Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
154. Hadiah


__ADS_3

Kata orang, hidup adalah lentera, dan sumbunya adalah cinta. Lentera yang menyala dengan banyak cahaya, lentera yang banyak cinta. Cinta yang alami tumbuh dari hati. Tercipta dari nada-nada dan keridhoan Illahi.


Cinta memang luar biasa. Dia tidak bisa dilihat, tidak bisa dijelaskan, tidak pernah diketahui kapan datang dan perginya. Cinta tidak bisa kita tebak kemana dia bertahta dan hidup di sana.


Cinta hanya bisa diketahui jika kita mendapatkanya. Mendapatkannya setelah Tuhan sang Maha Pemilik Cinta menghendakinya.


Dan ketika itu, tidak ada pula yang bisa menghancurkanya. Tidak bisa digantikan, tidak bisa ditukar atau direkayasa. Karena Sang pemegang cinta adalah Yang Maha Kuasa.


Dan pembuktian cinta tertinggi adalah perkawinan. Sebuah ikatan dan janji atas nama Tuhan. Membuat tali tak terlihat dan disaksikan semesta. Tidak akan bisa diganggu gugat.


Mungkin itu yang dirasakan Ardi saat ini. Dari pertemuan pertamanya. Berawal dari untaian do'a tulus ibunya, ia menautkan hatinya pada Alya. Tidak peduli siapa dia, darimana asalnya dan kenapa ada di sana. Ardi hanya ingin terus menemuinya.


Dan kini Ardi mengikatnya dalam perjanjian suci. Ardi bertekad menunaikan janjinya dalam setiap hentakan kaki dan langkahnya. Menjadi suami yang terpuji.


"Mas kita mau kemana sih?" tanya Alya kepada suaminya yang masih duduk di dekat kolam.


Ardi diam memperhatikan istrinya. Memang Alya kekanakan, cerewet dan sedikit bodoh. Tapi buat Ardi menemukan perempuan setulus, secantik dan sepolos Alya adalah keberuntungan.


Alya tidak pernah menuntut atau mengharap harta Ardi seperti perempuan lain. Alya juga hanya memberikan cintanya untuk Ardi. Menjaga dirinya hanya untuk Ardi.


Ardi tau caranya memiliki Alya dari awal salah sehingga dia harus sedikit bersabar membuat Alya mengerti. Menangani Alya membuatnya banyak belajar, belajar menahan emosi dan berfikir sudut pandang orang lain.


Ardi merasa kebahagiaan Alya adalah tanggung jawabnya. Kebaikan dan keburukanya juga tanggung jawabnya. Tanggung jawab membuat istrinya mengerti. Dengan Alya setia itu sudah menjadi hadiah dalam hidupnya, mengingat rasa perih karena dihianati.


Alya keluar memakai gamis balotelli warna coklat muda. Sehingga perutnya yang sedikit menegang tidak tampak. Dengan balutan jilbab pashmina berwarna peach Alya terlihat sangat manis. Apalagi Alya memakai pewarna bibir merah muda.


"Kan mas bilang nggak usah cantik-cantik dandanya, kenapa selalu cantik sih? Mau tebar pesona apa?" gerutu Ardi dingin, memuji dengan caranya.


"Heh?" Alya mendongakan kepala spontan dan terbengong pada suaminya.


"Perasaan biasa aja" jawab Alya cemberut.


"Lipstiknya ketebelan" jawab Ardi lagi melihat bibir Alya merekah merona.


Karena Alya memakai serum bibir kemudian dilapisi lipstik warna merah muda.


"Masak sih?" batin Alya mencoba melihat dirinya di kaca dengan polosnya.


Kemudian Ardi berdiri dan meraih dagunya.


"Sini Mas tipisin" ucap Ardi cepat beralasan lalu melakukan hobbynya yang entah berapa kali dia lakukan. Alya menelan ludahnya, diam dan mengikuti suaminya.


Setelah Alya gelagapan, Ardi melepasnya sambil tersenyum.


"Ayok berangkat!" ucap Ardi memberikan tanganya menyuruh Alya menggandengnya.


"Ishh" Alya hanya mendesis dan salah tingkah. Ardi selalu bisa membuatnya tersipu dan semakin cinta.


"Sebenarnya mau kemana sih?" tanya Alya lagi sambil berjalan keluar.


