Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
245. Menantu Baik


__ADS_3

Suara pisau yang menyentuh talenan terdengar memecah keheningan pagi. Perempuan cantik yang biasa berdandan memakai sneli dan dengan santai tinggal menyantap makanan, pagi itu sudah sibuk di medan barunya untuk beraksi mengeluarkan keringat, menghasilkan karya.


Belum mahir memang, masih setia melototi ponsel mengikuti setiap langkah demi langkah yang ada di google. Tapi dia sangat semangat, memasak dengan sepenug hati.


Aroma bawang goreng menyeruak ke hidung pria tampan yang akhirnya bisa berjalan tanpa bantuan. Gery berjalan denyan rambut basahnya menghampiri istrinya yang memakai celemek itu.


"I love you cinta" bisik Gery dari belakang.


Gery menelusupkan tanganya ke kedua sisi pinggang Mira. Memeluk istrinya dari belakang , sambil mencium aroma sampo bercampur bawang dari rambut Mira.


"Kotor Ger, awas iih" jawab Mira menyuruh Gery melepaskan lilitan tanganya.


"Kamu rajin banget pagi- pagi, mau masakin aku?" goda Gery melepaskan tanganya dan duduk di kursi yang ada.


"Hemm gue kan emang selalu rajin. Baru tau lo?" jawab Mira masih berbahasa santai.


"Hemm yaya istriku memang terbaik" puji Gery ke Mira. Mereka memang sedang hangat-hangatnya.


"Setidaknya sebelum kita ke apartemen, gue mau masak buat mertua gue. Hehe" jawab Mira nyengir.


"Emang nanti di apartemen lo mau masak tiap hari?"


"Ya pengenya gitu?" jawab Mira tersenyum. Mira ingin jadi istri sempurna untuk Gery.


"Bangga gue sama Lo. Gue kira lo nggak bisa masak" j


"Ck. Tuh kan sukanya ngeremehin. Hehe tapi emang baru belajar sih. Coba deh. Ntar lo rasain yak!" jawab Mira.


"Iya Honey. Emang lagi masak apa sih? Sini gue bantu"


"Masak udang asam manis. Papah nggak alergi kan? Nggak apa- apa kan pagi-pagi gue masak ini?" tanya Mira ragu.


"Nggak apa- apa Sayang. Papah suka apa aja!" jawab Gery lalu Gery mendekat.


"Cuci udangnya sampai bersih. Terus minta tolong irisin bawang bombay. Sama cuciin bumbu rempahnya daun salam" tutur Mira memberi perintah.


"Iya cheef siap" jawab Gery mengeksekusi pekerjaanya.


Mira mengorak arik bumbu tumis nya dan tanpa sengaja menyenggol jari kaki Gery yang belum sembuh total.


"Auuh, masih sakit jangan disenggol-senggol" teriak Gery menghindar dengan reflek, sehingga menyenggol mangkuk dan mangkuknya pecah, menambah kegaduhan.


"Haduuh"


Gery dan Mira saling pandang sesaat, menyadari kekacauan yang mereka buat. Lalu mereka tertawa bersama. Dasar, di dapur baru sekali udah mecahin mangkuk.


"Bersihin!" perintah Mira sambil ketawa.


"Ye. Jalan gue kan masih pelan.. Lo aja!" jawab Gery menolak.


"Gue kan lagi masak!" jawab Mira membela diri.


"Yah ela nyapu doang, bentar!" jawab Gery masih tidak mau mengalah.


"Lo aja!"


"Lo!"

__ADS_1


Lalu karena mereka berdebat, tiba-tiba aroma wangi dari bumbu yang ditumis Mira berubah menjadi aroma yang tidak biasa.


"Kayaknya gosong tuh!" ucap Gery menunjuk ke wajan Mira.


"Ya ampun, oh my God" teriak Mira buru-buru mematikan kompor.


Bahan bumbu yang sudah dia kupas, cuci iris dan lembutkan dengan susah payah kini menjadi hitam tak berbentuk.


"Haissh" Mira mendesis dan mengkerucutkan bibirnya merasa kesal.


"Hahaha" Gery malah tertawa. "Kasian deh lu. Gosong ya?" ejek Gery.


"Ini semua gara-gara Lo. Jadi gagal kan gue? Sono lo pergi aja lo!" ucap Mira mengusir Gery.


"Nggak usah ngambek juga kali. Udah udangnya goreng aja pakai tepung krispi" ucap Gery memberi solusi.


"Oh iya yah. Tapi gue nggak tau caranya"


"Sini gue ajarin" jawab Gery.


"Emang lo bisa?" jawab tanya Mira heran.


"Gampang lah. Gini - ginu gue chef handal. Lo bersihin dulu pecahan mangkoknya tuh!" jawab Gery mengaambil alih tempat Mira.


Mira patuh mengambil sapu dan membersigkan lantai dapur. Setelah itu mereka berdua masak udang crispy bersama.


