Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
89. Tukang Bakso


__ADS_3

"Din" panggil Ardi ke Dino.


"Ya Tuan"


"Kenapa Tuan Arnold lama? Gue mau pulang aja" ujar Ardi ngambek karena klienya datang terlambat.


"Tuan Arnold baru saja telp, beliau terjebak macet Tuan!"


"Haish. Apa kata Arlan?"


"Nyonya sudah diantar dengan selamat Tuan, Nyonya sempat minta berhenti di depan apotek, Nyonya juga sempat menangis di jalan, tapi tidak tahu apa sebabnya"


"Ck, dia pasti menungguku" ucap Ardi gusar.


Ardi mengetuk meja dengan tanganya menunggu klien. Sesekali tanganya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Wajahnya tampak gusar dan panik, seperti cacing kepanasan yang tidak bisa diam.


"Kenapa lama sekali sih? Gue tinggal aja lah! Gue nggak sabar pengen pulang" gerutu Ardi sudah tidak tahan menunggu.


"Sebentar lagi Tuan" Dino mencoba menahan Ardi untuk tidak pergi.


"Gue kangen Lian Din, dua hari gue nggak ketemu, kepalaku rasanya mau pecah. Gue mau pulang sekarang" ucap Ardi gusar menahan kesal klienya lama. Ardi memutuskan membatalkan meetingnya.


Ardi bangun dari kursinya di sebuah kafe elit itu. Tapi belum Ardi melangkah klien Ardi datang. Akhirnya Ardi duduk kembali, menyambut kliennya.


Ardi tidak jadi pulang, Ardi melanjutkan meeting dan membahas kerja sama. Kurang lebih 1 jam Ardi meeting, mereka mengakhiri pertemuanya dengan berjabat tangan tanda setuju dan siap melanjutkan kerja sama.


Ardi segera bergegas meninggalkan tempat meeting. Di otaknya sudah dipenuhi wajah istri manisnya. Ardi sangat merindukan suara istrinya saat manja, merajuk ataupun mendebatnya. Bayangan tangan kecil yang melingkar di perutnya saat bermanja berjalan di depan mata Ardi. Rasa hangat dan manis bibir istrinya pun semakin berputar-putar di anganya.


Kalau ada pintu doraemon seberapapun harganya pasti Ardi beli agar bisa segera bertemu istrinya. Ardi pasti akan segera melahap habis istrinya saat itu juga. 2 hari tidak bertemu rasanya seperti 2 abad. Sayang sekali dari kemarin Ardi tidak memegang ponsel.


Pukul 15.30 WIB Ardi sampai di parkiran Apartemen Aerim. Ardi segera berjalan menuju ke apartemenya. Terlihat dua asistenya sedang mensetrika baju.


"Nyonya kalian dimana?" tanya Ardi saat mencuci tangan dan kaki. Karena biasanya saat Ardi pulang Alya sedang nonton sinetron bareng dua pembantunya.


"Non Alya di kamar Tuan" jawab Ida sopan.


Ardi segera masuk ke kamar setelah meletakan tas dan jas kerjanya di meja kerja.


"Sayang" panggil Ardi membuka kamar dengan wajah berseri. Tapi kemudian wajah Ardi berubah datar karena yang dia cari tidak ada.


"Sayang" panggil Ardi lagi membuka pintu balkon karena kasurnya terlihat rapi.


Di balkon tidak ada, Ardi masuk ke kamar mandi sambil tersenyum, berharap seperti waktu pertama tinggal di aerim, Alya tertidur di bathub dan berakhir terjadi peristiwa indah bersama istrinya.


Senyum Ardi menghilang saat melihat kamar mandi. Lantainya kering, tidak ada bekas aktivitas. Ardi menelan ludahnya, dadanya sedikit bergemuruh. Ardi mulai panik, Arlan lapor istrinya sudah pulang, Ida dan Mia bilang istrinya di kamar. Tapi ternyata kosong.


