Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
144. Berangkat


__ADS_3

Setelah berpamitan mereka berlima bersiap naik ke mobil jeep terbuka. Depan tersedia dua kursi dan belakang 3 kursi. Di depan tentu saja sopir pemandu wisata, kemudian didampingi Dika. Karena kebetulan Mas Sopir teman Dika.


Mau tidak mau Farid di belakang duduk bertiga, laki-laki sendiri. Untung saja Dinda da Anya tidak berbadan gemuk. Jadi masih muat untuk mereka duduk bertiga.


Dari mereka berlima, Dinda paling semangat. Dengan rambut pendek di bawah telinganya dia biarkan terurai. Sesekali rambut Dinda berhamburan terkena semilir angin, Dinda tampak cantik dan memancarkan aura cerah bahagia.


Dinda memakai kaos lengan pendek dan celana pensil. Dengan jaket diikatkan dipinggang. Lalu memakai kacamata hitam. Dinda benar-benar totalitas menikmati liburanya.


Berbeda dengan Anya. Rambut sebahunya hanya diikat kebelakang polos. Anya memakai kaos panjang dan celana jeans sangat simple dan kalem. Apalagi di dekatnya ada Farid. Anya benar-benar mati kutu di buatnya.


Mobil Jeep meninggalkan rumah Alya. Melaju memasuki area wisata lereng merapi. Melewati jalan halus dengan medan naik turun dan berkelok kelok.


Di sekeliling jalan berjajar rapih pepohonan melambai-lambai. Menebarkan kesegaran oksigen anugerah Tuhan secara gratis. Sangat indah dan asri.


Tidak ada kemacetan sama sekali. Suasananya damai dan menyenangkan. Meski matahari mulai terik, tapi tetap saja udara dan hawanya terasa dingin, segaar sekali.


Semua ingatan Dinda tentang ceceran darah, alat-alat jahit dan rumus-rumus dosis obat pergi entah kemana. Kini Dinda hanya merasakan kedamaian dan kesegaran.


Rasanya mereka berlima seperti sedang berada di dunia berbeda dari keseharian mereka. Tanpa rasa malu sesekali Dinda berpose dan swafoto. Kadang Dinda juga bersenandung dan merekam jalanan tanjakan dan turunan dengan hiasan bunga-bunga liar.


"Brisik banget si lo Din" gerutu Anya.


"Ih lo nggak enjoy banget sih, dinikmati atuh!" jawab Dinda tidak terima ditegur Anya saat Dinda menyalakan musik.


"Mba Dinda sebentar lagi kita masuk trek jalan bebatuan. Ponselnya dipegang baik-baik ya!" tegur Dika sopan ke Dinda.


Rupanya Mas Sopir mengajak mereka melewati trek jalan membelah semak belukar dan pepohonan dengan jalan naik turun. Bergelombang dan bebatuan sehingga benar-benar mengocok perut.


Dan benar saja, Dinda tidak sempat berpose pose ria. Sesekali berteriak saat Dinda merasa mobilnya miring hampir jatuh. Trip kali itu bukan hanya mengocok perut dan kepala Dinda dan Anya, tapi seperti menarik ulur jantung mereka, sehingga memacu berkali-kali lipat.


Sementara Anya sesekali tidak sengaja memegang paha dan tangan Farid sebagai pegangan. Farid sebagai laki-laki sangat menikmati tantangan perjalanan kali ini. Apalagi dia tambah dekat dengan Anya.


"Neng...neng jangankan ninggalin acara seminar. Ninggalin Jakarta asal Aa perginya sama Eneng Aa ge hente nolak Neng" batin Farid tersenyum saat Anya terlihat salah tingkah.


Farid sesekali menatap Anya dengan mata sayu menahan semilirnya angin.


"Rutenya kemana aja Mas" tanya Farid membuka obrolan setelah mereka kembali ke jalan landai.


"Kalau paketan, biasanya ke museum sisa hartaku, bunker kali adem, batu alien, makam Mbah Marijan, pasir panas, terakhir off road di kali kuning, nanti tak kasih bonus Mba Mas" jawab Mas Sopir ramah.


"Bonusnya kemana?" tanya Dinda antusias.


"Ke omah putih, sama lorong oksigen. Pokoknya seru. Nanti terakhir basah-basahan Mba. Siap-siap aja ponselnya" jawab Sang Sopir lagi.


