
Operan jaga siang diakhiri, buku catatan tugas jaga pagi ditutup. Alya segera berganti pakaian, menenteng tas punggungnya segera pulang.
"TF?"
Meski Alya bersikap yakin aman dan biasa saja di depan Linda, sebagai manusia biasa Alya merasa was was. Siapa tf?
Alya berjalan ke parkiran mengelus perutnya.
"Ya Alloh lindungi bayiku" ucap Alya dalam hati.
Dimasukanya kunci motor Mang Adi ke tempatnya, dan dinyalakan mesin. Alya melajukan motor Mang Adi pulang.
Sepanjang jalan Alya berkomat kamit membaca sholawat dan doa. Alya juga selalu melihat spion dan memilih jalanan yang ramai.
Takut-takut ada yang mematainya. Tapi sepertinya penampilan Alya yang berbeda menyelamatkanya kali ini.
Alhamduliah semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang membuntuti atau hendak menyelakai.
Akhirnya Alya berlenggang dengan nyaman, bahkan menambah kecepatan agar segera sampai rumah. Di mobil honda crv tadi pagi jiga tidak ada.
Tapi sepertinya nasib sial menimpa Alya dan Mang Adi. Alya telat pulang menyembunyikan rahasianya.
Saat Alya sampai di depan gerbong, bertepatan dengan Ardi tiba, bahkan rombongan mertuanya tiba lebih dulu sudah ada di rumah.
"Duh! Gawat! Mas Ardi pasti ngomel sepanjang malam" batin Alya dalam hati.
Dan benar saja, saat Alya masuk ke halaman rumah semua mata tertuju padanya. Terutama Ardi.
Ardi keluar dari mobil, langsung berkacak pinggang. Sebuah kemajuan sebenarnya, karena dia sudah meninggalkan tongkat kruknya. Tapi sayangnya wajahnya tambah seram.
"Alyaaa...Ini kamu?" tanya Bu Rita mendekati menantunya.
"He.. iya Mah"jawab Alya nyengir melepas helem.
Di belakang Bu Rita Ardi sudah berdiri memasang wajah garangnya.
"Ehm!" Alya berdehem menelan salivanya.
Lalu dia melirik ke ruang tamu, Dinda dan Bu Mirna tampak duduk melihat ke arahnya juga.
"Mamah, Mas Ardi dan yang lain udah lama sampainya?" tanya Alya bosa-basi mengalihkan tatapan kaget mertuanya. Lalu mencium tangan Bu Rita.
"Udah" jawab Mama Rita masih syok melihat motor Mang Adi dipakai Alya.
Sementara Ardi masih berdiri dengan lirikan tajamnya.
"Hee...hai Mas" Alya nyengir tau Ardi sedang kesal. Lalu Alya mengulurkan tangan meminta salaman ke suaminya.
"Masuk ke kamar dan jelaskan ini ke Mas" bisik Ardi dingin.
"Kalau minta waktu, sebentaaarr aja, buat ngobrol sama Dinda, boleh?" tanya Alya berbisik, bernegosiasi ke suaminya.
Ardi diam tidak melarang tapi tidak mengiyakan, Dia hanya berlenggang masuk meninggalkan Alya dan Bu Rita.
Tapi diamnya Ardi, Alya artikan boleh. Sebab kalau tidak boleh pasti Ardi langsung ngomel.
"Kamu kok bisa pakai motor ini sayang?" tanya Bu Rita saat Ardi sudah pergi.
"He.. Mba Fitri pergi Mah, Alya telat" jawab Alya jujur.
"Yang pengawal kamu itu? Pegawai baru yang rambutnya diikat terus itu?" tanya Bu Rita.
"Iya Mah" jawab Alya mengangguk.
"Ada kok, tadi Mamah lihat" jawab Bu Rita merasa melihat Fitri.
"Masa Mah?" tanya Alya.
"Iya bener"
"Oh berarti mungkin dia udah balik, tapi kok nggak bilang Alya ya, soalnya tadi pagi katanya dia ambil cuti"
"Kalau kerja nggak bener tegur aja!"
