
Mau tidak mau, daripada menyesal, cincin dan hadiah untuk dirinya dipilihkan orang lain, Anya mengikuti Farid.
Toh kenyataanya, Anya tahu perjodohan Anya tidak bisa dihindari. Orang tua Anya sudah klop dengan orang tua Farid. Bahkan Anya sudah mengulur selama 3 bulan.
"Neng" panggil Farid lembut
"Hemm" jawab Anya salah tingkah.
"Aa nteu terang. Buat umi sama abah Neng yang pilihi, Aa nunggu di die yak"
"Ya" jawab Anya mengangguk.
Anya kemudian memilih kemeja kebesaran buat bapaknya. Selain pengusaha, bapak Anya kebetulan orang terpandang di desanya. Jadi pasti butuh kemeja. Dan di saat itu Sinta yang tampak sedang belanja datang menghampiri Farid.
"Kak Farid" panggil Sinta kegirangan mendekati Farid.
Mendengar namanya dipanggil, Farid yang sedang memainkan ponselnya menoleh. Anya yang berdiri memilih kemeja juga dibuat kaget.
"Sinta?" gumam Farid sambil mengusap tengkuknya dan melirik ke Anya.
Anya menelan ludahnya, tatapanya tertuju pada Sinta dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan seketika nafasnya memburu.
Sinta tampak cantik, tubuhnya tinggi semampai masih ditambah dengan heels. Rambutnya tergerai rapih dengan warna pirang keemasan. Sinta tampak sempurna ditambah memakai dress biru tanpa lengan. Pakaianya juga semua bermerek.
"Kak Farid ngapain di sini?" tanya Sinta sok akrab lagi.
Padahal Sinta dan Farid baru saja berbaikan. Setelah Sinta meminta maaf ke Farid tentang Alya di danau. Farid memilih membiarkan Sinta meminta maaf ke Alya langsung. Tapi maaf dari Farid disalah artikan Sinta..
"Belanja" jawab Farid sambil menggaruk pelipisnya.
"Oh, bukanya tadi ada kuliah ya?" tanya Sinta lagi yang sudah mematai Farid detail sampai jadwal ngajarnya.
"Iya, gue majuin jadwalnya kenapa?"
"Kenapa nggak bilang kalau mau kesini kan bisa bareng" jawab Sinta lagi sekarang mendekat dan meraih tangan Farid.
"Ehm" Farid berdehem menoleh ke Anya dan melepaskan tangan Sinta.
Ekspresi Anya sekarang sudah bermuram durja. Matanya benar-benar membulat sempurna melihat dua orang di depanya.
Anya meletakan baju yang dia pegang, Anya menelan ludahnya sesaat. Kemudian berjalan dengan menghentakan kaki dan mendekat ke mereka.
Tidak pernah Farid duga sebelumnya. Anya mendekat ke Farid dan menggandeng tanganya erat.
"Hai Kak" sapa Anya percaya diri menatap ke Sinta.
Sekarang gantian Sinta yang tercekat dan berdiri mematung di depan Farid dan Anya.
"Siapa dia Kak?" tanya Sinta getir melihat tangan Anya memeluk erat tangan
"Kenalkan, Abdi Anya, calon istrinya Aa Farid, maneh saha?" jawab Anya lancar dan jelas.
Farid seperti mendapat panggilan penghargaan dari presiden, lebih dari itu malah. Farid tersenyum bangga melirik ke Anya. Ternyata Anya sangat pemberani dan dia sedang mencemburuinya.
"Kak dia ngomong apa?" tanya Sinta terbata.
"Kamu denger kan? Dia calon istriku Sin?" jawab Farid senang.
"Istri?" tanya Sinta lagi.
"Iya" jawab Farid mantap.
Sinta mengepalkan tanganya menatap Anya dan mengumpulkan tenaga agar kuat menghadapi kenyataan. Sinta melawan otot matanya agar tidak menjatuhkan air mata. Sinta kemudian pergi meninggalkan Anya dan Farid.
Setelah Sinta pergi, Anya langsung melepaskan tanganya dari Farid. Anya menepuk dan mengelap tanganya dengan menunjukan wajah gengsinya.
"Ehm" Anya berdehem menggigit bibirnya dan membuang muka dari Farid.
