Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
93. Harus Ketemu.


__ADS_3

Masih dengan piyama panjang dan jilbab instan bertali, Alya mengangkat tas pakaianya dan keluar meninggalkan kos Anya. Jika melihatnya tidak ada orang yang menyangka, Alya adalah seorang dokter, sekaligus Nyonya Ardi Gunawijaya. Wajahnya memang manis dan cantik, tapi sangat pucat.


Sesekali Alya meletakan tasnya dan menyeka air matanya, mengatur nafasnya sebentar. Lalu kembali menenteng tas dan melanjutkan langkahnya. Alya kembali terlihat seperti gelandangan, berbeda dengan kemarin Alya berjalan dengan penuh harap. Hari ini Alya berjalan dengan putus asa.


Alya tidak tahu mau kemana lagi. Saudara tidak punya, teman juga hanya Anya, Dinda, Dokter Mira dan orang panti. Dinda tinggal bersama orang tuanya dan kedua saudaranya, tidak mungkin Alya numpang kesana. Alamatnya saja tidak punya.


Dokter Mira? Meski sudah berikrar sebagai sahabat, akan tetapi tetap saja, Mira seorang senior. Ada jarak di antara Alya dan Mira. Status sosial Mira yang merupakan anak Menteri juga sangat tidak mungkin dijadikan tumpangan.


Ke Panti? Sepertinya memang panti tempat yang paling menenangkan untuk Alya sekarang. Ada banyak kasih sayang di sana. Kebutuhan makan Alya juga terjamin.


Tapi, jarak panti dan rumah sakit tidak dekat, malam nanti Alya jaga malam. Terus apa yang akan Alya sampaikan ke Bu Asrama, Us Zahra dan Bu Salma. Alasan apa Alya tiba-tiba tinggal di panti. Belum lagi, kalau Sinta tau Alya tinggal di panti, bahaya. Terus Farid, Farid tidak mungkin tinggal diam, dia yang mengantar Alya ke kos Anya.


"Huft" Alya berhenti di bawah pohon di pinggir setelah keluar dari komplek perumahan.


Alya duduk di bangku yang tersedia di situ. Di sampingnya ada tukang bubur ayam dan beberapa pembeli yang sedang menyantap sarapan. Alyapun memesan semangkuk bubur ayam.


"Sayang, sarapan dulu yah, please bantu ibu bisa nelen makan, nanti ibu putuskan kita mau kemana?" batin Alya mengelus perutnya.


Lalu Alya memasukan sesendok bubur ayam. Satu sendok masih masuk, Alya mulai mengunyahnya. Kemudian bubur yang awalnya terasa gurih, sesaat membuat Alya enek. Alya tetap memaksanya masuk ke perut. Lalu Alya mengambil suapan yang kedua. Dan ternyata perut Alya tidak mau menerima.


"Hoek... hoek" Alya langsung berlari ke balik pohon dan muntah di selokan di pinggir jalan. Tukang bubur dan pembeli lain langsung menatap Alya penuh tanda tanya. Setelah memuntahkan perutnya, dengan lemas Alya kembali duduk dan meminum air putih hangat.


"Kenapa Neng? Apa ada komplain ke bubur saya?" tanya tukang bubur tersinggung.


Alya melihat kasian ke tukang bubur. Lalu Alya melihat ke pembeli yang lain, ternyata mereka juga memperhatikan Alya.


"Bubur bapak sangat enak, Pak. Maaf, saya lagi hamil muda, jadi mual terus" jawab Alya jujur ke tukang bubur dan pembeli lain.


"Oh gitu?" jawab tukang bubur mengangguk. Pembeli lain pun ikut mengangguk dan melanjutkan makan.


"Suaminya kemana Neng? Pagi-pagi kok bawa tas gede gitu sendirian?" tanya salah satu pembeli.


Alya tersenyum memandang ibu-ibu itu. Alya bingung mau jawab apa. Lalu Alya menundukan wajahnya. Entah kenapa akhir-akhir ini, Alya sangat sensitif dan keberanian Alya menghilang. Mendengar perkataan sedikit menyinggung Alya langsung sedih dan ingin menangis. Tidak dijawab Alya, para pembeli berlanjut menggosip sendiri.


"Kasian ya, masih muda cantik. Lagi hamil, sendirian gitu? Hamil muda gitu kan lagi butuh banyak perhatian" bisik ibu itu ke temanya.

__ADS_1


"Dari tasnya kaya mau pergi jauh"


"Tapi dari bajunya kaya kabur, masa pergi-pergi pakai baju tidur?"


"Jangan-jangan? Ssstt udah- udah nanti dia dengar"


Meski ibu-ibu itu berbisik Alya masih mendengarnya. Alya menelan salivanya. Alya tidak ingin menangis di situ dan menjadi bahan ejekan. Alya meneguk air putih hangat tapi tidak dengan buburnya. Berharap mualnya berkurang, Alya berdiri, membayar dan berpamitan.


"Maaf ya Pak, perut saya masih mual jadi buburnya nggak saya makan, ini uangnya" ucap Alya membayar.


"Iya Neng. Saya juga minta maaf. Nggak tahu neng lagi hamil" jawab bapak menerima uang Alya.


"Makasih Pak" jawab Alya ramah menerima kembalian.


"Suaminya kemana neng bawa tas berat gitu sendirian?" tanya tukang bubur mengulangi pertanyaan ibu-ibu.


"Kerja Pak" jawab Alya ngasal menahan sedih.


"Hati-hati ya Neng" ucap tukang bubur ramah. Alya hanya mengangguk kembali menenteng tas pakaianya.


