
“Mas akan baik- baik aja Sayang, tenang. Cari pertolongan! Dan kejar mereka. Ini perbuatan di rencanakan!” tutur Ardi pelan masih berdiri mematung.
Melihat Alya berdiri di depan pintu kamar dengan ketakutan. Sebagai seorang laki- laki, sebagai suami yang berusaha melindungi istrinya dengan segenap jiwa raganya, Ardi berusaha menenangkan istrinya.
Meski Ardi sendiri dheg- dhegan, apalagi Ardi tau makhluk apa yang ada di depanya itu. Ardi berusaha menampakan wajah tenangnya.
Dibanding berfikir tentang apa yang akan terjadi dengan dirinya, Ardi lebih tidak kuat melihat istrinya yang lembut dan sedang hamil itu gemetar ketakutan. Apalagi Alya phobia ular.
“Maas, tapi mas gimana?” tanya Alya lirih dan gemetaran.
Ular itu tampak berdiri di hadapan Ardi. Alya bingung mau melakukan apa? Tidak ada senjata atau tongkat di dekatnya. Alya juga tidak mau meninggalkan suaminya.
Ardi berdiri mematung bersandar ke tembok di atas kasur. Ardi berusaha membuat ular itu tenang, tidak merasa terancam atau menyerangnya.
Sudut mata Alya mulai basah, hanya melihat kamar istirahatnya disabotase saja Alya takut, ditambah dengan mata kepalanya sendiri Alya melihat orang itu melemparkan senjata makhluk hidup. Itu jelas serangan, seseorang benar- benar membencinya dan ingin membunuhnya.
“Ada apa Dok?” tanya salah seorang perawat mendengar Alya berteriak.
“Ada ular Bang! Tolongin suamiku!” pinta Alya.
“Mas, telpon tukang parkir dan sekurity, kunci pager dulu, seseorang menyerang kami dengan ular! Jangan biarkan mereka kabur” sahut Ardi dari dalam mendengar ada perawat datang.
Perawat yang mendengarkan bingung dengan apa yang terjadi, tapi karena ada dua orang mereka bagi tugas. Satu segera mencari pertolongan agar memancing ular itu keluar dari kamar Ardi, satu masih di situ menanyakan. Bagaimana ciri- ciri orang yang menyerang mereka.
“Dua orang Bang, tinggi semua, pakai masker dan topi dia juga pakai seragam petugas kebersihan di sini!” tutur Alya menjelaskan.
Lalu perawat segera menelpon petugas rumah sakit mengumumkan kode hitam, yang artinya ada ancaman dari seseorang yang mencurigakan. Dengan secepat kilat semua pegawai rumah sakit bersiaga.
Lalu para petugas keamanan berkoordinasi. Mereka memberitahu kalau ada yang menyamar menjadi OB, lalu semua yang berpakaian OB harus menunjukan ID Cardnya. Pada saat satpam berjalan dan mengobrol mereka melewati mobil Lila. Dan Lila mendengarnya.
“Sh*ittt!!!!” Lila langsung mengumpat karena Lila paham arti kode hitam di rumah sakit itu apa.
Tidak peduli apa yang terjadi dengan dua anak buahnya yang belum kembali, Lila menyuruh sopirnya kabur lebih dulu. Lila memang bos egois. Padahal anak buahnya tinggal 4 orang.
Mereka segera berniat kabur. Saat di pintu gerbang mereka pun diperiksa.
“Mohon maaf menggangu, bisa berhenti sebentar! Ada yang perlu kita periksa” tutur satpam.
“Silahkan Pak!” tutur sopir Lila mempersilahkan meski mereka cemas.
Satpam memeriksa isi mobil. Tidak ada seragam Ob.
“Ke rumah sakit dalam rangka apa Pak? Boleh saya meminta identitas dan lihat SIM?” tanya satpam.
Sopir melirik ke Lila. Sambil menyerahkan sim dan stnk nya. Satpam hendak memfotonya.
“Ahh, mas, perutku sakiit, sssshhh kepalaku pusing, kenapa obat dokter itu tidak bereaksi. Kenapa lama sekali?”
Lila langsung mengeluarkan jurusnya. Berpura- pura menjadi pasien sakit. Satpam yang sudah dibekali motto dan visi mendahulukan pasien sakit memberi kelonggaran.
Dan satpam juga mendapat telepon kalau dua orang ob gadungan sudah tertangkap. Satpam mempersilahkan rombongan Lila pergi.
Meski Lila berhasil lolos dia mengeratkan rahangnya. Dua anak buahnya hilang lagi. Lila merasa sangat frustasi.
