
"Empt geli Mas, udah sih, udah yuk bangun yuk!” tutur Alya mengeluarkan tangan usil suminya yang bermain nakal di dalam bajunya.
"Bentar doang" jawab Ardi malas. Tapi Alya tetap menolaknya.
Berbanding terbalik dengan orang tuanya yang sibuk jogging dan berolahraga. Pasangan yang muda itu, seusai sholat subuh justru rebahan lagi dengan dalih hari ini akan sibuk bekerja.
“Semalam kan nggak jadi Yang, berarti sekarang dong!” tutur Ardi meminta jatah, karena semalam mereka kelelahan jalan-jalan dan langsung tidur.
“Maaf ya Mas, perut Lian sering kram sekarang, kita kurangi dulu aktivitas itunya ya! Maaf” tolak Alya halus.
“Hemm katanya kalau trimester dua lebih aman?” tanya Ardi masih menawar.
“Ya semua kan tergantung keadaan masing- masing orang. Udah yuk bangun yuk. Ibu sama mamah udah lari pagi lho!” tegur Alya lembut memberi pengertian ke suaminya.
Bukan Alya mau jadi istri durhaka. Tapi untuk bebapa hal Alya juga harus memikirkan baik buruknya sesuatu.
“Hemmm ya!” jawab Ardi malas dan kecewa. Melipat tanganya dan menahan juniornya agar bersabar.
“Oh ya, gimana Mia dan Faisal Mas?” tanya Alya mengingatkan masalahnya dan rencana Ardi hari ini.
“Hemm, sebenarnya sudah cukup sih informasi yang mas dapet dari Faisal, Ciko udah ketangkep semalem” jawab Ardi akhirnya bangun dan menyingkap selimutnya lalu berbicara serius.
“Kasian Mia ya Mas” tutur Alya ikut bangun.
“Mia masih belum mau buka mulutnya ke anak buah Mas, apa maksud dia melakukan semua ini? Kenapa dia mau ngelakuin perintah kakaknya? Sejak kapan mereka berurusan dengan Lila. Dan dengan siapa dia bekerja sama” ucap Ardi lagi.
"Menurut Lian Mia sendirian sih Mas. Terus rencana Mas apa?” tanya Alya lagi.
“Mas masih butuh pertimbangan Papah, mau masukin Mia ke polisi, biar hukum Gubawijaya yang bekerja? Atau bebasin dia. Walau bagaimanapun, Mia anak asuh Mamah, dia juga hanya korban, pangkal utamanya adalah si Lila” jawab Ardi tidak mau buru-buru bertindak. Ardi ingin Mia jadi umpan memancing Lila.
“Kalau dia dimasukin ke penjara, emang berapa tahun hukumanya?” tanya Alya.
“Cari aja sendiri, percobaan pembunuhan berencana! Mas nggak hafal tentang hukum Yang”
"Hukum Gunawijaya maksudnya apa Mas?" tanya Alya kepo.
"Kamu nggak usah terlalu kepo. Itu urusan Papah"
“Hemm kasian ya Mia, masih muda je, harus dipenjara” ucap Alya simpati ke Mia.
“Hhh! Kasian, kasian. Salah dia sendiri. Kasian lagi mas, kamu dan semuanya kalau perbuatan Mia berhasil. Meninggal kita lho! Ya sudahlah nanti kita diskusikan sama Papah, eh tadi kamu bilang apa tadi?” ucap Ardi mau mencairkan suasana.
“Bilang apa emangnya?” tanya Alya heran.
“Mamah sama ibu sama papah udah olahraga?” tanya Ardi dengan senyum nakalnya.
“Huum” jawab Alya mengangguk polos
“Yuk mandi yuk, kita olah raga juga!” ajak Ardi nakal.
“Hiiish, ck. Dibilang jangan dulu, udah mas mandi duluan, Lian siapin bajunya” jawab Alya berdecak dan mengernyitkan dahinya.
“Hemmm” Ardi hanya berdehem.
“Nggak boleh ngeluh Mas, anak nomer satu!” tutur Alya menasehati.
“Yaaa!” jawab Ardi kecewa.
“Hehehe” Alya malah senang melihat muka memelasnya Ardi. Sebenarnya Alya juga kasian kalau suaminya ingin tapi tidak dikabulkan. Tapi tetap saja, harus mendahulukan kebaikan.
“Sabar! Seminggu sekali aja ya!”
“Iyaah bener ya?"
"Kalau Lian sehat"
"Ya harus sehat teruslah, sinih mas pegang dulu anak dady, lagi apa sih anak dady” jawab Ardi lalu mendekat ke Alya.
“Ish apaan Dady, nggak! Lian nggak suka panggilan itu” jawab Alya cemberut.