"Makasih ya calon istri" tutur Farid menatap Anya tersenyum.
"Eta saha A'?"
"Dia Sinta, temen Aa di panti, Alya kenal kok"
"Ganjen banget" cibir Anya.
"Neng cemburu?" tanya Farid.
"Nggak ngapain" jawab Anya naif.
"Oh, kirain cemburu, Aa udah seneng lho padahal" jawab Farid lagi.
__ADS_1
"Seneng kenapa?"
"Aa seneng kalau Neng cemburu ke Aa"
"Ish. Jangan GR. Anya mah nglakuin itu karena nggak mau orang tua Anya kecewa. Awas aja berani macem-macem" jawab Anya.
"Oh buat orang tua? Termasuk nikah sama Aa?"
"Ehm. Ehm"
"Makasih ya Neng"
"Kenapa makasih?"
"Udah mau jadi calon istri Aa"
"Calon ya! Calon!" jawab Anya ketus.
"Nggak apa-apa kan bentar lagi jadi beneran"
"Kepaksa" jawab Anya lagi
"Bener kepaksa, bukan cinta?"
"Kalau Anya bilang nggak mau emang Anya bisa nolak? Aa sama orang tua Aa tetep ke rumah kan? Cinta, apaan?"
Kemudian Anya kembali memilih baju untuk ayah dan ibunya.
"Udah Neng?" tanya Farid melihat Anya selesai belanja.
"Udah"
"Nggak mau lagi?"
"Nggak"
"Yang banyak biar Aa nggak malu"
"Nggak! Lagian Aa mau ngapain sih? Kan cuma silaturahim doang? Kenapa juga mau ke rumah mendadak gini?"
"Ya gimana, Neng nggak pernah angkat telpon Aa"
"Ehm" Anya berdehem karena memang salah Anya.
"Kalau Anya jawab nggak tahu kenapa? Bisa ngerubah niat Aa? Nggak kan? Semua akan tetap berjalan kan?"
"Hehe. Ya udah ke toko perhiasan ya"
"Hemmm"
Dan seperti pasangan lain pada umumnya. Anya dan Farid memilih cincin lamaranya sendiri. Farid pun menemani Anya dengan sabar.
Dengan malu-malu dan menundukan kepala. Anya menunjukan cincin yang dia suka.
"Yang ini A" ucap Anya ke Farid.
"Cantik, Neng pinter milihnya" puji Farid ke Anya.
Lalu pelayan toko mengambilkan sepasang cincin emas putih yang dan membiarkan Anya dan Farid mencobanya.
"Alhamdulillah pas Neng. Aa nggak sabar makenya" ucap Farid senang.
"Ehm" Anya hanya berdehem membuang muka.
"Bungkusin yang ini, sama tempatnya ya" tutur Farid ke pelayan.
Setelah selesai belanja mereka berdua kemudian pulang ke kosan Anya.
Farid turun dan membukakan pintu mobil untuk Anya. Anya keluar tanpa sepatah katapun.
"Neng" panggil Farid saat Anya masuk melewati pagar kos.
"Apa lagi?"
"Aa haus" ucap Farid memancing agar di suruh masuk dan istirahat sebentar.
"Ya. Tunggu sebentar" jawab Anya jutek masuk ke kosan.
Tidak lama Anya keluar membawa secangkir teh hangat. Farid benar-benar sangat bahagia melihatnya. Aroma teh pun terbang menjalar sampai ke indra penciuman Farid.
"Makasih Neng" tutur Farid lembut.
__ADS_1
"Iya, sok atuh diminum" ucap Anya.
Dengan semangat juang 45 Farid mengambil cangkir itu. Itu pertama kalinya Farid dibuatkan minum oleh Anya. Farid angkat cangkir itu perlahan, ditempelkanya ke bibir Farid, dan Farid menyereput dengan lembut.
"Uhuk" spontan Farid langsung menyemburkan tehnya. "Uhuk uhuk"
"Kenapa A?" tanya Anya pura-pura peduli.
"Nggak, nggak apa-apa" jawab Farid mengelap bibirnya.
"Nggak enak ya tehnya?" tanya Anya menyindir.
