
"Hoek, hoek" subuh-subuh Alya terbangun masih dari tempat semalam. Alya berlari ke wastafel, Alya bangun merasa ada dorongan dari perutnya memaksa dikeluarkan.
"Non Alya sakit?" tanya Ida melihat nyonyanya muntah, Ida datang berniat membantu.
"Nggak, biasanya kan di kamar aku tidur pake selimut, semalam kan kita nggak pake selimut, AC nyala mungkin karena itu jadi masuk angin, nggak apa-apa kok" jawab Alya mencari pembenaran.
"Maaf ya Non saya nggak bangunin Non buat tidur di dalem, jadi masuk angin deh" jawab Ida merasa bersalah. Gara-gara mereka tertidur di depan televisi membuat Alya masuk angin.
"Nggak apa-apa" jawab Alya lesu memaksa tersenyum. "Suamiku ternyata nggak pulang mba" ucap Alya lirih lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Ida hanya melihat Nonanya kasian.
"Non Alya kenapa?" tanya Mia menghampiri Ida di wastafel kamar mandi dapur.
"Kayaknya Non Alya sakit deh. Sedih juga Den Ardi nggak pulang" jawab Ida menebak.
"Apa mereka lagi berantem? Kemarin pagi pas sarapan Non Alya seperti cemberut gitu" tutur Mia berfikir dan menebak.
"Ck. Sok tau kamu?"
"Sungguhan, eh apa jangan-jangan Non Alya hamil?" celetuk Mia lagi.
"Sok tauan banget sih!" jawab Ida merasa Mia terlalu kepo.
"Gue mau ke Non Alya dulu"
"Eits ngapain? Non Alya lagi sedih, hati-hati, dijaga jangan asal ngomong!"
"Nggak, gue cuma mau nawarin minum anget, apa apa gitu buat dia"
"Oke. Nggak usah macem-macem lho ya!" tegur Ida yang paham sifat Mia sedikit gesrek.
Lalu Mia datang ke kamar Alya.
"Thok thok, Non Alya" panggil Mia pelan.
"Iya masuk! Nggak dikunci kok" jawab Alya dari dalam dengan suara parau.
"Non Alya nangis?" tanya Mia kaget mendengar Alya terisak.
Ditanyai Mia, Alya menangis lebih keras. Entah kenapa rasanya Alya kesal sekali dan ingin menumpahkan semua emosi di dadanya dengan menangis.
"Mia. Hiks Hiks!" Alya memanggil Mia sambil terisak butuh sandaran. Mia pun masuk ke kamar majikanya lalu memeluk Alya dan membiarkan Alya terisak di bahunya.
"Puk puk, menangislah Non biar lega" Mia menepuk pelan bahu majikanya itu.
"Hu... hu... " Alya menangis keras entah apa sebabnya.
Setelah beberapa saat Alya menangis, suaranya mulai memelan mungkin emosinya sudah tersalurkan. Mia memberanikan diri membuka suaranya.
"Udah Non nangisnya? Non cerita ke Mia. Non kenapa? Non khawatir ya sama Den Ardi?"
"Iyah" jawab Alya mengangguk.
"Non sabar yah! Suami Non itu bukan orang sembarangan, jadi Non juga harus menjadi istri yang luar biasa, tidak seperti istri biasanya. Non harus percaya Den Ardi baik-baik saja. Non udah sholat belum?"
Alya menggeleng sambil terisak.
__ADS_1
"Mending Non sholat dulu deh!" tutur Mia memberikan solusi
"Iyah"
"Mia dengar Non muntah-muntah, Non sakit? Mia buatin minum hangat ya?" tawar Mia lembut.
"Iya makasih, buatin jahe hangat bisa?" pinta Alya sudah mereda tangisnya.
"Bisa Non. Mia siapin dulu. Non jangan nangis lagi, mending Non sholat aja" tutur Mia menasehati.
