
Jalanan mulai sepi, Arlan melajukan mobilnya dengan tenang. Sebagai teman menyetir, dia memutar lagu sholawat kekinian.
Semenjak ada Alya, dan menyupirinya beberapa bulan terakhir, Arlan ketularan Alya suka mendengarkan sholawat di mobil.
"Kalau ngantuk bilang ya Pak, gantian saya yang nyetir" tutur Farid perhatian ke sopir Ardi.
"Ah iya, terima kasih Pak Farid. Baru juga beberapa menit. Pak Farid istirahat saja. Besok kan ada acara" jawab Arlan justru merasa sungkan mendapat perhatian dari Farid.
Padahal niat Farid bukan baik ke Arlan. Melainkan Farid ingin berdua di depan bareng Anya, menikmati perjalanan malam sambil mengobrol.
Eh syukur-syukur bisa kejatah adegan romantis seperti di drama-drama. Pegangan tangan atau Anya ketiduran terjatuh di pundaknya. Hehe.
Tapi sepertinya Pak Arlan terlalu polos dan jujur. Dia tidak peka maksud Farid. Yang Pak Arlan tau dia dibayar menyupiri tuanya, Tuan Ardi Gunawijaya yang baik dan ganteng.
Ardi sendiri tampak menyandarkan tubuhnya. Kara bete dia buka ponselnya.
"Lian wa" ucap Ardi membenarkan duduknya.
Farid berdecak.
"Lebay banget sih. Istri wa juga. Harus ya pamer ke gue?" ucap Farid.
"Bukan gitu. Dia bilang ada yang intai kita" ucap Ardi lagi.
"Ngintai siapa?" tanya Farid mendadak panik. Lalu mereka melihat ke spion tapi jauh di belakang mereka tidak ada kendaraan.
"Tau" jawab Ardi.
"Nggak ada orang kok, belakang kosong" jawab Farid
"Ya udah hati-hati aja Pak Arlan" tutur Ardi.
"Baik Tuan" jawab Pak Arlan mengangguk.
"Ada apa Pak?" tanya Anya yang mulai terkantuk penasaran.
"Itu, Non Lian katanya wa Tuan Muda. Ada yang sempet intai mobil kita pas di hotel" tutur Arlan
"Ish ngeri amat" jawab Anya.
"Udah-udah, Lian emang gitu kok. Dia terlalu khawatir sama gue. Saking cintanya dia ke gue. Nggak usah panik" ucap Ardi memecah suasana panik dengan narsisnya tingkat dewa.
"Hmmm" Anya dan Farid hanya berdehem.
Lalu mereka kembali terdiam. Ardi menyandarkan kepalanya lagi, sambil mengirim pesan love yang banyak sekali ke istrinya.
Alya pun membalas pesan suaminya. Memberi love yang tidak kalah banyak. Lalu melanjutkan percakapan orang dewasa yang hanya Ardi dan Alya yang tahu isinya. Ardi senyum-senyum sendiri memegang ponselnya.
Farid menjadi teracuhkan dan bete. Ardi dan Alya yang berjauhan saja bisa segitu asik dan mesra. Farid dan Anya yang berdekatan saling diam kaku.
Akhirnya Farid memilih memejamkan mata.
"Sabar Farid, sabar, ada masanya nanti gue bisa miliki Anya seutuhnya" batin Farid dalam pejamanya.
__ADS_1
"Pak Arlan" panggil Anya ragu-ragu.
"Iya Non, ada apa?" tanya Arlan menoleh.
"Hee... kalau ada rest area. Berhenti ya!" pinta Anya.
"Iya Neng siap"
"Makasih Pak" jawab Anya tersenyum. Karena di resepsi banyak makan dan minum Anya jadi ingin ke kamar mandi. Mereka juga belum sholat isya.
Setelah kurang lebih 30 menit. Dari kejauhan ada plang bercahaya. Hanya saja tidak jelas terlihat apakah itu rest area atau bukan. Pak Arlan kemudian mengambil ancang-ancang memperlambat jalanya mobil dan mengerem.
Tapi saat menginjak rem dan memperlambat laju kecepatan semua itu tidak berfungsi. Mobil tetap berjalan cepat, karena kebetulan mereka berada di tanjakan. Pak Arlan terlihat sangat panik.
"Astaghfirulloh kenapa ini?" ujar Pak Arlan mengungkapkan kepanikanya.
"Kenapa Pak?" tanya Anya ikut panik.
"Kok remnya nggak berfungsi ya Non. Depan ada truk lagi?" ucap Pak Arlan berusaha menginjak rem.
Di depan mobil mereka, Pak Arlan melihat truk besar pembawa muatan. Memang tidak di depanya persis. Tapi jika truk itu tiba-tiba berhenti dan mobil mereka terus melaju dengan akan menabrak truk itu.
"Pak gimana Pak?" tanya Anya panik menyadari mereka semakin mendekat ke truk itu. Padahal truk itu berjalan lambat.
Ardi yang masih terjaga ikut bangun.
