
Seperti ada terang setelah hujan, bahkan terkadang Tuhan menghadiahi pelangi di saat yang bersamaan. Meski terkadang Tuhan juga membersamai petir, kilat dan badai saat hujan turun.
Dan apapun itu, hujan tetap menjadi hal yang dirindukan. Meski kadang menyusahkan, hujan tetap menjadi sesuatu yang didoakan segera datang saat kemarau panjang.
Ya itulah hidup. Seringkali setelah ada duka akan ada bahagia. Dan jika ada bahagia setelahnya ada cobaan yang menguras emosi dan tidak jarang menggoreskan luka.
Jika kemarin keluarga Ardi di hadapkan duka. Mendapatkan kenyataan penghianatan. Lalu harus menerima kenyataan atas kepergian Mia untuk selamanya. Dan tentu saja itu menyakiti.
Kini mereka bahagia. Bisnis Ardi berjalan dengan baik. Orang yang dulu berhubungan baik, hampir jadi keluarg, kemudian dikhianati, bertengkar dan bermusuhan. Kenyataan ternyata meraka keluarga, meski dengan jalan berbeda.
Dan sekarang mereka sedang bersuka cita hendak mengadakan resepsi, yang tinggal satu hari lagi. Semoga setelah ini hanya akan ada bahagia yang datang. Tapi entahlah, hanya waktu yang tau. Karena katanya hidup tetap akan selalu diuji.
"Sayang... kenapa dikunci pintunya. Buka dong!" teriak Ardi mengetuk pintu kamar mandi.
"Bentar lagi selesai Mas" jawab Alya dari dalam.
"Kenapa nggak bareng aja sih!" ucap Ardi lagi.
"Iiih, bentar doang" jawab Alya lagi dari dalam menyelesaikan hajatnya.
Tidak lama Alya keluar dari kamar mandi dengan muka cemberut. Memakai handuk kimono sudah selesai mandi.
"Nggak sabaran banget sih?" ucap Alya.
"Katanya mau temuin Yogi? Katanya mau liat ke danau, katanya mau ini mau itu. Lama banget." omel Ardi karena hari ini mereka banyak acara.
"Yaya! Ini udah selesai" jawab Alya.
Pagi itu Alya memang menjadi sangat lamban. Lalu Ardi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Alya sendiri kemudian ke ruang ganti pakaian. Memilih baju yang pas untuk bepergian. Lalu merias dirinya di depan cermin. Mengoleskan bedak tipis-tipis dan lipstik berwarna kalem.
Setelah selesai Alya pun kembali ke ruang ganti. Menyiapkan pakaian pergi suaminya. Mereka berdua kini sama-sama bolos bekerja karena besok pagi resepsi.
"Ini bajunya Mas," turur Alya saat Ardi keluar dari kamar mandi.
"Udah siap aja!" jawab Ardi melihat Alya sudah rapi.
"Tadi katanya suruh cepet-cepet. Ya ini Lian udah siap. Cepet kan?" jawab Alya.
"Hehe, kirain abis mandi sebelum pergi mau ritual dulu" jawab Ardi dengan nakal.
"Hishh! Udah Lian mau turun dulu"
"Jangan! Bantu mas keringin rambut dulu!" jawab Ardi manja.
"Hemm"
Alya pun mengambil handuk dan alat pengering rambut.
"Duduk!" perintah Alya ke Ardi.
Lalu Ardi duduk di depan meja rias sambil memakai krim wajah untuk laki-laki. Dan Alya memngeringkan rambut suaminya dengan teliti. Merapihkan dan memberinya minyak rambut dengan baik. Semuanya Alya yang melakukan. Menata rambut dan penampilan suami seperti mau istrinya. Baju pun Alya yang memilihkan.
"Cup!" setelah rapi Ardi berdiri mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Makasih Sayang," bisik Ardi ke Alya karena Alya sudah melayaninya dengan baik.
Lalu mereka turun. Ternyata di bawah, saudara Tuan Aryo dan Bu Rita berkunjung, rata-rata mereka datang dari luar negeri dan luar pulau. Rumah Tuan Aryo pun menjadi sangat ramai. Alya dan Ardi pun menyapa dan bersalam-salaman.
"Manisnya," tutur salah satu tantenya Ardi melihat Alya.
"Makasih tante" jawab Alya.
"Nggak nyangka ya, Ardi udah mau jadi ayah" sahut saudara yang lain.
"Doain tante, sehat-sehat ibu dan bayinya sampai lahir nanti" jawab Bu Rita.
"Mah. Bu, Tante. Alya dan Ardi pergi dulu," pamit Ardi.
"Kemana?" tanya Mama Rita.
"Ke tempat resepsi Mah" jawab Alya.
Bu Rita kemudian mengangguk.
Lalu mereka berdua pun pergi tanpa sopir. Ardi memilih menggunakan mobil sedan mahal dua pintunya, yang di dalamnya hanya ada dua tempat duduk.
"Jadi kan Mas ke lampu merah dekat rumah tahanan buat nemuin ayahnya baby El?" tanya Alya.
"Jadi Sayang!" jawab Ardi sambil menyetir menuju ke tempat ayahnya Baby El menjual lukisanya.