Ardi tetap diam tidak menjawab. Di depan rumah mereka Arlan sudah berdiri dengan seragam sopirnya dan membukakan mobil. Ardi dan Alya kemudian masuk.


Seperti biasa mereka duduk di belakang sopir. Dan jika sekali saja Arlan menoleh ke belakang fokusnya akan hilang. Arlan lebih baih fokus menyetir ke depan agar penderitaanya sebagai obat nyamuk tidak berasa.


"Mas kok nggak bawa apa-apa?" tanya Alya spontan mengira mereka akan ke pantai sungguhan.


"Lha emang harus bawa apa?" jawab Ardi enteng. Dia hanya memakai sendal jepit, memakai kaos oblong dan celana selutut tapi semua bermerek.


"Kita sebenarnya mau kemana sih?" tanya Alya untuk kesekian kalinya tapi tetap tidak dijawab.


Ardi malah melingkarkan tanganya ke Alya. Kemudian mengendus dikepala Alya. Mencium aroma kepala Alya seperti menjadi candu untuknya.


"Ish nyebelin. Ditanya nggak jawab" gerutu Alya kesal.


"Nanti kamu tau sendiri" jawab Ardi masih mengendus di kepala Alya.


"Hemmm" Alya berdehem melirik ke suaminya.


"Aduh" tiba-tiba Ardi melepas pelukanya dan memegang hidungnya.


Alya dan Arlan kaget dibuatnya.


"Kenapa Mas?" tanya Alya penasaran.


"Mas ketusuk jarum, kamu sengaja masang jarum biar kena mas?" omel Ardi tidak terima.


"Astaghfirulloh Mas, ya nggaklah kan biar jilbab Lian rapih. Mas aja duduk tinggal duduk juga, aneh-aneh" jawab Alya memarahi Ardi, ternyata Ardi terkena jarum.


"Lain kali nggak usah pakai kaya gitu"


"Yaya. Ini Lian lepas" jawab Alya melepas jarum dan membiarkan jilbabnya digantungkan dipundak.


"Berdarah ya?" tanya Alya mencoba mengecek hidung suaminya.


"Iya, kenapa suka banget sih bikin mas terluka?"


"Ya ampun. Lian nggak ada maksud begitu? Makanya jangan cium-cium kepala. Udah duduk yang bener. Kecil juga" jawab Alya lagi tidak mau dituduh.


"Ya!" jawab Ardi seperti anak kecil.


"Mas, Lian mau tanya"


"Apa?"


"Dokter Mira, sama Mba Intan itu temenan ya?"

__ADS_1


"Iya. Kita kan memang dulu dekat, seneng banget sih bahas Intan. Mira cerita apa aja?"


"Mba Intan beneran jahat ya Mas?"


"Bisa dibilang begitu. Mas cuma kasian sama dia"


"Kasian? Kasian apa masih cinta?"


"Astaghfirulloh. Kurang apalagi sih mas kasih tau ke kamu. Dia punya anak, usaha bapaknya kan bangkrut gara-gara mas"


"Kenapa Mba Intan nggak nikah sama bapak kandung anaknya itu dan malah ngejar mas. Dia bukan anak Mas kan?"


"Ya bukanlah sayang, masa iya mas telantarin anak mas. Mas juga udah punya bukti kok dia bukan anak mas. Dia aja yang obsesi ke Mas"


"Udah tau gitu kenapa mas masih tolongin dia. Emang nggak khawatir Mba Intan berbuat hal yang aneh-aneh?"


"Awalnya iya. Makanya mas bilang ke kamu. Jauhi dia nggak usah deket-deket sama dia. Mas kan juga nggak pernah berurusan sama butik panti. Biarin orang yayasan yang mengurusnya"


"Oh gitu?"


"Mas ngrasa bersalah karena mas cabut saham dari perusahaan papanya. Jadi mas biarin dia kerja di sana. Pelanggan dia juga lumayan banyak. Ambil manfaatnya buat panti bukan buat kita"


"Hemm"


"Kalau kamu nggak setuju mas berhentiin dia sekarang juga"


"Emmm. Lian sebenernya sebbel sama dia. Tapi kalau dipikir-pikir, dia menyedihkan ya? Ya udah biarinlah dia kerja di butik"


"Nggak akan ada yang bisa ganggu kita. Yang penting kamu percaya sama Mas. Nggak usah pundung-pundungan, kabur-kaburan. Malu-maluin!"


