
Aroma wangi bunga segar semerbak tersebar ke segala arah. Apalagi tiupan angin dari danau ikut meratakan wanginya.
Suansana rumah makan yang sebelumnya sudah asri menjadi semakin asri dengan sapuan dekorasi outdoor dari vendor terkenal. Tanaman-tanamnya disusun cantik. Ditambah dengan vas-vas tinggi di jalan masuk yang dilapisi karpet ke arah pelaminan dan tempat pesta.
Sajian-sajian makanan pun tersebar ke di sudut-sudut taman. Semua ada, ada stand untuk vegetarian, Ardi menyediakan salad sayur, sandwich, burger dan kebab. Makana tradisionalya juga ada pecel, gado-gado, dan juga soto.
Lalu di sudut yang lain ada sajian protein dengan olahan khas Indonesia. Ada ayam bakar, nila bakar, terus sate ayam, ayam filet, gurame filet, rendang, berbagai tumis. Sangat lengkap.
Di sudut yang lain ada sajian makanan ala-ala luar negeri seperti sasimi salmon, sishi kimchi, daging sapi dan lain sebagainya.
Selain makanan berat juga ada banyak minuman. Mulain dari es krim, fanta, es teh, dawet, dessert, buah-buahan dan masih banyak. Lagi.
Pokoknya di pesta itu semua makanan yang menjadi menu di restoran Gunawijaya ada. Dan yang menjadi unggulan adalah menu salad buah. Karena itu menu makanan kesukaan Sang Pengantin.
Dimulai dengan penampilan tari gambyong karena Alya dari Jawa sebagai pembuka acara. Para tamu pun berdatangan menyaksikan sajian tari itu.
Tamu yang datang rata-rata para pembisnis kolega Tuan Aryo. Yang tentu saja untuk bisa masuk harus dengan pemeriksaan ketat, di pintu masuk ponsel mereka pun dimatikan.
Karena aturanya pesta itu privat untuk orang terdekat saja. Tidak untuk umum. Tuan Aryo juga menjaga agar tidak ada penyusup atau koordinasi jahat orang dari dalam dan luar. Ardi pun tak mau suasana pestanya tersebar melalui foto. Untuk pengabadian pestanya biar fotografer keluarga saja yang bekerja.
Untuk tamu teman-teman Alya dan Ardi sendiri sudah bisa ditengarai karena hanya berapa biji dan itu menggunakan pakaian senada. Teman Alya dan Ardi yang diundang ya hanya itu-itu saja. Ditambah dengan perwakilan dari rumah sakit.
Yang pertama kali datang adalah Anya dan Dinda. Mereka berdua pun mengedarkan pandangan mencari pasangan masing-masing, tapi nihil.
Mereka tidak tahu kalau para laki-laki telat dandan karena kelamaan bercengkerama dengan pengantin laki-laki di halaman belakang menggunakan kaos dan celana kolor. Jadi pas Acara dimulai mereka malah sibuk baru siap-siap.
Setelah sajian tari selesai. Barulah Sang Pengatin keluar. Semua mata tertuju padanya. Meski mereka pengantin lawas dan sudah ada jabang bayi di dalamnya tetap saja Alya dan Ardi tampak mempesona. Mereka berjalan diiringi Bu Mirna dan Bu Rita, Intan dan beberapa orang panti.
Di saat bersamaan rombongan Gery dan Dokter Nando tiba. Pandangan Dokter Nando pun tak luput dari seorang perempuan berkebaya modern yang dimake up_i dan wajahnya berubah menjadi 10 tahun lebih muda.
Bu Mirna jauh lebih anggun dari biasanya. Menggunakan kebaya benuansa emas, dengan menggunakan rok jarit batik dan dengan heels.
Bibir manis dan mungil yang tak lekang oleh waktu itu terhiasi dengan sentuhan lipstik mahal berwarna merah, semakin menegaskan kecantikanya. Belum bubuhan blash on dan shading di bawah mata dan hidungnya, membuat setiap pasang mata tak jemu memandangnya.
"Ciee papah, yang nggak berkedip liatin Mamanya Alya" bisik Mira meledek mertuanya lagi.
"Hhhh" Dokter Nando hanya diam dengan muka memucat karena diledekin terus.
"Cantik emang Mamahnya ya Yang, keliatan masih muda lagi. Gery setuju Pah kalau jadi mamah Gery. Semangat Pah!" imbuh Gery memberi dukungan semangat berjuang untuk papahnya.
Bu Mirna yang sempat meligat Dokter Nando pun heran. Kenapa temanya itu ada di situ? Jangan-jangan seperti Pak Didik yang ternyata orang terdekat besanya.
Satu persatu acara dimulai. Semua menikmati acaranya dengan hikmat dan bahagia. Farid dan Dika juga sudah menampakan hidungnya.
Mereka pun langsung menghampiri pasangan masing-masing. Lalu mereka bergerombol, berkeliling menikmati sajian yang ada sambil mendengarkan pengajian dan sajian musik setelahnya.
Setelah acara pengajian selesai. Bu Mirna yang tadinya duduk di kursi samping pelaminan seorang diri turun. Dari sedari tadi sudah ada sepasang mata yang memandang dan menunggunya.
__ADS_1
"Kasian sekali kamu duduk di sana sendiri Nurma. Coba aku bertemu denganmu lebih cepat. Aku bisa menemanimu mengimbangi Mas Aryo" batin dokter Nando sembari duduk menikmati salad buah dan mendengarkan pengajian dari ustad televisi.
