Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
127. I Love you


__ADS_3

****


Bar


Di kursi sebuah bar di kota metropolitan. Dua orang perempuan cantik tampak kacau, meneguk alkohol yang tersaji di atas meja. Satu dari dua perempuan itu tampak sudah tidak sadarkan diri. Satunya lagi masih terjaga.


"Gue akan bunuh perempuan itu, gue akan bunuh dia" Intan mulai meracau sambil nunjuk-nunjuk ke Sinta.


"Udah Tan pulang ayok. Lo mabuk deh kayaknya!" jawab Sinta mengambil tas dan berusaha memapah sahabatnya.


"Ahahaha, gue nggak mabuk. Gue nggak mabuk, pokoknya anak Ardi hanya boleh lahir dari rahim gue, hanya dari rahim gue. Euughhh" Intan meracau lagi.


"Hah merepotkan" gerutu Sinta sebal memapah tubuh tinggi Intan. Dan berjalan ke mobil.


"Brug" Sinta memasukan Intan ke mobil. Memasukan kakinya dan menatanya.


"Aaaissh sial" gerutu Sinta membanting setir.


"Gue nggak bisa kehilangan pekerjaan, siapa sih Alya sebenarnya? Kenapa lo tiba-tiba muncul di hidup gue dan ancurin semuanya" Sinta melampiaskan emosinya dan melajukan mobilnya dengan kencang.


Sesekali Sinta melirik ke Intan yang terbaring di belakangnya.


"Gue harus lakuin sesuatu" ucap Sinta dalam hati sambil nyetir. Lalu Sinta teringat apartemen Megayu.


"Anak buah gue liat Alya dan Ardi satu mobil masuk ke apartemen Megayu, siapa lo sebenarnya gadis udik? gue harus kasih pelajaran ke lo" batin Sinta setelah sampai di depan rumah Intan.


Sinta berfikir menunggu Intan sadar. Mereka berdua harus mengurus dan memastikan sendiri, siapa Alya? Siapa Berlian? Sinta harus datang sendiri ke megayu yang anak buahnya laporkan dan ke perumahan kos yang dilaporkan anak buah Intan. Sinta akan nekat nglakuin apapun mengobati rasa kesalnya.


Sinta juga harus mencari cara meyakinkan Farid agar dia selamat. "Gue nggak boleh nyerah, gue nggak mau keluar dari panti gitu aja, awas kamu Alya" ucap Sinta dalam hati.


Lalu Sinta memanggil asisten rumah tangga Intan untuk membantu Intan masuk ke rumah.


****


Kereta.


Sekitar pukul 6 sore, kereta ekonomi yang dinaiki Alya berhenti di salah satu stasiun. Alya mulai merasakan pegal di pahanya. Tapi dia tetap membiarkan suaminya meringkuk nyaman. Suaminya terlihat sangat lelap tidur di pangkuanya. Alya diam menatap setiap inci wajah Ardi.


Alya menyentuhnya, membelainya dengan pelan. Ardi memang tampan. Entah perasaan apa dan darimana datangnya, hati Alya tergetar, menyentuh Ardi, ada rasa haru, bahagia atau entah apa namanya. Tanpa Alya rencana, Alya meneteskan air matanya. Alya menyadari betapa beruntungnya dia. Tuhan kasih suami sebaik Ardi.


"Dia suamiku, dia miliku, dia benar-benar suamiku" batin Alya dalam hati.


Alya mengingat semua perjalananya, pertama bertemu dengan Ardi, masalah kemeja kotor, makan malam di pinggir jalan, kehujanan, disidang, sampai akhirnya mereka menikah dan kini Alya mengandung benih yang Ardi masukan di rahimnya.


Meski Alya tidak mendengar langsung, Ardi sudah mengumumkan Alya istrinya di depan umum, teman-teman Alya dan Ardi sudah tau mereka menikah. Kini Alya benar-benar menjadi Nyonya Ardi Gunawijaya. Pernikahan mereka nyata.


Iya, Alya nyata menjadi Nyonya Ardi Gunawijaya, bukan istri simpanan, pernikahan mereka bukan lagi pernikahan yang disembunyikan, memalukan atau kesalahan. Pernikahan mereka adalah berkah dan hadiah. Bahkan Alya akan jadi ibu dari penerus Gunawijaya.


Tidak Alya sadari, air mata Alya yang menetes membasahi Ardi. Ardi yang sudah tidur selama kurang lebih 5 jam terbangun. Ardi membuka matanya saat merasa ada cairan hangat membasahi pelupuk matanya.


Ardi menggeliat dan bangun. Alya cepat-cepat mengusap air matanya. Dan tersenyum ke Ardi.


"Di kereta ada burung ya? Apa cicak? Apa AC nya bocor?" tanya Ardi meledek istrinya sambil mengelap air mata Alya, Ardi tau istri manjanya itu menangis.


"Hemm" jawab Alya menggerakan bibirnya dengan salah tingkah.


Ardi tersenyum melihat tingkah istrinya saat salah tingkah begitu. Di saat seperti itu, bagi Ardi Alya sangat imut dan menggemaskan.