Dinda dan Anya pun mengangguk kegirangan. Hari itu benar- benar hari yang berkesan untuk Dinda dan Anya juga Farid. Lama-lama Anya pun terbiasa denga Farid.


Sementara Dika karena asli orang situ, Dika terlihat biasa saja. Tetap menikmati perjalanan dengan santuy dan kalem. Aura laki-laki yang benar-benar memancarkan pesona yang tidak semua orang miliki.


Diam-diam Dinda selalu memperhatikan Dika. Bahkan tanpa sepengetahuan Dika, Dinda beberapa kali mencuri foro candid Dika. Dinda sangat bahagia bisa dipertemukan laki-laki seramah, sesopan dan seganteng Dika.


Mereka berlimapun mengunjungi satu persatu trip lava tour merapi. Berswa foto atau pun berfoto bersama. Mengabadikan di setiap momenya.


Dinda, Anya dan Farid juga sangat antusias mendengarkan di setiap Mas Sopir menceritakan sepenggal cerita tentang merapi.


Terakhir mereka menikmati off road di kali. Benar-benar pengalaman yang memuaskan adrenalin untuk gadis kota rumahan dan manja seperti Anya dan Dinda.


Mereka bisa tertawa dan teriak lepas saat merasakan sensasi mobil melewati lubang air dan membasahi baju mereka. Kini Anya benar-benar mendapatkan harga yang setimpal. Rencanya liburanya tidak gagal, malah melebihi perkiraan. Meski dia menorehkan sepenggal kisah yang menyebalkan.


***


Rumah Bu Mirna.


Setelah mobil jeep Army teman Dika menghilang, senyum dan wajah ceria Alya memudar. Tatapanya menjadi sendu, wajahnya layu, langkahnya lesu.


Alya masih mengharap hati suaminya bisa digoyahkan. Tapi sepertinya itu sebuah kemustahilan. Alya hanya bisa pasrah.


Memasuki bulan ketiga pernikahan. Menjalani hidup satu ranjang, membuat Alya mulai merekam dan menghafal suaminya. Mulai dari hal baik, jelek, kekanakan lengkap dengan kegalakanya, Alya mulai paham Ardi.


Sepertinya percuma Alya menangis, memohon apalagi merayu. Sore ini Alya tetap harus kembali ke Jakarta.

__ADS_1


"Wajahnya ditekuk terus. Nyesel nggak ikut?"


Ardi berbisik meledek istrinya, tanganya meraih pundak Alya manja. Ardi ingin mencairkan keruwetan di muka Alya.


"Apaan sih?" jawab Alya dengan muka cemberut.


Alya menepis tangan suaminya. Alya berjalan masuk ke rumah. Bu Mirna sendiri sudah masuk duluan. Sepertinya usaha Ardi mencairkan Alya gagal. Alya masih sendu dan tidak menanggapi.


Meski ditepis Ardi tidak mau menyerah. Ardi mensejajari istrinya lagi, kemudian menarik tangan Alya dan mengajaknya ke kamar.


"Duduk sini mas mau ngomong" tutur Ardi mengajak Alya duduk.


Lalu Ardi melihat keluar memastikan mertuanya tidak mendengar. Alya mengikuti suaminya duduk dengan tatapan sendu.


"Pasti mau bahas pulang. Ah andai saja aku bisa punya mesin waktu. Akan aku perlambat waktuku di Jogja" gumam Alya dalam hati merasa tidak ikhlas waktunya di rumah tinggal bebapa jam lagi.


"Kita ajak ibu baik-baik ya. Mas tau kamu berat ninggalin ibu" tutur Ardi lembut menatap istrinya yang tampak murung. Ardi sangat mengerti perasaan istrinya.


"Kalau ibu nggak mau gimana?" tanya Alya pelan dan putus asa.


"Setelah bicara sama ibu kita ke rumah Lastri yah!" jawab Ardi mencari opsi terbaik untuk mertuanya.


"Mas minta maaf sayang, kita harus balik ke Jakarta secepat ini. Mas tau ini berat buat kamu. Tapi mas nggak mau jauh dari kamu. Jadi apapun yang terjadi pulang bareng mas yah" sambung Ardi lagi memengang tangan Lian.


