelit kok katanya"
"Ihh, nggak usah peluk-peluk, Lian pelit kok" jawab Lian lagi. Melepaskan tangan suaminya secara paksa.
"Aduuh, kenapa keceplosan sih?" gerutu Ardi.
Merasa ditolak Ardi langsung pucat- pasi. Lian bahagia sekali melihatnya.
"Mas minta maaf Sayang" ucap Ardi lagi.
"Nggak!"
"Ya Mas salah maaf"
"Lian mau turun, udah siang, nanti telat lagi"
"Dasi Mas belum dipasang lho Yang"
"Katanya Lian pelit, gendhut? Pasang aja sendiri!"
"Nggak, nggak pelit sayang, mas minta maaf, pakein yah!" pinta Ardi dengan wajah memelas.
"Ada syaratnya!" jawab Alya berfikir dengan tatapan licik ke suaminya.
"Apa? Katakan tapi jangan diemin Mas"
"Nanti malam Lian tidur sama Ibu"
"Hemm"
"Kalau nggak boleh ya udah, Lian diem"
"Ya boleh" ucap Ardi berat, dengan muka memelas.
Tawa Alya akhirnya pecah, tidak tahan melihat wajah suaminya, wajah Ardi pucat dan cemberut.
"Kok ketawa sih?" tanya Ardi jengkel.
"Hehehe, nggak! Sini Lian pakein" jawab Lian menarik dasi suaminya dan memakaikanya dengan penuh kasih sayang.
Ardi menatap istrinya intens. Setelah dasi rapi mereka saling tatap. Alya tersenyum terhadap suami tampanya itu.
"Cup" Ardi menurunkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Alya yang merona karena lipstiknya.
"Kamu ngerjain Mas ya?" tanya Ardi selesai mencium.
"Hehe, mas lucu tau kalau lagi cemberut"
"Plethak" Ardi menyentil kening Alya.
"Uuh, kebiasaan" jawab Alya mengelus keningnya.
"Dasar" umpat Ardi.
"Udah ah ayuk berangkat kerja"
__ADS_1
"USG ya!" tutur Ardi mengingatkan agenda mereka.
"Oh iya lupa"
"Gimana sih? Masa nggak ingat"
"Hehe"
Mereka berdua kemudian turun ke bawah. Tuan Aryo, Bu Rita dan Bu Mirna sudah menunggu di ruang makan.
"Pagi Mah. Pah, Bu" sapa Alya ke ketiga orang tuanya.
"Pagi sayang. Cantik banget mantu Mamah, udah nggak sakit kakinya? Perut kamu nggak kram kan?" tanya Bu Rita khawatir, menelisik ke dahi Alya, tangan dan mengelus perutnya.
"Lian nggak apa-apa Mah. Semalem kita langsung cek Djj dhedhek, Alhamdulillah sehat"
"Djj?"
"Iya Mah, kita semalem dhengerin denyut jantung janin kita, kenceng banget lhoh Mah. Jedug jedug gitu" sambung Ardi bangga.
"Oh iya? Pakai apa?"
"Lian beli dopler Mah" jawab Alya.
"Mamah mau dhenger juga dong!" tutur Bu Rita.
"Nanti sore pulang kerja ya Mah"
"Bener ya!"
"Abis ini kita juga mau USG Mah" sambung Ardi.
"Mamah ikut ya!"
"Nggak! Ardi mau berdua sama Lian"
"Ish kamu itu" cibir Bu Rita cemberut.
"Udah-udah nanti kita minta videonya aja" lerail Tuan Aryo.
Lalu pelayan datang dari dapur membawa nasi yang masih panas dan sup daging yang asapnya masih mengepul.
Membau wangi bawang, selera Alya tergugah dan ingin segera menyantap. Lalu Alya mengambil mangkok dan bersiap mengambil supnya.
"Stop Menantu!" tegur Tuan Aryo tiba-tiba membuat semua kaget.
Biasanya saat semua menu sudah tersedia masing-masing bebas mengambil. Bu Rita melayani Tuan Aryo. Alya melayani Ardi.