“Kemana kita Nona?” tanya sopir Lila.
Wajah Lila merah menahan marah, lama kelaamaan anak buah dan pengawalnya habis. Maka Lila hanya akan sendirian
__ADS_1
"Ke sorum, jual mobil ini!” ucap Lila singkat.
Semua anak buah Lila membulatkan matanya.
“Setelah ini, mobil ini akan jadi incaran polisi, kalian pikir aku bodoh? Teman kalian sudah tertangkap, entah pekerjaan mereka beres atau tidak, Ardi tidak mungkin tinggal diam!” ucap Lila lagi.
Lalu mereka menurunkan Lila di suatu tempat dan menjual mobilnya. Setelah itu mereka mencari sorum lain dan membeli kendaraan lain.
Lila juga selalu berpindah- pindah tempat. Itu sebabnya anak buah Ardi sampai sekarang belum berhasil menemukanya. Rupanya Lila memang lebih pandai dari Tito.
Dia selalu menghapus jejaknya. Dan dia berkeliaran tanpa diduga.
****
Di dalam kamar istirahat Alya, Ardi masih fokus berdiri tidak bergerak, ular itu juga masih pada posisinya, setengah badanya berdiri, setengah melingkar dan mengeluarkan lidahnya.
Ardi memelototi ular itu, tapi ularnya semakin tegak berdiri. Pertahanan ketenangan Ardi mulai goyah, kening Ardi mulai basah. Ardi menelan salivanya, sambil berdoa, lalu perawat datang membawa tongkat.
“Dokter Alya menyingkirlah!” ucap perawat laki- laki.
“Menyingkir gimana? Itu suamiku! Aku tidak mau terjadi sesuatu denganya” jawab Alya tidak mau pergi. Apapun yang terjadi Alya mau menolong suaminya.
Mendengar jawaban Alya Ardi langsung gemas. Maksud perawat kan pergi dulu agar aman.
“Sayang, pergilah, kita nggak tau kemana ular itu mau berjalam, kalau tiba- tiba ke situ gimana?” seru Ardi menyuruh Alya pergi.
Karena kegemesan Ardi, dia berbicara keras dan reflek bergerak, ular itu juga bergerak maju, menurunkan lehernya tapi seperti ingin menerkam Ardi.
“Mass! Diam, itu gimana ularnya maju!” seru Alya panik, perawat juga panik, Ardi diam lagi. Ular itu diam lagi. Entah ular itu seperti paham saja.
Perawat kemudian mulai maju, berusaha mengusir ularnya dan memancingnya dengan tongkat. Pada saat tongkatnya menyentuh ular itu, dia berbalik menatap ke arah perawat.
Karena panik perawat dan Alya kemudian berlari dan berteriak, menjauh sehingga ruangan menjadi gaduh, perawat dan dokter lain menjadi ikut bersiaga dan saling menjerit. Untung semua pasien observasian sudah dipindah ke belakang.
Karena ular itu berjalan keluar. Ardi berhasil keluar kamar dan membawa selimut Alya, Ardi melemparkan selimut ke kepala ularnya. Sehingga ular terhendi di bawah selimut.
Ternyata pegawai lain ikut heboh melihatnya. Lalu dokter ajeng teman Alya sudah menyiapkan obat bius dan air keras.
Mereka kemudian memukul- muluk ular dibalik selimut. Entah di sebelah mana, ramai- ramai dengan semangat 45 para perawat memukul-mukul selimut Alya. Setelah selimut Alya basah dan terlihat warna darah merembes mereka mendekat.
Dengan hati- hati, salah satu perawat menyuntikan obat ke ular itu. Dan ular itu berhasil dimatikan.
“Hah.....” dokter Ajeng dan perawat Igd langsung bernafas lega. Mereka berasa habis bertempur melawan peperangan.
Ardi sendiri langsung memeluk Alya erat. Dan menciumi kepalanya, meski di depan umum tapi rekan Alya menyadari semua itu.
"Alhamdulillah Mas, Alloh tolong kita!" bisik Alya.
"Iya Sayang!" jawab Ardi mengeratkan pelukanya.
Untung hari itu adalah jaga sore dan sudah maghrib, jadi para petinggi rumah sakit tidak ada, jadi semua tidak menjadi heboh. Hanya menjadi konsumsi pegawai yang jaga hari ini dan petugas keamanan. Tapi tetap saja ada yang melapor ke Dokter Steve.
“Pelakunya sudah ketangkap Tuan!” lapor salah satu security menghampiri Ardi.
