Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
214. Lamaran.


__ADS_3

Meski tidak mewah, tenda dan bunga-bunga sudah didekor dengan indah. Halaman rumah Abah Anya sudah di sulap menjadi seperti hotel berbintang dan riasan indah, siap menyambut keluarga Farid.


Tidak banyak memang, rombongan Farid hanya ada 3 mobil. Rombongan Tuan Handoko dan keluarga Farid. Rombongan Tuan Aryo. Dan Rombongan Ardi.


Untuk hantaran dibawa rombongan Tuan Handoko. Lalu mereka berkumpul di penginapan kecil terletak di daerah dingin itu.


"Yuk berangkat yuuk" ajak Tuan Handoko setelah semua lengkap.


"Huuft, bismillah" ucap Farid mengambil nafas dan menetralkan dheg-dhegan.


"Ck. Lebay banget sih Lo. Biasa aja. Lamaran doang juga, selow Bro!' gerutu Ardi masih saja mengejek Farid.


"Rese tau nggak. Iri kan Lo lamara gue bagus? Gue gugup beneran!" balas Farid mengejek.


"Gue iri sama Lo? Enak aja, nggak ada kamusnya" balas Ardi melenggang gengsi.


"Kalian ya? Udah tua, masih aja sukanya berantem. Malu tau sama umur!" lerai Bu Rita dari belakang.


"Ya Tante. Maaf" jawab Farid menohon maaf, sementara Ardi hanya diam.


Lalu mereka masuk ke mobil masing- masing.


Selama di jalan Farid komat kamit membaca doa dan rangkaian kata yang akan dia ucapkan nanti.


Sementara Ardi menatap pemandangan jalan dengan wajah sendu. Istri tercintanya tidak ikut, semalam tidak bertemu membuatnya klimpungan.


Dalam hati kecil Ardi, sebenarnya ada bersalah yang mendalam. Ardi merasan sangat kurang memberikan cinta ke istrinya.


Alya yang begitu dia cintai dan berharga, tidak merasakan sebagaimana mestinya teman-temanya. Merasakan pinangan dengan cara terhormat, diberi banyak ucapan dan doa. Didandani menjadi ratu sehari, bulan madu ke tempat-tempat indah.


Alya langsung dituntut menjadi istri yang patuh, bahkan terkesan terkekang. Bahkan kini dia langsung hamil dan mengandung anaknya.


"Lo emang payah Ardi" ejek Ardi sendiri.


Dan yang lebih membuat Ardi merasa tidak berdaya sebagai laki-laki, Alya hamil dengan sehat dan tidak ada keluhan. Tidak perah nyidam dan merepotkan Ardi.


Padahal sebagai suami, Ardi ingin menjadi sedikit berguna memberikan perhatian merawat Alya. Tapi malah Ardi yang sakit dan dirawatnya.


"Apa hal luar biasa yang bisa gue bayar buat kamu sayang?"


Ardi kemudian berfikir keras, bagaimana caranya membuat istrinya selalu bahagia dan mencintainya. Ardi ingin memberi kejutan yang luar biasa.


"Ini belok kanan Tuan?" tanya Pak Arlan memecahkan keheningan. Mobil rombongan Farid berada di paling depan jadi Pak Arlan yang jadi acuan.


"Iya Pak, rumahnya di ujung jalan ini" jawab Farid menunjuk ke arah rumah Anya.


Lalu mereka belok dan masuk ke gang perumahan rumah Anya. Dari kejauhan tenda tunangan yang megah dan cantik terlihat melambai. Menyambut kedatangan Farid dan rombongan


"Alhamdulillah sampai" ucap Farid.


Lalu mereka turun. Farid bersama Ardi, diikuti Tua Handoko dan istrinya, Om dan Tantenya. Begitu juga Dinda, Bu Mirna dan yang lain.


Semua berjajar rapi, membawa hantaran yang sudah dirias dan dipersiapkan Nyonya Handoko. Semua barang yang dibawa adalah barang-barang pililhan Anya sendiri.


Didampingi kedua orangtuanya, dengan balutan kemeja batik dan tatanan rambut yang rapih Farid berjalan tegap membawa sebuket bunga lili putih, itu kesukaan Anya. Farid memancarkan kemapanan dan kematanganganya.


Di belakangngnya Ardi membawa hantaran berisi tas cantik nan imut bermerek dior. Di sampingnya Dinda membawa seperangkat sepatu heels cantik berwarna kuning, dengan hiasan mutiara di tengah merek manolo blahnik.


Dibelakangnya disusul om dan Tante Farid membawa hantaran pakaian dan juga make up. Dibelakangnya lagi Bu Rita dan Bu Mirna membawa makanan. Lalu Tuan Aryo berlenggang dan beberapa sopir membawa sisanya.