"Ada apa Pak Arlan?" tanya Ardi.
"Tuan remnya sepertinya blong" ujar Pak Arlan panik.
Pak Arlan fokus berusaha menyelamatkan diri tidak mengindahkan kata Ardi.
Farid kemudian terbangun.
"Ada apa?" tanya Farid
"Rem kita blong" ucap Ardi panik.
Ardi melihat samping kanan samping kiri mobil. Rupanya mereka berada di tengah kegelapan. Entah sawah, sungai atau jurang Ardi tidak bisa melihat dengan jelas.
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh Allohuakabar, ya Alloh tolong kami ini gimana?" Anya komat kamit berdoa.
"Tenang, semuanya berdoa dan tenang baca doa. Pegangan semua!" ucap Farid memperingati berusaha agar jika mereka terpaksa terjatuh organ vital mereka tetap aman dan tidak terbentur.
"Shiit, yang Lian bilang bener!" ucap Ardi ingat pesan istri.
Sementara Pak Arlan sudah mentok dan panik. Lajur sebelah tampak ramai. Belakang mereka ternyata banyak mobil juga. Sementara di depan mobil mereka truk muatan besar.
Tidak ada pilihan lain. Pak Arlan banting setirnya ke arah kiri mengindari menabrak truk muatan dan masuk ke suasana gelap.
"Allohuakbar" teriak Anya, Ardi dan Farid.
"Braakkk" mereka melemparkan diri masuk ke kegelapan.
__ADS_1
****
Istana Tuan Aryo.
"Praaang" Bu Rita hendak meminum vitamin E untuk menjaga kesehatan kulitnya, tiba-tiba gelasnya terjatuh.
"Ck. Ini gimana sih yang nyuci gelas. Kok nggak bersih, dipegang licin banget" gerutu bu Rita menyalahkan gelas yang jatuh.
"Bu Sitii. Bu Sitii" panggil Bu Rita mencari pembantunya.
"Iya Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Siti dengan sigap datang memenuhi panggilan Nyonya besarnya.
"Minta tolong beresin pecahan gelasnya ya!" perintah Bu Rita ke Bu Siti.
"Kok bisa jatuh Nyonya?" tanya Bu Siti.
"Sudah bersihkan saja" ucap Bu Rita.
"Baik Nyonya"
Bu Siti segera mengambil sapu dan membersihkanya. Sementara Bu Rita duduk dan menunda minumnya.
"Kok aku tiba-tiba kepikiran Ardi sih, udah sampai mana ya mereka?" gumam Bu Rita.
Kemudian Bu Rita iseng menelpon Ardi.
"Kok nggak diangkat sih!" geruru Bu Rita telponya dicueki. Lalu mencoba wa.
"Centang dua kok, huh. Anak satu kapan respek sama mamahnya. Nanti punya anak baru tau kamu Ardi" gerutu Bu Rita lagi merasa dicueki.
"Apa aku tanya Alya aja ya? Ah besok aja tanyanya. Tapi kenapa aku jadi khawatir dan kepikiran sih?"
****
Kamar
"Nduuk, nduk, tadi bilange mau bangun pagi, kok malah cekikikan terus" omel Bu Mirna ke anaknya yang sibuk wanan dengan suaminya.
Meski sudah menikah. Ardi dan Alya tetap seperti anak SMA baru jadian. Entahlah karena saking besarnya cinta mereka, atau keterlambatan perkembangan percintaan Alya.
"Iya Bu maaf. Lha gimana Mas Ardi kalau wa nggak dibales nanti marah. Katanya kalau istri buat suaminya marah dosa. Kan Alya nyenengin Mas Ardi Bu" jawab Alya membela diri.
"Udah sampai mana katanya?" tanya Bu Mirna.
"Belum tahu. Coba Alya tanya ya" jawab Alya.
"Lha daritadi esemesan bahas apa? Kok nggak tahu udah sampai mana?" tanya Bu Mirna hanya kenal sms.
"Hehehe. Ibu dulu sama bapak emang gimana pas masih muda? Kalau ngobrol bahas apa?" tanya Alya ke Bu Mirna.
Kemudian Bu Mirna menghela nafasnya mengingat suaminya yang sudah meninggal. Bu Mirna tersenyum sendiri mengingat nostalgianya. Kemudian memiringkan tubuhnya menghadap ke Alya.
"Ayahmu dulu sangat perhatian dan sayang ke Ibu. Selalu ada bahan percakapan yang menyenangkan. Bahkan bapak rela meninggalkan keluarganya buat ibu dan kamu Nak" tutur Bu Mirna akhirnya menceritakan ayah Alya.
__ADS_1
"Oh iya Bu? Jadi bapak punya keluarga? Jadi Alya punya saudara dari bapak?"
"Iya. Maaf ibu tidak pernah cerita. Karena bapakmu sendiri yang menyuruh ibu untuk tidak menganggap keluarga bapakmu nggak ada. Tapi sekarang ibu sepertinya harus cerita ke kamu" tutur Bu Rita.