Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
54. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Bu Rita menutup mulutnya. Dia benar-benar tidak menyangka, pernyataan itu keluar dari anaknya. Bu Mirna memegang dadanya mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Bu Mirna sangat terpukul dan tidak mengira. Anak yang dia kenal pandai menjaga diri, menyerahkan mahligainya yang berharga pada laki-laki seperti Ardi.


Tuan Aryo tersenyum. Sepertinya hanya Tuan Aryo yang pandai membaca situasi dan mengenali rencana anaknya. Tuan Aryo sangat yakin anaknya tidak melakukan hal itu, apalagi dari cctv Alya keluar kamar masih dengan pakaian tertutup dan memakai jilbab.


Tuan Aryo menatap Alya yang menangis dengan tatapan kasian. Tapi dia yakin putranya akan membahagiakan gadis cantik itu. Jadi Tuan Aryo tetap akan mendukung putranya.


"Jadi, bagaimana Bu Mirna?" tanya Tuan Aryo membuka kembali percakapan, dan mengambil keputusan pertemuan malam itu.


"Saya tetap tidak setuju om" Alya menyela. "Nggak bisa Alya menikah dengan cara begini? Yang dikatakan Mas Ardi itu nggak benar" Alya masih membela diri.


"Baiklah, Mas Aryo. Saya setuju untuk menikahkan Alya dengan anakmu" jawab Bu Mirna pasrah menengahi Alya dan Tuan Aryo.


"Ibu?" tanya Alya kaget mendengar pernyataan ibunya.


"Dia bahkan mengakuinya, kenapa kamu masih membela diri? Ibu sudah gagal mendidikmu. Ibu lebih berdosa lagi kalau membiarkanmu begini. Apalagi kalau kamu sampai hamil, terus kalau kamu tidak menikah denganya, suamimu nanti juga akan kecewa" jawab Bu Mirna panjang.


"Bu" jawab Alya masih ingin memberi tahu kebenaranya. Tapi keluarga yang lain tidak menggubris penjelasan Alya.


"Ya sudah Jeng. Pumpung kamu di Jakarta, kita tentukan sekalian hari pernikahanya" sambung Bu Rita


"Ibu, Tante, Om?" pekik Alya masih membela diri. Berharap mereka masih mau mendengarkan Alya.


"Alya, ini untuk kebaikanmu? Menikahlah Nak, Mama akan sangat bahagia dengan pernikahan ini, ibumu sudah setuju" jawab Bu Rita meyakinkan.


"Alya ingin menikah dengan cara yang baik, tidak dengan jalan seperti, ini salah Tante"


"Kenapa kamu melupakanya Lian, kita melakukanya. Dan kamu sendiri yang memintaku menikahimu" timpal Ardi berbohong memojokan Alya. Semua orang menatap Alya tidak menyangka.


"Saya tidak mau mendengar dan membayangkan hal memalukan itu lagi, segera menikahlah dan tentukan harinya" usul Bu Mirna mengambil keputusan karena putus asa.


Mulut Alya tercekat, dia tidak punya alasan lagi menolak. Bahkan Bu Mirna sendiri yang memintanya.


"Saya siap menikah kapanpun" jawab Ardi merasa puas rencannya berhasil.


"Saya serahkan sepenuhnya ke keluargamu Jeng" jawab Bu Mirna pasrah.

__ADS_1


"Bu" Alya masih berusaha agar pernikahanya batal.


"Diam kamu Nak. ibu masih marah dan kecewa terhadapmu, sekarang kamu harus manut" jawab Bu Mirna menahan malu di hadapan Tuan Aryo dan Bu Rita. Tapi untuk ke Ardi, Bu Mirna masih menyimpan kesal.


"Baiklah kalau begitu, biar anak buahku urus persiapan menikahnya. Dan Alya. Ambil cuti untuk pernikahanmu, maksimal 3 hari dari sekarang, pernikahan akan siap dilaksanakan" Tuan Aryo memberikan perintah tanpa peduli penolakan.


Ardi tersenyum puas mendengarkan ayahnya. Ardi lupa terhadap sahabatnya Farid. Dia juga lupa tentang Alya ataupun Berlian. Yang penting perempuan yang mengata-ngatainya akan menyesali perkataanya.


Sementara Alya masih diam menangis tidak berani mendebat lagi. Di otaknya hanya berfikir bagaimana caranya menyadarkan ibunya untuk percaya dan membatalkan rencana pernikahanya.


"3 hari lagi Pah?" tanya Bu Rita.


"Ya. Pernikahan akan dilangsungkan di Jogja. Cukup akad saja" Tuan Aryo memutuskan.