Untuk cincin tunagan dibawa Nyonya Handoko.


Di sisi kanan kiri karpet merah memasuki tenda sudah berjajar rapih sanak keluarga Anya, mereka memakai gamis dan kebaya warna senada biru muda. Dan yang laki-laki couplean batik. Mereka siap menyambut rombongan Farid.


Rangkaian bunga-bunga menghiasi tenda rumah Anya. Di tengah tenda ada bilik papan nama Anya dan Farid terpampang, dihiasi lampu-lampu hias berbentuk bunga tulip dan hiasan bunga lain.

__ADS_1


Dentingan lagu romantis pun terdengar menyambut mereka. Keluarga Anya menerima dengan senyum dan tangan terbuka.


Rombongan Farid menyerahkan hantaran ke keluarga Anya. Setelahnya mereka bersalaman dengan ramah.


Farid dan kedua orang tuanya duduk di depan. Tuan Aryo dan yang lain duduk di belakang nya. Di kursi yang sudah tetata rapi.


Musik dihentikan. Lalu MC menempatkan diri membuka acara lamaran. Setelah sambutan acara, dilanjut dengan pembacaan ayat suci Al_Qur'an


Qori melantunkan Q. S An_Nisa ayat satu dengan sangat indah.


"Wahai manusia! Bertakwalah kamu kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari yang satu (Adam), dan Alloh) yang menciptakan pasanganya (Hawa) dan (diri) nya: dan dari keduanya Alloh memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.


Bertakwalah kepada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.


Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasimu"


Semua mendengarkan dengan hikmat. Bahkan Ardi yang dari tadi bertingkah menyebalkan tanpa ada yang tahu matanya berkaca-kaca.


Ardi menunduk memandangi ponselnya, memandangi foto istri tercintannya, berharap istrinya menelpon. Sayang Alya sedang sibuk bekerja. Rasanya ingin segera memeluknya, betapa Ardi ingin memberikan cinta yang banyak.


Setelah Qori mundur, dilanjutkan dengan acara inti. Penyampaian maksud dari kedatangan Farid dan rombongan. Sebelum Farid maju, EO memutarkan lagu romantis. Dari Yura Yunita.


Berawal dari tatap


Indah senyummu memikat


Memikat hatiku yang hampa lara


Senyum membawa tawa


tawa membawa cerita


cerita kisah indah tentang kita


Terkadang kuragu


tapi kuyakin kau milikku


Kau membuat ku bahagia,


di saat hati ini terluka


kau membuatku tertawa


di saat hati ini terbawa


Terbawa oleh cintamu untukku.


Untuk kita.


Lalu dari pihak Farid, Tuan Aryo memulai mengawali maksud dan tujuan kedatangan mereka. Tapi setelah itu menyerahkan ke Farid sendiri yang berbicara.


Farid dengan buket bunga ditangan berdiri dan datang ke tempat indah yang menjadi saksi niat tulusnya. Dengan langkah mantap, Farid mengambil mik, bersiap merangkai kata indahnya.


"Bismillahirrohmaniirohim. Asaalamu'alaikum Warohmatullohi wabarokatuh. Kepada bapak Ahmad sekeluarga. Saya, Farid Agung Handoko. Dengan mengucap bismillah dan dengan ijin Alloh. Datang ke rumah Bapak Ahmad, beserta keluarga besar saya. Membawa maksud dan niat yang tulus dari hati saya"


"Saya ingin memohon ijin, memohon restu. Saya ingin mengambil alih tugas Bapak Ahmad dan keluarga, untuk bisa menjaga putri bapak yang bernama Anya Khatyah Ahmad, mecintainya, membimbingnya"


"Menjadikan pasangan saya, teman hidup saya, selamanya sampai akhir sisa hidup saya dan menjadikan istri saya satu-satunya"


"Apa saya diijinkan?"


Farid mengutarakanya dengan kalimat latang dan jelas kemudian dari keluarga Anya, yang micnya langsung dipegang Tuan Ahmad sendiri menjawab.


Kalau bapak Ahmad sangat senang dan ridzo dengan niat Farid, tapi bapak Ahmad juga menanyakan alasan Farid memilih Anya.

__ADS_1


"Bismillah, dengan segenap hati sya memilih putri Bapak. Sebenarnya sejak beberapa tahun lalu, saat usia saya masih 6 tahun. Saya sudah jatuh cinta dengan putri bapak. Hanya saja itu waktu yang terlalu dini untuk tau apa itu cinta"


"Putri Bapak Ahmad yang bernama Anya, mengajarkan banyak hal, membuat saya berani, menjadi sahabat terbaik saya. Tapi waktu berlalu memisahkan kami. Saya kehilangan sahabat untuk waktu yang lama"


"Saya mencari-cari sahabat sepertinya untuk menjadi pendamping langkah saya lagi, tapi tidak ada yang bisa menggantikan putri Bapak"


"Sampai beberapa waktu kemarin, saya kembali bertemu denganya. Neng Anya kecil yang menjadi penyemangat hidup saya di masalalu yang pernah hilang, kini kembali."