“Kan keren Sayang, Mas Daddy, terus kamu Mommy” jawab Ardi memberi saran panggilan mereka nanti.
“Nggak! Lian cinta Indonesia, pakai panggilan Indonesia aja. Kalau nggak buat panggilan sendiri” jawab Alya tidak setuju.
“Emang apa?”
__ADS_1
“Baba gimana?”
“Apa itu Baba? Jelek ah”
“Iiih bagus Mas, kan bapak, depanya ba, jadi baba, gitu” tutur Alya mengeluarkan idenya.
“Terus manggil kamu apa?”
"Bun bun apa bubun aja kali yak? Bagus nggak?" tanyq Alya sambil ketawa membayangkan anaknya nanti memanggilnya Bubun
"Hemm gimana ya?" jawab Ardi berfikir.
"Iya aja ya. Bagus kok" rayu Alya memaksa.
Ardi hanya diam dengan gerakan tangan mengusap perut istrinya.
"Kalau nggak boleh dan nggak setuju. Ya udah panggil ayah ibu aja" jawab Alya cemberut karena Ardi tidak memberikan pendapat dan keputusan.
"Berapa bulan lagi sih anak Baba keluar?" tanya Ardi ke perut Alya dengan sebutan Baba, yang tandanya Ardi setuju dengan panggilanya.
Alya tersenyum senang mendengarnya.
"5 bulan lagi Baba, Insya Alloh, semoga tepat waktu dan sehat, begitu juga Bubun" jawab Alya dengan suara anak kecil seakan anaknya yang menjawab.
Dan benar saja, Ardi merasakan perut Alya ada denyutan. Lalu mereka heboh. Merasa kehadiran anaknya benar-benar nyata, seperti benaran ikut nimbrung dan ngobrol.
"Dia beneran denger Sayang, dia gerak" ucap Ardi.
"Anak kita pinter insya Alloh" jawab Alya.
"Sehat-sehat ya princesnya baba" ucap Ardi mencium perut Alya.
"Pede banget sih manggil princess? Emang udah tau anak kita cewek?" tanya Alya tidak terima, karena Alya ingin anaknya cowok dulu.
"Mas yakin cewek. Biar mas paling ganteng dan nanti kita cepet mantu" jawab Ardi ngebanyol.
"Ishh. Ya belum tentu juga. Lian mau cowok biar belain ibunya kalau Babaya nakal"
"Iya kalau mau anak cowok abis ini kita bikin yang banyak. Mas siap bikinya kok" jawab Ardi lagi.
"Iih dasae mas ih. Udah jangan didebatin. Kasian dia denger lho. Kalau ternyata dia cowok. Nanti dia tersinggung" tegur Alya lagi.
"Ck dasar!" Alya hanya berdecak melihat suami resenya itu.
Lalu Alya mengelus perutnya sendiri.
"Apapun jenis kelaminmu. Ibu Sayang dan tunggu kamu keluar dengan sehat Nak" ucap Alya lembut.
Alya kemudian bangun, menggulung rambutnya yang berantakan, merapihkan dan mengkancingkan piyama tidurnya yang dibuka Ardi.
Lalu Alya merapihkan ranjangnya, menarik setiap sudut sprei cantiknya, melipat selimut dan menata bantalnya agar tetap rapih.
Alya berdiri membuka horden dan jendela. Kemudian menatap halaman yang mengarah ke sinar matahari. Menghembuskan nafas merasakan kesegaran ciptaan Tuhan yang indah itu.
"Hah"
Saat Alya diam tiba-tiba tiba Alya ingat perkataan Ibunya semalam, saat mereka duduk berdua di dekat toilet restoran
"Ibu sebenarnya tidak nyaman tinggal di ru. ah besan begini Nduk.
Ibu merasa jadi benalu dan menumpang. Ibu mau sampai resepsi kamu aja tinggal di rumah kalian. Ke Jogja atau di sini masih ibu pikirkan
Ibu udah janji ngajar di panti sampai Jeng Rita ketemu guru masak yang baru.
Kamu jangan bikin malu ibu ya. Jadilah istri yang baik untuk suamimu dan mertuamu.
Jangan mentang- mentang suamimu sayang ke kamu, terus kamu nglunjak. Jadi pembangkang, ibu nggak suka anak ibu begitu.
Hormati suamimu, ingat surgamu sekarang ada di dia. Di luaran sana juga banyak perempuan nakal yang panda menggoda.
Jangan ngambekan dan nggak sopan sama suami! Ubah sifatmu!
Apa ibu tinggal di panti saja ya Nduk?"
Pertanyaan Bu Mirna terngiang di kepala Alya.
__ADS_1
Alya berfikir, iya juga sih, apa kata orang jika mereka tahu ibu Alya numpang di rumah mertuanya. Seakan mereka tidak punya harga.
