
"Badanku terasa pegal semua" keluh Ardi merentangkan tangan.
Malam itu Ardi harus berdempetan dengan Arlan, sehingga Ardi mengalah tidur di lantai. Padahal di sini Ardi bos. Ardi tidur di lantai, karena Arlan yang lelah tidur mengorok. Ardi tidak tahan mendengarnya. Ardi baru tidur di kasur setelah subuh, Arlan bangun dan menyuruh Ardi naik ke kasur.
"Maafkan saya Tuan" ucap Arlan menundukan kepala merasa tidak enak.
"Kenapa malam pertamaku sebagai suami sangat menyedihkan" gerutu Ardi memejamkan matanya lagi.
"Ehm ehm" Arlan berdehem, merasa iba dengan majikanya itu.
Salah siapa menikah dengan cara instan dengan cara membohongi mertua dan orang tuanya. Padahal kalau mau sedikit bersabar dan berjuang, Ardi bisa menikahi Berlian dengan cara yang baik. Kedua orang tua mereka bersahabat, selain itu Alya juga sudah mulai nyaman dan akrab denganya. Meski pelan-pelan seharusnya Ardi bisa melamar Alya baik-baik. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
"Telp Dino, urus semua kepemilikan tanah di sini. Saya nggak mau tau, renovasi rumah ini" perintah Ardi membuka matanya lagi, lalu merebahkan tubuhnya kembali, dia ingin menebus tidur malamnya yang kacau.
"Baik Tuan" jawab Arlan lalu keluar kamar menghubungi asisten Ardi.
Melihat Arlan sudah keluar kamar. Alya segera menghampiri sopir dari suaminya.
"Pak Arlan, apa Mas Ardi sudah bangun?" tanya Alya merasa bertanggung jawab karena suaminya belum sholat subuh.
"Sudah Nona, Tuan masih di kamar" jawab Arlan. Mendengar Arlan Alya langsung ke kamar menemui Ardi.
"Bangun mas, waktu subuh sudah hampir lewat, sholat dulu" tegur Alya melihat suaminya masih bermalas-malasan. Lian tidak tahu kalau semalam Ardi tidur di bawah.
Melihat Lian datang, Ardi tersenyum memandangi istri solekhahnya, apalagi mendengar Lian ngomel seperti ibu-ibu. Ardi merasakan kehadiran sosok istri di hidupnya semakin nyata. Meskipun Lian belum mau disentuh olehnya.
"Duduklah sini, pagi-pagi jangan marah-marah nanti hilang cantiknya" jawab Ardi menepuk tempat tidur, menyuruh Alya duduk.
"Issshhh, tidak tahu malu, udah kesiangan masih malas-malasan. Ingat ya ini bukan rumahmu, bangun nggak?"
"Iya ya! Cerewet amat istriku ini!"
"Apa? Ulangi sekali lagi?"
"Ya. Gue bangun, gue sholat! Nggak kasian apa sama suamimu ini, badanku sakit semua" keluh Ardi sambil mengucek matanya lalu bangun dari tidurnya.
"Ck, suami- suami, suami apaan? Kamu bahkan menikahiku dengan cara yang aneh, pernikahanku sungguh menyebalkan" gerutu Alya masih tidak terima pernikahan impianya sudah sirna.
__ADS_1
"Jangan bilang begitu, nyesel nanti lho" ucap Ardi melihat istrinya masih kesal. "Sebesar apapun kamu menyesalinya, kenyataannya aku sekarang suamimu" sambung Ardi bangun dan berjalan keluar kamar melewati Lian.
Lian menelan salivanya melihat Ardi pergi, apa yang dibicarakan Ardi memang benar. Ardi sekarang adalah suami sah Alya. Alya sendiri yang menyanggupi menikah di depan Bu Rita. Karena dari awal bertemu, Bu Rita menginginkan pernikahan ini.
