
Adzan maghrib berkumandang saat Ardi hendak memutuskan, mau memecat Fitri atau memberinya hukuman. Alhasil Ardi buru-buru menentukan, jadi Ardi memilih memberinya hukuman.
"Gajimu ku potong 25%, selama 2 hari ke depan tugasmu ku tambah, bersihkan kolam renang dan akuarium, satu lagi, tidak ada libur sampai 2 bulan ke depan!" tutur Ardi memberi perintah.
"Jadi saya tidak jadi dipecat Tuan?" tanya Fitri memperjelas.
"Hemm"
"Terima kasih Tuan, terima kasih. Saya berjanji bekerja dengan baik" jawab Fitri bahagia.
Ardi bangun dari duduknya dan berlenggang meninggalkan Fitri tanpa berkata-kata lagi.
Bu Siti sebagai pelayan paling senior menunggu di depan pintu. Setelah Ardi keluar, Bu Siti memberinya tanda hormat dan memanggil Fitri.
"Kenapa hanya Fitri, Mang Adi mana Bi?" tanya Ardi.
"Maaf Tuan, Mang Ardi sudah pulang, segera setelah Nyonya Muda sampai di rumah" jawab Bu Siti.
"Hmm" Ardi mengangguk. Lalu pergi.
Beruntung sekali nasib Mang Adi, tidak jadi kena semprot. Semoga besok muut Ardi baik, dan tidak jadi menyuruh bakar motornya.
Ardi kemudian segera menunaikan sholat maghrib berjamaah bersama istrinya. Melakukan do'a dan wirid bersama, setelah itu mendengarkan Alya tadarus.
Alya sangat suka membaca surat yusuf dan Maryam semenjak hamil saat maghrib, jika subuh membaca surah Ar-Rahman dan Al-Waqiah. Kalau tidak ada teman, Alya membaca semua ayat sesuai urutan halaman dan jusnya.
"Shodaqollohul'adziim" Alya mengakhiri tadarusnya, membaca doa akhir dan meletakan kitabnya di tempatnya.
"Mas kok dengerin doang, nggak ikut ngaji?" tanya Alya melihat suaminya berbaring di kasur memandanginya
"He.. iya nanti, Mas mau dengerin suara istri mas cantik dan sholehah ini" jawab Ardi tersenyum, sekarang sudah meleleh lagi, tidak tegang.
"Ck. Alasan deh sukanya, kan kita bisa bareng. Mas nyimak Lian, Lian simak Mas" jawab Alya berdecak melipat sajadahnya.
"Iya besok yah, sini Mas cium dulu" ucap Ardi bangun dari berbaring, duduk merentangkan tanganya di atas kasur, menanti Alya.
Alya yang masih mengenakan mukenah bangun dan mendekat ke Ardi. Ardi memeluknya lagi dengan erat dan mencium keningnya.
"Cup, i love you"
"I love you more Mas" jawab Alya balik mengeratkan lingakaran tangannya yang memeluk suaminya.
"Turun ke bawah yuk! Mama Papa pasti udah nunggu buat makan malam" ucap Ardi membelai kepala Alya.
"Mas udah nggak marah kan? Mas udah maafin Lian kan?" tanya Alya mendongakan kepala ke dagu suaminya.
"Hemm, Mas nggak bisa marah sama kamu Sayang, jangan buat Mas khawatir lagi ya! Patuhlah, Mas mohon!"
"Iya, oh ya apa yang mas lakukan ke Fitri dan Mang Adi? Mas kasih hukuman apa? Jangan berat-berat ya, kasian"
"Mang Adi udah pulang, Mas hanya kasih Fitri sedikit pelajaran, biar dia disiplin" jawab Ardi.
"Pelajaran apa?"
"Kenapa istri mas ini sangat kepo sih? Rahasia! Oh ya gimana kerja Fitri? Apa kau menyukainya, jika tidak biar Mas cari gantinya" tanya Ardi lagi.
