Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
170. Berasa ABG


__ADS_3

"Loading NaCl 500ml ya Sus, setelah itu tetesan normal ganti RL!" perintah Anya ke perawat setelah menghitung dosis.


"Baik Dok!" jawab


Dengan penuh perhatian dan cekatan Anya membantu menyelamatkan pasien. Perawat pun membantu Anya. Keluarga pasien duduk menunggu dan berdo'a keluarganya terselamatkan dan membaik.


Sementara Alya masih berkecimpung denga darah dan benang. Dengan telaten dan cekatan Alya menjahit luka pada tubuh pasien. Menorehkan kenang-kenangan indah yang menyelamatkan nyawa pasien melalui tanganya.


Jika perempuan lain dengan piawai merenda kain dengan berbagai bentuk bunga indah. Alya merenda benang dalam kulit dan jaringan manusia.


Ya itulah makanan sehari-hari Alya dan Anya di rumah sakit. Jika pasien ramai, maereka berdua akan berubah menjadi pendekar yang berlari ke sana kemari bersama para perawat menolong pasien.


Kurang lebih 14.05 Alya dan Anya beehasil menyelesaikan pekerjaan.


"Eek" Alya dan Anya mengulurkan tubuhnya ke atas ke kanan dan ke samping untuk meregangkan badan.


"Glek glek glek" Alya meneguk segelas air putih membasahi tenggorokanya yang terasa kering karena dari pagi belum sempat minum. Istirahat hanya sholat tapi sudah dipanggil lagi.


"Mandi gih" ucap Anya ke Alya.


"Ibu hamil tuh pinggangnya sakit Nya, kamu yang gadis sana mandi dulu" ucap Alya menutup botol minumnya masih ingin ngempos.


"Gue mau rebahan dulu, betis gue kaya dipukuli. Bete gue kalo jaga sama lo" jawab Anya bicara terus terang.


"Kenapa?" tanya Alya mengernyitkan mata.


"Pasien selalu rame" jawab Anya dengan muka bete.


"Hemmm, kita di IGD berapa bulan lagi sih?" tanya Alya ke Anya. Tempat magang paling melelahka adalah IGD


"Sampai akhir kali"


"Hah.... kayaknya nggak deh, kalau gue hamil besar dipindah ke bangsal" jawab Alya menyanggah.


"Huuft, makan yuk sebelum pulang!" tutur Anya mengajak Alya makan dulu karena mereka belum sempat makan siang.


"Bukanya lo mau jalan sama Kak Farid?" tanya Alya mengingatkan.


"Hoh?" Anya pura-pura terbengong lupa. Padahal sebenarnya dari tadi dheg-dhegan memikirkan apa yang akan dia kata


"Kok huh, sana mandi, dandan yang wangi" jawab Alya merasa sekarang Anya yang seperti ABG.


"Lo ngomong apa sih?" tanya Anya lagi menyembunyikan malu.


"Bentar lagi Kak Farid pasti jemput, jangan buat dia nunggu kasian" tutur Alya menasehati.


"Apaan sih? Nggak! Nggak ada acara jalan-jalan"


"Ya kalau kamu sekarang nggak mau diajak jalan berarti biarin Kak Farid yang milih cincin sendiri, mau cincin kamu kegedean, terus jelek?" jawab Alya menyindir. Segimana Anya menolak kesepakatan Anya dan Farid menikah sudah ketok palu. Tinggal nunggu kata sepakat ya tanggal berapa.


"Iiish lo ngomong apa sih? Nggak ngerti gue" ucap Anya lagi semakin kesal membayangkan kenyataanya hari nikah akan segera datang. Meski Anya berusaha mengulurnya.


"Kan udah dibilang, lusa Kak Farid sama orang tuanya mau dateng ke rumah kamu" tutur Alya lagi dengan lembut menghadapi Anya yang kumat kekanakanya.


"Ihhhh" Anya hanya menggerutu.


"Ddrrrrt" ponsel Alya berbunyi. Kemudian Alya tersenyum melihat ponselnya.


"Nih yang lagi diomongin telpon" ucap Alya menunjukan ponselnya.


Ada nomer tanpa nama memanggilnya


"Siapa?" tanya Anya melihat tidak ada identitas dari pemanggil Alya.


"Calon Suamimu!" jawab Alya tersenyum. Meski Ardi sudah menghapus semua kontak laki-laki di ponsel Alya, tapi Alya hafal nomer-nomer di ponselnya.

__ADS_1


"Suami? Enak aja!" jawab Anya semakin memerah pipinya dibercandai Alya.


"Angkat gih!" ucap Alya menyerahkan ponselnya.


"Nggak! Kan lo yang ditelpon bukan gue"


"Ck. Ck. Coba buka hp mu, aku reject ya" ucap menggelengkan kepala, melihat Anya seperti anak kecil.


Kemudian Alya mematikan ponselnya. Menghargai hati Anya, agar Farid langsung komunikasi dengan Anya. Padahal Anya sendiri yang tidak memperhatikan ponselnya.


Ternyata benar Farid menelepon Anya berkali-kali tidak diangkat.


