Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
71. Menunggu


__ADS_3

Setelah mobil Anya tidak terlihat, Alya kembali masuk apartemen, membersihkan tempat tinggalnya sebelum suami pulang, Alya juga membersihkan bekas jajanan yang dia makan bersama temanya.


Setelah itu Alya membersihkan dirinya. Kini Alya sudah tidak canggung dan khawatir lagi menggunakan semua ruangan di apartemen, semua kunci dia pegang sendiri, Alya juga bisa memilih baju sendiri.


Saat Alya memilih bajunya, Alya diam sejenak. Wajah Ardi terlintas di depanya, dua hari ini Ardi selalu menentukan baju yang Alya pakai. Alya berfikir pilihan baju Alya nanti akan dikomentari sama Ardi nggak ya? Akan buat Ardi marah atau senang?


"Ish kenapa aku mikirin komentar dia sih? Suka-suka aku lah mau pakai baju apa , harusnya aku seneng aku bebas milih sendiri"


Lalu Alya memilih daster berlengan pendek setinggi lutut. Sekarang Alya sudah terbiasa dengan suaminya tanpa jilbab, bahkan suaminya sudah melihat semua yang Alya punya. Akan sangat lucu kalau Alya menutup dirinya terhadap suaminya sendiri. Saat berada di dalam apartemen berdua.


Alya melihat jam dinding sudah menunjukan pukul delapan malam. Makanan yang Alya buat untuk suaminya mulai mendingin. Alya menatap pintu ruang tamu baik-baik. Tidak ada tanda-tanda seseorang menggerakan gagang pintu. Alya beralih melihat ponselnya, tidak ada getar tidak ada lampu menyala.


"Kemarin dia posesif banget. Wa dan telfon berkali-kali, kenapa hari ini tidak ada satu pesanpun yang dia kirim?" gumam Alya mengusap layar ponselnya.


Alya berharap ada pesan yang belum Alya baca. Ternyata nihil, hanya ada pesan grup whatsap dan pesan dari Gery menanyakan Alya jaga apa. Tentu saja bukan pesan dari Dokter Gery yang di tunggu.


Alya menghela nafas, kenapa rasanya sesak saat suaminya mengabaikanya. Alya melemparkan ponselnya, mengalihkan pikiranya mencari acara televisi yang bisa menghiburnya. Alya juga mengambil cemilan berharap meringankan gelisahnya. Tapi pikiran Alya tidak bisa pergi dari suaminya.


"Kenapa tidak ada kabar?"


"Apa aku kirim pesan duluan ya?" pikir Alya lalu mencoba mengetik pesan.


Mas, pulang jam berapa? "Ah tidak-tidak" Alya menghapus pesanya lagi. Lalu mengetik ulang.


Mas, lembur ya? "Bukan-bukan begini" Alya menghapus lagi pesan yang sudah dia ketik. Dan mengulangi merangkai kata sampai beberapa kali menghapus dan mengetiknya lagi. Alya sampai bosan dan tidak tau harus merangkai kata apa yang tepat.


Alya melihat jam dinding lagi. Sekarang sudah jam 9 malam. Pintu apartemen masih tetap tenang, masakan yang Alya masak untuk makan malam pun sudah dingin. Alya menutup ponselnya karena putus asa.


"Apa mungkin Mas Ardi pergi bersama perempuan lain seperti di film-film? Tapi kenapa dia menikahiku kalau dia mempunyai perempuan lain?"


"Mungkin dia lembur lagi?"

__ADS_1


"Atau dia pulang ke Mama Rita? Apa aku tanya mama Rita, ah tapi memalukan sekali"


"Apa setelah ini dia akan menceraikan aku?"


Alya menengkurapkan tubuhnya ke sofa, menahan semua kegundahanya terhadap suaminya. Kenapa rasanya berat sekali menghubungi suaminya dan mengirim pesan ke suaminya.


Alya kembali merangkai kata menguhubungi suaminya, mencoba menanyakan apa suaminya akan pulang ke apartemen atau tidak pulang jam berapa? Alya mencoba menelponya tapi tidak diangkat. Kali ini Alya berhasil mengirimnya, dan terkirim.


Alya memegang dan memandangi ponselnya baik-baik. Tapi warna centang duanya tidak kunjung berubah menjadi biru. 10 menit berlalu Alya berjaga menatap layar ponsel. Jangankan dibalas, warna centang dua itu tetap hitam dan tidak berubah biru. Karena kesal Alya menarik pesan dan dihapusnya. Lalu Alya menyimpan ponsel di bawah bantal, kemudian mengambil dan memukul- mukul sendiri karena kesal. Alya menitikan air matanya karena kesal.


"Kenapa rasanya begitu menyesakkan diabaikan begini? Dia bukan siapa-siapa Alya, sadar-sadar! Mungkin dia bersama perempuan lain mungkin sebentar lagi dia akan menceraikan aku! Harusnya aku bahagia. Dia bukan siapa-siapa" gumam Alya menengkurapkan tubuhnya di sofa. Dan akhirnya Alya tertidur di sofa.


******


Kantor Gunawijaya Grup.