Wajah Ardi memerah. Tanganya mengepal, pikiranya berubah kacau. Ardi melihat kartu dan ponselnya yang dia berikan ke istrinya tergeletak di meja. Lalu Ardi membuka lemari, baju-baju lama Alya tidak ada.


"Idaa. Miaaa" teriak Ardi tiba-tiba.

__ADS_1


Ida dan Mia langsung kaget dan gemeteran mendengar Tuanya berteriak.


"Denger nggak sih!" bentak Ardi kasar keluar kamar.


Mia dan Ida menunduk takut.


"Jawab! Denger nggak!" bentak Ardi emosi.


"De-de-dengar Tuan" jawab Mia gemetaran.


"Ini apa?" bentak Ardi menunjukan kartu atm dan ponsel Alya. Pikiran Ardi sangat kacau sehingga tidak bisa mengontrol emosinya.


Ida dan Mia menatap dua benda itu melotot kaget, tapi tidak juga mengerti apa maksudnya.


"Ini apa?" bentak Ardi lagi sambil mengeraskan rahangnya.


Ida dan Mia tetap menunduk tidak menjawab. Ardi langsung menendang kursi makan di dekat Ida dan Mia. Ida dan Mia menjadi ketakutan dan menangis.


"Kalian bohong ya? Heh? Bisa kerja nggak sih?" bentak Ardi lagi.


"Apa jangan-jangan kalian bantu dia buat pergi? Kalian bilang istriku di kamar, dia pergi!" tuduh Ardi kesal ke asisten rumah tangganya.


"Tidak Tuan. Kami tidak tahu kalau Non Alya pergi. Dari pagi Non Alya hanya menangis di kamar. Tadi pas pulang kerja juga begitu" jawab Mia nekat tanpa sadar mengeluarkan semua unek-uneknya. Sementara Ida hanya menangis karena takut.


Ardi diam menelan salivanya dan menahan emosinya. Lalu menatap Mia dengan penuh telisik. Mendengar kata Mia, istrinya menangis, Ardi terdiam. Sesaat Ardi merasa bersalah dan menyesal. Bayangan Ardi semakin kacau, dia membuat istrinya menangis.


"Baik Tuan" jawab Mia patuh.


Lalu Ida dan Mia duduk di meja makan, Ardi ikut duduk dan mendengarkan.


"Maaf Tuan" ucap Mia memulai cerita.


"Kemarin malam, Non Alya nungguin Tuan sampai tertidur di depan tivi, pagi-pagi Non Alya muntah-muntah. Non Alya seperti masuk angin, saya hanya membuatkan jahe hangat. Non Alya juga menangis karena mengkhawatirkan Tuan. Tadi siang juga Non Alya menangis, Non Alya bilang mau istirahat dan tidur. Kami tidak tahu kalau Non Alya pergi, kami minta maaf Tuan. Kami di dapur" tutur Mia menceritakan kejadian yang dia alami.


Ardi mengeraskan rahangnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Apa kamu tau terakhir dia menangis kenapa?" tanya Ardi memelankan suaranya.


Dengan terbata-bata dan menundukan kepala, Mia menyampaikan kalau Nonanya melihat siaran gosip.


"Shit" umpat Ardi mengusap kasar kepalanya. Lalu Ardi bangun meninggalkan kedua asisten rumah tangganya.


****


"Sabar ya Nak" gumam Alya mengelus perutnya yang masih rata.


Alya turun dari angkot menenteng tasnya. Alya memilih naik angkot karena tidak memegang ponsel lagi untuk memesan taxi online. Ponsel yang dari Gery dirusak suaminya, ponsel suaminya dia tinggal karena dia kesal.


Alya berhenti di terminal angkot, lalu dia berjalan mencari toko penjual ponsel di pinggir jalan. Alya berniat membeli ponsel murahan. Yang penting bisa untuk komunikasi dengan Anya dan ibunya.