"Dia baik banget, patuh juga Mas, udah sama dia aja, nggak usah ganti-ganti" jawab Alya
"Oke" Ardi mengangguk menuruti perkataan istrinya.
"Oh ya Lian mau cerita Mas" tutur Alya melepaskan pelukanya dan duduk normal untuk mengobrol.
"Hmm cerita apa?"
"Tadi pagi ada yang neror Mas"
__ADS_1
"Neror?"
"Orang itu kasih bungkusan kado, isinya foto kita. Dia ngancem mau bunuh kita"
"Neror kemana?"
"Ke rumah Mas, di depan pintu. Ibu yang nemuin. Papah udah tau kok!"
"Hmmm" Ardi diam menatap istrinya, menggerakan mulutnya berfikir.
"Inisial di bawahnya TF" cerita Alya lagi.
"TF?" tanya Ardi lagi.
"Iya" jawab Alya mengangguk.
"Sebentar, sebentar" ucap Ardi berfikir.
Ardi kemudian bangun mengambil amplop coklat yang dia simpan di laci lemari. Alya menatapa suaminya bertanya sendiri mau apa?
"Tian El Fatan, kurang ajar!!" gumam Ardi meremas kertas hasil tes DNA anak Intan. Ardi hendak membaca identitas di barkod Rekam medis hasil tes DNA baby El.
"Ada apa Mas?" tanya Alya melihat suaminya bergumam marah.
"Jangan dekat-dekat dan baik-baik ke Intan, Sayang. Itu inisial anak Intan" ucap Ardi memberi perintah.
"Mas, tapi menurut Lian, bukan Mba Intan deh, Lian melihat Mba Intan sungguh sudah berbeda"
"Kamu nggak kenal dia Sayang, saat meminta pekerjaan dia memohon dan bersikap baik ke mas, janji nggak ganggu kamu, nyatanya dia ganggu kamu, jangan percaya dia!" tutur Ardi lagi.
"Tapi kan Mba Intan nggak yang nyakitin Lian kasar Mas! Masa iya mau bunuh kita?" tanya Alya menyanggah dan mengeluarkan pendapatnya.
"Sayang!" ucap Ardi sedikit membentak memberi tahu agar Alya tidak membantah.
"Iya maaf" jawab Alya sadar.
"Ya"
"Ya udah ayo turun, nggak enak kalau Papah yang nungguin kita. Ajak ibu juga"
"Ya"
****
Minimarket.
"Susu merek ******, yang kemasan 900ml harganya berapa ya Kak?"
"100.000 Ibu"
"Kalau yang merek ****?"
"125.000"
"Oke, saya beli yang ini ya! 4!" jawab Intan menunjukan kaleng susu yang seharga 100.000
Lalu Intan memeriksa dompetnya, mengambil uang yang tersisa untuk membayar susu anaknya.
"Uangku tinggak sejuta, semoga cukup sampai dapet kerja lagi" batin Intan dalam hati.
Dengan menggunakan daster dan sendal jepit. Malam itu Intan keluar jalan kaki ke minimarket dekat tempat tinggal barunya. Membeli beberapa kebutuhan pokok dan makan malam.
Intan membeli nasi kucing di angkringan pinggir jalan dekat kontrakannya, sebagai menu makan malam dirinya dan ayahnya.
"*Semakin lamam u*angku akan semakin habis, kalau aku tidak segera dapet kerja gimana ya? Apa aku terima saja tawaran Dokter Alya?" batin Intan dalam hati sambil berjalan.
__ADS_1
"Tapi gue udah janji, gue nggak akan ganggu kehidupan mereka lagi, gue harus menghilang dari mereka" pikir Intan lagi.
Intan berjalan masuk ke komplek perumahan biasa, beberapa ibu-ibu tampak berkumpul bergosip menunggui anak-anak mereka bermain. Intan menundukan kepala tanda hormat sebagai penghuni baru, dan berusaha menyapanya.
