Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
52. Rencana Mama Rita 2.


__ADS_3

****


Kantor Gunawijaya.


"Segera buat laporan hasil rapat tadi Din" perintah Ardi ke Dino.


"Siap Tuan"


"Bagaimana kelanjutan proyek di Palembang?" tanya Ardi merapihkan ponselnya setelah selesai menanda tangani beberapa berkas.


"Sejauh ini lancar Tuan, lusa saya berangkat kesana"


"Bagus, proyek dengan Tuan Wira bagaimana?" tanya Ardi lagi.


"Besok malam,Tuan Wira mengundang anda makan malam di hotelnya, Tuan?"


"Makan malam? Di hotel" tanya Ardi memperjelas. Ardi merasa sedikit janggal dengan rekan bisnisnya.


"Ya Tuan"


"Hemmmm, kenapa harus di hotelnya?"


"Saya kurang paham Tuan, tapi beberapa kali meeting, Tuan Wira sering didampingi putrinya, saya dengar putrinya baru lulus kuliah dan belum menikah" Dino asisten Ardi menjelaskan, memberi isyarat ke Ardi kalau ada niat terselubung dari rekan bisnisnya itu.


"Ehm," Ardi tampak berfikir sambil melonggarkan dasinya. Menebak rencana tersembunyi yang dilakukan Tuan Wira. Kalau Tuan Wira ingin mendekati Ardi yang dikenal sebagai jomblo.


"Ada yang mau ditanyakan lagi, Tuan?" tanya Dino kikuk karena Ardi mendadak diam.


"Jadwalku setelah ini apa?"


"Tuan Aryo mengcancel semua jadwal Tuan Ardi dan berpesan, Tuan Aryo menunggu Tuan di rumah"


"Papah mengcancel jadwalku?" tanya Ardi heran merasa terintimidasi.


"Iya Tuan" jawab Dino mengangguk.


"Ada apa ya? Berarti gue pulang sekarang nih?" tanya Ardi


"Iya Tuan" jawab Dino membenarkan kalau sekarang. Waktunya Ardi pulang.


"Oke" jawab Ardi tersenyum senang, karena di bayangan Ardi, dia pulang sebelum malam, bisa segera istirahat dan main-main.


Ardi bangkit meraih tasnya menuju ke parkiran, dan dia melajukan mobilnya ke rumah.


****


Kediaman Tuan Aryo.


"Selamat siang, Tuan" sapa pelayan menyambut Ardi pulang, meraih tas Ardi untuk dibawakan.


"Ehm" Ardi berlalu dengan tampang dinginya.


"Tuan Besar dan Nyonya sudah menunggu Tuan" pelayan memberi tahu Ardi, agar Aedi segera masuk ke ruang keluarga.

__ADS_1


"Menunggu?" tanya Ardi menghentikan langkahnya.


"Iya Tuan, beliau di ruang keluarga" jawab pelayan menjelaskan.


"Aneh, tidak biasanya papa mamah begini?" gumam Ardi lalu berjalan menuju ke ruang keluaraga.


"Sore, Pah, Mah" sapa Ardi ke kedua orang tuanya.


Sesaat pandangan Ardi menangkap aneh perempuan tua duduk bersama orang tuanya. Senyum Ardi hilang. Mata Ardi menelisik penampilan perempuan tua itu. Tatapan Ardi sedikit melecehkan perempuan itu.


"Bisa-bisanya perempuan tua berbaju dekil seperti Bu Siti, duduk di sofa mahal bersama Mamah, akrab lagi, siapa dia?" gumam Ardi dalam hati.


"Sapa Bu Mirna Ardi" perintah Bu Rita ke Ardi untuk bersalaman.


Ardi diam menatap sinis ke perempuan tua itu. Dia enggan menyapa apalagi bersalaman. Lalu Ardi naik ke kamarnya tanpa menghiraukan ibu dan tamunya.


"Badan Ardi lengket Mah, Ardi mau mandi" jawab Ardi ketus.


"Maafkan anakku ya Mir, mungkin dia lelah" ujar Bu Rita. Merasa tidak enak akan sikap Ardi.