Sebenarnya kalau dipikir-dipikir, tidak ada kekurangan dari Ardi kecuali dia bukan orang Jogja. Ardi mempunyai wajah yang tampan, badan yang bagus, pekerjaan yang sangat mapan. Meski sikapnya berubah-ubah, tapi Ardi tetaplah Ardi, anak Bu Rita yang mempunyai hati baik.
Dan bukankah jarak di era modern bukan masalah lagi, kini Jogja - Jakarta bisa ditempuh dengan waktu yang cepat. Apalagi keluarga Gunawijaya mempunyai jet pribadi. Bu Mirna masih bisa sering bertemu jika Alya libur. Bu Mirna juga bisa ikut tinggal bersama Lian. Seharusnya Lian dan Bu Mirna sangat bersyukur, Ardi menikahi Lian.
Tapi tetap saja, Lian masih kecewa. Lian selalu membayangkan pernikahan yang indah seperti teman-teman dan artis idolanya. Dilamar dengan cara yang baik, mengundang teman-temanya. Memilih gaun tercantik dan memakai make up yang membuatnya jadi ratu sehari.
Kenyataannya dia terpaksa menikah karena tertuduh sudah melakukan hubungan suami istri, atau kasarnya setengah digerebek dengan cara modern. Menikah secara mendadak dan diam-diam. Bahkan Ardi terkesan menghianati Farid, sebenarnya menghianati Gery juga.
Alya keluar menuju halaman yang ditanami sayuran oleh ibunya. Sementara Ardi ke kamar mandi untuk cuci muka, ambil wudzu dan menunaikan sholat subuh.
"Sudah bangun Sontoloyo? Bagaimana tidurmu?" tanya Bu Mirna pada Ardi selesai sholat subuh.
"Alhamdulillah nyenyak sekali Bu" jawab Ardi bohong pada mertuanya. Padahal Ardi sangat tersiksa, bayangan memeluk Alya semalaman sirna, diganti dengkuran Arlan dan kedinginan tidur di lantai.
"Syukurlah" jawab Bu Mirna sambil mengaduk kopi panas. Lalu Bu Mirna duduk di bangku meja makan.
"Duduklah, Ibu mau bicara" sambung Bu Mirna.
"Meski ibu masih kesal, dan malu mengingatnya, tapi sekarang kamu menjadi menantuku suami Alya" tutur Bu Mirna pelan. Ardi mendengarnya dengan seksama.
"Alya anak ibu satu-satunya, dia sudah banyak menderita, ibu membesarkanya dengan semua tenaga dan kasih sayang yang ibu punya, selama ini kami berdua saling bergantung satu sama lain" Bu Mirna masih bercerita tentang Alya.
"Ibu selalu berdoa dia dapat jodoh orang sini saja, agar ibu bisa selalu menjaganya. Ibu tidak sanggup jauh-jauh dari dia untuk waktu yang lama. Tapi kamu sudah mengambilnya dari ibu, bahkan nanti kalian akan berjauhan dengan ibu" lanjut Bu Mirna dengan raut bersedih.
Ardipun merasa sedikit bersalah. Karena Ardi menikahi Alya dengan cara membohongi mertuanya ini. Padahal Alya masih tetap menjadi putri Bu Mirna yang berharga, tidak tergores sedikitpun. Karena Ardi juga sangat menghargai dan menjaga Alya.
"Ardi akan menjaga Lian dengan baik Bu" jawab Ardi lembut.
"Harus! Kalau sampai kamu menyakiti Alya, bakal tak sunat senjatamu itu, tak potong tak bejek-bejek, sudah berani mengotori harus tanggung jawab" jawab Bu Mirna masih geram mengingat pengakuan Ardi di Jakarta.
Ardi menelan salivanya dan bergidik mendengar ancaman ibu mertuanya. Ternyata ibu mertuanya sangat vulgar dan kejam. "Ya Ampun Bu, jangankan mengotori, menyentuh anakmu saja belum Bu" gumam Ardi dalam hati.
