
****
Hotel Wiralila.
"Thanks Bro" ucap Ardi menepuk bahu Riko, setelah mendengar cerita Riko.
Lila merencanakan memberi Ardi obat perangsang tapi salah sasaran ke Dino, karena Ardi memberikan minumnya ke Dino. Kesal rencananya tidak berhasil, Lila menyuruh saudaranya membuat Ardi mabuk bersama rekan yang lain. Saat yang lain pulang, Lila dan saudaranya berniat membawa Ardi yang mabuk berat. Untung saja ada Riko yang sudah mengenal Ardi saat di Australia.
Riko membututi Lila, saat Lila dan kakaknya membawa Ardi ke kamarnya. Mengetahui Riko artis yang sedang membuat film baru. Lila mengancam akan menghancurkan karirnya. Tapi Riko tidak peduli, Riko justru memaki Lila, karena Riko tau Lila memberi obat di gelas Ardi dan Dino.
Lila geram atas makian Riko. Dia yang merupakan pemilik hotel mengambil beberapa rekaman cctv hotel saat Riko bersama Ardi dan membuat narasi miring. Lila melampiaskan kekesalanya dengan memukul dua orang sekaligus. Lila memberikan foto-foto Riko saat menolong Ardi seakan Riko hendak berbuat senonoh pada media.
"Tapi sekarang masalahnya reputasi lo jadi hancur dan terbawa-bawa gara-gara gue" tutur Riko merasa bersalah setelah selesai menceritakan masalahnya. Karena Riko publik figur, Ardi jadi ikut masuk ke media.
"Setidaknya gue nggak sampai tidur bareng sama Lila. Kalau sampai itu terjadi, gue nggak bisa maafin diri gue sendiri" jawab Ardi masih merasa bersyukur lolos dari jebakan Lila. Meskipun kini dia juga sama-sama masuk ke rencana kedua Lila.
"Lila emang ular. Gue harus beri dia pelajaran, gue masih punya satu kelamahan dia" ujar Riko yang sudah lama kenal Lila dan kakaknya.
"Salah gue Rik, bokap gue udah pernah ingetin gue buat tidak berurusan dengan dia. Tapi gue ngelanggar" jawab Ardi mengingat niatnya bekerja sama dengan Tuan Wira dulu, dia hanya ingin punya alasan sering mampir ke apartemen megayu ngapelin Alya.
"Gue udah bilang ke orang gue buat stop dan tarik berita ini" sambung Riko mencoba tenang.
Riko sebenarnya memang punya kelainan ****, tapi itu dulu dan partnernya orang luar negeri, yang pasti bukan Ardi. Jadi Riko juga sudah berpengalaman menghadapi gosip tentang dirinya. Apalagi menyadari dirinya seorang publik figur.
"Tuan, saya sudah telp pemilik media penyebar berita ini, secepatnya berita ini akan mereda" sambung Dino yang sudah sadar dari obat-obatan yang Lila berikan.
"Udah telfon Arlan juga?" tanya Ardi ke Dino, Ardi khawatir ke istrinya.
"Arlan sedang perjalanan menjemput Nyonya Tuan" jawab Dino menyampaikan laporan Arlan.
"Semoga istri Lo nggak termakan gosip Ar" sambung Riko mengkhawatirkan rumah tangga sahabatnya.
"Istri gue dokter, setau gue dia selalu sibuk. Semoga nggak lihat berita" jawab Ardi berpositif thinking terhadap istrinya.
"Ya udah gue cabut dulu. Urusan Lila biar gue yang kasih pelajaran. Gue pastiin dia masuk penjara dalam waktu dekat" ucap Riko berpamitan.
"Kapanpun lo butuh bantuan gue, gue siap bantu" jawab Ardi ke sahabatnya.
Ardi tau di sini yang paling dirugikan dari berita miringnya adalah Si Riko. Karena reputasi Riko sangat berpengaruh terhadap pekerjaanya. Berbeda dengan dirinya, usahanya dimana-mana sudah jalan sendiri dan ada yang mengurusi, tinggal menjaga kualitas, memantau dan mengembangkanya dengan baik.
Ardi merasa sedikit santai dan menganggap berita tentang dirinya tidak terlalu berat. Dia lupa dan tidak berfikir kalau di sisinya sekarang ada hati dan perempuan yang harus dijaga dan dipupuk kepercayaanya. Ardi yang sudah lama menjomblo lupa kalau perasaan perempuan sangatlah sensitif dan mudah rapuh.
