Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
68. Terjun Payung


__ADS_3

Masih dengan menahan kepala pening dan rasa kantuk. Alya menunaikan sholat subuh, setelah itu Alya berganti pakaian panjang dan jilbab karena ada tamu laki-laki. Alya bergegas ke dapur dan menyalakan kompor.


Alya menghela nafas nya melihat suami dan asistenya terlelap di sofa. Meskipun sudah menjadi istrinya, Alya tidak tahu lelaki seperti apa yang sekarang jadi suaminya. Kehidupan yang sebelumnya tidak pernah Alya bayangkan, tiba- tiba kini Alya hidup bersama laki-laki, berbagi tempat tinggal bahkan tempat tidur, mengurusi dan melayaninya. Dengan laki-laki yang baru dia temui belum genap satu minggu.


"Sepertinya dia sangat lelah" gumam Alya melihat suaminya masih terlelap. "Pekerjaan seperti apa yang dia kerjakan? Dia terlihat kasian kalau begini, aku bangunin nggak ya? Tapi dia belum sholat subuh". Alya mendekati suaminya. Dipandangnya lekat-lekat wajah suaminya untuk kesekian kalinya.


"Kalau lagi tidur begini, dia seperti laki-laki baik, tampan, tapi kenapa kalau bangun sangat menyebalkan? Dia bahkan pernah mengataiku merayunya agar dia menikahiku. Padahal dia yang selalu mendatangiku, Aku masih kesal mengingatnya" Alya melamun duduk di samping Ardi memandangi suaminya. Sampai Alya tidak menyadari air di kompor mendidih dan suaminya bangun.


"Ngelamunin apa sih? Aku ganteng ya?" tanya Ardi tiba-tiba. Ardi ternyata terbangun mendengar suara air mendidih.


"Ehm" Alya menjadi salah tingkah, lalu segera bangun dari duduknya.


"Kenapa bangun?" tanya Ardi meraih tangan Alya untuk tetap duduk.


"Airnya udah mendidih, Lian mau matiin air mas"


"Biarin, sini duduk dulu. Kamu mau bangunin mas kan? Sini aku ajarin cara bangunin mas" pinta Ardi manja ingin disentuh istrinya.


"Iish apa sih mas? Lepasin tanganku! Udah siang, sholat dulu keburu waktu subuh habis" tegur Alya berusaha melepaskan tangan dari cengkeraman suaminya.


Alya merasakan jantungnya berdebar sangat cepat saat dipegang Ardi. Alya ingin segera pergi ke dapur dan menjauh dari suaminya.


"Ya Ampun, Tuhan kenapa aku jadi dheg-dhegan gini sih, huft?" gumam Alya berjalan ke dapur dan melanjutkan masak.


Setelah bangun Ardi langsung menunaikan sholat subuh dan membangunkan Dino. Pagi itu Alya membuatkan kopi sesuai permintaan Ardi. Alya juga membuatkan camilan seadanya bahan di kulkas. Pagi itu Alya berencana membuat bakwan. Dan membuat sarapan pagi dengan menu orak arik buncis dan telur dadar.


"Kenapa duduk di sini sih, sana temenin tamunya" ucap Alya ke Ardi yang duduk nungguin istrinya masak di dapur.


"Dino tidur lagi, biarin jangan diganggu" jawab Ardi beralasan.


"Mas nggak ikut tidur lagi?" tanya Alya berharap suaminya meninggalkan dapur.


"Nggak, udah nggak ngantuk"


"Ehm" Alya menelan salivanya heran kenapa Ardi malah duduk di dapur. "Ya udah mandi dulu aja sana" usul Alya berusaha membuat Ardi pergi.


"Masih dingin" jawab Ardi lagi.


"Kan dikamar ada water hiternya" jawab Alya lagi.


"Lagi pengen di sini, berisik banget sih, ini dapur punya siapa?" jawab Ardi kehabisan akal. Sebenarnya Ardi hanya ingin dekat-dekat dengan Alya, tapi Alya menjadi risih, dheg-dhegan dan salah tingkah dideketin Ardi terus.


"Iya, ya, dapur ini punya kamu!"


