Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
255. Janjian


__ADS_3

“Batalkan semua pertemuan siang ini!” perintah Ardi seenaknya. 


“Heh?” Dino dan Rissa tehenyak mendengar perintah Ardi.


Ardi mah enak tinggal ngomong doang. Tapi Dino dan Risa siap- siap di komplain klien mereka. Jadwal meeting tinggal beberapa menit lagi, kenapa ngebatalin rencana sesukanya. 


“Mohon maaf Tuan, kenapa mendadak membatalkanya? Apa tidak bisa disempatkan dulu?” tanya Dino merayu Ardi agar tetap melanjutkan agendanya


“Ya sudah lanjutkan saja! Kau yang mewakiliku, semua keputusan kuserahkan padamu, aku percaya kamu!” jawab Ardi tersenyum penuh arti.


Glek 


Dino menelan ludahnya dan merutuki dirinya sendiri. Senjata makan tuan ini Mah, apa makan buah simalakama. Lanjut meeting Dino yang pusing,  batal juga Dino yang kena semprot. 


“Ya Tuan!” jawab Dino akhirnya memilih meeting, kalau deal kan Dino dapat bonus. 


“Bagus, gue cabut dulu ya!” jawab Ardi tanpa rasa dosa, bangun dari duduknya. Kebetulah klien hari ini bukan dari perusahaan besar.


Lalu Ardi segera pulang. Entah kenapa akhir- akhir ini Ardi tidak percaya orang lain untuk mengantar Alya. Ardi mau dirinya sendiri yang jadi satpam untuk istrinya, tidak peduli apapun itu. 


“Pak Arlan setelah ini, Pak Arlan boleh pulang” ucap Ardi memberi perintah ke Pak Arlan. 


“Baik Tuan!”


Rupanya Ardi ingin mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir. 


Setelah melewati beberapa lampu merah yang lumayan menyita kesabaran, dan mengantri di jalan keramaian. Pak Arlan dan Ardi sampai di rumah besar itu. 


Ardi berjalan setengah berlari, takut- takut istrinya tidak sabar menunggu dan sudah berangkat kerja. Tapi Fitri masih terlihat mengobrol di dapur bersama Bu Siti dan mobil Ardi masih terparkir rapih, itu Artinya Alya masih di rumah. 


“Sayang mas pulang!” panggil Ardi membuka pintu. 


Dilihatnya Alya masih duduk tasyahud akhir. Rupanya Alya sedang sholat dzuhur. 


Ardi kemudian masuk, dan langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya dan ikut menunaikan sholat dzuhur, meski sendiri- sendiri. 


“Kok mas udah pulang?” tanya Alya ke suaminya.


“Kan mas udah bilang, hari ini mas antar kamu dan ikut kamu lembur!” jawab Ardi ngotot. 


Alya kemudian menatap suaminya tajam. Dan merasa ini tidak benar. 


“Mas, nganter aja, abis itu mas pulang, yah!” tutur Alya mengingatkan yang benar saja kerja ditungguin suami. Apa kata teman-temanya?


“Nggak, mas mau nemenin kamu lembur! Mas nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu!” 


“Aih Mas, maluu sama temen- temen!” cegah Alya lagi.


“Tapi Mas nggak malu dan mas nggak peduli, ada kamar dokter kan? Nanti mas nunggu di situ! Nih mas bawa laptop” jawab Ardi ngotot bahkan Ardi mengemasi barangnya sendiri ke tas punggung.


“Hmm, kalau ditegur atasan gimana? Nggak ada lho yang kerja bawa suami" tutur Alya lagi masih merayu Ardi agar punya malu.  


“Nggak ada yang berani negur mas? Direkturmu aja hormat ke mas kok, santai aja!” jawab Ardi tetap tidak tahu malu malah menyombongkan diri.


“Sombong amat!” 


“Iiih nggak percaya!” jawab Ardi.


Lalu Ardi megeluarkan ponselnya dan memberikan ke Alya. Sebelum Alya kenal Ardi, Ardi memang sudah lebih dulu kenal dokter Steven. Bahkan rumah sakit yang Alya tempati untuk magang, juga dulu proyekanya perusahaan Gunawijaya.