"Udah sampai mana sih?" tanya Ardi mencairkan istrinya.


"Nggak tau, Purwokerto kalau nggak salah"


"Udah mau sampai ya?" tanya Ardi lagi


"Belum"

__ADS_1


"Hemmm, mas ninggalin sholat ashar ternyata?"


"Iyah, wudzu yuk kita ambil niat dijamak" jawab Alya.


Katanya dalam perjalanan meski tidak mampu sempurna kita tetap harus sholat meski dengan niat dulu apapun keadaanya. Alya dan Ardi bangun dan mengajak Anya. Setelah itu mereka memakan bekal yang mereka beli. Karena Alya tidak suka menu kereta api.


"Sayang" panggil Ardi lembut.


"Hemm" jawab Alya berdehem sambil mengunyak makanan.


"Kamu tadi nangis yah? Nangis kenapa sih? Percaya ibu baik-baik aja, yah!"


"Paha Lian sakit Mas, Mas tidurnya kelamaan" jawab Alya bohong, setelah menelan makanan.


"Oh, ya mas minta maaf nanti gantian deh, kalau nggak nanti mas pijitin. Perjalanan berapa jam lagi sih?"


"3 jaman Mas"


"Lama bener? Coba pake jet papah, kita udah sampai lho" sahut Ardi.


"Hemm, Mas mau ajak Lian berantem lagi?"


"Enggaak!" jawab Ardi pelan, "Perjalanan begini tidak buruk, istri mas jadi baik, suapin dong!" pinta Ardi.


"Ish" jawab Lian mendesis, lalu Lian menyuapi suaminya, mereka makan bersama.


Di saat mereka makan ada bapak dan ibu tua masuk ke gerbong. Mereka kebingungan mencari tempat duduk, sehingga duduk di hadapan Ardi dan Lian. Ardi langsung memasang muka gusar dan kesal, jam yang dia bayangkan melanjutkan kemesraan dengan istrinya rusak.


"Kenapa mereka duduk disini sih? Ganggu aja!" bisik Ardi ke telinga Lian ingin mengusir kakek nenek itu.


"Hiiish, nggak boleh bilang gitu. Ini kendaraan umum, mas jangan keterlaluan" jawab Lian lirih.


Lalu Lian mengangguk tersenyum ke pasangan suami istri tua di hadapanya itu. Kakek-nenek itu pun tersenyum. Kakek Nenek itu tampak romantis buat Alya.


"Teng Surabaya Nduk" *Ke Surabaya Nduk" jawab Ibu itu.


Lalu Lian dan kedua pasangan tua itu melanjutkan ngobrol menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil (bahasa Jawa halus dan hormat). Lian mengobrol dengan lembut dan ramah. Membahas tujuan perginya, bertanya pekerjaanya, asalnya dan sebagainya. Sementara Ardi diam tidak mengerti.


"Ehm" Ardi berdehem merasa dicueki. Alya tersenyum melihat ke suaminya.


"Garwane ta?" *Suaminya ya?" tanya Nenek tua itu.


"Enggih Bu" jawab Alya mengiyakan. "Nyuwun ngapunten, Mas mboten saged Bahasa Jawa" *Mohon maaf, si Mas nggak bisa bahasa Jawa" tutur Lian sopan.


Ibu tua itupun mengangguk dan pelan-pelan, kakek nenek itu mengantuk dan tertidur. Ardi menghela nafasnya kesal.


"Ngobrolin apa sih?" tanya Ardi berbisik dengan muka bete.


"Dia nyeritain anaknya. Udah nggak usah bete gitu. Bentar lagi kita sampai kok" tutur Lian lembut.


"Oke" jawab Ardi mengangguk lalu membuka ponsel dan mengirim pesan ke seseorang.


Untuk yang pertama kalinya. Dengan inisiatif Lian sendiri, Lian meraih tangan Ardi dan mengenggamnya erat. Lalu Lian bersandar ke bahu Ardi. Ardi tersenyum menoleh ke perempuan di sampingnya itu.


"Lian pengen, sampai tua kita tetap mesra seperti mereka" bisik Lian ke Ardi.


"Harus!" jawab Ardi menepuk kepala Lian. "Udah gantian tidur sini, dari tadi kamu belum tidur kan?"


"Nggak, bentar lagi sampai? Lian nggak sabar ketemu ibu"


"Ya" jawab Ardi mengangguk.


"I love you" bisik Lian centil sambil bersandar memeluk tangan suaminya.


Ardi syok mendengarnya, itu pertama kalinya Ardi mendengar dan melihat istrinya tersenyum dan centil seperti itu. Dadanya seperti mau meledak.

__ADS_1


Meski mereka sering menghabiskan malam panas di 2 bulan terakhir ini. Setiap Ardi mengucapkan terima kasih dan kata cinta. Lian hanya membalas dengan "ya" atau bahkan diam saja. Lebih banyak Lian hanya melakukanya untuk menggenapi kewajibanya. Lian tidak pernah berinisiatif mengucapkan kata itu.