Alya menghelas nafasnya, mengatur dirinya agar tenang dan tidak gugup. "Dasar laki-laki nggak jelas, ngapain juga duduk nggak ada kerjaan gitu? Apa ku kerjain aja ya?" gumam Alya dalam hati mempunyai ide.


"Mas" panggil Alya pelan ke suaminya.


"Ya" jawab Ardi semangat menoleh ke istrinya karena Alya tampak lebih lembut dan tidak galak


"Bener mau di sini?" tanya Alya pelan lagi.

__ADS_1


"Iya"


"Daripada nganggur bantuin aku ya" pinta Alya mengerlingkan mata sambil tersenyum.


"Mas nggak bisa, mas nggak pernah ke dapur" jawab Ardi malas, seumur-umur Ardi selalu dilayani pelayan dan sangat dimanjakan nenek dan kedua orangtuanya. Ibunya saja tidak pernah masak apalagi Ardi yang notabenya laki-laki.


"Nggak susah kok, aku ajarin, nyuci-nyuci dan potong sayuran doang"


"Hem" Ardi tidak menjawab karena enggan bekerja.


Tidak mendapat respon baik Alya kembali kesal. "Kalau nggak mau ya udah sana pergi! Betein!"


"Iya ya, aku bantu!" jawab Ardi terpaksa "Lumayanlah bisa deket-deket kamu" guman Ardi bangun dari duduknya.


"He.... gitu dong" jawab Alya tersenyum. Ardipun sangat bahagia istrinya mau tersenyum di hadapanya.


"Nyuci yang mana nih?" tanya Ardi.


"Nih, dicuci semua" jawab Alya memberikan sebaskom kecil sayuran.


"Banyak banget, ogah!"


"Ya udah sana pergi jangan disini, nggak usah nongkrongin orang kerja!" jawab Alya galak.


"Harus ada imbalan" bisik Ardi ke telinga Alya yang tertutup jilbab.


"Kerja juga belum, bahas imbalan" jawab Alya kesal lalu melanjutkan mengupas bawang.


"Kenapa?" tanya Alya bingung tidak tahu kalau suaminya benci seledri.


"Pokoknua dua benda itu jauh-jauh, sini wortel sama jagungnya" jawab Ardi memberitahu. Alya menuruti perkataan Ardi memasukan dua sayuran itu ke kulkas lagi.


"Mas phobia?" tanya Alya penasaran dengan suaminya.


"Iya, kalau masak buatku jangan kasih dua sayuran itu" jawab Ardi menatap Alya serius.


Alya mengangguk tanda setuju. Pasangan pengantin baru itu pun masak bersama. Alya membuat bumbu dan adonan. Ardi mencuci dan mengiris-iris sayuran, meskipun berantakan dan bentuknya tidak beraturan tapi Ardi semangat membantu istrinya. Entah imbalas apa yang nanti akan dia minta. Setelah selesai menggoreng Alya menata bakwanya di piring.


"Anterin ke tamunya sana" ucap Alya meminta tolong Ardi membawa sepiring bakwan ke depan.


"Kok dibawa ke depan, buat apa? Biar ini dimakan kita, ayo makan!" tolak Ardi merasa tidak terima hasil kerja kerasnya diberikan ke tangan kananya.


"Hiiih gimana sih, kita tuh lagi ada tamu, kasian dia udah nganterin kamu malem-malem"


"Itu kan kerjaan dia, dia gue bayar, ngapain baik-baikin, enak aja, gue capek-capek kotor begini dia enak-enakan tidur tinggal makan" jawab Ardi mendengus.


"Astaghfirulloh mas, dia itu tamu, dia tamu kita siapapun dia? Jahat banget sih jadi bos, udah sini aja aku yang bawain"


"Jangan, ngapain kamu kesana, nggak! Kamu nggak boleh ketemu dia!"


"Hah? Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Pokoknya kalau ada tamu laki-laki kamu diam di sini kalau nggak di kamar. Nggak usah ketemu!" pinta Ardi posesif ke istrinya.


"Astaghfirulloh mas, bener-bener ya! Dasar aneh. Ya udah kalau aku nggak boleh keluar ini yang mau bawa ke depan siapa?"


"Dah mas aja!" jawab Ardi terpaksa mengambil sepiring bakwan, tiba-tiba terdengar bel.


