Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
185. Batal


__ADS_3

Dokter Nando melepas sarung tanganya, mencuci tangan. Berganti pakaian, lalu mendampingi Gery ke ruang ICU.


Meski laki-laki dan suda tua. Dokter Nando meneteskan air matanya. Dokter Nando sudah kehilangan istrinya. Gery adalah penerusnya dan kenangan terindah dari istri tercintanya.


Dokter Nando tidak bisa terima jika Gery sampai meninggalkan dirinya juga. Gery adalah harapan buat Dokter Nando.


"Kenapa kamu lakukan ini Nak?" tutur Dokter Nando menggenggam tangan putranya.


"Bertahanlah, sembuh dan sadar" Dokter Nando berdoa dalam hati. Dokter Nando menunggu Gery malam itu dan tertidur di sampingnya.


Perawat jaga memandang haru terhadap bos mereka. Ayah dan anak yang selama ini tampak saling berjauhan dan dingin. Kini mereka seperti satu kesatuan.


Semua berdo'a, kuatkan Dokter Gery. Selamatkan Dokter Gery, Dokter Gery orang baik. Dokter Gery juga banyak dibutuhkan oleh orang lain. Dokter Gery harus sembuh.


****


Dengan penuh cinta dan kesetiaan, Alya menggenggam tangan suaminya. Duduk di samping Ardi, menundukan kepalanya sambil menahan kantuk.


Sebenarnya Alya merasa sedikit pusing dan mual, perutnya semakin membesar. Bahkan sudah mulai terasa ada denyutan. Tapi semua itu tidak Alya rasakan, Alya harus menunggu Ardi sadar.


Sekitar jam 4 pagi, Ardi menggerakan jari tanganya. Alya pun merasakanya, Alya langsung mengalahkan rasa kantuknya.


"Mas, Mas sadar?" tanya Alya membelai kepala Ardi.


Pelan- pelan, kelopak mata Ardi terbuka. Sayup-sayup cahaya berhasil Ardi tangkap. Ardi membuka matanya.


"Alhamdulillah" ucap Alya bersyukur lalu menciumi tangan Ardi.


"Sayangku" ucap Ardi sangat lirih, kemudian Ardi menyeringai, rahangnya terasa kaku. Bekas pukulan dari Tito dan anteknya baru terasa sekarang.


"Iya Mas, Lian di sini. Sakit yah?" tanya Lian lembut.


"Ge-gery" ucap Ardi masih pelan berusaha menanyakan kabar sahabatnya.


Kemudian Alya jadi ikut tersadar dan memimirkan seniornya itu. Lalu Alya teringat Mira. Mira belum dikabari, Mira harus tau keadaan Gery.


"Dokter Gery sudah ditangani Mas. Semua akan baik-baik saja" jawab Alya lembut berusaha membuat suaminya tenang. Alya membelai rambut Ardi pelan.


Ardi membalasnya dengan senyum. Kemudian menghela nafas menahan kaku -kaku di tubuhnya.


"Lian panggil perawat yah, biar Mas pindahbke ruangan" tutur Alya.


Ardi pun mengangguk. Lalu Alya memberitahu perawat kalau Ardi sudah sadar dan siap dipindah ke ruang VVIP.

__ADS_1


Perawat kemudian dengan sigap memindahkan Ardi ke belakang. Ke ruang rawat yang disulap menjadi hunian mewah.


Tidak seperti rumah sakit, tapi lebih seperti hotel. Bednya besar, ada bed penunggu juga. Ada sofa, TV dan lemari es. Bahkan di sudut ruang dan tembok tampak terpajang hiasan unik. Sangat nyaman, rumah sakit keluarga Gery memang eksklusif.


"Isyti_rahat sayang" ucap Ardi pelan masih tetap perhatian ke Alya meski sedang sakit.


Alya tampak bingunh dan merogoh sakunya. Alya baru sadar dia pergi masih menggunakan mukenag dan baju tidur. Alya tidak membawa dompet ataupun ponsel.


Alya berfikir harus segera mengubungi Mira. Tapi bagaimana caranya ponselnya tidak dibawa.


"Iya Mas" jawab Alya menganggu dengan wajah gelisah.


"A_da ap-pa?" tanya Ardi


"Nggak apa-apa, Lian tidur Mas juga ya!" ucap Alya menyembunyikan kepanikanya.


Ardi mengangguk, lalu memejamkan mata. Sementara Alya otaknya masih berputar-putar. Alya harus dapatkan ponselnya.


Pertama Alya harus memberitahu Mira tentang keadaan Gery. Gery terluka parah demi Mira. Kedua Alya harus minta ijin tidak berangkat kerja. Ketiga Alya harus beritahu Anya, Alya tidak bisa menemani Anya lamaran.