"Berarti besok pagi berangkat ke Jogja?" tanya Bu Rita.


"Ya saya setuju. Yang penting sah dulu Jeng, wali nikah Alya kan di Jogja, ktp Alya juga Jogja" jawab Bu Mirna


"Ardi setuju Pah, pernikahan dilakukan di Jogja saja. Sesederhana mungkin" jawab Ardi ikut antusias membahas pernikahanya.


Adzan maghrib berkumandang. Tuan Aryo dan Bu Rita memilih menyudahi diskusinya. Keputusan sudah ketok palu. Kedua keluarga tersebut akan terbang ke Jogja besok pagi. Tuan Aryo mengcancel semua jadwal Ardi dan dirinya untuk 3 hari kedepan.


"Alya, ajak ibumu ke kamarmu ya Nak. Untuk malam ini kamu tidur bersama ibumu dulu. Setelah menikah baru kamu ke kamar Ardi" tutur Bu Rita meledek Alya


Alya menelan ludah mendengar perkataan Bu Rita. "Apa aku terlihat benar-benar mesum dan menginginkan tidur bersama Mas Ardi, kenapa Bu Rita berkata begitu? "


"Akan tidur di kamar Alya terus Tante" jawab Alya ketus masih tidak menerima rencana pernikahanya.


Bu Rita yang baru pertama kali melihat Alya ngambek hanya tersenyum. Bu Rita tidak peduli lagi bagaimana kejadian sebenarnya. Bagi Bu Rita yang penting Ardi jadi menikah dengan Alya. Apalagi Bu Rita tau bahwa Ardi terlihat tertarik dan ambisi terhadap pernikahanya, itu lebih dari cukup.


"Selamat istirahat ya Jeng, saya ke kamar dulu" pamit Bu Rita ke sahabatnya


Bu Mirna mengangguk. Lalu mengekori Alya masuk ke kamar.


"Bu.. " panggil Alya ke Ibunya di kamar.

__ADS_1


"Ibu malu Nak melihatmu" jawab Bu Mirna ketus "Ibu mau sholat, mau minta ampun atas dosamu" Bu Mirna meninggalkan Alya.


Alya putus asa melihat ibunya. Bu Mirna lebih percaya cerita Ardi dan rekaman nggak jelas itu. Alya turun ke bawah berniat ke luar rumah mencari ide. "Ya Tuhan Aku harap ini mimpi, aku belum siap menikah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Alya dalam hati.


"Hai calon istri" goda Ardi yang sama-sama mau keluar kamar. Tangan Alya mengepal melihat Ardi. Spontan Alya menginjak kaki Ardi keras.


"Auww" pekik Ardi memegang kakinya yang diinjak Alya.


"Apa motifmu, berbohong ke orang tua kita. Kita tidak melakukan apapun, jelaskan ke mereka" tutur Alya masih berusaha.


"Kita akan melakukan itu. Kita akan menikah" jawab Ardi tengil memberi kode membayangkan hubungan orang dewasa.


Alya melotot mendengarnya. "Melakukan apa? Nggak akan!" Sekali lagi Alya hendak menginjak kaki Ardi. Ardi melangkah mundur menghindari Alya, menabrak pintu kamar dan menimbulkan suara.


"Alya" panggil Bu Mirna dari dalam mendengar Ardi dan Alya bertengkar.


"Lihatlah Bu, anakmu menggodaku" tutur Ardi membuat Alya semakin geram.


"Hissssh" Alya berdesis padahal Alya tidak melakukan hal itu. "Siapa yang menggodamu?"


"Memalukan! Bahkan kalian bermesraan di depan Ibu. Siapa yang mengajarimu begini Nak?" jawab Bu Mirna menatap malu ke Alya. Bu percaya dengan Ardi.


"Ibu" jawab Alya ingin menjelaskan.


"Kamu sudah berubah Alya. Kamu racuni apa anaku jadi begini?" omel Bu Mirna menatap Ke Ardi.


"Karena saya tampan Bu, itu kata Lian, kamu bilang begitu kan?" tanya Ardi meledek.


"Ciiiit" Alya ganti mencubit keras tangan Ardi. "Kapan aku mengatakanya?"


"Sudah, sudah. Seperti anak kecil saja! Jijik saya melihatnya" Bu Mirna merasa risih melihat anak dan calon menantunya. Lalu turun ke bawah.


"Kamu itu bener-bener licik ya Mas" ucap Alya memandang benci ke Ardi.


"Jangan galak-galak calon istri? Sudi tidak sudi kamu akan jadi istriku" jawab Ardi lagi.

__ADS_1


"Brak" Alya langsung membanting pintu masuk ke kamar tidak jadi turun.


__ADS_2