Ardi keluar membawa nampan bakwan masih memakai celemek. Lalu membuka pintu ternyata sopirnya si Arlan.


"Ehm" Ardi berdehem bertemu dengan kedua bawahanya.


Arlan dan Dino yang baru saja bangun terbelalak melihat penampilan Tuan Mudanya.


"Pagi Tuan?" sapa Arlan menundukan kepala hendak menjemput Ardi.


"Pagi, ini kopi sama camilan, dari istriku, habiskan, ini perintah!" jawab Ardi ketus menahan malu.


"Baik Tuan" jawab Arlan dan Dino barengan menahan tawa melihat penampilan Bosnya. Sesosok Ardi yang tampan, tenang dan terkadang suka marah-marah hilang seketika. Percikan tepung tampak sedikit menghiasi wajah dan tanganya. Baunyapun bau bawang, hanya saja Ardi terlihat lebih semangat dan bahagia.


"Din, kamu ikut Arlan langsung ke kantor saja, siapkan materi meeting hari ini. Aku berangkat sendiri" ucap Ardi memerintah. Ardi tahu di ruang sekertaris Dino sudah menyiapkan pakaian persediaan jika mereka harus lembur.


"Baik Tuan" jawab Dino yang sudah terbiasa lembur saat bersama Tuan Aryo.


"Mohon maaf, Tuan bawa mobil yang mana?" tanya Arlan menawarkan karena Arlan datang ke apartemen membawa mobil Tuan Aryo.


"Biasa si merah" jawab Ardi memilih mobil yang sudah ada di apartemen. "Dihabiskan, jangan buat istriku kecewa!" perintah Ardi ke anak buahnya, lalu bergegas ke dapur menghampiri istrinya.


"Nasinya udah mateng mas udah aku siapin. Sekalian ajak sarapan, aku mandi dulu"


"Sarapan?" tanya Ardi heran, istrinya begitu perhatian ke bawahanya.


"Iya. Tuh di meja, Mas Dino kan bekerja untukmu, sedikit perhatian kan baik" jawab Alya menunjukan makanan yang tersedia di meja makan.


"Apa kamu bilang? Mas Dino?" tanya Ardi tidak rela Alya memanggil Dino dengan panggilan yang sama dengan dirinya.


"Ya Mas Dino? Semalam dia memperkenalkan dirinya namanya Dino, sepertinya dia seumuran denganmu" jawab Alya jujur.


Ardi mengerutkan dahinya, wajahnya memerah mengingat kejadian semalam, Dino melihat istrinya tidak memakai jilbab dan seksi. Tapi semua itu memang salah Ardi.


"Panggil dia Pak, sama kaya kamu ke Arlan, kalau masih tetap panggil mas. Berarti ubah panggilanmu ke ke aku!" perintah Ardi marah.


"Ck, ya ampun, kan kalau di Jawa memanggil laki-laki yang lebih tua itu mas, salah ya?" tanya Alya heran melihat kelakuan suaminya.


"Ya ya, ya sudah, sana ke kamar, tutup pintunya, jangan keluar selama mereka di sini" perintah Ardi posesif


"Kenapa sih? Kaya ada suara Pak Arlan?" tanya Alya lagi.


"Udah sana masuk" jawab Ardi mengusir Alya dari dapur.


"Huh dasar, iya aku masuk"


Alya bergegas ke kamar membersihkan dirinya. Ardi melepaskan celemek dan mempersilahkan asisten dan sopirnya sarapan. Arlan dan Dino kaget melihat menu sarapan Tuan Mudanya pagi ini, sangat simple. Padahal Dino yang setiap hari memesankan makanan online untuk Tuanya paham betul seleranya. Tapi pagi ini sungguh berbeda. Bahkan menunya tidak lebih baik dari menu di rumah Dino.

__ADS_1


"Tuan Ardi benar-benar tidak bisa ditebak" gumam Dino menikmati sarapanya. "Nyonya Berlian berhasil membuat Tuan Ardi selera dan kebiasaanya terjun payung" Dino mengingat dulu pernah memesankan beef steak di restoran mewah, hanya karena dagingnya terlalu empuk menurutnya langsung dibuang dan dimarahi.


__ADS_2