
Dinda berlenggang tanpa menjawab pertanyaan Alya. Menurut Dinda pertanyaan Alya sangat retoris, dari awal Dinda kan memang sudah jatuh hati sama Dika, kenapa masih juga ditanya. Kenapa Alya tidak peka.
Lebih muda atau lebih tua, buat Dinda tidak masalah. Di mata Dinda, Dika laki-laki berjiwa dewasa, pekerja keras, santun dan smart, sangat smart malah. Menurut Dinda dewasa tidak dilihat dari umurnya tapi isi kepala dan sikapnya.
Dinda tidak ingin bernasib seperti Alya. Sekaya apapun suami Alya. Tapi kalau Dinda jadi Alya, Dinda pasti akan memberontak. Suami Alya sangat posesif dan terlalu banyak aturan buat Dinda. Bisa gila kalau Dinda punya suami kaya suami Alya.
Dinda juga tidak ingin seperti Anya. Membayangkan jadi Anya sangat menyebalkan, dijodohkan dengan pria dewasa dan serius. Dinda kemudian berfikir akan memilih jalan dan kisahnya sendiri.
Dika lebih muda, Dinda yakin akan lebih mengerti hobi Dinda yang suka jalan-jalan dan menikmati kebebasan. Dinda juga berharap Dika tidak akan banyak mengatur. Tentang usia mereka, apa kata orang masa bodo. Semoga perasaan Dika sama dengan perasaan Dinda.
"Yang penting usaha" batin Dinda tersenyum sendiri menyalakan mesin mobil menuju pulang ke rumahnya.
Dinda memang berniat lebih agresif. Tidak peduli apa kata orang yang penting Dinda tidak berbuat jahat ke orang.
****
Alya terbengong dan tidak menyangka. Buat Alya Dika masih kecil, ya memang lebih pantas jadi adek. Bisa-bisanya Dinda naksir Dika.
Usia Dinda kan usia matang untuk menikah. Sementara Dika masih harus menyelesaikan kuliahnya beberapa tahun lagi. Ah tapi itu hidup Dinda Alya tidak berhak mengaturnya.
"Aku cerita aja apa ya sama Mas Ardi?" gumam Alya dalam hati mengambil ponsel dari sakunya.
Belum jadi mengubungi suaminya, dari pintu UGD pengantar pasien dan keluarga mendorong brankar masuk membawa pasien pingsan.
Perawat dan Alya berdiri, bersiap menunaikan tugasnya. Pasien Alya kali ini perempuan seusianya. Keluarga pasien mengatakan pasien baru saja meminum racun.
"Astaghfirullohal'adzim" batin Alya dalam hati sambil memeriksa nadi pasien.
"Kapan kejadianya Bu?" tanya Alya.
"Baru saja Dok"
"Berapa banyak yang diminum? Apa jenis obatnya?"
"Saya kurang tau Dok!"
"Baiklah, pasang oksigen Sus! Pasang infus dan siapkan buat bilas lambung" ucap Alya memberi perintah.
Perawat dengan sigap melakukan apa yang Alya perintahkan. Alyapun melakukan tindakan pertolongan untuk pasien. Berusaha mengurangi penyerapan racun di tubuh pasien dengan melakukan bilas lambung. Kemudian memberinya cairan lewat infus dan obat.
Setelah dipastikan tanda-tanda vital pasien stabil. Alya kembali ke tempat duduknya, melaporkan ke dokter spesialis penanggung jawab lewat ponsel. Kemudian Alya membereskan rekam medis dan melakukan edukasi ke keluarga pasien.
"Anak saya selamat kan Dok?" tanya Ibu pasien sambil menangis.
"Sejauh ini tanda-tanda vitalnya bagus Bu. Kita berusaha semaksimal mungkin. Bagaimana ceritanya anak ibu bisa begini?" tanya Alya bersimpati.
"Saya juga tidak tahu darimana anak saya dapet racun itu. Tiba-tiba saja anak saya terjatuh dan memegang lehernya setelah meminum segelas air" tutur Ibu pasien terbata dan menunduk.
"Hemm, apa sisa airnya masih ada?" tanya Alya lembut menatap Ibu pasien.
"Jatuh Dok, jadi tumpah, kami fokus bawa anak saya kesini Dok" jawab Ibu pasien lagi.