Ardi dan Dino pergi meninggalkan hotel wiralila setelah makan siang. Ardi dan Dino langsung menuju ke kantor. Ardi ingin segera mengambil handphone barunya untuk diberikan ke Alya. Ardi juga ada janji dengan beberapa klien.
****
Rumah Sakit.
"Anya" panggil Alya melihat jam jaga pagi akan segera berakhir.
"Iya Al, kenapa?"
__ADS_1
"Aku udah enakan. Cabut infusnya ya, aku mau pulang dulu ambil pakaianku. Malam ini aku mulai tidur di kosanmu boleh kaan?"
"Boleh banget Al, cuma Lo nggak usah bawel. Habisin dulu infusya tanggung tau. Biar kamu pulih beneran!"
"Lama, nanti supir tante ku kasian nunggu"
"Oh iya ya? Kamu dijemput sopir yak? Ya gue cabut"
Anya pun mencabut infus di tubuh Alya. Alya bersiap-siap pulang. Alya tidak ingin Arlan mencarinya jika dia kabur langsung. Dan benar saja Arlan sudah menunggu di tempat biasa. Alya masuk ke mobil seperti hari-hari berikutnya. Hanya saja siang ini Alya diam dan murung.
Alya melihat jalanan dengan tatapan nanar. Sesekali Alya mengelus perutnya. Tanpa sadar Alya meneteskan air mata. Alya merasa suaminya sangat jahat. Ardi mengatakan butuh waktu 1 bulan untuk mempublikasikan statusnya ke Farid, ke teman-teman dan orang terdekatnya.
Ini sudah satu bulan lebih. Padahal Alya sudah selalu mengikuti apa yang diinginkan Ardi. Termasuk menyerahkan tubuhnya, bersedia melayaninya setiap malam. Menjadi istri yang baik dan patuh. Alya juga memberikan hati dan cintanya. Bukanya segera memberitahu ke teman-temanya, Alya justru disuguhkan dengan berita miring yang menjijikan.
"Aku harus pastikan, apa aku hamil beneran atau tidak?" gumam Alya merasa keadaan tubuhnya berbeda dari sebelumnya.
"Non Berlian baik-baik saja kan Non?" tanya Pak Arlan melihat Alya meneteskan air mata. Ketahuan Arlan, Berlian segera menghapus air matanya.
"Gimana Pak?" tanya Alya terbata menyembunyikan sedihnya
"Non Berlian baik-baik saja?" tanya Pak Arlan sekali lagi
"Baik Pak. Alhamdulillah baik banget. Oh iya, di depan apotek berhenti ya Pak" ucap Alya ingin berhenti membeli testpack.
"Ya Non. Non Berlian kangen suami ya Non?" tanya Pak Arlan menebak.
"Ah Bapak, nggak kok Pak" jawab Alya berbohong.
"Iya Pak" jawab alya lemah.
"Insya Alloh Den Ardi pergi buat urusan yang penting Non, ini juga perginya bareng Pak Dino" lanjut Pak Arlan lagi.
"Aamiin, semoga ya Pak" jawab Alya lagi tambah ingin menangis. Lalu Alya membuang mukanya melihat ke jalan "Urusan penting apa? Jika bermalam di hotel bareng pasangan gila. Peduli istrinya saja tidak" gumam Alya menahan air matanya.
Pak Arlan menghentikan mobilnya setelah sampai di depan apotek. Alya turun untuk membeli beberapa pendeteksi kehamilan dengan berbeda merek. Alya juga membeli vitamin, kalau-kalau dugaanya benar.
"Sudah Non?" tanya Pak Arlan setelah Alya kembali ke mobil.
"Ya Pak, jalan"
Tidak berapa lama Alya dan Pak Arlan sampai ke Aerim.
"Pak. Bapak bisa langsung pulang saja" tutur Alya ke Arlan.
"Jam kerja saya masih sampai nanti Tuan Ardi pulang Non"
"Nggak apa-apa Pak, pulang duluan nggak apa-apa!"
"Nggak Non, saya sudah janji sama Den Ardi!"
"Saya mau tiduran aja kok sambil nunggu Mas Ardi, bapak pulang aja, kan bisa bermain sama dhedhek kecil" tutur Alya lagi. Alya tau kalau Arlan masih mengawasinya Alya tidak bisa kabur ke kos Anya.
