Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
115. Sinta


__ADS_3

*****


Restokafe Danau.


"Kak Farid, cobain deh! Ini menu baru aku. Bahan dasarnya dari singkong" ucap Sinta memberikan potongan kue ke Farid.


"Lembut banget Sin, mau lagi dong" jawab Farid yang sedang duduk istirahat di bangku kafe.


Farid baru duduk setelah seharian beraktivitas. Kini semua persiapan sudah siap. Anak-anak panti dewasa juga sudah berkemas menantikan hari esok. Berharap acara lancar, semua tamu undangan terkesan dan ingin kembali lagi.


Sintapun memberikan beberapa irisan kue yang dia buat. Malam itu jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Sebenarnya pekerjaan Sinta sudah selesai. Tapi sesuai nasehat Intan, malam ini Sinta ingin mengungkapkan perasaanya ke Farid.


"Makasih ya Sin" jawab Farid mengambil kuenya lagi.


"Ehm. Kalau Kak Farid suka gue bisa bikini tiap hari" jawab Sinta mulai melancarkan aksinya sambil menatap wajah tenang dan dewasa Farid.


Mendengar perkataan Sinta, Farid tidak merespon dan tetap melanjutkan makannya.


"Udah malam, lo nggak pulang?" tanya Farid setelah selesai mengunyah makanan.


"Kak Farid sendiri nggak pulang?"


"Gue mah laki Sin, gue bisa tidur dimana aja. Kayaknya gue tidur sini deh" jawab Farid santai. Sinta mengangguk senang.


"Sinta nggak berani pulang sendiri" jawab Sinta memancing Farid buat antar.


"Oh gitu? Kenapa nggak bilang dari tadi? Kan bisa diantar anak-anak atau Pak Anton" ucap Farid tidak peka maksud dan keinginan Sinta.


Sinta mengusap tengkuknya. Mengeratkan rahangnya karena geram. Kenapa Farid selama 3 tahun Sinta memberikan perhatian nggak peka-peka juga.


"Ehm, gue ikut tidur di sini aja" jawab Sinta semakin berani.


"Hush jangan ngarang! Cewek nggak baik tidur di sini. Di sini laki semua, belum ada kasur juga"


"Nggak apa-apa. Gue percaya sama Kak Farid"


"Maksud lo?" tanya Farid tidak mengerti.


Sinta menelan salivanya lagi. "Apa gue ngomong sekarang?" batin Sinta ragu sambil menundukan kepala dan bersiap ngomong. Belum jadi Sinta ngomong Farid membuka percakapan duluan.


"Ya udah, gue anter. Nggak baik lo tidur di sini. Kalau lo sakit ribet malah" tutur Farid mengambil kunci mobil.


"Beneran?" tanya Sinta senang.


"Buru keburu malem. Tar gue disangka apa lagi sama bokap lo"


"Disangka juga nggak apa-apa" jawab Sinta berani. Farid hanya berjalan dan menatap illfeel ke Sinta.


"Pakai mobil sendiri- sendiri aja ya?" ucap Farid


"Kenapa? Mobil Sinta biar di sini aja" jawab Sinta centil.


"Besok sih berangkat nya gimana?"


"Gampang" jawab Sinta.


"Oke"


Dengan terpaksa Farid membukakan pintu mobilnya. Dan mengantar Sinta. Sepanjang perjalanan Farid menyalakan musik, mengusir rasa lelah dan mengurangi obrolan dengan Sinta. Karena perjalanan malam lengang, tidak membutuhkan waktu lama Farid dan Sinta sampai di kawasan perumahan elit.


"Kak" panggil Sinta.


"Ya Sin" jawab Farid menoleh ke Sinta. Ternyata Sinta sudah menempatkan wajahnya sangat dekat dengan Farid.

__ADS_1


"Cup" Sinta mencuri ciuman pada pipi Farid dengan berani. Mendapat perlakuan sepertu itu, Farid kaget dan langsung menjauhkan diri dari Sinta.


"Apa-apaan kamu Sin" tanya Farid marah dan tidak menyangka dan memegang pipinya.


Sinta gelagapan melihat reaksi Farid. Tapi Sinta tetaplah Sinta, dia tidak menyesal ataupun malu.