“Kok bisa mas kenal beliau?”  tanya Alya menyerahkan ponsel Ardi setelah melihat bukti kalau suaminya terlihat kenal dekat dengan direkturnya.


“Ck” Ardi berdecak melihat istrinya lalu menyentil kepala Alya seperti biasanya.


Dan kali ini Alya tidak mengusapnya karena sudah kebal, tapi mulutnya masih tetap mengkerucut. 


“Kenapa nggak sadar juga sih, kalau suamimu keren? Hah. Masih belum tahu siapa Gunawijaya?” tanya Ardi sombong. 


Tapi memang kenyataannya keluarga mereka keluarga terpandang di negaranya yang hampir semua orang tau brand keluarga mereka.


Makan malam bersama pejabat juga sudah biasa, apalagi direktur RS. Tentu saja Ardi kenal.


Hanya saja Ardi orangnya low profil tidak seperti bapaknya, yang kemana-kemana ada pengawalnya dan terlihat ada jarak dengan orang. Kalau Ardi lebih suka berpenampilan biasa, jadi saat di tempat umum Ardi sama seperti masyarakat yang lain.


“Yaya" jawab Alya akhirnya patuh. Titah Ardi mana bisa ditolak.


"Ingat nglawan suami dosa!" tutur Ardi mengeluarkan jurus pamungkasnya agar Alya tidak banyak protes.


"Ya!"


"Mas akan berdiam diri di kamar kok nggak ganggu! Mas akan jadi suami yang manis" tutur Ardi lagi berlaku manja dan menampakan senyum tengilnya.


"Ishh. Ya udah berangkat sekarang ya. Mampir ke kosan Anya dulu!” tutur Alya mendesis imut, lalu megambil tas dan mengajak Ardi segera berangkat meski waktu kerjanya masih lama.


“Oke, nggak makan siang dulu?” tanya Ardi.

__ADS_1


“Bawa bekel aja kali ya?” 


“What bekel?” tanya Ardi kaget.


Kenapa Alya masih mempunyai kebiasaan hemat. Mereka kan sekarang orang kaya ngapain ribet- riibet bawa bekal, kalau nggak sempat makan ya udah tinggal beli. Begitu pikir Ardi.


“He.. ya kali mas mau makan di mobil” jawab Alya lebih aneh lagi.


“Nggak, kita makan di kantin rumah sakit aja, mas penasaran sama rasa jus mangga kesukaanmu dan Gery” jawab Ardi.


“Yaya!” 


Lalu mereka berdua berangkat ke rumah sakit. Ardi memilih memakai mobil besar milik ibunya karena mereka membawa banyak barang. 


“Mas kangen nggak sama Megayu? Itu masih milik kita kan? Nggak dijual kan?” tanya Alya di tengah perjalanan. 


Ardi menoleh ke Alya tersenyum. 


“Kangenlah Sayang, itu tempat bersejarah buat anak kita. Nggak akan mas jual” jawab Ardi mengeelus perut Alya.


Diperlakukan seperti itu Alya tersenyum senang, rasanya hangat dan nyaman saat Ardi memegang perutnya. 


Lalu mereka ingat semua perjalanan dari awal mereka bertemu, masa - masa awal nikah mereka.


Alya malu sendiri kalau ingat udah nolak diajak berhubungan sama Ardi waktu itu, padahal mereka berdua udah sama-sama tanpa sehelai benangpun, ingat pertama ciuman, ingat semuanya. 


Sekarang, nggak keitung berapa kali mereka ciuman dalam sehari. Bahkan berapa menit nggak ketemu aja Ardi udah kelabakan.


“Kenapa senyum- senyum gitu?” tanya Ardi. 


“Kenapa emang nggak boleh?” 


“Boleh! Seneng malah" jawab Ardi lagi.


Lalu karena mengingat malam pertama tetiba Alya ingat Bu Mirna lagi. Alya menelan ludahnya dan bergidik geli lagi, tiba- tiba pikiran kotor datang ke otak Alya, bagaimana kalau ibunya Alya nikah lagi terus hamil jug kaya Alya. 


“Mas, Lian mau nunjukin sesuatu” ucap Alya mengambil ponselnya ingat ibunya.


“Apa?” 


“Anya sama Dinda mergokin ibu” tutur Alya lirih, merasa malu. Masa ibunya yang udah mau jadi oma puber lagi. 


