Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
103. Dijodohin


__ADS_3

Suasana ruangan ber_ac pagi itu masih tenang. Dua orang penghuninya masih terlelap di tempatnya masing-masing. Sementara langkah perawat sudah berlalu lalang melakukan tugasnya.


Ardi pulang jam 11 malam setelah mendapatkan video lengkapnya saat di hotel Wiralila. Riko juga menjelaskan sedang membuntuti Lila, karena menurut informasi Lila ternyata seorang pengguna barang terlarang. Ardi dan Riko ingin memukul Lila dengan bukti itu juga agar Lila masuk penjara.


Ardi bertekad hari ini akan menjelaskan ke istrinya apa yang terjadi. Pekerjaan seperti apa yang dia kerjakan. Bagaimana teman-teman dan dunianya. Termasuk masalalunya.


Mengingat Alya masih sensitif Ardi tidak jadi mengajak Riko berkunjung. Ardi ingin menjelaskan sendiri. Semoga Alya moodnya baik dan mau mengobrol dengan tenang. Tapi entahlah, sepertinya Alya justru semakin memburuk.


Pada saat Ardi pulang, Alya sudah meringkuk dengan tangan yang terpasang infus menutup matanya. Ardi tidak berani membangunkan istrinya. Ardi tidak lagi ikut tidur di bed memeluk istrinya, dia memilih tidur di sofa penunggu. Maklum itu rumah sakit pemerintah di pinggiran, fasilitasnya berbeda dengan ruangan VIP di rumah sakit keluarga Gery.


Perawat jaga malam pun mengetok pintu hendak membagikan obat pagi. Alya terbangun dan membiarkan perawat masuk, sementara Ardi yang pulang malam dan lelah tidak terusik tetap tidur. Setelah perawat pergi Alya memandangi suaminya yang tidur terlentang dan terlihat sangat nyenyak.


"Huuft, pulang jam berapa dia?" gumam Alya memandangi suaminya.


"Aku hanya ingin berusaha percaya padanya, tapi kenapa sesesak ini dadaku, dia tidak pernah cerita padaku? aku istrinya atau pemuas nafsunya saja? Dasar!" umpat Alya lagi merasa suaminya masih tertutup padanya.


"Pergi sesuka hati. Pulang sesuka hati, menentukan segala sesuai maunya. Kapan dia menghargaiku, dan mau berbagi. Ish" batin Alya kesal.


Alya melihat jam dinding sudah jam 5 lebih. Alya menghela nafasnya. Waktu subuh hampir habis. Sebagai istri sekesal apapun Alya tidak mau membiarkan suaminya meninggalkan sholat.


"Mas" panggil Alya dengan terpaksa.


Ardi masih terlelap. "Mas Ardi!" pangil Alya lebih keras. Ardi juga belum bergeming. Akhirnya Alya melempar jilbab nya yang digulung-gulung. Sedikit tidak sopan, jadi terpaksa Alya lakukan karena dia masih mengurangi aktifitas turun dari tempat tidur. Ardipun bangun.


"Aduh, apa sih sayang?" ucap Ardi meraih gulungan jilbab Alya di mukanya. "Kok banguninya kasar sih?" gerutu Ardi ke istrinya. Lalu membuka matanya menyadari sudah pagi.


"Bangun sholat dulu, dari tadi dibangunin juga" jawab Alya manyun.


"Ya ya! Cium dulu dong!" jawab Ardi mendekat ke istrinya dan menepuk pipinya.


"Ish. Apaan!" jawab Alya kesal karena Ardi tidak merasa bersalah sudah pulang malam.


"Ya udah mas aja yang cium, cup" Ardi meraih kepala istrinya dan mengecup keningnya.


"Mas minta maaf ya, semalem kejebak macet" jawab Ardi tau istrinya pasti menunggu. Tidak menunggu jawaban, Ardi segera wudhu di kamar mandi dan sholat di samping bed Alya.