"Iya Mah, nanti Alya tanyain"
__ADS_1
"Tapi kan harusnya nggak ada dia pun kamu nggak perlu naik motor begini. Mobil kan ada Sayang, satpam juga bisa nyetir, kamu ini"
"He.. maaf Mah, abis Alya buru-buru, nggak mikir banyak" jawab Alya lagi.
"Ngeri Mamah liatnya, kamu lagi hamil juga. Kalau gitu kamu harus bisa nyetir sendiri!" tutur Bu Rita memberi solusi.
"Iya Mah, kalau Mas Ardi ijinin Alya akan belajar nyetir"
"Jangan bilang-bilang dia. Dia posesif kaya papanya, pasti nggak boleh! Besok kalau dia lembur Mamah ajarin!" bisik Bu Rita.
"Beneran Mah?" tanya Alya kegirangan.
"Huum, ini rahasia kita" ucap Bu Rita sambil menggerakan tangan memberi kode hanya mereka yang tau.
"Oke Mah! Siap!" jawab Alya mengerlingkan matanya tersenyum.
"Yuk masuk!" ajak Bu Rita.
Kemudian mereka masuk, Bu Rita langsung ke kamar. Sementara Alya menhampiri ibu dan temanya. Bu Mirna dan Dinda tampak baru selesai sholat ashar dan istirahat di ruang tamu.
Alya langsung mengulurkan tanganya bersalaman dan mencium tangan ibunya.
"Gimana acaranya Bu? Din?" tanya Alya.
"Lancar, ibu terharu sama cah bagus itu" jawab Bu Mirna
"Aku irii, hiks hiks, Kak Farid sweet banget, lo harus liat videonya" ucap Dinda curhat.
Lalu Bu Mirna dan Alya menatap kasian ke Dinda.
"Sabar yo Nduk. Nanti kalau udah waktunya, akan datang jodoh terbaik buat kamu, berdoa, dan jangan lupa memantaskan diri jadi istri terbaik" tutur Bu Mirna menasehati.
"Iya Bu siap" jawab Dinda tersenyum
"Ibu kakinya pegel tak slonjor yaa!" pamit Bu Mirna ingin duduk di karpet di ruangan sebelah tempat mereka duduk.
"Jangan lama-lama duduk di lantai lho Bu, nanti masuk angin" tegur Alya ke Bu Mirna
"Di karpet kok Nduk, buat lurusin kaki sebentar" jawab Bu Mirna merasa dirinya tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Maaf" jawab Alya dengan wajah sendu.
"Kok maaf, lo lupa minta?" tanya Dinda.
"Bukan"
"Terus?"
"Mas Ardi nggak kasih"
"Kok gitu?"
"Hehe. Sory yaa. Sory banget, aku mau tanya serius sama kamu. Kamu beneran suka sama Dika?" tanya Alya intens.
"Iya, berapa kali gue bilang, iya gue suka sama Dika"
"Tapi Din, dia masih kuliah, dia 4 tahun lebih mudan dari kamu, eh 5 tahun malah".
"Ya emang kenapa?"
"Mas Ardi nggak ngebolehin"
"Apa hubunganya sama suami Lo? Dika kasih respon positif ke gue kok" jawab Dinda semangat karena Dika sangat baik ke Dinda selama di Jogja.
"Bukah gitu maksudnya, Mas Ardi nggak enak sama orang tuanya" tutur Alya ragu-ragu takut menyakiti hati Dinda.
"Jahat banget sih suami lo. Emang kenapa dengan orang tuanya. Apa gue calon menantu yang buruk?" tanya Dinda tersinggung.
"Bukan, bukan gitu"
"Terus apa?"
"Ya Dika kan masih kuliah Sayang, kamu udah waktunya nikah, Mas Ardi kasian ke kamu, terus Mas Ardi juga nggak mau kalau kuliah Dika keganggu" jawab Alya hati-hati takut Dinda salah paham.
Kali ini Dinda benar-benar tersinggung. Dinda diam memikirkan kata-kata Alya.
__ADS_1
"Diin. Maaf" ucap Alya takut menyakiti melihat ekspresi Dinda.
"Jadi maksud suami lo. Kalu gue kenal sama Dika, gue jadi penganggu gitu?" tanya Dinda dengan mata berkaca-kaca.
Alya jadi merasa bersalah melihat Dinda. Lalu reflek Alya memeluk sahabatnya.