"Kenapa Kak? Kak Farid nggak suka? Kenapa Kak Farid begitu. Gue cinta sama lo Kak" ucap Sinta terang-terangan.


"Nggak seharusnya lo bersikap begini!"


"Apa salah gue Kak? Gue mendam perasaan ini bertahun-tahun. Jadilah suami buat gue" ucap Sinta lancar dan memegang tangan Farid.


Farid melihat tanganya dipegang lalu melihat Sinta. Farid syok mendengar pernyataan Sinta yang terang-terangan.


"Sory Sin. Gue nggak bisa terima lo, lepas tanganku!"


"Kenapa? Apa kurangnya aku, bukankah selama ini kita dekat. Kita sudah saling mengenal satu sama lain. Aku cantik, aku kaya. Kita akan menjadi pasangan serasi"


"Perasaanku ke kamu sebatas rekan kerja dan adik kelas. Jangan melebihi batas. Turun dari mobilku!"


"Kenapa? Kenapa hanya bisa menganggapku rekan kerja dan adek kelas. Tidak bisakah melihatku sebagai perempuan dewasa yang mencintaimu?"


"Sinta, lo cantik, lo berbakat dan mempunyai keluarga sempurna. Akan banyak pria yang bersedia menjadi suami lo, tapi bukan gue" jawab Farid dewasa.


"Aku maunya kamu!" jawab Sinta tetap ngotot dan nekat memegang tangan Farid tidak mau turun.


"Turun dari mobilku. Masuklah ini sudah malam!" tegur Farid melepaskan tangan Sinta tidak ingin melanjutkan percakapan.


Berniat baik mengantar Sinta. Farid merasa seperti terjebak di ladang penuh ranjau. Kalau ada orang lewat pasti mengira macam-macam karena Sinta tidak mau turun. Berdua di mobil, malam-malam di pinggir jalan.


"Aku nggak mau turun" jawab Sinta nekat padahal sudah di depan rumah Sinta.


Farid mengeraskan rahangnya.


"Gue nyesel nganter lo" ucap Farid dingin membuat Sinta naik pitam.


Farid menoleh ke Sinta tidak percaya, bahkan Sinta membawa-bawa Alya.


"Ini tidak ada hubunganya dengan Alya. Aku tidak mencintaimu" jawab Farid tegas.


"Sadarlah Kak. Alya tuh nggak tertarik sama lo, gue yang selalu ada buat lo, gue yang cinta sama lo" sambung Sinta lagi.


"Sinta mengertilah, ini sudah malam, turun dan masuklah"


"Lo nggak tahu kan Kak? Kalau Alya juga ada hubungan sama Tuan Ardi? Anak buahku pernah ikutin Alya" ceplos Sinta kesal dan mengeluarkan unek-uneknya waktu itu pernah ikutin Alya.


Meskipun Sinta dan Intan tidak yakin apa hubungan Alya dan Ardi tapi Sinta hanya menebak dan ingin membuat Farid melupakan Alya.


Farid sempat tertegun dan diam. Farid mengeraskan rahangnya dan berpikir positif. Farid tau Sinta sedang termakan emosi, baik karena kegilaanya sendiri atapun karena penolakan cintanya. Bahkan Farid tidak menyangka Sinta pernah buntuti Alya.


"Sinta, gue mau balik, sekarang turun dan masuklah. Jangan buat aku marah atau kamu menyesal" tutur Farid menegaskan dan mencoba berbicara dengan kepala dingin.


"Kakak akan nyesel kalau tetep cinta sama Alya" ucap Sinta lagi masih berusaha.


"Ada atau tidak ada hubungan, antara Alya dan Ardi itu tidak berpengaruh terhadap kita. Buat apa kamu buntuti Alya? Kamu tau dia dekat dengan Bu Rita. Sekarang turun!" jawab Farid lebih keras.


"Kak, mengertilah, gue cinta sama lo"


"Turun, atau aku paksa turun?"


Tidak punya ide bicara lagi, Sinta diam. Sinta mengeluarkan airmatanya. Hati Sinta benar-benar hancur, pendekatan Sinta ke Farid sampai dibela-belain tiap hari datang ke panti tidak ada pengaruhnya. Sinta mengepalkan tanganya , lalu turun dan masuk ke kediamanya.