Ternyata Gery lebih pandai memasak daripada Mira. Karena semasa pendidikan spesialis Gery pernah ditugaskan di pelosok Negeri. Gery pernah terlatih hidup mandiri.


Pasangan pengantin muda itu kemudian bekerja sama. Tidak lama menu sarapan tersaji, nasi, tumis brokoli dan wortel lalu lauknya udang crispi. Pembantu mereka memilih menyingkir dan membiarkan penganten baru itu yang mengeksekusi.


"Enak kan?" tanya Gery


Lalu Gery menyuapi Mira lagi, tapi tidak penuh. Gery ingin mengajak Mira ciuman ala-ala anak mudah alay. Saat Gery hendak melakukan aksinya ternyata Dokter Nando yang sepulang jogging datang.


"Ehm-ehm" Dokter Nando berdehem merasa tidak nyaman melihat kealaian anak dan menantunya.


Gery dan Mira spontan menjauhkan bibir masing-masing.


"Udah pulang Pah?" tanya Gery.


"Udah" jawab Dokter Gery menuangkan air putih dalam gelas.


Lalu duduk dan meminumnya dengan membaca bismillah.


"Kamu udah sembuh? Kapan mulai kerja?" tanya Dokter Nando melihat Gery berjalan tanpa tongkat dan kursi roda.


"Hari ini kita mulai kerja Pah" jawab Gery.


"Hoh, beneran lo mau berangkat sekarang?" sahut Mira kaget. Karena ijin Gery kan masih besok meski Gery sudah bisa berjalan.


"Iya Sayang. Dokter penggantiku sibuk kasian banyak operasi yang ditolak dan dirujuk" jawab Gery.


"Hemm, apa kalian jadi tinggal di apartemen?" tanya Dokter Nando lagi dengan ekspresi sedih.


"Jadi Pah" jawab Gery lemah.


Sebenarnya berat. Tapi walau bagaimanapun penganten baru lebih nyaman hidup berdua. Tempat kerja mereka juga akan lebih dekat.

__ADS_1


"Oke" jawab Dokter Nando bijak.


"Sarapan Pah. Ini masakan kita lho" tutur Mira ramah ke mertuanya menawarkan sarapan.


"Oh iya. Enak nih keliatanya . Tapi Papah mandi dulu nggak enak bau keringat lengket" jawab Dokter Nando.


"Ya Pah. Kita tunggu ya Pah" jawab Gery mengajak papanya sarapan bersama.


Dokter Nando mengambil air putih lagi, minum lagi kemudian berjalan ke kamarnya. Hendak mandi dan bersiap bertugas ke rumah sakitnya.


"Ger" panggil Mira sambil melepaskan celemeknya.


"Hemm, apa? " jawab Gery berdehem menoleh ke Mira.


"Papah masih ganteng dan bugar lho" ucap Mira serius sambil mengambil kursi lebih dekat ke Gery.


"Lha emang iya. Gue juga nanti gitu. Kenapa emang?" tanya Gery malah kepedean.


"Papah punya pacar nggak sih?" tanya Mira lagi.


"Pacar?" tanya Gery sambil berfikir dan memutar bola matanya.


"Iyah. Papah itu masih sehat lho. Gue yakin libido papah juga masih bagus, kok betah menduda selama ini? Kasian tau" tanya Mira mulai mempengaruhi Gery.


"Iya ya? Ya nggak tahu sih pilihan Papah" jawab Gery cuek.


"Jangan-jangan Papah punya istri simpanan yang Lo nggak tahu?" ucap Mira berfikir aneh-aneh.


"Ngarang Lo. Nggak lah Papah nggak begitu" jawab Gery belain papahnya.


"Tapi Lo pernah bahas nggak sama Papah?"


"Lupa?"


"Aiih. Coba deh tanya ke Papah dan bahas ini serius. Kasian Papah sendirian tahu. Setidaknya buat teman ngobrol Papah, suruh Papah nikah lagi" tutur Mira mempengaruhi Gery.


"Tapi gue takut kalau emak tiri gue lebih muda gimana? Terus dia matre dan jahat gimana?" jawab Geru berfikir ngawur.


"Hemm, kita kan kerja punya uang sendiri. Seraah Papahlah, yang penting Papah bahagia"


"Nggak. gue mau punya ibu tiri yang baik" jawab Gery.


"Ya udah cariin jodoh buat Papah"


"Heemm mana ada aku kenalan orang seumur Papah yang single"


"Ck. Ya udah lo bahas dulu aja sama Papah"


"Ya!" jawab Gery mengangguk saja. Sepertinya saran Mira bener.


"Gue nggak enak kita tinggal di apartemen papah sendirian di sini" ucap Mira bijak.


"Ya nanti gue bahas ke Papah. Lo baik banget sih jadi mantu?"


"Hehehe iya dong"


****

__ADS_1


Maaf ada kesalahan teknis tadi.


Dukung author terus ya. tinggalin koment apapun itu biar author nggak oleng dan tetap semangat.


__ADS_2