"Coba ulangi lagi, mas nggak denger" bisik Ardi lembut.


"Lupa" jawab Lian ngeles.


"Hmm. Kenapa sih, kalau ngobrol sama orang, sama Farid sama yang lain, bisa ketawa lembut gitu, sama mas nggak?" tutur Ardi meledek.


"Hemmm, karena Mas beda" jawab Lian singkat.


Ardi tersenyum sendiri, merasa sangat lega dan bahagia. Ardi mengeratkan genggaman tangan istrinya, dan mencium tangan Alya dengan lembut. Ardi mengelus kepala istrinya yang sering mengeras itu.


Alya menoleh dan memandang suaminya tersenyum. Lalu kembali bersandar di bahu lengan Ardi. Tidak lama petugas kereta memberi peringatan sudah hampir sampai di stasiun tujuan mereka.


"Anya, siap-siap kita udah mau sampai" tutur Lian ke Anya.


"Oke" jawab Anya mengacungkan jempol dan mengambil tasnya.


Ardi dengan sigap mengambil tas Lian. Tanpa malu Ardi memakai tas perempuan milik istrinya itu. Kereta berhenti pasangan kakek nenek itu terbangun.


"Ibu, Bapak, sampun dugi Jogja. Kulo mandhap riyen nggih" *Ibu Bapak, sudah sampai Jogja, kami turun duluan ya* tutur Lian sopan sambil mengangguk.


"Oh nggih, nggih monggo, ngatos-atos" *Oh ya, ya silahkan, hati- hati* jawab Kakek nenek itu.


"Nggeh, matursuwun" *Ya terimakasih" jawab Lian ramah dan tersenyum. Ardi, Lian dan Anya pun turun dari kereta.


"Ah. Akhirnya sampai Jogja" ucap Anya meregangkan tangan. Begitu juga Ardi meregangkan kepala dan tubuhnya. Mereka berdua tampak gembira menikmati suasana malam di kota pelajar itu.


Berbeda dengan Alya, dia diam tampak berfikir. Alamat rumah sakit tempat ibunya dirawat masih jauh. Padahal sudah malam, bagaimana menuju kesana, Alya hari segera pesan grab. Belum lagi bagaimana nasib Anya, mau menginap dimana?


"Anya" panggil Lian lembut.


"Ya Al, gimana?"


"Kamu jadi pesen hotel? Nginep dimana?" tanya Alya pelan.


Belum Anya menjawab, Ardi sudah menyahut duluan.


"Ngapain pesen hotel? Nginep di rumah aja sayang" tanya Ardi heran. Ardi kan sudah merenovasi rumah Lian. Yang tadinya hanya dua kamar sekarang ada 4 kamar.


Alya yang belum tahu apa-apa, menarik tangan suaminya menjauh dari Anya.


"Bentar ya Nya" tutur Lian meminta ijin ngobrol dulu sama suaminya.


"Mas tau kan kamar Lian? Kasian Anya tidur di kamar Lian yang begitu?" tutur Lian lembut ke suaminya.


Ardi menggaruk kepalanya. Ardi ingin kasih kejutan, jadi jangan sampai keceplosan sebelum Lian liat sendiri rumah barunya.


"Terus dulu kamu nggak kasian sama mas sama Arlan? Mas aja tidur di kamar Kamu. Begitu ya? Sama orang lain selalu perhatian sama suami nggak" jawab Ardi ngeles.


"Iih bukan gitu Mas. Mas kan cowok. Lagi pula mas itu kan nyebelin. Anya kan perempuan sahabat Lian. Dia kan juga mau ketemu pacarnya besok. Kalau pulang ke rumah kasian kejauhan, tidur di rumah sakit lebih kasian, lebih baik di hotel"


"Udah stop. Hotel nggak bagus, dia sendirian. Dia calon istri sahabat mas. Mas udah pikirin semuanya. Sayang ikutin mas aja. Oke?"


"Heh?" tanya Alya melongo penuh tanda tanya. Ardi tidak menjawab dan berjalan menggandeng istrinya.


"Ayo jalan. Tuh jemputan kita udah dateng" jawab Ardi menunjuk mobil Alphard dari bawahan kolega Ardi datang menjemput.


"Dokter Anya, nggak usah pesan hotel. Kalau udah pesen cancel aja. Semua udah diatur. Ayo siap-siap!" tutur Ardi ke Anya lalu berjalan menyambut seseorang.


Alya dan Anya tampak bengong melihat Ardi menyapa dan mengobrol dengan seseorang. Kapan Ardi pesan mobilnya? Pesan dari siapa? Bagaimana Ardi bisa kenal orang Jogja?


Alya menatap suaminya dengan banyak tanda tanya memenuhi kepalanya. Alya ingin melontarkan setiap tanda tanya itu, tapi dia tahan karena Ardi lebih dulu menyapa orang dan mengabaikan Alya. Alya menghela nafasnya memilih diam dan ikut aja.


"Ayo Nya" ucap Alya mengajak Anya menyusul suaminya.

__ADS_1


__ADS_2