Meski sambil menyetir, Ardi melirik sekilas foto di ponsel Alya. Lalu Ardi tertawa. 


"Kok ketawa?"


“Hemm, apa iya mas mereka terlihat pacaran? Ah tapi kayaknya enggak deh! Mereka hanya ngobrol kan? Bukan kencan?” tanya Alya.


“Ya nggak tau lah. Tapi ya udah terserah ibulah, siapa tahu clbk nya ibu. Bisa aja gitu? Udah biarin dulu, biar ibu nggak kesepian” jawab Ardi.


“Hemmm, kalau ibu nikah lagi, terus hamil lagi gimana Mas?” Alya hanya berdehem.


“Ya nggak apa- apa lah! Namanya juga rejeki!” jawab Ardi santai. 


“Ih!” Alya kemudian memukul tangan Ardi gemas. 


"Lhoh ya bener sayang, biar anak kita ada temenya, kan tante rasa adik" ledek Ardi lagi.


"Tau ah mas ahh. Nanti kalau ibu punya baby yang bantu Alya urus anak kita siapa?"


"Ya mas sama kamu lah, kan anak kita, ada manah juga"


"Hmmm"


Saat berhenti di lampu merah, Ardi mengambil ponsel istrinya dan memperhatikan foto Bu Mirna lagi. Memang wajah laki-lakinya tidak terlihat karena menoleh membelakangi kamera. 


“Mas kok kaya kenal dengan potongan rambut dan postur orang ini ya Yang?” gumam Ardi memperbesar foto mertuanya. 


“Siapa emang Mas?” tanya Alya, belum dijawab lampu apil menyala hijau.


"Siapa Mas?" tanya Alya penasaran.


“Mirip Om Nando nggak sih?” celetuk Ardi. 


“Hooh” Alya langsung terbengong.


“Nggak, nggak! Mana ada ibu kenal Dokter Nando! Ih geli tau Mas bayanginya, masa ibu sama Dokter Nando” jawab Alya tidak terima. aku


“Lah kamu emang bayangin apa sayang? Kalau Alloh berkehendak nggak ada yang nggak mungkin kan?” ucap Ardi lagi. 


“Nggak, nggak semua ini hanya ketakutanku, ibu nggak seganjen itu, itu paling ibu ketemu nggak sengaja!” ucap Alya sendiri mejamkan matanya berupaya agar tidak mengandai- andai.


Tapi Ardi justru sebaliknya Ardi sangat ingin semua itu beneraan terjadi. 


“Doain yang terbaik aja buat ibu. Nanti mas suruh Mang Diman suruh awasi ibu deh” tutur Ardi menenangkan istrinya. 

__ADS_1


“Iya” 


"Atau Mas tanya Gery aja, Gery kan pasti bisa ngenalin tuh"


"Ah mas jangan ah, malu iih"


"Malu kenapa? Kan mastiin doang"


"Kalau beneran iya gimana?"


"Ya terserah mereka. Awas kamu Yang kalau ngehalangin, ibu tak jitak kamu. Udah biarin kita awasi diem-diem aja!" tutur Ardi memberi peringatan ke Alya agar jangan jadi anak rese.


Keinginan Ardi cuma satu, mertuanya tidak tinggal jauh dari mereka. Apapun jalanya, entah dengan cara Bu Mirna menikah dengan orang di dekat mereka atau bekerja atau tinggal di rumah ibunya.


Yang penting Ardi ingin istrinya tidak berfikir untuk LDR dan merengek tinggal di Jogja.


Lalu mereka sampai di kos Anya, kebetulan Anya dan Dinda baru pulang. Dan dari arah berlawanan Farid juga datang buat ngapel Anya. Ardi pun bahagia, ada teman ngobrolnya.


Saat melihat Dinda memakai jilbab Farid dan Ardi terkesima tidak menyangka kalau itu Dinda. Farid kemudian melirik ke Anya yang masih bukaan sendiri. 


"Ini Dokter Dinda?" tanya Ardi menyapa Dinda.


"Iya Kak!" jawab Dinda malu-malu ke suami temanya itu.


"Meny jadi geulis pisan euy Dokter Dinda pakai kerudung, pangling" sahut Farid sambil menyindir Anya.


"Makasih Kak Farid, he.. doain istiqomah ya!" jawab Dinda.