"Iyaa iyaa. Maaf Lian salah"


"Coba kalau ibu tahu. Papa Mama tahu. Emang kamu nggak malu?"


"Ya malu sih. Abis mas nggak pernah cerita"


"Ya kamu cemburunya kegedean. Katanya solekhah, harusnya tanya dulu ke suami"


"Ya abis mas nggak pernah ada waktu buat istri"


"Plethak" Ardi menyentil kepala Lian lagi.


"Sakit, kebiasaan banget sih?"


"Makanya kamu nggak usah kerja, jadi ada banyak waktu buat kita. Gimana mau ada waktu kalau mas pulang kamu kerja"


"Dibahas lagi. Iya iya, tapi nanti setelah magang Lian selesai"


"Janji?"


"Kalau aja udah salah, nggak mau ngakuin"


"Lian ngakuin, iya Lian salah. Maaf"


"Hemm"


"Oh iya Mas, tau nggak? Dokter Mira tuh dijodohin"


"Oh iya? Sama siapa? Kasian Gery dong! "


"Dokter Gery tuh cinta nggak sih sama Dokter Mira?"


"Ya mas nggak tahu. Tapi emang kalau bukan sama Mira, siapa lagi yang bisa imbangi dia?" gumam Ardi menjawab Istrinya.


"Dokter Mira pernah curhat, dia terima perjodohanya karena niru kita. Dia bilang udah putus asa sama umurnya"


"Wah bahaya kalau gitu. Kita kan nggak dijodohin, mas nggak ngerasa dijodohin kok. Emang siapa calonya Mira?"


"Lian nggak tahu" jawab Alya polos


"Kalau calonya orang baik-baik sih nggak masalah"


"Coba mas tanya Dokter Gery. Lian yakin Dokter Mira masih cinta sama Dokter Gery. Bantuin mereka sih mas"


"Ya nanti" jawab Ardi.


Mereka berdua berhenti di depan mall besar.


"Kita mau belanja?" tanya Alya polos. Alya merasa semua kebutuhanya sudah tercukupi di rumah besar mertuanya. Jadi menurut Alya untuk apa belanja lagi? Alya tidak hobi berbelanja.


"Udah ikut Mas" jawab Ardi menggenggam tangan Alya.


Lalu mereka masuk ke mall dan masuk ke lift. Ardi memencet ke lantai atas, tempat di jual banyak perhiasan. Kemudian Ardi mengecek ponselnya dan tersenyum, entah apa yang dia baca. Tidak lama mereka sampai ke lantai yang Ardi tuju.


"Mas mau beliin Lian perhiasan?" tanya Alya lagi tidak berhenti bertanya.


"Hemm" Ardi mengacuhkan Lian, pandanganya tertuju pada tempat penjual perhiasan terbesar di lantai itu. Dan di situ sudah berdiri perempuan cantik dan dua pelayanya di depan pintu.


Ardi kemudian menggandeng Lian menuju kesana.


"Selamat siang Tuan Ardi, Nyonya Ardi" sambut perempuan cantik itu dengan ramah.


Perempuan itu sangat cantik, tampil dengan dress terbuka setinggi lutut dan menampakan kulit glowingnya, seperti artis korea.


Alya tersenyum mengangguk sedikit minder. Tapi berusaha tetap tenang mengimbangi suaminya.

__ADS_1


"Siang, pesanan saya sudah jadi?" tanya Ardi ke owner pemilik toko perhiasan itu.


"Sudah, mari saya tunjukan" jawab Nona Kim, pemilik toko perhiasan.


Alya hanya diam mengikuti suaminya. Alya memang ditakdirkan disuruh diam saja. Semakin banyak bertanya dan mengira malah hanya membuatnya lelah.


Nona Kim membawa Ardi dan Alya masuk ke ruangan tertutup. Ruangan berdinding kaca dengan cahaya gemerlapan dan dapat melihat pemandangan kota dari atas. Di sisi ruangan ada cermin besar.


Kemudian Nona Kim mengeluarkan manequeen dengan kalung berlian kualitas atas. Tidak besar dan tidak panjang. Tapi kilauanya terlihat sangat cantik dengan liontin berwarna biru muda berbentuk lingkaran kecil.


Dan di situ juga ada sepasang cincin dengan mata yang sangat cantik berwarna putih.


"Ini saya dapatkan batu berlian asli dari Eropa Tuan, saya sertakan sertifikatnya" tutur Nona Kim.