Selesai sholat Ardi duduk mengambil laptopnya dan menyiapkan pekerjaanya. Siang ini Ardi harus bertemu dan datang ke perusahaan yang dihasut Tuan Wira. Alya yang tidak tahu apa-apa merasa sangat kesal melihat suaminya. Bahkan suaminya tidak minta maaf karena pulang malam.


Ardi begitu fokus dengan laptopnya dan tidak menghiraukan Alya yang dari tadi diam menahan amarah. Alya hanya bolak balik berbaring ke kanan dan kekiri memegang ponselnya. Tapi Ardi tetap tidak bergeming.


"Ehm" Alya berdehem karena sudah tidak tahan didiamkan.


Ardipun melihat jam dinding sudah jam 6. Kemudian Ardi diam menatap istrinya sambil berfikir.


Alya merasa salah tingkah karena tatapan Ardi beda dari biasanya. Tapi Alya juga gengsi menanyakanya karena dia masih jengkel dan marah.


Ardi berfikir ingin menjelaskan permasalahanya sekarang ke Alya. Tapi Ardi juga ingin fokus agar masalahnya selesai hari ini. Apalagi hari esok dia sudah disibukan dengan urusan panti.


"Sayang, hari ini mas akan sibuk" ucap Ardi membuka percakapan. Alya tidak menjawab, perasaanya semakin dongkol mendengar Ardi mau pergi lagi.


"Mas suruh Arlan antar Ida atau Mia aja kesini ya"


"Nggak usah repot-repot aku kan emang udah biasa ditelantarin" jawab Alya kesal dan menyindir.


"Mas minta maaf sayang. Di kantor sedang banyak masalah. Mas harus segera selesaikan. Kamu bisa mengerti kan?" tutur Ardi meminta pengertian.


Alya diam menahan emosi. Tapi meski bibirnya mampu bertahan, berbeda dengan air matanya. Buliran air matanya pun kembali menetes untuk kesekian kalinya.


Melihatnya Ardi menjadi bingung dan semakin pusing. Ardi mendekat ke istrinya. Ardi memeluknya berharap Alya mengerti dan tenang. Karena Ardi juga merasa ada kekuatan dan mengontrol emosi saat memeluk istrinya. Sebenernya Alya sangat jengkel dan ingin mendorong suaminya. Tapi Ardi memeluknya erat, sehingga Alya akhirnya menurut dan mereda.


"Mas minta maaf sayang. Mas janji, setelah kamu sehat dan semua terkendali kita bulan madu. Mas juga pengin ajak kamu ke Jogja jenguk Ibu" tutur Ardi lirih sambil menepuk bahu Alya pelan.


Mendengar kata Jogja dan ibunya Alya semakin melunak.


"Ke Jogja?" tanya Alya mengusap air matanya.


"Apa ibu sudah tahu kalau ada dhedhe di sini?" tanya Ardi lembut mengelus perut istrinya.


Alya menggelengkan kepalanya. "Belum"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, buat surprise yang penting kamu sehat dulu" ucap Ardi lagi.


"Mas tapi Lian susah liburnya" jawab Alya lagi sepertinya harapan ke Jogja sia-sia.


"Kamu libur 10 hari kan? Habis ini ajukan cuti"


"Tapi Lian takut perjalanan jauh Mas, kan nggak boleh capek dulu"


"Oh iya ya? Duh ya sudah kita pikirkan nanti. Jangan marah lagi ya" ucap Ardi lembut membelai lembut pipi istrinya.


"Mas semalam kemana?" tanya Alya mengeluarkan unek-uneknya. Ardi tidak menjawab, tapi mengambil tas dan dua ponsel. Satu ponsel baru untuk Alya. Satunya lagi ponsel lama Alya.


"Mau lihat video asli dari cctv hotel malam itu? Udah mas kirim ke ponsel ini. Kamu bisa melihatnya, mas laki-laki tulen, sukanya cuma sama kamu" tutur Ardi ingin meluruskan kesalah pahaman istrinya.


"Lian percaya sama Mas" jawab Alya mencoba dewasa.