"Iya Pah" jawab Alya lirih sambil mikir kenapa harus stop. Apa salahnya.
"Pak Yang!" panggil Tuan Aryo.
"Siap Tuan!"
"Duduk, lah!" perintah Tuan Aryo.
"Baik Tuan" jawab Pak Yang duduk di kursi ujung.
"Mulai sekarang cicipi semua makanan yang kamu sajikan di depan kami, pastikan masakanmu tidak ada racun untuk kami!" perintah Tuan Aryo.
"Baik Tuan" jawah Pak Yang, kemudian mengambil mangkuk dan sendok hendak membuktikan semua masakannya sehat.
"Pah" panggil Bu Rita merasa aturan baru Tuan Aryo sedikit berlebihan.
Tuan Aryo mengangkat tanganya sebagi simbol menyuruh Bu Rita diam.
"Mulai hari ini kamu bertanggung jawab atas keselamatan makanan di rumah ini. Awasi sajian yang kamu hidangkan dari bahan sampai tersaji di sini semua aman" lanjut Tuan Aryo.
"Baik Tuan" jawab Pak Yang patuh. Lalu mencicipi semuanya.
Alya, Bu Mirna dan Bu Rita menatap aneh ke Tuan Aryo dan Pak Yang. Sementara Ardi tau, kalau ayahnya sedang menaruh curiga ke pelayan di rumah diam.
"Semua aman Tuan, silahkan dinikmati" ucap Pak Yang.
Lalu Tuan Aryo dan keluarga segera menyantap sarapan seperti biasanya. Rupanya Tuan Aryo menaruh curiga ke pelayanya sehingga memberlakukan aturan baru.
Setelah sarapan mereka bergegas dengan kepentingannya masing-masing. Alya ke rumah sakit, Tuan Aryo ke kantor, Bu Mirna dan Bi Rita di rumah.
Saat mereka ke parkiran, Fitri sudah siap menunggu Alya di halaman.
Alya berjalan menggandeng suaminya.
"Mba Fitri" panggil Alya.
"Iya Nyonya"
"Maaf ya. Pagi ini aku ikut Mas Ardi, jadi kamu kerjain tugas di rumah aja!" tutur Lian ke Fitri.
"Baik Nyonya" jawab Fitri mengangguk kecewa, sudah dandan rapih ternyata jasanya tisak terpakai.
"Kerjakan hukumanmu!" sambung Ardi ke Fitri.
"Baik Tuan" jawab Fitri mengangguk setuju dengan semangat.
"Yang penting aku masih kerja" batin Fitri berdiri.
Tatapan netranya tidak lepas dari sejoli yang gandengan tangan menuju ke mobil yang disiapkan Pak Arlan. Meskipun begitu, Fitri tampak bahagia. Lalu dia kembali ke dalam rumah melakukan pekerjaannya.
****
True/False
Di dalam bilik kecil di suatu rumah, Foto Ardi dan Arya menempel di tembok. Wajah dan tubuh merekan penuh dengan anak panah yang di lepaskan dan arahkan ke foto itu.
Di ruangan itu, seorang adik menangis tersedu memohon ampunan dan pelepasan dari kakaknya.
"Hiks hiks, tolong Kak, hentikan ini" pinta gadis itu.
"Kau pilih saja, mati di tanganku atau di tangan mereka!" ucap Sang Kakak mendekat dan hampir mencekik leher adiknya.
"Uhuk.. uhuk" Sang Adik terbatuk mengambil nafas saat cengkeraman lehernya dilepas.
"Non Alya orang yang sangat baik, dia selalu dilindungi Tuhanya, tidak akan mudah menginginkan nyawanya. Hentikan Kak!" tutur Sang Adik lagi.
"Plak!" Sang Kakak menampar Sang adik lagi.
__ADS_1
"Kau tidak lihat, Tuan Tito berakhir di penjara begitu juga ayah. Hah! Kembalilah ke rumah itu, dan lakukan perintahku!"
"Hiks hiks"