"Syukurlah ibu cepat membawanya. Insya Alloh tertolong"
"Aamiin, Alhamdulillah Dok, yang penting anak saya selamat. Ini semua salah saya" ucap ibu pasien lagi menunduk meneteskan air mata.
"Kenapa ibu menyalahkan diri ibu?" tanya Alya bersimpati.
"Dia jatuh cinta dengan laki-laki yang tidak saya sukai Dok. Mungkin saya terlalu keras terhadapnya"
"Sabar ya Bu. Saya minta maaf bukan bermaksud ikut campur. Tapi alangkah lebih baiknya ibu kembali bicara baik- baik ke anak ibu. Memang apa alasanya ibu melarangnya?" jawab Alya bersimpati berusaha dekat dengan keluarga pasien.
"Karena dia belum mapan Dok. Apa salah ya Dok, saya mengkhawatirkan masa depan anak saya?"
"Maaf sekali lagi ibu bukan mau ikut campur, ibu tidak salah sebagai orang tua wajar ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi bu, di era jaman sekarang apalagi untuk seusia anak ibu. Lebih baik ibu awasi dan sampingi dia agar tidak salah jalan, tapi tetap beri dia kesempatan membuktikan pilihan dan kepercayaanya benar"
"Biarkan dia menjalaninya dulu sambil didoakan yang terbaik. Itu lebih baik dari pada bertengkar. Setidaknya dia akan mengerti dengan sendirinya setelah mencoba, pilihanya salah atau benar" tutur Alya mencoba membantu mengerti keadaan klienya.
"Iya Dok. Terima kasih sekali Dok. Tolong selamatkan anak saya ya Dok, saya akan berusaha"
"Saya hanya berusaha. Ibu doa ya! Minta sama Alloh, minta agar anak ibu selamat dan diberi petunjuk hatinya"
"Iya Dok. Terima kasih banyak Dok"
"Sama-sama Bu! Oh iya, minta tolong tanda tangan di sini ya. Mau dirawat di kelas berapa Bu?" tutur Alya menyerahkan format informed consent.
"Kelas satu Dok"
"Tunggu perawat ruang menyiapkan ruangan ya Bu"
"Baik Dokter"
__ADS_1
Setelah ibu pasien selesai menandatangani beberapa berkas informed consent dan health edukasi, ibu pasien kembali menunggu anaknya.
Alya menghela nafasnya dan merapihkan pekerjaanya. Semakin banyak menemui pasien juga semakin banyak Alya belajar tentang kehidupan.
Alya merasa pekerjaanya sangat menyenangkan. Bagaimana bisa dia meninggalkan profesinya dan hanya diam di rumah. Alya kemudian mengelus perutnya.
"Semoga kamu tumbuh sehat ya Nak, semoga ayahmu mengerti. Ibu janji, ibu usaha jadi ibu yang baik untuk kamu Nak" batin Alya dalam hati.
Tiba-tiba dari arah luar Alya mendengar satpam berbincang sedikit keras dengan seseorang. Alya kemudian memperhatikanya. Ternyata satpam hendak mengusir Fitri. Alya pun segera keluar.
Fitri tampak diam menunduk. Fitri sudah diberi pesan ke Alya untuk tidak mengaku sebagai pengawal Alya. Alya malu kalau orang-orang rumah sakit tau Alya bekerja ditunggui pengawal. Pasti Alya akan jadi bahan cibiran.
"Ada apa Pak?" tanya Alya ke satpam.
"Ini Dok. Perempuan ini mencurigakan dari tadi berdiri di sini. Saya tanya mau apa, dia tidak ada keluarga yang dirawat, dia tidak mau periksa juga" jawab satpam berbisik ke Alya setengah mengadu.
Alya menoleh ke Fitri merasa bersalah.
"Dia maksud Bapak?" tanya Alya menoleh ke Fitri.
"Iya Dok. Penampilanya juga mencurigakan" jawab Satpam lagi.
"He. Maaf Pak, dia saudara saya, kebetulan dia baru dari kampung bingung mau nginep dimana? Jadi ikut saya jaga. Maaf ya Pak" ucap Alya berbohong pada satpam.
"Oh. Saudaranya Dokter Alya? Maaf Dok. Ya udah kalau. Abis dia saya tanya, hanya bilang nunggu aja nunggu aja Dok" tutur satpam merasa malu sudah mencurigai keluarga dokter.