Meskipun tidak sedekat apartemen megayu. Kosan Anya juga dekat dengan Rumah Sakit. Hanya berlawanan arah, apartemen megayu tepat di depan rumah sakit, kosan Anya belok ke kanan lalu masuk ke komplek perumahan. Jadi Alya berada di jalan besar dekat dengan rumah sakit.


Karena lelah Alya berhenti dan meletakan tas di penyeberangan jalan yang tampak sepi. Suasananya tenang, Alya juga bisa melihat lalu lalang kendaraan. Alya pun berdiri dan menikmati kesendirianya sambil mengelus perutnya.


"Sabar ya Nak, maafin ibu, ibu masih tidak bisa terima perbuatan ayahmu. Tunggu ibu selesai magang. Kita ke Jogja ketemu Yangti. Ibu yakin kamu anak yang kuat, jangan rewel yah, biarin ibu bisa makan apa aja? Biar ibu bisa lewatin semua ini"


*****


Setelah tangisnya reda dan berfikir tenang Anya menyadari dirinya salah. Anya tidak boleh menghakimi Alya salah seratus persen. Alya pasti punya alasan menyembunyikan pernikahanya.


Toh selama ini Alya selalu baik dan ramah terhadapnya. Selalu setia mendengarkan curhatan tentang pacarnya, Dokter Agung yang sedang PPDS di Jogja dan orang tua yang hendak menjodohkanya. Alya juga sering bawain makanan buat Anya. Anya juga berencana berlibur bersama Alya ke Jogja minggu depan.


Anya juga tahu, hiperemesis di kehamilan Alya tidaklah mudah. Ditambah terpaan gosip suami Alya, pasti hati Alya hancur. Alya butuh sandaran, Alya butuh teman cerita dan berbagi. Menyadari itu Anya segera berlari keluar mengejar Alya. Tapi jalan di depan perumahan tampak sepi dan lengang, rupanya Anya terlalu banyak berfikir mengikuti perasaanya.


Sendi lutut Anyapun terkulai lemas, Anya tidak sanggup berjalan lagi. Anya mengatur nafasnya. Anyapun jongkok dan meratapi kebodohanya. Air mata Anya keluar lagi.

__ADS_1


"Alya maafin gue, gue jahat sama Lo" ucap Anya menutup mukanya sambil menangis.


"Dia pasti belum jauh, dia kan hanya jalan kaki" gumam Anya lalu mempunyai ide untuk mencarinya meminjam motor anak kos yang lain.


Saat Anya hendak bangun dari jongkoknya. Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depanya. Lalu keluar laki-laki berperawakan tinggi kekar berwibawa menghampirinya.


"Dokter Anya, dimana Lian?" tanya Ardi panik ke Anya.


Anya gelagapan melihat laki-laki tampan yang sempat dia kagumi, Anya kagum dengan ketampanan Ardi saat pertama kali ketemu di rumah sakit mengantar hp Alya.


Dan sekarang untuk ketiga kalinya mereka bertemu, laki-laki itu menampakan ekspresi yang berbeda dari pertemuan pertama dan kedua. Hari ini Ardi tidak ramah atau jutek. Ardi sedikit terlihat lebih normal, penampilanya sedikit lusuh karena belum mandi dan berganti pakaian dari kemarin, rambutnya kusut, wajahnya kacau mengkhawatirkan istrinya.


"Lian? Alya maksudnya?" tanya Anya pelan.


"Iya, Alya Berlian Sari, istriku" jawab Ardi mantap tidak lagi berpura-pura sebagai sepupu Alya.


"Alya baru saja, pergi" jawab Anya lirih dan merasa bersalah.


"What? Pergi? Pergi kemana? Dengan siapa naik apa?" tanya Ardi gusar.


"Jalan kaki belum lama kok! Aku juga berusaha mengejarnya"


"Oke" jawab Ardi singkat lalu berbalik arah dan berlari. Ardi tidak memperdulikan Anya atau pun anak buahnya yang masih berada di mobil.


"Aku ikut" teriak Anya berdiri dan berjalan mengikuti Ardi. Mereka berduapun berjalan setengah berlari keluar komplek perumahan.


"Pak, liat cewek berjilbab pakai piyama warna krem bawa tas gede nggak?" tanya Anya diikuti Ardi, ke tukang bubur di dekat pintu masuk komplek perumahan.


"Oh. Yang katanya lagi hamil muda? Yang wajahnya imut itu?" tanya tukang bubur polos.


"Iyah" jawab Anya bersemangat.


Sementara Ardi mendengar penuturan tukang bubur ayam seperti tersambar petir detak jantungnya terasa meningkat cepat. "Hamil? Istriku hamil?" batin Ardi tidak menyangka. Hatinya sangat bahagia.


Tapi bahagia itu berganti perasaan bersalah dan takut. Ardi lebih mementingkan pekerjaan dan mengabaikan istrinya. Dadanya semakin bergemuruh tidak sabar bertemu istrinya dan memeluknya erat. Ardi harus memastikan istrinya baik-baik saja. Ardi tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi apa-apa dengan Alya dan bayinya.

__ADS_1


"Dia jalan ke timur Neng, kayaknya naik ke jembatan penyeberangan. Kasian dia tadi muntah-muntah, wajahnya pucet banget" jawab tukang bubur lagi.


Ardi langsung berlari kencang ke arah yang disebutkan tukang Bubur. Sementara Anya yang lututnya masih lemas memilih berhenti sebentar membiarkan Ardi berlari. Anya tidak kuat jika harus mengimbangi Ardi. "Huh dasar, bisa-bisanya dia membiarkan Alya terlunta-lunta begitu?" batin Anya kesal masih mengira gosip Ardi ada hubungan dengan Riko itu benar.


__ADS_2