Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
55. Menikah


__ADS_3

Dua hari Tuan Aryo dan anak buahnya mengurus segala keperluan pernikahan Ardi dan Alya. Tuan Aryo dan keluarganya memutuskan tinggal di hotel dan akan berkunjung ke kontrakan Bu Mirna setelah akad selesai.


Ardi tidak pernah menyangka, dia mengakhiri masa lajangnya dengan merebut perempuan yang diingkan sahabatnya. Dan entah bagaimana nanti Ardi menjelaskanya. Ardi juga belum tahu kalau perempuan yang selalu disebut gadis ceroboh oleh Gery adalah calon istrinya ini.


Sebenarnya Ardi merasa bersalah mengelabuhi Bu Mirna dan orangtuanya. Apalagi Ardi sempat melecehkan Bu Mirna dengan penampilanya. Tapi perkataan Alya dan Bu Mirna yang sempat menolaknya, membuat Ardi bertekad untuk maju dan bulat menjadikan Alya Berlian Sari menjadi istrinya. Ardi juga bertekad akan membuat Alya jatuh cinta dan bahagia bersamanya.


Pagi itu, semua sudah bersiap untuk acara akad nikah Ardi dan Alya. Tidak banyak yang datang, hanya wali, saksi-saksi dan saudara yang berasal dari perangkat desa di kampung Alya, itu semua sebagai syarat agar tetangga Alya mengetahui bahwa Alya sudah menikah.


Sementara dari pihak Ardi, hanya ada Bu Rita, Tuan Aryo, Pak Rudi dan Arlan pengawal Ardi yang selama ini mengikutinya.


Alya di kamar hotel sedang dirias bersama ibunya. Alya masih menangis tidak menyangka pernikahan aneh ini benar-benar akan terjadi. Usahanya menjelaskan kesalah pahamanya sia-sia.


Bahkan ibunya yang selama ini selalu posesif melarang Alya dekat dengan laki-laki, kini meminta Alya untuk segera menikah. Saat perias meninggalkan ruangan. Alya masih mencoba berusaha untuk yang terakhir kalinya meyakinkan Bu Mirna.


"Ibu, apa ibu tidak menyesal menikahkan aku dengan Mas Ardi? Kalau ternyata Alya benar-ben.. " Alya mencoba bertanya, tapi langsung terpotong Bu Mirna.


"Sebenernya ibu juga tidak menginginkan pernikahan seperti ini Nduk, tapi ini sudah terjadi. Foto-fotomu dan rekaman itu. Ibu malu sama Jeng Rita dan Mas Aryo" jawab Bu Mirna lirih.


"Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu Nak. Ibu sudah mewanti-wanti (menasehati), jaga diri dari laki-laki! Dijaga! Tapi kamu malah dekat-dekat dengan anaknya Jeng Rita. Bahkan tidak hanya sekali kamu bermalam denganya, entah apa yang terjadi pada kalian" sambung Bu Mirna menjelaskan, kalau semua ini pilihan Alya sendiri.


"Bu.... " Alya masih ingin meluruskan kesalah pahaman. Tapi akad nikah hanya tinggal menunggu penghulu datang.


"Anggap ini takdirmu Nduk, meskipun ibu tidak suka dengan wajah sombong calon suamimu. Ibu percaya dengan Jeng Rita. Ibu juga melihat matamu menyukainya" sambung Bu Mirna menasehati Alya.


Alya kaget mendengar perkataan ibunya. "Benarkah aku terlihat menyukai Mas Ardi? Menyukai dari sisi mananya?" Alya diam memikirkan perkataan ibunya.


"Baik buruknya suamimu, nanti akan menjadi tanggung jawabmu. Ibu berharap kamu bisa membuat Sontoloyo itu berubah baik. Ibu juga akan memberinya pelajaran karena sudah mengambilmu dari ibu" Bu Mirna melanjutkan perkataanya.


"Pelajaran Bu?" tanya Alya tidak mengerti. Bu Mirna mengangguk.


"Thok thok, apa sudah selesai Nak?" tanya Bu Rita masuk ke ruang rias. Percakapan ibu dan anak itu terhenti.


"Sudah Jeng" jawab Bu Mirna membuka pintu. Bu Rita masuk dengan memakai kebaya cantik berwarna krem.


"Cantiknya anak Mamah" tutur Bu Rita bahagia. "Kita selfi dulu Yuk" ajak Bu Rita menyalakan kamera depan dan berselfi.


"Nak. Apa kamu menangis?" tanya Bu Rita menyadari ada yang rusak dari make up Alya. Alya diam merasa tidak nyaman dengan Bu Rita.

__ADS_1


Bu Mirna dan Bu Rita saling berpandangan.


"Jeng Mirna, boleh saya bicara berdua dengan Alya?"


"Silahkan Jeng, saya turun ke bawah dulu" Bu Mirna pamit meninggalkan Alya dan Bu Rita.


Bu Rita mengambil kursi dan duduk di hadapan Alya.


"Alya sayang, Mama dan Om Aryo minta maaf, Nak" tutur Bu Rita membuka percakapan. Alya hanya diam menatap Bu Rita sedikit kecewa.


"Mama tau, kamu kecewa terhadap Om Aryo. Tapi, dari kecil Ardi memang sudah hidup dengan diikuti pengawal, baik dari dekat atau kejauhan. Itu semua karena Ardi satu-satunya penerus Gunawijaya, itu semua untuk kebaikanya"


"Menikahlah dengan Ardi Nak, terimalah pernikahan ini"


"Tapi, Alya tidak melakukan hubungan itu, Alya tidak melakukanya. Mas Ardi bohong" jawab Alya masih menyanggah.


