
Kesepian dan kesendirian adalah sesuatu yang berbeda. Kesepian adalah rasa, dimana seseorang bisa merasa sendiri meski dia dikelilingi banyak orang. Sedangkan saat seseorang sendiri belum tentu hatinya sepi.
Kesepian terjadi ketika, seseorang merasa tidak ada keterhubungan hati dan pikiran dengan lingkungan sekitar, sebanyak dan seramai apapun. Kesepian situasi yang sangat mengerikan dan menyedihkan untuk dibayangkan.
Itu semua cukup menjelaskan suasana hati seaeorang. Seseorang yang selama ini selalu memberikan senyum gagah dan pandai membawa gelak tawa suasana riang. Kini dia seperti orang linglung, berjalan tanpa tujuan. Siapa lagi kalau bukan Gery.
Gelak tawa para perawat ruang IBS, ataupun lalu lalang pasien dan keluarganya tidak cukup menghangatkan hatinya. Rasanya tetap hampa, gelap dan tidak berarah.
"Mereka mudah sekali dekat dan akrab lagi"
Gery menutup ponselnya. Setelah melihat story whastap Farid, sesuatu yang sangat langka dan baru saja terjadi. Seorang Farid memasang story di media sosialnya. Seakan semua itu mematahkan kesan alim dan pendiamya Farid.
Dan terlebih lagi foto Farid menampakan dirinya dengan pakaian casualnya. Kaos ketat mempertegas dada bidangnya, menunjukan sisi lain Farid. Selama ini Farid hampir selalu berbaju sopan dan terlihat tua. Kali ini terlihat lebih fresh dan lebih muda. Apalagi Farid berpose bersama Dika, Dinda dan Anya.
Gery mengenal teman-teman di foto Farid. Sudah dipastikan mereka juga bersama Alya dan Ardi. Tapi kenapa Gery tidak tahu menahu.
Meski Gery sudah tua, dan kenyataan yang terjadi tidak seperti perasaanya. Tetap saja di hati kecilnya, sebagai manusia biasa Gery merasa tersisih dan terkucilkan dari kedua sahabatnya.
Apalagi lingkaran pertemanan Gery di luar pekerjaan ya hanya Ardi dan Farid. Padahal di posisi sekarang, Gery orang sedang patah hati bertubi-tubi. Seharusnya Gery yang butuh liburan dan refresing. Tapi kenapa sahabatnya bersenang-senang tanpa mengajaknya.
"Bang, kalau ada operasi cito whatsap ya. Kalau nggak sama Citra dulu" tutur Gery malas. Gery menyampaikan pesan ke kepala ruang instalasi bedah, kalau dirinya hendak meninggalkan rumah sakit.
Kemudian Gery mengambil kunci mobilnya. Melepas baju scrubnya berganti dengan pakaian casual. Siang ini Gery berniat pergi ke bar. Mencari kesenangan versi dirinya sendiri.
Sesampainya di bar. Gery memesan sebotol minuman beralkohol kelas atas. Sesuatu yang tidak terpuji untuk dilakukan seorang yang berprofesi sebagai dokter. Ya tapi itulah Gery. Kesepianya dan kebodohanya membuat dia salah dalam bertindak.
Gery memilih tempat di pojokan. Tempat yang sepi sehingga tidak terusik pengunjung lain. Gery menyalakan rokoknya, kemudian menuangkan alkohol ke dalam gelas. Belum sempat Gery meneguknya, Gery melihat dua orang bangun dari duduknya.
Gery mengenali satu dari dua orang itu. Gery meletakan kembali alkoholnya. Memperhatikan kemana dua orang itu pergi.
Kemudian Gery membayar tagihan minuman yang belum sempat dia minum. Dan Gery berniat membuntuti pria itu.
Siapa perempuan di samping laki-laki itu. Gery mengepalkan tanganya dan menghafal plar nomer mobil yang dikendarai dua manusia itu.
****
Butik
"Eh Mba Intan" sapa Dea pelayan butik yang sedang bersiap membuka butik Ardi.
"Hai" sapa Intan ramah.
Karyawan Ardi sedikit bingung dan merasa canggung. Tempo hari Intan pergi meninggalkan butik dengan wajah marah, pagi itu datang lagi dengan ekspresi berbeda. Apa yang akan karyawan butik lakukan.
"Mba Intan jadi mau gabung lagi?" tanya pelayan pelan.
"Ah iya jadi dong. Hehe. Apa Dara sudah datang?" tanya Intan ramah ke pelayan.
"Belum Mba, Mba Dara sepertinya hari ini ada ketemu klien"
"Klien?" tanya Intan sedikit heran.
Kemudian Intan tersenyum smirk dan membatin. Berani juga junior Intan sudah punya klien. Bahkan klienya memperlakukan Dara lebih dari pelanggan Intan dulu.
