
“Maas” pekik Alya dengan suara tertahan. Tangan Alya mencegah tangan suaminya, san menjauhkan tubuh suaminya meyadari ada suara langkah perawat mendekat ke ruanganya.
Karena memang beberapa hari ini Ardi tidak melepaskan hasratnya dengan penyatuan. Ardi menjadi sedikit agresif meski masih di rumah sakit.
Ciuman yang tadinya dilakukan dengan lembut dengan kasih sayang berubah sedikit panas. Berpindah dari atas turun ke bawah.
Tapi kemudian Alya hentikan karena rasanya tidak pantas dan waktunya kurang pas. Mereka sedang berada di tempat umum.
“Apa sih Yang?” tanya Ardi merasa jengkel saat Ardi sudah berhasil membuka kancing baju Alya, tapi malah ditepis dan ditolak.
“Maaf Mas. Ingat ini bukan rumah! Kalau ada perawat masuk gimana?” bisik Alya pelan.
"Hhhh" Ardi hanya mendengus kesal.
Dan benar saja, tidak lama suara pintu diketok, perawat datang melakukan pemeriksaan tanda- tanda vital rutin ke Alya dan memberinya obat sore.
“Bagaimana keadaan istri saya Sus?” tanya Ardi peduli.
“Tekanan darahnya masih rendah Tuan. Tekanan darah Nyonya Alya masih 90/60, sebaiknya Nyonya Alya istirahat terlebih dahulu” jawab perawat ramah.
“Bayi kami bagaimana?” tanya Alya karena baru saja perawat memeriksa denyut jantung bayi Alya.
“Denyut Jantung Janinnya sempan turun tapi sekarang mulai naik dan masih dalam batas normal” jawab perawat lagi.
“Menurun bagaimana?” tanya Ardi panik.
“Mungkin karena Nyonya Alya juga lemah, tapi masih normal Tuan. Sebaiknya Nyonya Alya banyak istirahat"
“Oke” jawab Ardi mengangguk.
“Masih ada yang mau ditanyakan Tuan, Nyonya?”
“Tidak terima kasih” jawab Ardi lalu perawat pergi.
Ardi kemudian duduk lagi ke samping istrinya.
“Maafkan Mas, Sayang, kamu kurang istirahat dan kelelahan. Apa kita pindah ke rumah skit Gery saja? Biar kamu dapat perawat ekstra? Huh?"
"Maas, Mas tau kan Lian sehat dan baik-baik aja. Tidak perlu berlebihan di sini juga bagus kok" jawab Alya tidak suka diperlakukan berlebihan.
"Ya, tapi bener kamu nyaman di sini?"
"Nyaman Mas"
"Hemm maafin Baba ya Nak” ucap Ardi lalu mengelus perut Alya.
“Iya dimaafin. Hehe Tapi Baba juga sabar ya? Jangan sentuh- sentuh Ibu dulu, hehe" jawab Alya pura-pura menirukan suara bayi.
"Hemm, masa Baba nggak boleh sentuh ibu? Sentuh doang nggak boleh?"
"He.. bukan gitu maksudnya. Tahan dulu ya Mas, sampai Lian sehat lagi, jangan marah ya!” tutur Alya sopan dengan senyumnya yang penuh arti.
Meski dengan menelan ludah kecewa Ardi mengangguk.
“Iyah, yang penting kamu dan anak kita sehat, mas yang minta maaf. Ya udah abis ini sholat beli makan, Sayang mau makan apa?” tanya Ardi lembut.
“Terserah Mas aja! Yang penting sama Mas!”
Lalu Ardi dan Alya, setelah itu Ardi membeli makanan. Bayangan malam indah Ardi saat di mobil hilang seketika. Bahkan malam ini Ardi harus menginap di rumah sakit lagi.
Sambil berjalan keluar, Ardi memeriksa ponselnya. Memeriksa laporan dari anak buahnya tentang masalah Lila. Anak buah Tuan Aryo dan polisi berhasil mendapatkan rekaman cctv.