"Iya maafin saya juga ya Pak" jawab Alya ramah.
"Ya Dok. Saya yang minta maaf! Maaf ya Neng" ucap Satpam ke Fitri juga merasa tidak enak. Lalu satpam kembali ke pangkalanya.
Alya menghela nafasnya merasa bersalah. Alya menggigit bibirnya berfikir yang terbaik untuk Fitri.
"Mas Ardi benar-benar merepotkan dan berlebihan" gumam Alya dalam hati mendekat ke Fitri.
"Mba Fitri" panggil Alya lembut ke Fitri.
"Maafkan saya Nyonya" ucap Fitri merasa tugasnya merepotkan Alya.
"Kamu tidak perlu minta maaf Fit. Daripada kamu nungguin saya kerja semalaman di sini. Aku kasih uang, kamu tidur di hotel aja ya!" tutur Alya mencari solusi.
"Tidak Nyonya tugas saya memastikan Nyonya baik-baik saja, dan mengawasi Nyonya" tolak Fitri mantap.
"Aku aman. Aku baik-baik aja. Di sini ada banyak teman"
"Haish, Dia tidak akan tahu. Paling-paling dia udah tidur. Yah! Sana cari hotel sekitaran sini, buat nginep. Nih uangnya. Nanti kamu sakit kalau semalaman di sini nungguin aku" tutur Alya merayu Fitri untuk pergi.
"Tidak Nyonya. Saya tidak apa-apa, ini sudah tugas saya" jawab fitri tetap teguh pendirian.
"Hhhhh" Alya menghela nafasnya memandang Fitri dengan tatapan kesal.
Bisa-bisanya Fitri begitu patuh terhadap perintah Ardi yang konyol dan menyebalkan. Padahal Alya sudah memberinya penawaran menarik.
Alya kemudian masuk ke ruangan lagi. Alya diam memikirkan solusi terbaik dan bijak.
"Cerita enggak? Cerita? Enggak? Ahh pasti perawat dan dokter senior akan mengataiku lebay. Mas Ardi menyebalkan!" gumam Alya memutar-mutar ponsel.
Alya ingin meminta ijin ke dokter senior dan perawat untuk membawa Fitri tidur di ruangan Alya. Tapi Alya bingung menyampaikanya. Tapi kalau Alya tidak bilang, Alya tidak tega melihat Fitri bekerja untuk suaminya sampai begadang di depan pintu UGD.
Akhirnya Alya memutuskan untuk bercerita ke rekan-rekanya. Dan seperti perkiraan Alya, semua temanya terbengong. Beberapa perawat memuji Ardi beberapa lagi memandang sinis karena terlihat dan iri.
"Ternyata begitu ya jadi istri konglong merat"
"Kalau gue jadi Dokter Alya mending nggak usah kerja. Di rumah aja, toh uangnya nggak habis sampai tujuh turunan"
"Beruntung banget ya. Dokter Alya jadi menantu Gunawijaya"
"Tapi sangat berlebihan"
Perawat saling bergumam mencibir Alya. Tapi Alya tidak peduli. Lebih baik dicibir daripada disuruh dirumah terus. Alya harus tahan dan tidak mau menyerah dengan aturan suaminya.
"Mba Fitri, mba Fitri istirahat di ruanganku yah!" ucap Alya lembut ke Fitri yang duduk di depan pintu UGD.
"Tidak Nyonya saya di sini saja. Bagaimana saya tau aktivitas Nyonya kalau saya di kamar"
"Aih, kamu itu! Kenapa semua pegawai suamiku sama kakunya dengan Bu Siti sih?" gerutu Alya menatap Fitri.
"Maaf Nyonya"
"Ruang dokter jaga itu di berhadapan dengan nurse station. Kamu buka aja pintunya. Kamu masih bisa melihatku. Lagian nggah usah saklek gitu. Aku juga bosmu kan? Patuhi aku juga. Oke?"
"Baik Nyonya"
__ADS_1
"Iri nih aku kalau kamu hanya patuh sama suamiku aja"
"Baik Nyonya" jawab Fitri menunduk.
"Jangan panggil Nyonya! Sepertinya umur kita seumuran. Panggil Mba aja!"