__ADS_1
"Baiklah Non. Ini kunci mobilnya" jawab Arlan memberikan kunci.
"Salam buat anak istri ya Pak, terima kasih" jawab Alya ramah membiarkan supirnya pergi.
"Ya Non!" balas Arlan menunduk.
Alya segera masuk ke apartemen Aerim. Di dalam Mia dan Ida tampak sedang menonton televisi.
"Alhamdulillah Non Alya sudah pulang" ujar Ida sedikit kaget mendengar salam Alya.
Sementara Mia segera mematikan televisi. Alya sempat melihat kedua asisten rumah tangganya baru saja melihat acara gosip. Alya menatap kedua pembantu rasa temanya itu penuh telisik. Sementara Ida dan Mia tampak gelagapan.
"Kenapa dimatikan?" tanya Alya ke Mia.
"Nggak apa-apa Non, udah bosan liatnya" jawab Mia ngasal.
"Oh" jawab Alya singkat Alya tau art nya berbohong. "Kirain karena nggak sanggup denger isi beritanya" sambung Alya menyindir.
"Non?" tanya Mia dan Ida bersamaan.
"Non Alya udah liat?" tanya Mia spontan.
Alya mengangguk menahan rasa ingin menangis. Lalu Ida dan Mia menghampiri Alya dan memeluknya.
"Percaya Mia Non, itu beritanya bohong. Den Ardi tidak seperti itu" ucap Mia meyakinkan
"Iya Non, meskipun Den Ardi sedikit pemaksa dan kasar tapi dia laki-laki yang baik, taat juga" sambung Ida menguatkan Alya.
Alya hanya mengangguk. "Aamiin, semoga ya?" ucap Alya sambil terisak, tanggul pertahanan air matanya jebol juga. Tidak tahu kenapa Alya rasanya sensitif sekali sedikit-sedikit menangis.
"Non Alya jangan nangis lagi, Non harus percaya sama suami Non, itu kan fotonya tidak jelas begitu. Nggak ada bukti pastinya hanya terlihat jalan memapah. Bisa saja orang sirik yang membuatnya" timpal Mia menghibur Alya.
"Saya mau istirahat, saya masuk dulu ya" pamit Alya memotong pembicaraan Mia.
"Makan dulu Non" Ida menawarkan makan ke Alya karena tau Alya pasti lelah. "Ida masak sayur asem, seger lho Non"
"Iya Mba Ida, makasih, nanti saya makan" jawab Alya langsung masuk ke kamar.
Masih dengan menahan tangis Alya bergegas ke kamar mandi. Alya tidak sabar menunggu pagi, Alya segera menampung air kotornya dan membuka pendeteksi kehamilan. Beberapa detik kemudian hasilnya muncul.
Air mata Alya kembali menetes melihat dua garis merah terpampang nyata.
"Dicek siang hari aja positif apalagi pagi" gumam Alya dalam hati lalu mengelus perutnya. Alya dipastikan memang benar sedang hamil.
Alya menarik nafasnya pelan, menahan sesak. Alya membersihkan sisa air seninya. Kemudian duduk di kasur. Alya mengelus perutnya lagi sambil meneteskan air mata.
"Maafin ibu Nak, seharusnya berita kedatanganmu menjadi kejutan buat ibu, buat Eyang utimu, Oma Opa mu, dan Ayahmu, tapi ibu harus sembunyikan kamu dulu, ibu bukan tidak menunggumu, maafin ibu Nak"
Alya duduk meneteskan air matanya merasa sangat bingung. Alya bingung memikirkan nasib magangnya, cepat atau lambat anaknya akan membesar dan perutnya juga.
Bagaimana Alya akan menjelaskan ke teman-temanya. Alya sudah berniat jujur ke Anya, tapi berita tentang suaminya membuat Alya berfikir dua kali untuk jujur. Orang lain pada umumnya menikah dengan bahagia, mengundang teman-temanya. Tidak seperti Alya.
__ADS_1
Alya bangun dan segera mengemasi bajunya. Alya tidak sanggup menghadapi suaminya. Membayangkan suaminya bersama Si Riko membuat Alya jijik dan sangat menyakitkan. Alya berniat menginap di kos kosan Anya sementara waktu.