Anya tau di mobil Farid itu ada air mineral, Farid tidak haus. Bahkan air masih setengah botol besar. Anya tau kalau Farid hanya beralasan agar bisa berlama-lama berduaan denganya. Jadi Anya ingin mengerjai Farid memberi minuman dengan garam.
"Enak kok, cuma masih kepanasan" jawab Farid lagi tidak kalah pintar dan tidak mau menunjukan kalau dirinya kalah setelah dikerjai.
"Oh, syukurlah, maklum ya A'. Anya nggak pernah bikin teh"
"Nggak apa-apa Neng"
"Oh iya, Neng nggak pengen ketemu Papa sama Mamanya Aa?" tanya Farid ke Anya.
"Kan udah" jawab Anya singkat.
Orang tua Farid memang sudah beberapa kali bertemu Anya di acara keluarga. Meskipun Farid jarang ikut. Mereka juga pernah makan malam bersama.
"Ya maksudnya sebelum acara besok"
"Besok juga ketemu kan?"
"Ya" jawab Farid mengangguk. Lalu mereka saling diam.
Anya melirik ke tehnya masih utuh.
"Kita lihat A', seberapa aa tahan sama neng" batin Anya hendak menyuruh Farid minum lagi. Tapi keduluan Farid.
"Neng"
"Iya?"
"Aa minta maaf ya kalau cincinya nggak inden atau pesen sesuai mau kamu"
"Emang kalau Anya bilang pengen inden bisa?" tanya Anya menantang ingin mencari alasan menunda lagi.
"Bisa untuk cincin nikah Neng, kalau untuk lamaran jangan atuh, Aa nggak mau mundur lagi"
"Hemm emang kenapa kalau mundur, kenapa Aa buru-buru?"
Farid diam, dia memang buru-buru. Dia memang baru kemarin curhat ke Alya mengungkapkan niata dan memutuskan tadi pagi setelah diceramahi Ardi. Tapi saran Ardi benar, nikah itu harus secepatnya.
"Menunda-nunda waktu nikah itu nggak baik Neng, Abahmu juga nanyain Aa terus" jawab Farid jujur.
Sebenarnya Anya juga tahu kalau orang tua mereka menginginkan mereka segera menikah. Anya saja yang selalu mengulur dan Farid selalu menuruti kemauan Anya.
"Neng pulang ke Bogor naik apa? Aa anter yah? Aa jemput ke sini" tawar Farid sebelum pulang.
"Nggak usah, Anya bisa pulang sendiri"
"Hemmm, ya udah Aa pulang dulu ya" pamit Farid merasa sudah mulai kehabisan kata-kata.
"Tehnya nggak dihabisin. Kayaknya udah nggak panas" ucap Anya tidak menyerah mengerjai Farid.
"Ehm" Farid berdehem. "Tega banget kamu Neng" batin Farid ragu mau meminum tehnya.
"Teh Anya enak kan?" tanya Anya lagi.
"Iya, enak dan seger banget" jawab Farid tidak ingin mengecewakan Anya.
"Ya udah atuh, dihabisin"
Demi menjaga mood Anya agar tidak menunda waktu lamaran mereka. Dengan menahan nafas dan rasa mual Farid meneguk teh asin dari Anya. Anya pun melihatnya dengan heran.
"Aa pulang ya Neng" ucap Farid cepat-cepat ingn segera berkumur.
"Iya hati- hati ya A" jawab Anya mempersilahkan Farid pergi.
Farid sampai mobil langsung meneguk air mineral. Air teh dari Anya bukan menyembuhkan haus tapi menambah haus, bahkan air dari akua tidak cukup.
Farid kemudian mencari toserba untuk membeli air mineral lagi menyembuhkan rasa asin di tenggorokanya..
Di kosan Anya merebahkan badanya. Memikirkan nasibnya sebentar lagi perjodohan itu benar-benar datang. Anya sudah berusaha menghindar dan mengundur tapi tidak berhasil.
__ADS_1
Anya membayangkan bagaimana hari-harinya menjadi istri Farid. Apa akan membosankan atau menyenanagkan.
Anya membayangkan wajah Farid, Farid memang tampan, baik banget mapan pula. Bukan nasib buruk menjadi istrinya.