Tinggal di pemukiman padat penduduk rasanya begitu asing. Intan jadi punya tetangga, rumah mereka tidak punya halaman, berhimpitan.
Tinggal di komplek itu memaksa Intan sedikit ramah, padahal sebelumnya Intan selalu berjalan tegap dengan heelsnya. Tidak menoleh apalagi menyapa.
"Itu tetangga baru ya?"
"Iya, cantik ya?"
"Dia punya anak kecil, dia tinggal sama bapaknya, tapi nggak ada suaminya"
"Kasian ya?"
"Katanya dia desaigner"
"Benarkah? api kok mau ya tinggal di komplek kita yang begini?"
"Nggak tau lah"
Ibu-ibu komplek saling bergosip saat Intan sudah berlalu. Tapi Intan masih bisa mendengar.
Hati Intan yang selama ini membatu menjadi leleh, dan rapuh. Intan merasakan pedih dan sakit. Ternyata tanpa berbuat kriminal atau disakiti secara fisik, hanya dengan omongan rasanya sangat sekali.
Intan berjalan sambil mengelap air matanya. Hanya karena tidak mematuhi perkataan Ardi, dunia indah yang sudah digenggamnya lenyap selamanya. Hidupnya berubah drastis,
"Assalamu'alaikum. Mommy pulang Baby" ucap Intan sampai di kontrakan kecilnya. Ayah dan anaknya sedang bermain di depan tv.
"Uhuk uhuk, waalaikum salam, sudah pulang Nak" sambil batuk dan tergopoh Tuan Didik bangun menyambut Intan.
"Iya Pah, ini makan malam buat Papa" ucap Intan memberikan sekersek makanan. Isinya nasi dengan orek tempe dan sambel dibungkus daun.
"Terima kasih Nak" jawab Tuan Didik.
"Maafin Intan ya Pak. Makan malamnya ini dulu. Uang Intan buat beli susu El" tutur Intan merasa sedih.
"Nggak apa- apa sayang, ini semua karena salah Papah, seharusnya Papah yang bekerja. Oh iya apa kamu jadi keluar dari yayasan Gunawijaya?"
"Jadi Pah. Intan malu kerja di sana terus, Intan mau ajuin lamaran di tempat lain aja"
"Semoga kamu segera dapat pekerjaan itu Nak"
"Iya Pah"
"Mommy momyy... Cucu" panggil Baby El di sela-sela obrolan mereka.
"Ok boy, wait momy yaa" jawab Intan tersenyum ke anaknya.
Intan kemudian bangun membuatkan susu Baby El.
"Semoga kamu cocok pakai susu ini Sayang. Maafkan momy harus ganti susu kamu" batin Intan dalam hati sambil menuangkan air dan memasukan susu ke dalam botol dot anaknya. Kini Intan membeli merek susu yang jauh lebih murah dari susu Baby El dulu.
Intan kemudian memberikan susu ke anaknya. Memangkunya dan menidurkan dengan lembut.
"Pah, obatnya diminum ya, biar batuk Papah cepet sembuh!" tutur Intan ke Tuan Didik setelah menidurkan anaknya.
"Iya Nak" jawab Tuan Didik.
Intan kemudian masuk ke kamar barunya yang kecil dan sempit itu. Setelah berfikir lama, demi bisa membelikan susu untuk Baby El, Intan mengambil ponselnya, menghubungi Dara dan meminta nomer Alya.
"Baiklah, sebelum gue pergi, gue akan buat gaun untukmu Dokter Alya" batin Intan mengetik pesan.
Selamat malam Dokter Alya. Gue Intan, gue menerima tawaran Dokter Alya, gue bersedia buat gaun. Kapan kita bisa ketemu untuk membahas pola dan ukuranya?
__ADS_1
Pesan Intan terkirim, Intan memandangi ponselnya. Tapi Alya tidak kunjung membaca dan membalas. Akhirnya Intan memilih merebahkan badanya untuk istirahat.