Alya diam tidak meyetujuinya, tapi juga tidak lagi menjawab atau menolak, karena percuma. Semuanya tetap akan berjalan sesuai mau Ardi.


Alya benar-benar sedih rasanya. Kali ini di benar-benar menangis dan air matanya keluar lagi. Sebagai anak Alya mengkhawatirkan Bu Mirna yang tinggal sendirian.


Melihat istrinya menangis membuat Ardi bingung dan sesak. Tapi dia juga tidak ada pilihan. Hatinya sudah terpaut dengan istrinya. Kini Alya sudah menjadi candu yang mengakar di jiwanya.


Sehari saja Ardi tidak bersama istrinya membuatnya kalang kabut seperti cacing kepanasan. Mana bisa Ardi membiarkan istrinya tinggal di Jogja berjauhan dengannya berhari-hari.


Ardi bukan tentara, pelaut atau laki-laki pejuang LDR yang pandai menahan rindu. Alya harus terima itu, suaminya adalah suami posesif yang perkataanya tidak bisa ditawar.


Ardi ditakdirkan menjadi anak tunggal yang mendomiasi. Berwatak keras, hampir semua keinginanya selalu terpenuhi. Jadi Alya harus ikut.


"Udah jangan nangis, ayo ke ibu" tutur Ardi memeluk Alya.


Sebenarnya malu diucapkan mengingat Alya sudah bersuami. Tapi memang, meski sudah tua, sebelum menikah Alya masih manja dan sering tidur bersama ibunya.


Entah kenapa Lian merasa sangat takut dan sedih meninggalkan ibunya. Lian sudah menebak ibunya tidak mau diajak ke Jakarta. Pikiran Lian berkelana ke bayangan hitam yang tidak seharusnya.


"Ehm. Jadi kamu nggak puas, sama pelukan mas dan pengen tidur sama Ibu" jawab Ardi spontan dan sedikit aneh.


Ardi sendiri sedikit heran bisa bisanya di usia Alya yang matang masih ingin tidur bersama ibunya.


"Maksud Lian bukan gitu mas"


"Terus apa?"


"Ya pokoknya Lian rasanya berat ninggalin ibu, ibu sama mas itu beda"


"Ya udah, ayo kita ajak ibu. Kamu jangan nangis nangis ibu kira mas nyakitin kamu lagi"


Ardi membelai pipi Lian lembut dan menyeka air mata Lian.


"Sabar-sabar. Semoga kamu nggak manja kaya mamahmu ya Nak. Bisa pusing papa" batin Ardi menatap istrinya yang masih menunduk dan membayangkan anaknya lahir.


"Udah ayo ke ibu" ajak Ardi bangun dari duduknya.


Lalu mereka berdua menghadap ke Bu Mirna.


"Lagi apa Bu?" tanya Ardi sopan melihat Bu Mirna duduk memegang benang dan jarum. Rupanya Bu Mirna sedang menjahit dasternya yang sobek.


"Ini baju ibu nya sobek. Kecanthol kayu pas neng kebon" jawab Bu Mirna sambil membetulkan kacamatanya.


"Kalau sobek ya udah buang aja Bu, nanti Ardi belikan lagi" jawab Ardi spontan.


Terkesan bercanda padahal Ardi sungguhan dengan kata-katanya.

__ADS_1


"Auw sakit sayang" tutur Ardi dicubit lenganya sama Alya pas Ardi nyuruh ibunya ngebuang daster. Bu Mirna ikut tertawa melihatnya.


"Ini daster kesayangan ibu! Nopo koe rene rene?" (Mau ada apa kamu deket-deket?"


"Mas Ardi badhe sanjang Buk" jawab Alya memakai bahasa Jawa Krama halus sambil nyenggol suaminya memberi kode.


"Tentang ajakan Ardi kemarin. Ardi serius Bu! Ibu ikut kita ke Jakarta ya!" tutur Ardi pelan sopan dan penuh penekanan.


Bu Mirna menghela nafas, menatap anak tercintanya dan menantu songongnya. Lalu meletakan daster dan benangnya.


"Maafkan ibu Nak. Ibu ndak bisa ikut kalian" jawab Bu Mirna pelan.


Benar kan tebakan Alya. Bu Mirna akan susah diajak ke Jakarta. Mendengar jawabn Bu Mirna, Alya menangis lagi.