Farid menghela nafasnya, mencengkeram setir mobil dan kembali ke panti. Sepanjang jalan kata-kata Sinta terngiang-ngiang di otak Farid. Ada rasa sakit dan sesak di dadanya. Benarkah Ardi dan Alya ada hubungan. Sejak kapan?

__ADS_1


Alya memang sudah menjawab lamaran Farid dengan sopan dan tegas. Alya belum ingin menikah, Alya menganggap Farid sebagai kakak dan rekan di panti. Farid pun menerima alasan itu. Itulah sebabnya Farid masih baik dan care sama Alya. Perasaan Farid ke Alya pun tidak berkurang sedikitpun meski sudah ditolak.


Di mata Farid, Alya tetaplah perempuan istimewa. Perempuan dengan senyum dan tawa yang manis. Perempuan dengan ucapan dan tutur kata yang lembut dan polos. Perempuan yang sederhana dan keibuan. Perempuan yang pandai menjaga harkat dan martabatnya sebagai perempuan. Dan perempuan pekerja keras, karena dia anak rantau yang ke Jakarta seorang diri.


Sementara Ardi, di mata Farid, meski Ardi bos, Ardi dan Farid lebih mirip adek kakak. Farid mengungkapkan isi hatinya ke Ardi. Farid yakin Ardi akan terbuka dan mengerti Farid.


Farid menggelengkan kepalanya sendiri sambil nyetir mobil. Farid mengusir kecurigaan hal buruk tentang sahabatnya. Malam ini Farid tidur di kafe bersama anak-anak panti.


****


Istana Tuan Aryo.


"Makasih sayang" ucap Ardi mencium rambut Alya setelah keinginanya terpenuhi.


"Maaf yah" jawab Alya merasa belum bisa menyenangkan suaminya maksimal.


"Nggak apa-apa, mas seneng. Kamu kok pinter sih kaya tadi? Belajar darimana?"


"Dari internet" jawab Alya polos.


"Dasar" ucap Ardi tersenyum lalu memeluk Alya.


"Mas suka?"


"Semua yang kamu kasih dan lakukan mas suka" jawab Ardi mengingat semua kegiatan panasnya bersama istrinya. Istrinya melakuka sesuatu yang membuatnya senang meski tanpa berhubungan badan.


"Sabar ya, trimester dua bentar lagi kok" jawab Alya lagi.


"Iya, nanti kalau udah lahir, kita bulan madu, kita liburan"


"Mmm, ck. Kejauhan mikirnya"


"Mas minta maaf, mas belum nyenengin istri mas ini, mas kurung di rumah terus. Pokoknya kapan-kapan kita jalan-jalan"


"Makanya jangan kerja terus" jawab Alya manyun.


"Mas juga pengenya gitu. Tapi mas anak tunggal, takdir maksa mas harus terima semua beban ini sayang. Makanya nanti kita bikin anak yang banyak ya. Biar nggak kaya ayahnya"


"Hemm, mang mas mau anak berapa?"


"5" jawab Ardi semangat.


"Ish"


"Mas juga pengen kamu di rumah aja nggak usah kerja"


"Nggak usah ajak berdebat. Alya cuma pengen selesein dulu, dapet surat keterangan pengabdian sesuai syarat dan aturan mas. Masalah kerja kita diskusikan nanti" jawab Alya lagi.


"Ya, jam berapa sekarang? Tidur yuk"


"Ya mas, minta gituan malam-malam"


"Ya gimana? Si Junior bangun sendiri"


"Mas"


"Mmm, kenapa?"


"Kok Lian kangen ibuk ya? Kita belum kasih tau ibuk, mama dan papa"


"Besok pagi kita video call bareng. Udah sekarang tidur"


"Ya"

__ADS_1


Meskipun Alya membatasi suaminya berhubungan badan denganya, tapi Alya tetap merasa mempunyai kewajiban membantu suaminya menyalurkan proses biologisnya. Alya pun mempelajari hal-hal seperti itu. Cara menyenangkan suami tanpa berhubungan badan.


Sesuatu yang tabu dan menjijikan sebelum Alya menikah. Tapi kini harus dia lakukan. Alya sangat sakit membayangkan jika suaminya harus berbagi dengan orang lain, apalagi mengingat gosip suaminya bise*sual. Entah kenapa semenjak hamil rasa cemburu dan sensitif datang ke Alya.


__ADS_2