"Saya tidak ingin menyiakan kesempatan. Saya ingin menjadikanya berdiri di sisi saya seterusnya. Menemani setiap langkah hidup saya, bukan sebagai sahabat lagi, tapi sebagai istri yang saya sayangi" jawan Farid.


Tidak disangka semua keluarga. Mereka tahunua Farid dan Anya hanya dijodohkan, ternyata memang ada rasa di antara mereka. Tuan Handoko dan Tuan Ahamad tersenyum lega.


Dinda dan yang lain kemudian menangis haru. Dengan lancar dan keyakinan penuh Farid mengeluarkan perasaanya di hadapan orang banyak. Dinda sangat iri dengan sahabatnya itu.


Setelah Farid menjawab lalu MC memanggilkan Anya. Anya yang dari tadi bersembunyi datang dari dalam rumah didampingi saudaranya.


Semua mata tertuju pada Anya. Dia dirias sangat cantik dengan sanggul moderen dan hiasan rambut berbentuk untaia bunga yang disusun indah dikepalanya.


Dengan langkah anggun Anya naik ke tempat indah, tempat Farid berdiri. Kini mereka berhadapan disaksikan tamu dan sanak saudara.


"Anandan Anya Khatyah Ahmad, laki-laki tampan dan budiman ini mengatakan mencintaimu, memintamu dari bapak.Apa ananda menerimanya?" tanya Tuan Ahmad lembut.


Lalu Tuan Ahmad menyerahkan mic ke Anya. Anya menerima micnya dengan hati-hati.


Belum Anya menjawab, mata Anya berkaca-kaca dengan mulut tercekat hendak menjawab. Anya tidak menyangka Farid melamarnya dengan banyak kata yang membuat dia terpana.


"Bismillahirohmanirrohim" ucap Anya sambil terisak.


"Dengan ijin Alloh dan restu dari umi dan abah, saya Anya Khatyah Ahmad, pertama-tama saya ingin mengucapkam terima kasih, kepada Aa Farid sekeluarga. Sudah bersedia jauh-jauh dari Jakarta datang kesini" tutur Anya pelan dan hati-hati sambil meneteskan air mata.


"Yang kedua, bismillah Insya Alloh saya bersedia menerima maksud dan tujuan Aa Farid dan rombongan datang ke sini"


"Saya bersedia menjadi istri Aa Farid, menemani Aa sampai tua nanti. Menjadi pendamping setia apapun keadaanya"


"Selanjutnya Anya berterima kasih ke Aa Farid, yang sudah mencintai Anya, sabar ke Anya. Anya banyak salah, tapi Aa Farid selalu sabar. Anya berdoa Aa Farid selalu dilimpahi kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan, Aamiin"


Anya menjawab lamaranya dengan penuh haru juga. Kemudian tersenyum menatap Farid.


Semuanya tersenyum lega. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pasang cincin. Bu Handoko maju memakaikan cincin ke Anya.


Setelag pemakaian cincin dilanjutkan acara perkenalan masing-masing keluarga, sambutan dan diakhiri dengan do'a.


Acara selesai, semua bersuka cita dan menikmati hidangan bersama. Berfoto ria, mendengarkan sajian musik, saling berkenalan dan bersenda gurau.


Kini Farid dan Anya resmi menjadi tunangan. Meski belum halal, tapi pintu orang lain melamar Anya sudah tertutup. Keluarga Anya dan Farid hanya tinggal menentukan hari pernikahan mereka.


"Video call Alya sih!" pinta Anya ke Dinda.


"Oke" jawab Dinda


Lalu Dinda menghubungi nomer Alya. Tapi sayang Alya tidak merespon.


Karena Anya jaga malam, selesai acara mereka segera berkemas, kembali ke Jakarta termasuk Anya.


"Belum halal! Duduknya nggak usah deket-deket!" lerai Ardi menyuruh Anya duduk di bangku depan lagi.


"Iya Tau, berisik!" jawab Farid.


"Hemmm, ya kirain udah nggak sabar" jawab Ardi lagi.


"Emang lo, gue nggak ya!"


"Eh gue langsung halal ya!"


"Yaya. Pak Arlan ke rumah sakit Healthiest ya Pak. Mobil saya di sana" ucap Farid.

__ADS_1


"Siap Den" jawab Pak Arlan.


Mereka kemudian berangkat ke Jakarta lagi.


__ADS_2