Ardi menjadi kaget melihat istrinya menangis. Reflek Ardi menggenggam tangan Alya dan mengusapnya. Sementara Bu Mirna menghela nafas dan geleng-geleng kepala.


"Lha nopo koe nangis?" Kenapa kamu nangis?* tanya Bu Mirna geram ke Alya sudah tua masih cengeng. Bu Mirna merasa Alya nggak perlu nangis-nangis.


"Lian khawatir kalau ninggalin ibu sendirian di sini. Ibu ikut Lian aja ya!" jawab Lian memohon ke ibunya.


"Yo nggak usah khawatir to, ibu ndak apa-apa"


"Tapi kalau ibu kenapa-kenapa gimana?" tanya Alya lagi.


"Yo berdoa nggak kenapa-kenapa! Ibuk sehat"


"Ibuk selalu bilang ibu sehat, nyatanya ibu sakit kan?" jawab Bu Alya.


Kadua perempuan anak dan ibu itupun saling tanya dan jawab. Ardi memilih diam mendengarkan.


"Ibu sakit ya wajar, ibu sudah tua Nduk. Nggak usah dipikirin. Ibu ndak apa-apa, emang kapan kalian berangkat?" jawab Bu Mirna kekeh tidak mau ke Jakarta.


"Nanti sore Bu" jawab Ardi singkat.


"Jadi kamu nangis karena ini?"tanya Bu Mirna menatap Alya.


"Iya Bu! Kita kepikiran ibu. Dia nggak mau pulang ke Jakarta kalau nggak sama ibu. Saya nggak bisa lama-lama Bu di sini. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan" jawab Ardi mengadu ke mertuanya.


"Nduuk, sini ibu bilangin" tutur Bu Mirna mengelus ujung lutut Alya di depanya.


"Ibu tau kamu khawatir sama ibumu ini. Tapi kamu sudah menikah, surgamu sekarang ada di suamimu. Patuhi suamimu! Kalau kamu pingin ibu sehat, hiduplah dengan bahagia. Ibu bahagia kalau kamu dan keluargamu juga bahagia"


Tutur Bu Mirna pelan. Ardi ikut mendengarkan dan tersenyum merasa dibela mertuanya. Alya hanya diam menunduk pasrah.


"Saya berniat mempekerjakan Lastri untuk jaga ibu dan temani ibu di sini?" sahut Ardi menimpali.


"Oh iyo. Ibu seneng dengernya. Dia memang sering nginep dan bantu ibu di sini" Bu Mirna pun merasa bersyukur menantunya memikirkanya.


"Ya sudah Bu, kalau itu keputusan ibu. Saya nggak bisa maksa. Tapi Ardi sangat berharap ibu ikut kami" jawab Ardi mengambil kesimpulan dan masih merayu Bu Mirna.


"Iya Bu. Alya pengen bareng ibu" sambung Alya masih berharap ibunya mau ikut.


"Nanti ya kalau anak kalian lahir. Atau kalau bulanan anak kalian ibu ke Jakarta" jawab Bu Mirna tersenyum.


"Benarkah Bu?" jawab Alya sedikit lega, ada harapan ibunya mau ke Jakarta.


Bu Mirna tesenyum mengangguk. Alya langsung memeluk ibunya. Bu Mirna mengelus Alya dengan hangat.


"Kalian jaga rumah tangga kalian ya. Kamu udah mau jadi ibu. Nggak boleh mbok-mboken terus!" tutur Bu Mirna bijak menasehati Alya agar jangan manja lagi.


"Enggih Bu" jawab Alya.


"Jadi istri yang patuh sama suami. Jangan bertengkar terus, apapun cobaan kalian harus sabar dan saling percaya"


"Enggih Bu" jawab Alya lagi.


Ardi lega melihat istrinya sudah tersenyum lagi. Lalu Ardi dan Alya segera bergegas ke rumah Lastri. Memintanya menjadi teman yang merawat Bu Mirna. Alya juga membeli beberapa oleh-oleh. Kemudian berkemas.


Rombongan Anya juga pulang dengan wajah sumringah tapi bajunya basah. Kemudian mereka membersihkan diri.

__ADS_1


Berkemas dan bersiap, karena pesawat Gunawijaya siap pukul 5 sore. Malam harinya Anya juga langsung berangkat kerja malam.


__ADS_2