Ternyata subuh tadi Lila berhasil menyamar masuk ke ruang tahanan. Lila menelusup memakai seragam petugas sipir. Dan Lila terlihat berbincang dengan Mia.
__ADS_1
Meski tidak begitu jelas apa yang mereka lakukan. Tapi setelah itu Mia kembali bergabung bersama tahanan lain. Dan tiba- tiba Mia menegluh sakit perut dan sesak nafas.
Tahanan lain berteriak meminta tolong. Lalu dengan secepat kilat, petugas membawa Mia ke rumah sakit. Dalam jangka waktu yang sangat cepat, keadaan Mia memburuk.
Mia kehilangan kesadaran sampai Alya dan Ardi datang. Sempat membaik sebentar dan kemudian Mia pergi untuk selamanya.
Sambil berjalan Ardi yang dari kemarin menahan emosinya. Kini saat dia sendiri, air mata yang menggenangi matanya tumpah. Tapi Ardi tidak ingin orang lain atau istrinya melihat.
Ardi sangat menyesalkan, kenapa masalah dirinya harus mengorbankan hidup dan nyawa orang- orang di sekitarnya.
“Kamu harus berakhir iblis betina!” batin Ardi meremas ponselnya dan mencari tempat makan.
Anak buah Tuan Aryo kemudian bekerja dengan cepat mencari keberadaan Lila dan Tuan Wira. Mencari tahu siapa saja yang masih menolongnya. Sementara Ardi fokus mengurus Alya dan menunggu kabar dari anak buahnya.
Tuan Aryo sendiri mengurusi urusan di rumah. Menyelenggarakan pengajian untuk mendoakan Mia. Setelah pengajian selesai, Tuan Aryo kemudian mengadakan rapat panitia resepsi. Menyiapkan agar pelaksanaan resepsi anak dan menantunya aman.
Sebelum Lila dan Tuan Wira ditemukan, meski semua rencana kehidupan terus berjalan, mereka harus tetap waspada.
Ardi sendiri menunggui Alya sambil bekerja. Memeriksa beberapa email yang dikirim Dino. Karena dicueki Alya mainan hp. Dan membaca pesan dari Intan.
“Mas” panggil Alya ke suaminya yang terlihat sibuk dengan I-padnya.
“Hmm” Ardi menjawab pertanyaan istrinya dengan deheman, tangan dan matanya masih fokus ke I-padnya.
“Mba Intan mau jenguk kita sama Papahnya, boleh ya!” tutur Alya pelan.
Mendengar nama Intan Ardi menghentikan aktivitasnya. Lalu diam sejenak dan menatap istrinya sambil berfikir. Alya menggigit bibir bawahnya dengan tatapan memohon menunggu jawaban suaminya.
“Apa kamu sungguh tidak masalah berteman dengannya, dia mantan tunangan mas lho Sayang” tutur Ardi menanyakan sekali lagi ke Alya.
Sebenarnya karena Ardi sudah tidak ada rasa dengan Intan, Ardi tidak peduli dengan Intan. Tapi Ardi ingin menjaga istrinya saja. Ardi hanya khawatir Alya akan cemburu atau Intan memanas-manasi Alya lagi.
“Setidaknya kita beri kesempatan Mbak Intan untuk bicara dengan papanya ya Mas, katanya Pak Didik sngat ingin ketemu Lian”
“Iya Lian percaya! Lian tahu! Love mas juga”
“Satu lagi. Mas harus ikut kalau ketemu, jangan terima makanan dari siapapun!”
“Iya ya”
“Siip, itu baru istri Mas, harus nurut”
“Yaa!” jawab Alya tersenyum.
Kemudian Ardi kembali melanjutkan pekerjaanya. Dan Alya membalas pesan Intan mengijinkan Intan besok pagi boleh menemuinya.
Menit pun terus berganti. Untuk yang kesekian kalinya mereka berdua menghabiskan malam di rumah sakit. Entahlah ada- ada saja.
Tapi Ardi dan Alya tetap semangat dan tidak mengeluh asal mereka selalu berdua. Ardi pun kali ini tidak banyak meninggalkan Alya dan lebih memilih bekerja di ruangan.
****
Keesokan harinya.