Bu Mirna yang sedang menyeruput teh panas mengangguk senyum. "Tidak apa-apa".


Bu Mirna sebenarnya merasa tersinggung dan geram melihat putra sahabatnya, ketika Ardi berjalan, Bu Mirna sempat mengagumi ketampanan Ardi, tapi setelah melihat kelakuan dan mimik wajah Ardi. Bu Mirna mengeraskan rahangnya, bisa-bisanya anak Bu Rita dan Tuan Aryo yang sangat baik, ternyata begitu sombong.


Bu Rita dan Tuan Aryo juga geram terhadap Ardi. Terutama Bu Rita, rahangnya mengeras dan tanganya mengepal. Bu Rita segera menyusul Ardi ke kamar dan memberi pelajaran. Kali ini Bu Rita sudah tidak takut lagi terhadap anak yang dilahirkanya.


"Jeng... istirahatlah dulu dan nikmati camilanya, saya mau menemui anakku dulu ya" pamit Bu Rita ke tamunya.


"Ya, silahkan" jawab Bu Mirna.


****


"Masuk, Mah" jawab Ardi mempersilahkan ibunya masuk ke kamar.


Bu Rita bertambah geram, bukanya mandi, Ardi malah memakai boxer dan kaos dalam, asik menonton televisi.


"Pakai baju yang benar, dan beri salam ke tamu mamah" perintah Mama Rita sediki ketus mendekat ke Ardi.


"Dia siapa si Mah, calon pembantu baru?" tanya Ardi tanpa merasa bersalah.


"Plak" Bu Rita menampar Ardi karena sudah hilang kesabaran.


"Mamah, Mamah nampar Ardi?" tanya Ardi heran, sedikit emosi, karena dia merasa tidak bersalah.


Bu Rita tidak habis pikir terhadap kelakuan anaknya. Kemarin-kemarin melawan Bu Rita, sok sok menentang perjodohan. Padahal nyatanya di belakang gencar mendekati, dan sekarang berani-beraninya mengatai calon mertuanya calon pembantu.


"Kamu akan menyesal berkata begitu" ucap Bu Rita menahan geram terhadap putranya.


"Mah, Mamah kenapa sih? Ardi kan hanya tanya, Ardi nggak pernah melihat perempuan tua itu. Mamah juga nggak pernah cerita, wajarlah Ardi tanya" jawab Ardi membela diri.


"Ada hal yang harus kamu jelaskan dan pertanggungjawabkan ke Mamah, Papah dan Bu Mirna. Cepat mandi pakai pakaian yang benar, kita tunggu di bawah" perintah Bu Rita.


Bu Rita sudah tidak sabar ingin mencecar Ardi dengan banyak pertanyaan mengenai foto-fotonya.

__ADS_1


Ardi diam tidak menjawab ibunya, tapi dia menuruti ibunya ke kamar mandi. Ardi mandi dan bersiap- siap, lalu turun ke bawah.


Setelah Ardi masuk ke kamar Mandi. Bu Rita turun menemui tamu yang diundangnya lagi.


"Maaf kan sikap anakku ya Jeng" ucap Bu Rita lagi, merasa bersalah ke Bu Mirna.


"Aku mengerti, anak dari golongan sepertimu sepertinya rata-rata memang begitu" jawab Bu Mirna sedikit menyindir sahabat di depanya.


"Iya, saya memang gagal mendidik anakku, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dulu" Bu Rita mengungkapkan kekesalanya.


"Ehm ehm" Tuan Aryo yang di sampingnya berdehem tidak terima anaknya dijelek-jelekan.


"Kenapa Pah, berdehem gitu? Anak kita itu memang kurang ajar dan tidak tahu diri, bahkan dia menelan ludahnya sendiri terhadap Mamah, ibu kandungnya sendiri" tutur Bu Rita menatap suaminya yang sedikit geram, karena suaminya menyembunyikan fakta tentang anaknya.


Mendengar pernyataan Bu Rita dan suaminya membahas anaknya. Bu Mirna menjadi tidak nyaman.