"Iyah, beberapa pelanggan lebih suka mengajak Mba Dara keluar. Kadang mereka ngajak Mba Dara makan dan menyampaikan gaun keinginan mereka. Tentunya Mba Dara juga udah bawa rancangan juga"
"Oh gitu?"
"Iya Mba"
"Maaf ya kemarin gue pergi gitu aja. Gue syok aja tempat gue yang dulu udah beda"
__ADS_1
"Iya Mba. Kami mohon maaf. Kita nggak tau kalau Mba mau kerja lagi. Kalau Mba Intan tidak berkenan satu ruangan dengan Mba Dara biar nanti saya sampaikan"
"Ah nggak perlu. Nggak apa-apa kok. Tapi emang ada ruangan lain?"
"Ada Mba. Tuan Ardi sudah buat lantai dua, sementara masih dijadikan gudang. Tapi nanti bisa dialih fungsikan"
"Oh gitu? Kalau gitu gue mau dong dibuatkan ruangan di atas"
"Ya Mba, nanti sampaikan ke pengurus yayasan"
"Oke. Gue masuk ya!"
"Ya Mba, selamat bekerja kembali"
"Oke"
Demi melancarkan niat jahatnya, tanpa memperdulikan rasa malu. Intan kembali bekerja, menuangkan idenya. Menciptakan karya-karya indah. Tapi sayang hati Intan tak seindah karyanya.
Intan ingin kembali merebut galery instannya. Bekerja di yayasan Gunawijaya juga bisa langsung mempunyai pasar tanpa susah payah mengenalkan. Karena kolega sosialita Bu Rita sudah tidak meragukan kualitas barang produk butik Guna wijaya. Bahan, model, detail ketelitian jahitan dan keindahan produk dari brand Gunawijaya sangat memuaskan.
Teman-teman sosialita Bu Rita rela membayar mahal setiap kebaya atau gaun yang Bu Rita tawarkan. Tidak peduli siapa nama desainernya. Tapi jika ada brand "GW", teman-teman Bu Rita antusias.
Salah satu yang mendukung semua itu juga karena campur tangan Bu Rita. Bu Rita sendiri yang belanja bahan-bahan terbaik untuk setiap produknya. Bahkan sering kali Bu Rita belanja di luar negeri saat menemani suaminya bekerja.
Tidak jarang juga Bu Rita memasarkan hasil karya anak butik Gunawijaya ke istri kolega Tuan Aryo dari luar negeri. Dan semuanya merasa tertarik dan menyukainya. Baik desain muslim atau terbuka
Semua itu menjadi sesuatu yang sangat menggiurkan dan sangat Intan impikan untuk bisa jadi miliknya. Seakan surga ada di depan matanya.
Dulu memang Ardi dan Bu Rita pernah menjanjikanya. Tapi itu semua dulu saat Intan masih menjadi tunangan Ardi.
Dan sekarang Bu Rita menyerahkan butik ke pengurus yayasan dengan Dara sebagai penanggung jawab. Jika Alya berkenan dan berminat tentu saja Alya yang akan memilikinya. Tapi bisa ditebak Alya pasti akan memasrahkan ke yayasan dan Dara saja.
Setelah dipastikan butik bersih dan rapih. Butik siap beroperasi menerima tamu-tamu nya.
Beberapa pelanggan datang silih berganti. Tidak terlalu ramai, tapi yang datang bukan kaleng-kaleng. Melainkan istri pengusaha yang sekali membeli langsung 3 atau lebih gaun.
"Kak Deaa" panggil perempuan manis berjilbab dari luar, dengan histeris.
"Dara udah selesai meetingnya?" tanya Dea sedikit pelan menyadari ada Intan di dalam.
"Udah. Bu Rita telpon aku. Ada berita bahagia" tutur Dara kegirangan.
"Apa?" tanya Ela satu pelayan lain.
"Bu Rita mau adain resepsi untuk putranya. Kita dikasih PR untuk merancang gaun menantunya" terang Dara.
"Resepsi? Kapan? Berarti kita perlu ketemu dong sama menantu Bu Rita?" tanya Dea.
"Lebih tepatnya tanggal berapa? Bu Rita belum kasih tau. Tapi sekitar satu bulanan lagi. Katanya sekalian tasyakuran 4 bulanan menantunya itu"
"Oh menantunya udah hamil?"
"Iyah. Minggu depan kita diundang ke rumahnyaa" jawab Dara dengan wajah sumringah dan mata berbinar.
Dea dan Ela juga sangat bahagia mendengarnya. Diundang ke Istana Tuan Aryo adalah kesempatan langka. Tapi kemudian Dea memberi kode untuk memelankan tawanya.