"Ehm.. ehm" Anya hanya berdehem sambil mengeluarkan air minum menjamu tamunya.


"Sayang, jam praktek Gery kalau jam segini udah selesai belum?" tanya Ardi ke Alya.


"Tergantunh jadwal operasi Mas. Telpon aja orangnya" jawab Alya.


Lalu Ardi menelpon Gery, memberi tahu kalau mereka berdua di kosan Anya dekat dengan rumah sakit. Dan kebetulan Gery sudah selesai praktek begitu juga Mira.


Karena jam kerja siang masih beberapa menit lagi, mereka memutuskan untuk memesan jajanan pinggir jalan. Anya kemudian memanggil gerobak tukang sioamy.


Ardi langsung membayar 500 ribu dan membiarkan istri dan teman-temanya makan sepuasnya.


Siang itu di kosan Anya mereka malah berkumpul. Bercanda bersama dan bercengkerama dengan hangat sambil menunggu Gery dan Mira datang.


Meski sedang main dan bersantai, ternyata obrolan Farid dan Ardi tidak jauh- jauh dari pekerjaan. Dan salah satu di antaranya mereka membahas Dika yang besok pagi mau setor Ikan, untuk acara pesta pernikahan Ardi dan memasok restoran Gunawijaya yang lain. 


Mendengar itu Dinda tersipu- sipu dan tersenyum sendiri. Berarti benar Dika mau ke Jakarta.


Anya tau, kalaau Dinda sedang bahaagia. Lalu Anya mengajak mereka beertiga nonton tv di dalam dan membiarkan para laki- laki ngobrol di teras sambil menghabiskan siomay. 


“Al sory gue lupa kasih tau!” ucap Anya di tengah-tengah keasikan mereka nonton TV.


“Kasih tau apa?” tanya Alya.


“Intan nyariin lo!” 


“Mba Intan?” tanya Alya kaget.


“Ah iya, anaknya Pasien atas nama Didik juga nyariin elo” sambung Dinda.


“Itu orang sama dudul” sahut Anya.


“Maksud kalian? Pak Didik itu bapaknya Mba Intan?” tanya Alya menyimpulkan


“Yes!” jawab Anya mengangguk


“Sungguh?” tanya Alya syok dan tidak menyangka.


"Iyah. Aku ketemu sendiri" jawab Anya lagi.


“Oh my God, astaghfirulloh, kenapa aku nggak tau?” gumam Alya lemas. Jika benar Pak Didi ayah Intan, berarti kehidupan Intan sekarang benar-benar berbalik.


“Emang dia siapa sih?” tanya Dinda belum tau Intan.


“Dia mantan tunanganya Kak Ardi” jawab Anya. 


“Ups!” respon Dinda kaget. “Emang seleranya Kak Ardi dari berbeda kelas gitu ya?” celetuk Dinda berfikir spontan, karena di memory Dinda yang berkesan dari Pak Didi dan Intan adalah memprihatinkan. 


“Ngawur, Intan itu desainer, bapaknya dulu juga punya perusahaan, makanya ganteng dan bersih meski tukang sapu” jawab Anya bercerita.


“Oh gitu? Tapi lo nggak tau Al?” tanya Dinda.


“Nggak lah. Mana ada aku tau papahnya Mba Intan, ketemu Mba Intan aja aku dilarang, tapi aku kasian ke mereka” jawab Alya sambil berkata pelan dan melirik ke Ardi takut- takut Ardi masuk. 


Lalu Alya mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi  Intan tapi tidak berhasil. Setelah Alya bolak balik dan otak atik, ternyataa nomer Intan diblok Ardi dan dihapus Ardi.


Sebenarnya Intan menghubungi Alya tapi tidak nyambung. Untung Alya masih ingat nomer belakangnya dan masih ada riwayat panggilanya. Jadi Alya berhasil mendapatka nomer Intan dan menyimpanya lagi.

__ADS_1


“Ishh, dasar Mas Ardi, ih” gerutu Alya, Alya merasa perlu diskusikan masalah papahnya Intan.


Lalu Alya menghubungi Intan, dan Intan meminta mereka bertemu. Kemudian mereka membuat janji bertemu besok pagi. Di jam dimana Ardi pergi bekerja. 


__ADS_2