"Semalam mas ketemu sama Riko dan Dino. Mas difitnah sayang, mas harus selesaiin dulu. Nanti mas akan jelasin. Sabar yah!"


Alya menatap suaminya dalam, kini hidupnya sudah terpaut dengan laki-laki di depanya itu. Meski Alya belum bisa tau pasti bagaimana kehidupan suaminya di luar Alya mencoba percaya. Alya pun mengangguk.


"Semoga bisa" jawab Alya lirih. Ardi tersenyum mendengar jawaban istrinya.


"Mau sarapan apa? Biar mas pesenin"


"Terserah mas aja. Lian kan dapet makan dari sini" jawab Alya tidak banyak meminta.


Ardi mengambil ponselnya dan memesan sarapan, Ardi tidak tega membiarkan istrinya sarapan dengan menu rumah sakit. Lalu mereka sarapan.


Selesai sarapan Ardi membantu istrinya mandi. Ardi hari ini bersikap lebih dewasa dan tenang. Ardi juga membiarkan istrinya mandi sendiri dan hanya membantu sedikit karena Alya juga sudah jauh lebih baik. Setelah Alya selesai mandi Ardi sendiri mandi dan bersiap ke kantor.


"Mas berangkat dulu yah" pamit Ardi.


"Iya, hati-hati" jawab Alya lirih dan tersenyum.


"Bener nggak apa-apa sendiri?" tanya Ardi.


"Sebentar lagi Dokter Mira kesini"


"Kita bersahabat" jawab Alya tersenyum.


Dan benar saja, dari luar terdengar suara pintu dibuka.


"Pagi, aku ganggu nggak?" sapa Mira hendak masuk.


"Nggak Mir, masuk aja. Gue malah seneng banget lo kesini, gue mau pergi soalnya" jawab Ardi akrab ke teman lamanya.


"Oh iya. Gimana kemarin sore dianter Gery nggak?" ceplos Ardi tiba-tiba membuat Mira salah tingkah dan Alya melotot.


"Ehm" Mira berdehem menatap Alya. Mira datang karena mau curhat ke Alya. Bagaimana Alya bisa menjalani pernikahan dengan seseorang yang baru dikenal selama kurang dari dua minggu.


Alya sendiri merasa senang jika Mira dan Gery lebih dekat. "Cie yang kemarin pulang bareng" goda Alya.


"Nggak!" jawab Mira tegas. "Gue nggak bareng sama Gery kok. Gue dijemput temen. Cuma" Mira berhenti bercerita ragu melanjutkan ceritanya atau tidak. Mira tau Ardi dan Gery sahabatan. Mira tidak mau ke GRan. Mira bertekad mau move on dari Gery.


"Cuma apa?" tanya Ardi.


"Gue liat Gery di kafe yang gue datengin, nggak tau dia nggak jelas" lanjut Mira bercerita. Ardi pun mengangguk sambil senyum menebak apa yang terjadi, dan yang ada di otak sahabatnya.


"Lo pergi sama siapa?" tanya Ardi lagi memastikan tebakanya.


"Bukan urusan Lo" jawab Mira tidak ingin bercerita dengan Ardi. Ardi hanya menggerakan bibirnya manyun. Sementara Alya hanya menyimak.


"Oke. Ya udah gue kerja dulu. Minta tolong temenin istri gue ya!" ucap Ardi pamitan.


"Gue cuma sampai jadwal poli buka. Lo istri sakit juga kerja terus!" cibir Mira.


"Sore gue balik kok. Mas pergi dulu ya sayang" pamit Ardi mencium kening Alya yang tidak memakai jilbab karena habis mandi.


"Iuw. Ada gue Ar" ceplos Mira merasa risih.

__ADS_1


"Nggak apa-apa biar lo cepet nikah" jawab Ardi tersenyum lalu pergi. Alya hanya tersenyum getir melihat suaminya berlalu.


"Duduk Dok" ucap Alya mempersilahkan temanya duduk.


"Iya"


"Makasih udah jengukin dan temenin" tutur Alya berterimakasih.