Setelah beberapa saat melakukan perjalanan. Mereka sampai. Menepikan mobilnya ke bahu jalan.
Laki-laki seusia Ardi tampak berdiri sedang menjawan pertanyaan pembeli. Sepertinya mereka sedang tawar menawar.
Alya pun menatapnya dengan seksama. Kesan Alya adalah sangar. Laki-laki yang terlihat sedang menjelaskan karyanya tampak berambut panjang diikat. Satu tanganya juga ada beberapa tato. Sepertinya itu ayah Baby El.
Saat Ardi dan Alya keluar dari mobil. Laki-laki itu pun menghentikan pembicaraanya dan menatap kaget ke Ardi dan Alya.
"Bagaimana ini Pak? 100rb ya" tanya pembeli masih menawar.
"Ya udah iya" jawab Yogi malas berdebat lagi dan menbiarkan lukisanya laku dengan harga murah. Pembelipun menyerahkan uang. Yogi pun mengemas lukisanya dengan baik dan diserahkan ke pembeli. Lukisan bunga satu vas bunga mawar merah cantik terjual
Sementara Ardi dan Alya tampak melihat-lihat lukisanya sambil menunggu Yogi menyelesaikan pekerjaanya. .
"Kau! Kau benar Ardi kan?" pekik Yogi kaget melihat Ardi.
"Hai Bro. Iya ini gue. Apa kabar?" sapa Ardi mengulurkan tangan ke Yogi. Ardi berbosa basi sambil melihat lukisan. Dan Alya menyukai salah satu lukisanya.
Yogi kemudian tersenyum dan membalas uluran tangan Ardi.
"Orang sepertimu? Kenapa tertarik dengan lukisan jalanan begini?" tanya Yogi merendah dan melirik ke Alya yang berdiri di samping Ardi tampak memegang salah satu lukisanya. Yogi kira Ardi dan Alya hanya ingin beli lukisan dia.
"Lukisanmu pantas dibuatkan galery untuk pameran. Semua bagus, aku tertarik dengan yang ini" jawab Ardi menunjuk lukisan yang dipegang Alya. Itu pemandangan sungai dengan air yang deras. Melihatnya seperti nyata melihat aliran air yang hidup.
"Semoga kau tidak hanya menghiburku?" tanya Yogi
"Ya aku serius. Kamu pelukis yang bebakat. Aku tertarik membuatkan galeri pameran untukmu. Oh iya aku ambil yang ini? Berapa?" tanya Ardi hendak membayar.
__ADS_1
"Terima kasih. Aku lebih suka menjual bebas sepeti ini" jawab Yogi.
"Oke. Kalau kau mau dan berubah pikiran. Kau bisa datang ke kantorku. Oh iya berapa harga lukisan ini?"
"300 ribu"
Ardi pun membayar. Dan saat Yogi hendak membungkus lukisanya. Ardi mencegahnya.
"Gue pengen ngobrol dulu sama lo" ucap Ardi kemudian.
Yogi mengangguk dan kembali menatap Alya.
"Jangan kau pandangi istriku lama-lama. Seincipun kau tidak boleh menyentuhnya!" tutur Ardi cemburu tau kalau dari tadi Yogi menatap dan memperhatikan Alya. Padahal Yogi hanya memastikan siapa Alya.
Tapi Ardi memang cemburuan. Kalau dulu Intan yang direbut, sok sok weh. Tapi kalau Alya dilihat pun Ardi tak rela.
"Sory, ternyata dia istrimu. Ikut senang aku mendengarnya," jawab Yogi menyeringai.
Ardi memang terkesan berlebihan, tapi Yogi sadar diri karena dia sudah pernah meniduri tunangan Ardi. Mungkin Ardi posesif karena itu
"Mana Yang, undanganya?" tanya Ardi ke Alya.
Alya kemudian memberikan undangan resepsi mereka besok pagi.
"Apa lo udah pernah menemui anak lo?" tanya Ardi kemudian.
"Anak?" tanya Yogi kaget.
"Jadi kamu belum tahu? Intan hamil dan sudah melahirkan. Anak lo sekarang sudah setahun lebih" tutur Ardi memberitahu. Yogi bermuka kaget dan tidak menyangka.
"Benarkah?" tanya Yogi dengan wajah berbinar.
"Ya. Intan sepupu istriku. Aku ingin kau menemui anak lo"
Lalu Ardi menyodorkan undanganya.
"Lo harus temui Intan dan anak lo. Datanglah ke resepsi gue besok pagi!" tutur Ardi lagi.
Yogi kemudian mengambil undangan itu.
"Aku akan datang" jawab Yogi bersemangat.
"Oke, ya sudah ini aku bawa ya" jawab Ardi mengangguk dan hendak mengambil lukisanya.
"Biar kukemas dulu"
"Nggak usah, mau aku pasang langsung." jawab Ardi membawa lukisan Yogi.
*****
Makasih udah mau baca karyaku.
Maaf, dunia nyata author lagi sibuk. Dan author juga lagi ikut kelas menulis dan ngerjain nupel lain unk keperluan lain. Maaf ya kalau Alya jadi telat up nya.
__ADS_1