"Maaf Mas Aryo, Jeng Rita, saya itu bingung Jeng dengan apa yanh kalian bicarakan? Terus sebenarnya ada apa kok saya dijemput kesini? Apa terjadi sesuatu dengan putriku?" tanya Bu Mirna bingung.


"Saya mau minta maaf jeng sama kamu, atas kelakuan anakku, dan saya juga ingin menebus itu, tapi nanti ya, biar jelas kita tunggu Alya datang" tutur Bu Rita sambil melirik suaminya


"Duh saya jadi tidak enak, ada apa sebenarnya?" tanya Bu Mirna. Lalu Bu Rita melirik ke suaminya dan berbisik.


"Pah, siapin video rekamannya Pah" Bu Rita meminta ke Tuan Aryo.


Tuan Aryo menuju ke ruang kerja mengambil laptop dan amplop coklat yang diantarkan anak buahnya tadi pagi.


Dalam waktu bersamaan, Ardi turun memakai kaos casual dan celana. Ardi tampak segar karena sehabis mandi.


"Anak Jeng Rita benar-benar gagah. Tapi kenapa sepertinya wataknya sangat sembrono, nggak ada tata krama, boro-boro, senyum, apa kesalahan yang dimaksud Jeng Rita, kenapa perasaanku tidak enak" batin Bu Mirna melihat kedatangan Ardi.


"Duduk Nak, beri salam ke Bu Mirna" perintah Bu Rita ke Ardi untuk yang kedua kali.


Mengingat tamparan ibunya sewaktu di kamar. Ardi mengangguk.


"Selamat sore, Bu?" sapa Ardi menganggukan kepala lalu duduk di samping Bu Rita. Pak Aryo dari arah lift datang ikut bergabung.


"Putramu sudah datang, apa yang hendak kamu sampaikan Jeng? Kenapa saya harus datang kesini?" tanya Bu Mirna untuk yang kesekekian kali.


"Sabar sebentar ya, saya malu mau mengatakanya, saya sudah mengingkari kepercayaanmu. Tapi saya juga tidak tahu. Tunggu sebentar ya" jawab Bu Rita dengan raut bersalah membuat Bu Mirna dan Ardi memandang bingung ke Bu Rita.


Tidah begitu lama terdengar langkah sepatu kat dari luar rumah. Dan orang mereka tunggu datang. Ardi kaget, bingung dan sedikit dheg-dhegan melihat siapa yang datang. Mata Bu Mirna berbinar dan berkaca-kaca. Sementara Bu Rita tersenyum bahagia dan Pak Aryo biasa saja, dingin dengan muka tanpa ekspresi.


"Ibu" sapa perempuan yang baru datang langsung memeluk Bu Mirna.


"Anakku?" panggil Bu Mirna memeluk Alya. "Kamu sehat, Nak?" tanya Bu Mirna.


"Sangat sehat Bu? Ibu kenapa nggak bilang- bilang mau ke Jakarta?" tanya Alya bingung.


Bu Mirna lalu memandang ke Bu Rita dan keluarganya tidak menjawab. Bu Mirna sendiri tidak tahu, tengah malam ditelpon sahabatnya kalau pagi-pagi harus terbang ke Jakarta katanya ada urusan penting.


Melihat ibunya diam dan menoleh ke Bu Rita. Alya ikut menatap ke Bu Rita dan keluarganya mencari jawaban. Alya pun merasa ada hawa yang aneh dengan kedatangan ibunya ke Jakarta


"Mas Ardi?" gumam Alya menelan saliva. Untuk pertama kalinya Alya bertemu dengan Ardi di hadapan Bu Rita dan Pak Aryo. Alya menunduk seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Lian? Jadi dia ibunya Lian?" gumam Ardi menatap Alya. Ardi lebih kaget dari Alya, perempuan tua yang dia lecehkan adalah ibu dari perempuan cantik yang dia suka. Ardi menelan salivanya dan mengusap tengkuknya.


"Jeng Rita, anakku sudah datang, dan dia dalam keadaan yang sangat baik. Apa yang hendak kamu sampaikan, sampai tengah malam kamu menelponku?" tanya Bu Mirna meminta penjelasan.


__ADS_2