"Oke" Ardi mengangguk. Memeriksa berkas yang diberikan Nona Kim.


Alya sedikit heran sambil mendengarkan. Jauh banget dari Eropa? Tapi memang kilaunya sangat cantik apalagi di ruang terang.


"Buka jilbabnnya sayang, mas pakaikan" tutur Ardi lembut.


Alya melihat ke Nona Kim tersenyum malu. Nona Kim membalas tersenyum menunduk dan mempersilahkan Alya mencobanya. Ardi kemudian memakaikan kalung berlian itu.


"Suka?" tanya Ardi melihat ke cermin


"Emem" jawab Alya mengangguk.


"Mas pakaikan cincinya sekalian ya"


"Makasih Mas" jawab Lian terharu.


Pada saat bersamaan pelayan Nona Kim memanggil Nona Kim. Sehingga Nona Kim membuka pintu, Alya dan Ardi juga ikut menoleh keluar.


"Dokter Mira?" pekik Alya saat menyadari yang hendak mengantri bertemu Nona Kim adalah seniornya.


Ardi ikut kaget. Lalu melepas kembali perhiasan Alya untuk diserahkan ke Nona Kim dan dibungkus. Mereka pun keluar.


"Alya? Ardi?" sapa Mira dengan tatapan aneh. Mira sempat melihat kalung Alya dan cincinya. Mira tahu harga perhiasan itu karena dia juga sempat bertanya dan naksir.


"Dokter Mira ke sini sama siapa?" tanya Alya ramah sambil menggandeng tangan Ardi.


"Gue bareng calon adik ipar gue. Tapi dia lagi ke kamar mandi" jawab Mira dingin. Mira fokus ke tangan Alya yang menggandeng Ardi.


"Alya tetap mesra dan tambah mesra denga Ardi. Dia tidak syok dan bertengkar setelah ketemu Intan?" batin Mira.


"Oh gitu. Dokter Mira serius mau nikah?" tanya Alya polos.


"Iya. Ini kita lagi mau nyari cincin tunangan"


"Kamu mau tunangan Mir? Sama siapa?" tanya Ardi ikut penasaran.


"Besok kalian tahu sendiri. Datang ya. Oh iya Al. Maafin gue kemarin ya. Gue hubungin lo tapi susah nyambung"


"Hape dia gue matiin" jawab Ardi terus terang. Ardi memang posesif selama liburan di rumah, Ardi tidak mau Alya keluar-keluar lagi dan berfikiran di luar.


"Oh gitu" jawab Mira tersenyum kecut masih menganggap Ardi laki-laki yang buruk.


Belum selesai mereka berbincang Nona Kim memanggil Ardi. Ardi dan Lian kemudian berpamitan ke Mira. Setelah membayar dengan blackcardnya, Ardi dan Alya pergi.


"Mas Lian ke toilet dulu"


"Mas temenin nggak?"


"Nggak" jawab Lian


Lian ke kamar mandi. Kemudian Lian di kamar mandi bertemu dengan perempuan cantik bertubuh tinggi ramping dan rambut coklat terurai, dengan tato kecil di ujung lengan. Lian melihat perempuan itu baru selesai menghisap rokok.


Lian dan perempuan itu keluar bersamaan. Mereka berpisah di depan pintu.


"Mas" panggil Lian.


Kemudian Ardi menoleh ke arah kamar mandi. Tapi tatapan Ardi sedikit terkejut melihat perempuan yang berjalan di belakang Lian. Perempuan itu juga sama terkejutnya.


"Nona Lila?" gumam Ardi.


"Tuan Ardi?" balas Lila bergumam menelan salivanya lalu tatapan Lila melihat ke Alya yang mendekat dan menggandeng Ardi.


"Siapa Mas?" bisik Lian.


"Rekan kerja Mas" jawab Ardi sedikit mengeratkan rahang. Alya mengangguk tersenyum ke Lila berniat menyapa. Tapi Lila justru mengacuhkanya.


"Kok sombong sih Mas?" bisik Lian.


"Udah ayo pergi"


"Dia siapa?"


"Dia yang buat kamu kabur dari mas"


"Maksudnya?"


"Pemilik hotel Wiralila yang jebak Mas. Mas sama Riko lagi pengen penjarain dia. Tapi susah"


"Hah"


"Udah nanti kamu tau, mas ceritain di rumah"

__ADS_1


"Kok bawa-bawa penjara sih?"


__ADS_2