****


Pagi Hari


"Tito Wiratama, Anak pengusaha sekaligus kader dari partai Y. Ditangkap polisi. Tito terbukti bersalah menyimpan 1 ton sabu yang didapatkan dari luar negeri.


Dan diketahui Tito sudah menjalankan bisnisnya selama 5 tahun


Tito juga melakukan penganiayaan terhadap Penerus Gunawijaya grup, seorang dokter dan 3 ana buahnya.


Penerus Gunawijaya grup dan temanya menalami luka parah


Tito Wiratama terancam dihukum mati atau penjara seumur hidup......."


Berita itu tersebar dimana-mana, di TV berbagai stasiun, di akun gosip instagram, twitter dan media sosial lainya.


Karyawan hotel Tua Wira juga berkasak kusuk. Orang-orang rumah sakit tempat Gery bekerja juga pada heboh.


Mereka semakin mengidolakan Gery. Sudah tampan, ramah, suka ngebanyol mencairkan suasana dan kini diberitakan sebagai superhero menumpas kejahatan.


Tapi mereka juga kelabakan. Dokter Anestesi di rumah sakit baru itu baru Gery. Dan kini Gery tidak sadarkan diri. Padahal antrian operasi yang menunggu dibius Gery banyak yang antri.


Mencari dokter spesialis pengganti dalam satu malam juga susah. Akhirnya karena Gery sakit pasien-pasien yang butuh dioperasi ditolak dan dirujuk ke rumah sakit senior terdekat.

__ADS_1


Ya begitulah berharganya tangan dan ilmu Gery bagi rumah sakit yang baru beroperasi itu. Lalu penggemar Gery saling mengutuk ke Tito. Mereka semua juga mendoakan kesembuhan Gery.


Tidak terkecuali keluarga Mira. Saat sepupu Mira menyalakan televisi di pagi buta, keluar wajah Tito di acara berita. Ya Tito sang calon mantu di keluarga terhormat itu. Tito tampak diborgol dan memakai baju orange. Tito mendadak jadi artis.


Sepupu Mira berteriak kaget memanggil Mira yang masih dikamar.


"Miiiir! Miraaa bangun! Cepetan!" panggil sepupu Mira.


Bukan Mira yang bangun, melainkan Mama Mira, Papa Mita dan Oma Mira.


"Ada apa sih? Pagi-pagi teriak teriak kaya di hutan" tanya Mama Mira.


"Ya perempuan nggak ada sopan-sopanya" imbuh Pak Menteri ayah Mira.


"Om Tante, Oma liat berita itu, itu calon tunangan Mira bukan sih?" tanya sepupu Mira mengambil remot dan memperbesar volume tivi.


Lalu keluarga Mira kompak menatap layar televisi. Semuanya membulatkan matanya dengan sempurna. Wajahnya saling mengkerut dan kecewa.


"Benar itu Nak Tito" ujar Mama Mira.


"Hape mana hape!" tanya Papa Mira panik mencari ponselnya.


Ayah dan ibu Mira kemudian kalang kabut. Rencanya hari ini hendak ke hotel memeriksa persiapan acara besok malam. Lalu membayarkan sisa tagihan catering.


"Ini nggak bener pasti ini. Tito pasti difitnah" ucap Mama Mira dengan gelagapan panik kemudian duduk di sofa.


"Panggil Mira" perintah Papa Mira.


Lalu Ayah Mira mencari-cari ponselnya, kemudian menelpon seseorang. Sepupu Mira menjalakan perintah Pak Menteri. Naik ke atas menggedor pintu kamar Mira dan memanggil Mira turun.


"Ada apa sih? Berisik banget" tanya Mira kesal ke sepupunya. Mira baru keluar dari kamar mandi. Mira masih memakai handuk kimono. Dan Mira hendak mengeringkan rambutnya.


"Kamu harus turun sekarang. You must look, kamu harus tau hot news pagi ini!" ucap sepupu Mira.


"Apa sih?"


"Udah buruan turun"


Lalu terpaksa Mira turun ke ruang TV. Papa, Mama, Tante dan Oma Mira tampak berkumpul. Mama Mira tampak duduk menyandarkan tubuhnya dengan tatapan kosong dan ekspresi sangat lemas.


"Ada apa Pah? Mah? Kok pagi-pagi pada lemes gitu?"


"Tito ditangkap polisi" jawab Tante Mira.

__ADS_1


"Alhamdulillah" jawab Mira spontan. Lalu anggota keluarga Mira langsung mendongakan kepala heran. Tatapan mereka bersatu terpusat ke Mita. Mereka memberikan kode ke Mira agar mengulangi perkataanya.


__ADS_2