__ADS_1


Setelah menemukan penjual ponsel yang lumayan besar, Alya masuk dan menanyakan ke penjualnya. Alya mencari ponsel second yang masih bagus. Padahal suaminya di rumah sudah membawakan ponsel canggih keluaran terbaru dengan harga fantastis.


Akhirnya Alya mendapat ponsel dengan harga 500 ribu. Alya memasukanya ke dalam tas. Alya menelan ludahnya melihat orang-orang makan bakso. Alyapun mendekat ke tukang bakso di pinggir jalan.


"Kamu pengin bakso ya sayang? Mama belikan ya?" Alya mengelus perutnya lagi yang masih rata, seakan anaknya yang sangat ingin makan bakso.


Alyapun masuk ke warung bakso itu dan memesanya. Para pembeli yang lain menatap Alya kasian, Alya terlihat berkeringat dan pucat. Belum lagi tas yang Alya bawa terlihat besar. Alya terlihat sangat kusam dengan nafas terengah-engah menahan pusing dan lelah. Tapi Alya tidak menghiraukan tatapan orang-orang, Alya memilih duduk sendiri di pojokan.


Entah karena lapar, atau memang ngidam. Sore itu Alya makan bakso sangat lahap, bahkan Alya tidak tahu malu memesan dua porsi bakso untuk dia makan. Orang-orang menatap Alya heran.


"Punten Neng? Neng sehat?" tanya tukang bakso memberanikan diri bertanya.


"Sehat Pak" jawab Alya ramah.


"Neng terlihat sangat pucat, baksonya saya kasih gratis ya" ucap tukang bakso mengira Alya kelaparan karena tidak punya uang.


"Makasih Pak, saya bayar aja" jawab Alya menolak.


"Nggak apa-apa Neng, saya senang liat nafsu makan Eneng, tandanya bakso saya enak" jawab tukang bakso tulus.


"Makasih ya Pak" jawab Alya tersenyum karena dikasih bakso gratis. Lalu Alya mengelus perutnya lagi.


"Neng mau kemana? Atau dari mana bawa tas gede segini?" tanya tukang bakso lagi.


"Saya mau nyari kos Pak" jawab Alya jujur.


"Oh, mau saya kasih tau Neng?" tawar tukang bakso.


"Nggak usah Pak, saya udah dapet kosanya kok"


"Oh gitu, hati-hati ya Neng" jawab tukang bakso mengangguk.


Alyapun tersenyum berterima kasih. Karena merasa bapak tukang bakso sangat tulus.


Alya melanjutkan melahap bakso di depanya itu. Setelah habis Alya berpamitan. Alya berniat membayar, tapi bapak tukang bakso tetap menolak. Bapak tukang bakso mengira Alya anak perantauan yang kelaparan dan uangnya pas-pasan.


"Dengan Pak siapa ya?" tanya Alya terharu ingin mengenal bapak tukang bakso.


"Saya Hardi Neng" jawab tukang bakso membuat Alya terhenyak namanya mirip suaminya.


"Siapa Pak?" tanya Alya lagi.


"Hardi Neng, Suhardi!" jawab tukang bakso memperjelas.


"Oh ya. Makasih Pak Hardi, semoga laris manis baksonya ya Pak. Enak banget baksonya" jawab Alya berpamitan.


Alya tau Anya masih jaga sore. Anya di kosan masih nanti malam jam 9. Untuk sampai ke kosan Anya, jika naik angkutan umum Alya masih harus naik busway lalu ojek. Melihat ada masjid agung. Alya memilih ke masjid dulu, sholat ashar dan hendak menyalakan ponsel barunya.


"Sayang, kita sholat ashar dulu ya. Kamu yang kuat ya" Alya mengelus perutnya lagi. Lalu berjalan membawa tasnya menuju ke masjid.

__ADS_1


__ADS_2