Dan sekarang saat Bu Mirna turun. Dokter Nando tidak menyiakan kesempatan.
"Nurma" panggil Dokter Nando menyusul Bu Nurma yang hendak mengambil makanan.
"Cungkring" jawab Bu Mirna menoleh.
Lalu mereka berjalan bersama mengambil makanan.
"Kau ternyata besannya Aryo. Kenapa tidak ceritakan sejak awal" tutur Dokter Nando sambil berjalan.
"Memangnya aku tau kalau kau mengenal besanku"
"Maksudku kalau kau bilang sejak awal aku bisa menemanimu duduk di kursi itu tadi" tutur Dokter Nando memulai misinya.
"Apa maksudmu?" tanya Bu Nurma tiba-tiba tersipu.
"Kamu mau makan apa? Biar kuambilkan. Kita nanti duduk di sana ya. Kamu tunggu aku di sana" ucap Dokter Nando menujuk tempat duduk di pojokan dekat karangan bunha menghadap ke danau.
Bu Mirna menelan salivanya merasa ada yang aneh dengan teman kecilnya ini. Tapi ya sudah Bu Mirna ikut saja.
"Aku ingin nasi, tumis sayuran yang itu. Lalu soto. Aku duduk di sana ya" jawab Bu Mirna
Dokter Nando mengangguk senyum dan bersemangat mengambilkan. Kemudian mereka berdua duduk berdua seperti orang pacaran.
"Mas lihat ibu" bisik Alya.
"Iya Mas lihat"
"Gawat" ucap Alya lagi.
"Gawat gimana?"
"Itu kenapa ibu mesra begitu sama Dokter Nando"
"Ya udah lah tinggal nanti kita bahas bareng Gery dan Mira" jawab Ardi enteng.
"Hooh, ibuku puber lagi. Masa iya nanti aku hamil barengan sama ibu?"
"Kejauhan kamu mikirnya, yang penting ibu bahagia" bisik Ardi.
Bu Rita dan Tuan Aryo tampak sibuk meyapa tamu-tamunya. Ardi dan Alya juga berdiri menyalami tamu-tamunya. Setelah itu mereka berfoto-foto.
Dan Bu Mirna dan dokter Nando pun mengobrol dengan mesra. Tanpa ada yang berani mengganggu.
"Terima kasih ya. Kamu tetap selalu baik padaku dari dulu sampai sekarang" tutur Bu Mirna bahagia diambilkan makanan tanpa antri. Bu Mirna memang tidak nyaman dengan sepatunya.
__ADS_1
"Terima kasih juga kamu tetap cantik seperti dulu Nurma, jadi membuat mataku bahagia" jawab Dokter Nando malah menggoda Bu Mirna.
"Lhoh kok malah bahas cantik, bisa aja kamu ini." jawab Bu Mirna tersipu malu.
"Jadi kamu tinggal di rumah Mas Aryo?" tanya Dokter Nando memulai.
"Iya"
"Apa kamu tidak risih atau iri tinggal dengan mereka?" tanya Dokter Nando memancing.
"Apa maksudmu iri?"
"Mereka semua berpasangan kamu sendirian"
"Mereka keluargaku. Kenapa harus iri. Aku hanya tidak nyaman tinggal di rumah besan. Itu sebabnya setelah ini aku akan pulang kampung ke Jogja." jawab Bu Mirna tidak peka.
"Kenapa harus pulang kampung. Memang kamu tidak ingin menimang cucumu nanti?" pancing Dokter Nando lagi.
"Ya pengen. Tapi kalau di sini terus lho ya nggak enak to sama besan?"
"Tidak usah sama besan. Tinggalah di rumahku, bersamaku!" tutur Dokter Nando akhirnya masuk ke misi.
"Heh? Apa maksudmu?"
"Menikahlah denganku Nurma!" ucap Dokter Nando akhirnya terus terang.
"Ehm" Seketika By Mirna langsung gelapagan.
Anak dan menantunya memang sering menanyai tentang menikah Lagi. Tapi Bu Mirna tidak pernah terfikir serius melangkah kesitu. Lalu Bu Mirna memandang kawanya dari atas sampai bawah.
"Kamu ngomong opo to?"
"Aku serius. Menikahlah Denganku. Kita kan sama-sama sendiri. Aku butuh teman, begitu juga kamu, ayo kita menikah!" ucap Dokter Nando.
"Ehm" Bu Mirna seketika menjadi salah tingkah.
"Kamu masih tampan. Kalau butuh teman, carilah yang lebih muda dariku. Aku udah tua, sudah tidak pantas menikah lagi"
"Kenapa kamu bilang begitu? Kamu masih cantik. Bahkan kamu semakin cantik Nurma"
"Aku sudah tua!"
"Buatku kamu masih tetap sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Sebenarnya sejak dulu aku menyukaimu"
"Ehm, sebenarnya kamu kesambet setan opo to? Kok ngelantur gini?" tanya Bu Mirna salah tingkah dan dheg-dhegan
"Kalau kamu bersedia dan setuju. Secepatnya aku sampaikan pada Mas Aryo, menantu dan anakmu. Anakku dan anakmu berteman dekat. Kita akan jadi keluarga dan pasangan cocok Nurma, mau ya!"
__ADS_1