"Ehm... Ehm... " Bu Rita berdehem merasa tidak enak membahas sesuatu yang menurutnya sensitif.


"Baiklah, Alya. Anggap di apartemen malam itu tidak terjadi apapun dengan kalian. Tapi ketahuilah Nak, sejak awal mama mengenalmu. Mama memang berniat menjodohkanmu dengan Ardi" tutur Bu Rita membuat Alya bingung.


"Maksud mamah perempuan yang hendak dikenalkan ke Mas Ardi itu Alya?" tanya Alya memastikan.


"Apa ini semua juga rencana Mama Rita dan Om Aryo?"


"Tidak sayang, saat Farid datang ke Mamah, dan kamu bilang tidak akan menikah dengan orang Jakarta. Mamah menyerah, makanya mamah tidak pernah sampaikan ke kamu keinginan mamah mengenai Ardi".


"Jadi Mas Ardi berantem dan menghindari Mamah karena Alya?"


"Iya, begitulah takdir. Dia menghindari mamah untuk dikenalkan denganmu, tapi dia mengenalimu dengan caranya sendiri"


Alya menelan salivanya. Alya merasa bersalah tidak pernah jujur ke Mama Rita dari awal.


"Ardi mengenalimu dengan nama Lian, Mama juga baru tau namanu Berlian, Alya" tutur Bu Rita melanjutkan.


"Pak Yon, dan beberapa teman sekolah Alya memang memanggil Alya dengan panggilan Lian Mah" jawab Alya meneruskan.


"Terimalah pernikahan ini demi Mamah ya" pinta Bu Rita tulus.

__ADS_1


"Apa mamah percaya kalau Alya tidak melakukan hubungan itu bersama Mas Ardi?" tanya Alya kembali masih tidak terima dituduh berzinah.


Bu Rita tersenyum melihat Alya. "Melakukan juga tidak apa-apa Nak, mamah seneng kalau sebentar lagi Mamah punya cucu" gumam Bu Rita dalam hati.


"Kenapa Mama Rita tersenyum?"


"Mama bingung jawab apa? Mama percaya padamu, sangat percaya. Tapi Ardi sangat yakin mengakuinya. Apa itu artinya Ardi sangat ingin menikahimu? Ah sudahlah. Lupakan kejadian di apartemen. Kamu mau kan menikah dengan anak mamah?" Bu Rita melamar Alya dengan sopan.


"Mama Rita memintaku bukan karena kejadian itu kan?" tanya Alya mengulangi.


"Bukan sayang, tapi karena Mama memang menginginkanmu jadi mantu mamah, apa kamu bersedia?"


Alya mengangguk bersedia menikah dengan Ardi. Entah kenapa, meskipun ragu dan tidak mengira. Bibir dan kepala Alya tidak mampu menolak lamaran Bu Rita. Alya tidak bisa berkata tidak pada Bu Rita saat itu. Dan detik itu dengan sadar Alya berserah dan menerima pernikahanya.


"Ya Mah"


Bu Rita tersenyum lega. "Terima kasih sayang. Kalau nanti Ardi menyakitimu. Mamah yang akan pertama kali menghukumnya" tutur Bu Rita semangat.


Alya tersipu mendengarnya. Sebentar lagi Alya akan benar-benar menjadi istri dan keluarga Gunawijaya.


"Ayuk turun, sepertinya penghulu sudah datang, sini mama betulin bulu matanya".


Bu Rita pun membantu merapihkan make up Alya yang sedikir rusak karena Alya menangis. Mereka berdua turun menuju tempat Akad. Alya hanya memakai gaun sederhana berbalut jibab. Tapi itu tidak mengurangi kecantikanya. Alya justru terlihat anggun dan elegan.


Ardi menatap Alya dengan seksama, Alya memang cantik dan anggun, pilihan Ardi memang tepat.


Dia tidak mengira, akan secepat ini takdirnya. Bahkan belum ada satu bulan Ardi menyatakan niatnya akan menikah. Padahal hari itu, Ardi tidak punya pandangan sedikitpun tentang menikah. Dan hari ini benar-benar menjadi kenyataan. Ardi menikah lebih dulu dari kedua temanya.


Penghulu, wali, para saksi dan kedua mempelai sudah siap. Setelah penghulu memastikan keduanya menikah tanpa paksaan. Akad nikah pun dimulai dan berjalan dengan hikmat.


"Sah?"


"Sah"


Bu Rita dan Pak Aryo tersenyum lebar dan sangat lega. Usaha dan doanya tidak sia-sia. Sementara Bu Mirna, hanya berharap keputusanya adalah yang terbaik. Alya dan Ardi saling berpandangan. Alya masih tidak percaya laki-laki yang datang ke apartemen malam-malam itu sudah menjadi suaminya.


Pak Penghulu memimpin doa setelah akad selesai. Selanjutnya Alya mencium tangan Ardi, dan ada beberapa sesi foto sebagai bukti menikah. Lalu mereka bersalaman dengan orang tua. Setelah itu menikmati hidangan yang tersedia.

__ADS_1


Ya pernikahan mereka sesederhana itu. Tidak ada hiburan atau resepsi. Bahkan teman-teman Alya dan Ardi tidak ada yang mengetahuinya.


Padahal sebagai perempuan normal, Alya dan Bu Mirna ingin pernikahan Alya yang sekali seumur hidup akan berjalan dengan indah dan berkesan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sekarang Alya sudah menikah.


__ADS_2