Tapi Alya juga ingin ibunya tetap di Jakarta. Apa mungkin tinggal di yayasan bersama Bu Salma terbaik buat Bu Mirna.
“Aku perlu bahas dengan Mas Ardi nih” batin Alya.
Lalu Alya segera menyiapkan pakaian untuk suaminya dan dirinya. Kebetulan hari ini jadwal Alya juga padat.
Pagi ikut Bu Rita untuk persiapan resepsi. Siang dan malam lembur jaga di rumah sakit karena kemarin berhutang jaga pada Dinda.
*****
Suasana Jogging.
Seperti kebiasaanya. Setelah sholat subuh berjamaah di mushola keluarga. Tuan Aryo, jika tidak abis lembur malam, akan mengajak istrinya olah raga ke taman kota.
Karena ada Bu Mirna, Bu Mirna pun diajak. Meski Bu Mirna merasa tidak nyaman berasa jadi obat nyamuk, tapi karena itu hal yang bermanfaat, Bu Mirna tetap ikut.
Dari rumah mereka naik mobil, sampai di taman, mereka turun dan berlari berkeliling taman. Tuan Aryo memang sangat menyayangi Bu Rita, meski sudah mau jadi Opa Oma, mereka tampak seperti anak muda yang baru berkencan, mesra.
“Jeng , aku tak ke kamar mandi dulu, di sini ada kamar mandi umumnya kan?” tanya Bu Mirna ingin membuat jarak pada besanya itu.
“Ada, di dekat tempat parkir mobil, bangunan yang berbentuk buah manggis itu kamar mandi umum” jawan Bu Rita memberi tahu.
“Ya. Kalian lari dulu saya nyusul, nanti kalau udah capek saya nunggu di sini” tutur Bu Mirna.
“Ya Jeng, nggak apa- apa nih kita lari duluan?”
“Ndak apa- apa, kita kan mau olahraga bukan ngobrol, kita lari sendiri - sendiri ” jawab Bu Mirna.
Bu Rita dan Bu Mirna kemudian berpisah. Bu Rita jogging duluan bersama suaminya, mengitari taman kota berbaur dengan banyak orang yang juga berolah raga. Bu Mirna ke kamar mandi umum.
“Nurma!” panggil seseorang saat Bu Mirna keluar dari kamar mandi.
Bu Mirna diam, dan dheg- dhegan, sedikit orang yang tahu nama panggilanya saat kuliah. Bu Mirna kemudian menoleh ke sumber suara.
“Cungkring?” pekik Bu Mirna setelah memperhatikan dengan seksama kawan di depanya itu. Sudah banyak berubah tapi hidung mancungnya masih sama.
Meski berbeda jurusan, lelaki di depanya itu dulu yang membantunya cari kos- kosan waktu magang di Jakarta. Dia juga yang membuat Bu Mirna kenal dengan ayah Alya.
“Jadi ini beneran kamu? Kemarin aku seperti melihatmu di beauty klinik"
“Oh yang kemarin sore itu kamu? Maaf aku buru-buru, iya ini aku, alhamdulillah masih diberi umur panjang, bisa ketemu kamu lagi” jawab Bu Mirna bahagia.
“Kok kamu bisa ada di sini? Setauku dulu setelah menikah kalian ke Jogja” tanya teman Bu Mirna.
“Mantuku orang sini, aku lagi berkunjung, jenguk anak” jawab Bu Mirna.
“Oh udah mantu toh? Udah punya cucu berapa?”
“Baru mau satu, masih di kandungan, kamu sendiri apa kabar? Udah punya cucu belum?” tanga Bu Mirna ramah.
“Anakku baru nikah belum ada seminggu”
“Oalah, yo tak doain semoga anakmu segera isi, biar nyusul anakku”
“Ngomong- ngomong anak mantumu tinggal dimana?”
“Di dekat sini, aku lupa nama daerahnya. jotel Luxury belok kanan masuk, daerah situlah pokoknya” jawab Bu Mirna tidak mau menyebutkan merek Gunawijaya takut sahabatnya itu jadi berbeda tanggapan terhadapnya.
“Oh yaya! Aku punya temen juga di daerah situ”
“Oh ya? Yo wes, aku tak olah raga ya” tutur Bu Mirna pamitan
“Ya. Aku udah keringetan ini mau pulang”
“Yo”
"Mampir. Aku tinggal di perumahan depan situ"
"He.. gampang" jawab Bu Mirna bosa basi lalu pergi.
Dalam hati Bu Mirna, buat apa mampir. Mereka juga hanya kebetulan bertemu tidak ada kepentingan. Toh udah sama-sama tua.
****
__ADS_1
Semoga selalu menghibur dan tetap disukai. Maaf kalau alurnya lambat. Dukung authot trs ya. Ramein komentar. Biar author semangat Up.
Hehe