"Maaf, maksud Mas Ardi bukan gitu" bisik Alya dibalik punggung Dinda. Lalu Dinda melepaskan pelukanya
"Lalu apa? Apa salahnya sih gue suka sama Dika? Gue perempuan mandiri, gue juga kerja, kalau emang dia mau kuliah gue bisa nunggu, gue cuma pengen deket dia kenal dia, hiks hiks" tanya Dinda akhirnya benar-benar menangis.
Dinda sangat sedih. Di saat teman-temanya sudah berjodoh Dinda jomblo sendirian. Ketika ada yang sreg kenapa harus dilarang.
"Oke, oke. Nanti kalau suamiku tidur aku curi deh nomernya" jawab Alya memenangkan Dinda.
"Lo janji-janji terus!" ucap Dinda kesal.
"Kali ini aku usahain kok!" jawab Alya.
Ternyata meski di ruangan lain Bu Mirna mendengar percakapan Dinda dan Alya. Dan kini Bu Mirna berdiri di belakang mereka.
"Dika meskipun muda, dia pemuda mapan kok Al, dia peternak sukses" celetuk Bu Mirna tiba-tiba ikut nimbrung.
Dinda langsung mengelap matanya malu. Lalu mereka berdua terdiam dan mendengarkan penuturan Bu Mirna.
"Nggak ada salahnya berkenalan, jodoh kan Tuhan yang ngatur" sambung Bu Mirna lagi.
"Iya Bu" jawab Dinda dan Alya berbarengan.
Dinda sangat bahagia berasa ada yang bela.
"Kalau Si Sontoloyo itu nggak kasih nomer hape. Biar Ibu yang mintain ke ibunya" tutur Bu Mirna lagi hendak mengabulkan keinginan Dinda.
Dinda dan Alya kembali terkaget.
"Minta ke Ibunya?" tanya Alya.
"Ibu Nak Dika itu temen Ibu, Nak Dika sendiri langganan beli sayur dan gudheg Ibu. Mereka dari keluarga yang shaleh lhoo. Saran Ibu, Nak Dinda mulai belajar menutup aurat kalau mau diterima di keluarga Dika" tutur Bu Mirna lagi menasehati.
Dengan antusias Dinda mendengarkan dan mematuhi.
"Iya Bu, Dinda memang ingin belajar mengaji. Itu kenapa Dinda tertarik sama Dika, karena meski masih muda. Dika terlihat matang dan sangat sopan" jawab Dinda lagi.
"Ya sudah nggak usah nangis, nanti Ibu bantu" jawab Bu Mirna tenang.
"Makasih Bu" jawab Dinda terharu.
"Ya." jawab Bu Mirna tersenyum.
"Al. Ajarin gue ya" tutur Dinda ke Alya meminta diajari tentang agama dan berjilbab.
"Belajar bareng ya. Aku juga masih belajar kok" jawab Alya tersenyum
Tiba-tiba ponsel Dinda berdering, ternyata telpon dari ayahnya sudah sampai di depan rumah Ardi.
"Bokap gue udah di depan, gue pamit ya Al"
"Papamu nggak disuruh masuk dulu. Istirahat dulu" jawab Alya.
"Lain kali yah pamitin sama mertua lo ya, Bu Mirna Dinda pulang dulu, assalamu'alaikum" pamit Dinda.
"Waalaikumsalam hati-hati" jawab Alya dan Bu Mirna.
"Ya udah, mandi istirahat Bu" ucap Alya ke Bu Mirna.
"Ya"
Bu Mirna bergegas ke kamar, Alya ke dapur dulu. Membuat minuman dan mengambil camilan, sebagai bahan sogokan agar suaminya tidak marah nanti.
"Ambil rekaman cctvnya. Pastikan dan temukan perempuan itu. Aku tidak mau calon cucuku kenapa-napa, jangan beri ampun!"
Saat Alya hendak ke kamar, Alya mendengar mertuanya sedang menelpon seseorang.
"Papah keren banget, di balik diamnya Papah, ternyata Papah sudah bergerak jauh" batin Alya berjalan hati-hati.
"Ya Alloh lindungi kami, lindungi bayiku, semoga Mas Ardi kelak jadi seperti Papah"
__ADS_1