"Di dalam ada Mba Intan" tutur Dea berbisik.
"Ups" Dara menutup mulutnya. "Mba Intan yang kemarin? Yang kata Mba Dea mantan Den Ardi?" tanya Dara berbisik
"Iya. Dia jadi bekerja di sini"
__ADS_1
"Berarti dia bantuin kita buatin gaun istri Den Ardi dong?"
"Huum"
"Heeee" Dara nyengir kemudian mereka terdiam Ela melirik ke belakang ternyata Intan keluar dari dalam dan mendengar semuanya.
Awalnya Intan merasa sangat marah dan terhina. Tapi kemudian Intan tersenyum sendiri dan berniat keluar. Entah apa yang Intan pikirkan.
Intinya Intan kekuar menyembunyikan perasaanya. Intan menawarkan diri dengan senyum lebar untuk membantu menggarap gaun resepsi Alya.
****
Panti Gunawijaya.
Tidak ingin dikeluarkan dari yayasan, Singa juga kembali bekerja. Sebenarnya Sinta bukan butuh kerjaan dari panti. Karena dengan bakatnya dan pengalamanya sebagai koki, sebenarnya Sinta bisa bekerja di hotel terkenal, restoran besar lain ataupun membuka restoran sendiri.
Tapi obsesinya terhadap Farid yang mematahkan semua urat malunya. Bahkan sebenarnya Sinta sudah ditegur orang tuanya. Sinta boleh tetap di yayasan Gunawijaya, tapi sebagai sampingan saja.
Tapi karena keseringan bergaul bersama Intan, membuat jiwa Sinta hampir menyerupai Intan. Sinta tidak ingin hanya bekerja. Sinta ingin lebih dari uang. Sinta ingin cinta Farid, diakui dan dihormati.
Apalagi yayasan Gunawijaya sering diliput televisi dan didatangi pejabat. Prestasi Yayasan Gunawijaya sering dijadikan inspirasi. Yayasan sosial yang juga memberikan dampak ekonomi positif. Memberdayakan masyarakat sekitar dan orang-orang putus harapan.
Sinta memarkirkan mobilnya di depan asrama. Seperti biasa Sinta menuju ke galerynya. Menyiapkan kelas memasak untuk anak-anak yayasan.
Setelah kelas selesai sekitar jam satu siang. Sinta berniat menemui Farid di ruanganya. Sinta tau jadwal ngajar Farid di kampus pagi, biasanya jam segini Farid sudah di panti.
"Waah beda banget ya Pak Farid, jadi lebih ganteng dan muda"
"Iya, jangan-jangan perempuan ini calonya"
"Mungkin, cocok sih, anggun"
"Us Alya juga keliatan serasi banget ya sama Den Ardi"
"Iya. Sama- sama manis. Ada mirip- miripnya gitu"
"Namanya juga jodoh"
"Nggak nyangka ya. Ternyata selama ini Us Alya menantu Bu Rita. Sama sekali tidak bisa ditebak"
"Kalau saya sih udah ngira, dari awal kan Bu Rita bilang Us Alya anaknya. Anak menantu, hehehe"
"Eh kalau di perhatiin perempuan di samping Pak Farid juga cantik, mirip artis, siapa ya?"
"Kaya naysila"
"Masa sih?"
" Bentuk mukanya iya, tapi hidungnya beda. Sepertinya mereka berteman dengan Us Alya, mereka terlihat akrab"
"Mungkin. Tapi wajar mereka akrab. Den Ardi dan Pak Farid kan juga sahabatan"
Langkah Sinta terhenti saat melewati pengurus panti bergosip. Nafasnya memburu, dirinya tergagap. Sinta mencengkeram tas di tanganya.
"Apa-apaan ini?" batin Sinta menelan ludah.
Meski berada di lain tempat, sama seperti Gery. Pengurus panti serasa mendapatkan kejutan durian runtuh. Pengurus panti heboh, tumben-tumbenya Pak Farid upload kehidupan pribadinya di media sosial.
Padahal Farid tidak memberikan caption apapun. Farid hanya membagikan moment makan bersama saat malam bakar-bakaran. Tapi itu semua sudah menggemparkan orang-orang di sekelilingnya.
Farid pada saat di kafe danau pergi mengantar Alya. Jadi Farid tidak mendengar pengumuman Ardi. Farid membagikan moment bahagianya ingin memberitahu tentang Alya dan Ardi. Farid juga hanya membagikan ke orang terdekatnya. Kontak yang menurut Farid tidak penting Farid privasi.
__ADS_1
"****, gue nggak akan terima ini. Alya, kenapa lo harus ada di dunia ini?" gumam Sinta dengan wajah memerah. Sinta mengurungkan niatnya setelah mendengar ternyata Farid sedang liburan.