“Semoga boleh pulang ya Mas!” tutur Alya sambil berjalan menaruh pakaian kotornya selesai mandi.
“Hemmm...iya”
“Mas nggak kerja?” tanya Lian lagi, Alya berjalan mendekati Ardi yang duduk di sofa.
“Kenapa tanya sih, udah tau mas mau nungguin istri Mas, kamu pengen mas pergi, iya?”
“Nggak! Kan cuma tanya daripada diem- dieman, hehe”
__ADS_1
“Dasar!” jawab Ardi sambil mengacak- acak rambut istrinya.
“Lian seneng kalau mas nggak kerja, jadi Lian bisa manja-manjaan terus sama Mas!” tutur Alya lagi sambil menyandarkan tubuhnya ke Ardi.
Ardi kemudian meraih bahunya dan mengusapnya pelan.
“Apa kabar Sayangnya Baba? Apa dia udah aktif lagi?” tanya Ardi kemudian mengelus perutnya.
“Udah barusan juga gerak” jawab Alya.
“Mas pengen setelah Resepsi kita liburan Yang. Masa waktu kita abisin waktu berduanya di rumah sakit terus? Mas pengen santai di tempat yang indah” tutur Ardi mengungkapkan keinginanya.
“Iya. Tapi masalah Lila bagaimana?”
“Oh iya, mas belum kasih tau ya? Semalam Tuan Wira berhasil ditangkap. Rupanya mereka selalu pindah- pindah tempat tinggal. Makanya susah ditemukan dan Lila berhasil kabur” tutur Ardi menjelaskan.
“Pandai sekali si Lila itu. Tapi mas, kalau Tuan Wira ketangkap dia kan nggak ngelakuin apa- apa Mas? Terus diapain?”
“Buat mancing Lila biar mendekat, dia tidak akan pergi dan berani bertingkah! Kalau ayahnya ada pada kita”
“Kita nggak nyiksa mereka kan?”
“Nggak Sayang, kamu tenang aja”
“Ya Lian nggak mau ada acara orang meninggal- meninggal lagi”
“Ya Mas juga nggak mau. Ada papah yang beresin semuanya. Mas juga percayain sama mereka kok. Pokoknya abis ini kita fokus resepsi abis itu kita liburan!”
“Kerjaan Lian gimana? Emang liburan kemana?”
“Nanti Mas rundingin sama Farid dan Gery”
“Lhoh... emang mau bareng mereka?”
“Iya lah! Bentar lagi Farid kan nikah, Gery kan juga belum pernah liburan bareng kita”
“Benarkah?” tanya Alya girang.
“Iya Sayang”
“Waah senengnya, Lian jadi nggak sabar, kapan itu?”
“Makanya sehat- sehat kamu... biar kita bisa liburan! Setelah Farid nikah”
“Kalau denger mau liburan bareng, Lian jadi mendadak sehat kok! Hehe” jawab Alya lalu memeluk tangan Ardi.
“Ya udah Mas cari sarapan dulu. Om Didik sama Intan jadi ke sini?”
“Katanya jadi”
“Oke! Mau makan apa?”
“Terserah Mas kan Lian dapet makan dari sini!”
“Nggak enak makanan di sini. Katakan kamu mau apa? Mas telponin Arlan atau Dino?”
“Nggak usah. Lian lenih suka kita berdua aja. Nggak usah libatin pekerja” jawab Alya ingin hidup seperti orang pada umumnya.
“Oke, cup! Tunggu Mas ya” jawab Ardi meraih kepala Alya menciumnya kemudian pergi.
Ardi kemudian menuruti istrinya bersikap layaknya suami- suami pada umumnya, tidak menampakan dirinya sebagai penerus Gunawijaya.
Ardi berjalan mencari makan dengan memakai kaos oblong dan masker. Makanan yang dia pilih pun makanan seadanya di sekitar rumah sakit. Dan dia menjatuhkan pilihan beli sate lontong.
__ADS_1
*Maaf kalau alurnya lambaat. Ini novel mau tamat. makanya author berusaha agar selesainya nyambung. Terima kasih mau baca