"Gue pengen cerita ke Lo. Tapi lo jangan cerita ke suami Lo"


"Kenapa emangnya?"


"Janji dulu"


"Oke, He" jawab Alya ragu.


"Gimana sih, cerita lo bisa terima pernikahan lo. Dan lo bisa cinta ke Ardi?" tanya Mira tiba-tiba.


"Kok malah Alya yang disuruh cerita sih? Kan Dokter Mira yang mau cerita?"


"Gue mau nikah Al, gue dijodohin"


"What? Terus Dokter Gery gimana?"


"Seperti kata Lo Al. Gue nggak mau buang cinta gue buat orang yang nggak cinta sama gue, gue udah waktunya nikah Al. Gue pengen kaya Lo. Jadi gue terima perkenalan gue sama anak temen nyokap gue, gue liat lo bahagia, gue pengen ikutin jejak lo" jawab Mira terus terang.


"Ehm" Alya berdehem. Menata pikiran dan perkataanya agar tidak salah memberi saran. Karena sebenarnya Alya ingin Dokter Mira dengan Dokter Gery saja. Dan pernikahan Alya beda cerita, itu juga tak seindah yang Mira kira.


"Dokter Mira yakin mau lupain Dokter Gery?" tanya Alya hati-hati.


"Bertahun-tahun Al, gue bertahan buat dia. Tapi dia nggak pernah menatapku. Gue cuma tahu gue harus nikah"


"Dok, maaf sebelumnya. Alya sih nggak bisa bilang pilihan Dokter Mira salah atau benar karena setiap orang punya jalanya sendiri. Tapi"


"Jangan panggil dok dong. Kan lo pernah gue kasih tau, kalau nggak ada orang panggil nama aja"


"Ok. Gini Kak Mir. Keputusan Kak Mira mungkin bener. Jika move on dari Kak Gery untuk kebahagian Kak Mira. Tapi, untuk menikah, Kak Mira harus hati-hati. Kak Mira nggak boleh berpatokan sama Alya. Karena Alya sendiri nikah baru 2 bulanan, Alya masih belajar dan mengerti suami Alya, dan sejujurnya Alya menikah tidak murni karena perjodohan"


"Maksud kamu?"


"Alya nggak bisa cerita Kak. Tapi, saran Alya jangan buru-buru ambil keputusan. Alya nggak bisa ceritainya" jawab Alya bingung.


Karena sebenarnya Alya ingin membantu Mira agar bisa bersatu dengan Gery. Bukan laki-laki lain.


"Ah kamu malah bikin aku jadi galau" jawab Mira tidak mengerti.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu dari luar.


"Iya bentar" jawab Alya memakai jilbabnya.


Lalu si pengetok pintu masuk.


"Mira?" tanya Gery kaget perempuan yang semalam mengusik tidurnya ada di tempat yang dia tuju.


"Gery?" tanya Mira balik dan sedikit salah tingkah. Kenapa mereka berdua tanpa janjian bisa dateng ke tempat yang sama.


"Lo ngapain di sini?" tanya Gery penasaran.


"Jengukin Alya lah, lo sendiri ngapain?" tanya Mira sedikit sedih, karena Mira mengira Gery masih mengkhawatirkan Alya.


"Gue mau ada perlu sama Ardi. Suami lo dimana Al?" tanya Gery berusaha akrab dan menganggap Alya adek.


Alya yang daritadi menyimak dan memperhatikan kedua seniornya yang saling canggung, menatap Gery dan menjawab pertanyaanya.


"Mas Ardi pergi, katanya mau kerja Dok"


"Ah elah, istrinya sakit masih kerja! Ya udah gue cabut" jawab Gery mencibir Ardi, lalu pergi.


Alya dan Mira saling pandang. Alya merasa Gery sudah banyak berubah. Alya juga melihat Mira masih mempunyai perasan yang sama. Apalagi dari cara mereka saling tatap.

__ADS_1


"Aku harus cerita ke Mas Ardi, jangan sampai Dokter Mira beneran nikah duluan sama anak temen ibunya" batin Alya semangat.


__ADS_2