"Ibu pesen, tolong antarkan Alya pulang ke sini kalau ada waktu libur, jaga anak ibu, bahagiakan dia. Ibu minta keikhlasanmu, biarin Alya tinggal di sini kalau ibu kangen, jangan lupain ibu kalau sudah di Jakarta lagi" lanjut Bu Mirna.
__ADS_1
Ardi menelan salivanya lagi mendengar penuturan Bu Mirna. Ardi mengerti, tidak mudah buat Bu Mirna dan Alya yang saling memiliki satu sama lain selama ini. Tapi nanti akan berpisah karena Alya akan tinggal bersama Ardi.
"Siap Bu, Ardi tidak akan melarang kapanpun Alya ingin kesini. Malah kalau mau, saya akan beli rumah yang besar, biar ibu bisa ikut tinggal bersama kami" jawab Ardi dewasa.
"Tidak, ibu lahir di Jogja, ibu juga ingin menghabiskan umur ibu di Jogja" jawab Bu Mirna sendu tidak ingin ikut anak dan menantunya.
"Ardi janji Bu. Ardi akan bahagiain Lian, Ardi dan Lian juga akan sering berkunjung ke sini. Besok mungkin 3 hari lagi, akan ada orang yang kesini Bu" ucap Ardi.
"Siapa?"
"Orang saya Bu, saya nggak mau tidur pisah-pisahan lagi sama istri kalau kesini, biar rumah ini direnovasi" jawab Ardi mengungkapkan keinginanya untuk merenovasi dan menambah kamar di rumah mertuanya.
"Ibu di sini hanya ngontrak, ini tanahnya Pak Kyai, yang membeli rumah ibu" tutur Bu Mirna.
"Sudah Bu, itu urusan Ardi Bu. Ardi akan beli tanah ini untuk ibu" jawab Ardi meyakinkan Bu Mirna.
Ardi ingin menunjukan ke mertuanya. Kalau menantunya Bu Mirna yang sontoloyo ini bertanggung jawab dan menyayanginya.
"Ehm" Alya datang dari luar membawa seikat sayuran.
"Akrab banget ngobrolnya? Ngobrolin apa sih?" tanya Lian sambil duduk di depan Ardi.
"Rahasia! Emang cuma kamu yang bisa jadi anak emas mertua?" jawab Ardi menyindir Alya yang dekat dengan Bu Rita.
"Ibu udah maafin dia? Dia pandai berbohong lho Bu? Hati-hati lho Bu" jawab Alya menunjuk ke Ardi.
"Tetap saja dia suamimu?" jawab Bu Mirna membela Ardi, karena memang apapun alasanya Ardi sudah jadi suami Alya. Bu Mirna juga ingin Alya mulai menghormati suaminya.
"Ish Ibu, malah membelanya, kenapa cepat sekali berbaikan denganya?" cibir Alya memandang kesal ke Ardi.
"Sudah-sudah cepat masak. Mau diapakan itu bayem?" tanya Bu Mirna melihat Alya memotong daun bayam.
"Mau Alya sop aja bu" jawab Alya melanjutkan pekerjaanya
"Yang enak ya sayang, aku mau temani Arlan dulu" sambung Ardi menggoda Alya yang masih cemberut.
"Bawa kopi dan singkong gorengnya Nak" sahut Bu Mirna menunjukan kopi dan sepiring singkong goreng yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Lalu Ardi mengambilnya dan berjalan keluar menghampiri Pak Arlan yang sedang mengisap rokok dan melihat tanaman cabe dari teras.
Mereka berduapun mengobrol menikmati suasana pagi di Jogja. Hal yang hampir tidak pernah Arlan lakukan selama bertahun-tahun bekerja di Gunawijaya. Mengobrol santai dengan Tuanya dari dekat sambil menyeruput kopi hitam. Tidak pernah disangka Arlan, Ardi seramah itu.