"Maaf Nyonya saya takut dihukum"
"Aiiih, selama tidak ada suamiku, panggil aku Mba aja. Apalagi kalau ada teman-temanku. Anggap kita berteman oke?" tutur Alya lagi mengajak Fitri berkompromi dan selow.
"Baik Nyonya" jawab Fitri masih kaku.
"Ya udah ayok masuk nanti kamu sakit kalau nungguin aku duduk di sini" tutur Alya mengajak Fitri.
Mereka masuk ke kamar kecil tempat dokter magang sholat, meletakan tas, dan beristirahat. Di situ ada matras kecil, Fitri pun beristirahat.
Setelah memastikan Fitri aman, Alya kembali ke nurse station. Bergabung bersama perawat dan dokter senior. Menanti pasien masuk dan menanganinya.
Entah karena hoki, atau alam yang memilih. Meski rumah sakit baru, minim fasilitas dan tenaga, tetap saja malam itu pasien Alya banyak, tiada henti dengan berbagai kasus.
Biasanya jam 12 malam Alya bisa beristirahat. Malam ini pasien berdatangan, satu dikirim ke ruang rawat, baru mau santai datang pasien lagi, begitu seterusnya sampai jam 4 pagi.
Fitri di kamar justru tertidur setelah mengawasi Alya sampai jam 2 pagi.
Karena mendekati subuh Alya memilih tetap terjaga. Setelah sholat subuh barulah istirahat. Tapi karena matras Alya dipakai Fitri, Alya mengalah tidur di bangku dekat komputer, berbaur bersama perawat.
Ya begitulah kehidupan tenaga kesehatan. Tidak peduli bagaimana kedudukan di rumah. Ketika di rumah sakit tidur di sembarang tempat dan di waktu yang berantakan.
****
Fitri terbangun dari tidurnya dan segera keluar kembali ke depan UGD. Fitri kaget melihat Nyonyanya tidur meletakan kepalanya di meja depan komputer dan merasa bersalah.
Jam menunjukan pukul 06.30. Perawat jaga pagi mulai berdatangan. Begitu juga dokter jaga pagi. Alya dan perawat pun terbangun.
"Eeeemmmt" Alya merentangkan tanganya dan mengerjapkan matanya.
Ternyata Anya sudah di belakangnya sambil mendengus.
"Ish. Tidur jam berapa sih lo jam segini baru bangun?" tanya Anya bersedekap.
"Buk" Alya memukul Anya dengan buku sekenanya tanda keakraban.
"Malah mukul, sakit tau!"
"Pasien nggak berhenti sampai subuh. Pusing nih kepalaku" keluh Alya ke Anya.
"Sehat-sehat ya baby" tutur Anya mengelus perut Alya.
"Gimana hubunganmu sama Kak Farid?" celetuk Alya tiba-tiba.
"Heh? Apaan sih bahas-bahas dia?" jawab Anya manyun malu-malu.
"Hemmm. Pumpung perutku belum membesar, biar aku tetap cantik jadi bridal showermu"
"Apaan si lo Al. Ngarang deh!"
"Iiish, buru sih nikah dan nyusul hamil. Biar anak kita nanti barengan" sahut Alya lagi meledek Anya.
"Geli gue ngebayanginya. Nggak nggak. Ih amit amit" jawab Anya bergidik gengsi.
"Pamali tau bilang amit-amit. Kamu tuh nggak bisa ngehindar lagi, Kak Farid itu jodoh kamu!" jawab Alya lagi lanjut meledek.
"Stop! Jangan sebut nama itu lagi atau gue timpuk lo!"
"Iya ya nggak!"
"Eh, siapa tuh cewek masuk ke kamar kita?" tanya Anya tiba-tiba melihat Fitri masuk ke ruang jaga dokter magang lagi. Ternyata ponsel Fitri tertinggal.
"Dia pengawalku" jawab Alya lirih.
"Hooh" Anya terbengong dan tertawa
"Hahaha ups"
"Hemmm puas kamu ngetawain"
"Lo pake pengawal? Wah benar-benar ya si Tuan Ardi itu"
"Bete aku tuh"
"Lo sekarang beneran udah sultan deh Al" jawab Anya gantian meledek Alya.
__ADS_1
"Terpaksa! Aku nggak boleh kerja kalau nggak nurut"
"Ck, ck. Sabar ya. Nasib jadi sultan tuh mang gitu"