"Apa jadwalku selanjutnya Din?" tanya Ardi meregangkan tubuhnya dengan memutar kepala ke kanan dan ke kiri di dalam mobil. Ardi baru pulang menemui klien di suatu restoran.


"Baik, kita lembur malam ini, semua harus selesai sebelum keberangkatanku" jawab Ardi mengajak Dino lembur.


"Baik Tuan" jawab Dino patuh duduk di samping Ardi.


Dino pun mengernyitkan dahinya dan menggaruk alisnya. Alamat, khayalan tidur awal dan nyenyak segera sirna. Arlanpun melajukan mobil Tuanya menuju kantor.


"Kalau keberatan kamu boleh pulang" jawab Ardi mengetahui ekspresi Dino.


"Tidak Tuan saya tidak keberatan" jawab Dino merasa tidak enak.


"Tidak usah sungkan, sebenarnya pekerjaan ini bisa kukerjakan lain waktu, hanya saja aku harus segera menyelesaikanya sebelum pergi" jawab Ardi bijaksana.


"Tidak Tuan, saya akan menemani Tuan, berkasnya juga tidak terlalu banyak" jawab Dino.

__ADS_1


"Baiklah"


Tidak berapa lama mereka bertiga sampai di kantor. Waktu menunjukan pukul 10 malam, Ardi mempersilahkan Arlan untuk pulang. Sementara Ardi masuk ke kantornya yang sebagian ruangan sudah gelap. Ardi memencet tombol lift ke lantai teratas.


Setelah sampai Ardi langsung memeriksa beberapa berkas yang sudah disiapkan Risa dan Dino. Ardi memang mempunya dua sekertaris. Risa dan Dino, itu karena Ardi ingin orang yang selalu ada di sampingnya karyawan laki-laki, tapi Ardi juga butuh Risa yang lebih telaten.


Meski menahan kantuk Ardi menyelesaikan pekerjaanya. Waktu menunjukan pukul 11 malam. Ardi menutup kertas terakhirnya dan meletakan pensilnya. Setelah itu bergegas pulang.


"Selamat malam Tuan, hati-hati di jalan" ucap Dino memberi hormat ke Tuanya saat di parkiran.


****


Ardi masuk ke apartemen, lampu ruang tamu masih menyala, tv masih menyala, Ardi melihat istrinya tidur tengkurap di depan televisi. Ardi tersenyum melihat istrinya. Lalu Ardi masuk ke kamar membersihkan dirinya.


Setelah itu kembali ke Alya. Dibelainya rambut istrinya yang diikat sedikit berantakan.


"Cup" Ardi mencium rambut istrinya yang masih beraroma sampo. Ardi mengambil ponsel yang masih digenggamnya. Lalu Ardi membuka ponsel Alya, ternyata Alya belum menutup layar terakhir, yang dia buka masih di layar papan pesan whatsap nomer Ardi. Meskipun tidak ada percakapan Ardi tersenyum melihatnya.


"Kamu menungguku sayang, cup" Bisik Ardi kembali mencium kepala Alya.


Dengan hati-hati Ardi mengangkat Alya dan membawanya ke kamar. Ardi menyelimuti Alya dengan rapih. Ditatapnya istrinya lekat-lekat, bayangan Alya tadi pagi muncul, Ardi melihat istrinya tanpa sehelai benang pun dan hal itu membuat Ardi harus banyak menahan godaan berat. Tapi bayangan Alya menangis tersedu-sedu pun tidak hilang dari ingatanya dan itu sangat menyakitkan buat Ardi.


"Mas nggak akan tega biarin kamu tertekan dan ketakutan sayang, mas juga mau kamu menyerahkanya dengan cinta" ujar Ardi kembali mencium kening Alya.


Ardi mengambil selimut dan bantal berniat tidur di sofa agar Alya tidak takut lagi. Ardi juga mengambil ponselnya. Ternyata Alya benar-benar sempat telepon dan wa tapi ditarik lagi. Ardi merasa sangat bahagia istrinya peduli denganya. Tapi Ardi jadi merasa bersalah membuat istrinya menunggu, Ardi diam lagi menatap istrinya baik-baik. Ardi baru sadar sudut mata Alya tampak basah.


"Maafin mas banyak buat kamu menangis" ucap Ardi membelai sudut mata Alya yang basah dan sembab. Lalu Ardi menghujani Alya dengan kecupan hangat di kedua pipi dan keningngnya.


"Cup cup cup" Ardi ingin melanjutkan mencium bibir Alya, tapi Alya sedikit menggeliat karena Ardi mencium pipi Alya dengan sedikit gemas. Takut Alya bangun Ardi mengurungkan niatnya dan segera keluar dari kamar.


Ardi ke dapur menghilangkan dahaganya. Ardi juga melihat meja, ada sepiring perkedel kentang, nila goreng dan lalapan.

__ADS_1


"Dia memasak untukku juga? Bagaimana mungkin aku bisa berfikir bisa melepasnya" gumam Ardi lalu duduk dan menyantap makanan istrinya meskipun tengah malam.


__ADS_2