“Aku ingin bertemu dengannya!” jawab Ardi, lalu Ardi dan Alya bergandengan tangan menemui dua OB palsu itu.
Alya dan Ardi terhenyak melihat wajah dua laki- laki yang terduduk di ruang pos keamanan rumah sakit. Satu di antara dua laki- laki itu laki- laki yang ditemui di parkiran.
__ADS_1
"Dia kan yang tadi?" gumam Alya.
“Siapa kamu?” tanya Ardi menatap intens dua orang yang mau mengambil nyawanya.
Orang itu diam menunduk tidak menjawab. Lalu Ardi mendekat dan meraih krahnya dengan emosi. Ardi ingin mencekiknya.
Alya dan satpam maju mencegah Ardi berbuat kekerasan dan main hakim sendiri.
"Mas. Tahan. Ingat Alloh udah selametin kita. Jangan kotori tangan Mas!" bisik Alya maju menarik baju Ardi.
Ardi menoleh ke wajah manis istrinya. Lalu melepaskan tanganya dari leher laki-laki itu.
“Apa kamu suruhan Lila?” tanya Ardi langsung pada intinya. Ardi yakin hanya Lila yang punya pikiran kampungan.
“Ampuni kami Tuan!” jawab dua orang itu.
"Cih!" Ardi meludah di depan orang itu.
"Dasar kacung primitif. Cara kalian itu kuno? Kalian pikir kalian bisa berhasil dengan cara kuno begini?" ejek Ardi ke pegawal Lila.
Satpam, Alya dan yang lain menyimak. Ob palsu itu menunduk.
“Bawa mereka ke polisi!” ucap Ardi memberi perintah ke satpam.
"Baik Tuan!" jawab satpam.
Lalu dari luar Dokter Steve menyapa mereka dengan hormat.
“Maafkan kami Tuan Ardi. Saya tidak mengira akan terjadi hal seperti ini” tutur Dokter Steve hormat.
Ardi kemudian menoleh ke dokter Steve dengan tatapan dinginya. Dokter Steve menelan ludahnya takut. Lalu Ardi menoleh ke Alya.
"Sayang, lanjutkan pekerjaanmu. Mas perlu diskusi dengan direkturmu!" ucap Ardi lembur ke istrinya.
Alya mengangguk patuh dan berpamitan. Lalu Ardi berjalan dengan tangan dimasukan ke saku mengajak Dokter Steve berkeliling.
“Kenapa di lorong gudang tidak ada cctv nya?” tutur Ardi tidak mau bosa- basi dan langsung memarahi Dokter Steve.
Ardi memang bukan pejabat pemerintah. Tapi meski Ardi low profil dan kadang selengekan, para petinggi segan terhadap Ardi.
“Besok akan saya pasang Tuan!”
“Tidak usah besok! Sekarang telpon tukang cctv, aku yang bayar. Tunjukan aku ruangan masih belum difungsikan secara maksimal!” tanya Ardi lagi.
Lalu malam itu bersama direktur rumah sakit Ardi berkeliling ke rumah sakit layaknya pejabat. Ardi memeriksa fasilitas para pegawai rumah sakit dan Ardi malam itu juga, Ardi memberikan instruksi managemen untuk membenahinya.
Dan Ardi memberikan donasi sebesar 1 M dari kantongnya. Uang itu khusus untuk memberikan fasilitas keamanan seperti cctv di setiap jalan dan lorong, baik lorong depan atau belakang.
Ardi juga ingin di setiap kamar tidur perawat atau dokter diberi tempat tidur yang layak. Dengan kualitas matras terbaik.
Setiap ruangan difasilitasi lemari es dan air minum khusus untuk pegawai. Ardi juga ingin uang itu dianggarkan untuk uang makan pegawai sampai anggaran dari Ardi habis.
Selain itu Ardi juga menyuruh melengkapi peralatan keamanan seperti tongkat dan palu. Aneh memang, tapi menurut Ardi itu perlu.
Itu semua bukan Ardi khususkan untuk Alya. Bukan juga karena ingin membuat pekerja lalai dan terlalu nyaman. Tapi Ardi hanya ingin memberi perhatian agar para pekerja mendapatkan penghargaan. Bisa bekerja dengan semangat dan tetap sehat.
Ardi merasakan dan membayangkan, bagaimana rasanya setelah bekerja lelah dengan segala resiko tertular penyakit, tapi bahkan air minum harus beli sendiri.
__ADS_1
****
*Segala kekurangan mohon dimaafkan ini semua hanya ada di dalam negeri hayalan dan novel author.