Lalu Alya mengirim pesan ke Kak Farid untuk menelpon Farid. Kemudian Farid menelpon Anya.


"Angkat!" ucap Alya memerintah melihat ponsel Anya menyala- nyala.


"Ogah"


"Haiish, Astaghfirulloh. Kenapa?" tanya Alya semakin ingin ketawa melihat tingkah Anya.


"Males" jawab Anya manyun melirik ke ponselnya yang tergeletak di matras.


"Anyaaaa" panggil Alya lembut mengingatkan. Tolong jangan seperti anak kecil.


"Iya ya! Gue angkat! Ehm"


Akhirnya meski dengan muka cemberut Anya mengangkat telpon Farid.


"Halo!" ucap Anya ketus.


"Assalamu'alaikum Neng" sapa Farid lembut dan sabar.


"Waalaikumsalam" jawab Anya jutek.


"Neng udah makan?" tanya Farid lagi dengan nada yang sangat lembut.


"Aa di depan rumah sakit Neng. Udah selesai kan jaga paginya?" tanya Farid dengan sabar.


Kemudian Anya menutup speakernya menggigit bibit bawahnya memandang kesal ke Alya.


Alya hanya berdecak menggelengkan kepala melihat Anya.


"Dia di depan" ucap Anya berbisik.


"Ya udah cepetan mandi, ganti baju yang bersih, dandan yang cantik!" tutur Alya menasehati.


Lalu Anya kembali ke telpon.


"Halo Neng" sapa Farid lagi.


"Iya halo"


"Udah selesai kan kerjanya?"


"Udah" jawab Anya singkat.


"Aa tunggu di depan ya" tutur Farid lembut.


"Mau ngapain sih?" tanya Anya masih dengan nada jutek.


"Mau ketemu Neng lah" jawab Farid masih berada di mode sangat sabar.


"Hemmm"


"Aa tunggu ya!" ucap Farid untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Anya kemudian mematikan ponselnya memandang Alya.


"Silahkan tuan putri, kamar mandi saya persembahkan ke anda duluan" tutur Alya menggoda Anya.


"Ihh apaan sih? Lo mandi duluan aja!" jawab Anya merasa dikerjai.


"Kamu aja yang udah ditunggu. Aku mau telponan sama suami dulu" jawab Alya dengan centilnya, setengah pamer dan mengejek Anya.


Dan benar saja Ardi menelpon Alya.


"Halo sayang" sapa Alya manja dan mesra ke Ardi melirik ke Anya.


"Iiishhh" Anya bergidik sebal lalu masuk ke kamar mandi.


Alya kemudian melanjutkan telponnya. Bermanja-manja pada suaminya, kemudian mengadu perihal Anya.


Setelah kurang lebih setengah jam Anya tidak kunjung keluar. Alya kemudian mengakhiri percakapanya.


"Anya, aku pengen kencing buruan keluar dong!" ucap Alya menggedor pintu kamar mandi rumah sakit karena Anya mandi nggak kelar-kelar.


Sebenarnya Alya tidak begitu ingin kencing tapi Alya merasa kasian ke Farid menunggu lama.


"Ya bentar!" jawab Anya.


Anyapun keluar dengan muka dheg-dhegan.


"Buru dandan!" ucap Alya di depan pintu.


"Hemmm" jawab Anya.


Alya segera masuk menunaikan hajatnya kemudian mandi dan mengganti pakaian dinasnya dengan pakaian santai.


"Kok belum dandan?" tanya Alya syok Anya masih rebahan dengan warna bibir pucat.


"Temenin yuk!"


"Aishh, kurang kerjaan banget nemenin kamu kencan"


"Please!"ucap Anya memohon seperti anak kecil.


"Aku juga kangen kali sama suami, ngapain ikut kamu, mending ketemu suami" jawab Alya menolak.


"Bentar doang Al. Gue males pergi berduaan sama dia"


"Anyaa, kamu kan yang selalu nasehatin aku buat jangan kaya anak kecil. Kok kamu sekarang kaya anak kecil gini sih? Kaya ABG aja"


"Ehm, mang aku kaya anak kecil ya?"


"Nih pake lipstik aku, buru keluar!"


"Al"


"Kasian Kak Farid nunggunya kelamaan, kaya orang ilang nanti"


"Please temenin gue! Gue risih pergi bareng dia"


"Kalau nggak mau pergi berduaan ya udah langsung nikah aja! Nggah usah lamar- lamaran, nggak banyak dosa kaya aku!"


"Tega banget sih lo!"


"Aku sama Fitri Anya, aku bukan obat nyamuk, makanya buru nikah, jadi kalau berduaan nggak dosa! Aku kangen sama suami mau dipijitin. Maap yaak" jawab Alya nyengir.


"Isssh dasar!" cibir Anya manyun tapi tangan Anya tetap mengambil lipstik Alya dan mengoleskan ke bibirnya.


"Hehe, selamat berkencan Anya. Pilih sasrahan yang mahal ya. Uang Kak Farid banyak Kok!" ucap Alya meledek Anya.

__ADS_1


"Bodo, bete gue sama Lo" jawab Anya mengambil tasnya lalu pergi keluar.


__ADS_2