Alya mengangguk dan tersenyum. Alya tidak tahu dari kemarin badanya terasa tidak nyaman. Mual, pusing, emosinya meledak-ledak. Alya sangat ingin menangis tiba-tiba. Alya juga merasa sangat rindu suaminya.
Mia undur diri ke dapur membuatkan jahe hangat. Alya mengikuti saran Mia untuk sholat dan berdoa. Selesai berdoa Alya sedikit tenang.
Tidak lama Mia masuk membawa minuman jahe hangat. Lalu Alya meminum air jahe yang Mia buatkan. Setelah merasa baikan Alya mandi, bersiap-siap, lalu sarapan dan berangkat jaga di rumah sakit.
Alya berangkat dengan langkah gontai dan wajah murung. Ponsel Alya kemarin dirusak Ardi, sehingga Alya menggunakan ponsel Ardi untuk sementara waktu. Ardi berjanji memberinya ponsel baru saat pulang kerja. Tapi bahkan sampai pagi ini, sudah berganti hari suaminya tidak memberi kabar. Alya juga bingung menghubungi suaminya ke nomer mana.
*****
Rumah Sakit
Sepanjang jaga pagi Alya berusaha menyibukan diri dengan pekerjaan. Tapi di saat teman-temanya ngobrol Alya memilih diam dan mainan ponsel suaminya. Hari itu Alya merasa mualnya semakin menjadi. Badanya terasa lemas dan tidak bergairah.
Pagi itu teman-teman Alya dan Dokter senior tampak ngobrol asik mengenai berita yang sedang viral. Sebenernya Alya tidak begitu menghiraukan tapi tanpa sengaja Alya ikut mendengar.
"Tuh dengerin Bo, laki-laki yang tampan sukses tu begitu di belakang malah diem-diem menghanyutkan"
"Iya, ya, dikasih wajah tampan gitu, nggak nikah-nikah taunya penyuka sesama jenis"
"Geli banget ya bacanya. Eh tapi kan emang rata-rata gitu lho, laki-laki yang sukses guantheng perfeksionis nggak nikah-nikah ternyata karena kelainan. Kalau nggak kelainan kan ya pasti udah nikah muda"
"Makanya aku pilihnya laki-laki yang biasa aja. Yang penting laki tulen!"
Alya hanya mendengarkan sekilas tapi tidak antusias. Menurut Alya membicarakan artis dan tokoh yang tidak dikenal itu tidak ada gunanya. Lalu Alya memilih memainkan game di ponsel suaminya dibanding melihat akun gosip.
Tiba-tiba Dokter Mira dengan tergopoh-gopoh mencari Alya.
"Dokter Alya" panggil Dokter Mira cemas memegang ponsel. Alya yang sedang tidak enak badan menoleh ke Dokter Mira lesu. Dokter Mira langsung mendekat ke Alya yang sedang duduk nurse station dan meraih tanganya.
"Are you okey?" tanya Dokter Mira panik.
"Aku baik-baik saja Dok. Dokter Mira kenapa?" jawab Alya heran seniornya tiba-tiba mengkhawatirkanya.
Dokter Mira menatap Alya tetap tenang, Alya tidak tampak gusar atau panik. Hanya saja wajahnya tampak pucat dan layu.
"Sepertinya Alya belum tahu berita tentang Ardi? Atau Alya tidak peduli tentang Ardi?" gumam Dokter Mira berfikir sendiri melihat ekspresi Alya.
"Ah bahkan gue belum memastikan apa hubungan Alya dan Ardi, apa gue tanya aja? Tapi apa alasanya gue tiba-tiba tanya Ardi ke Alya. Alya aja nggak pernah cerita?" Mira masih berfikir sendiri, padahal Mira sangat mengkhawatirkan sahabat barunya itu.
"Dok?" panggil Alya mengayunkan tangan ke kanan dan ke kiri melihat Mira malah bengong.
Dokter Mira menelan salivanya lalu tersenyum memandang Alya.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Mira mencari alasan.
"Belum" jawab Alya jujur.
__ADS_1
"Ke kantin yuk, temani aku makan!" ajak Dokter Mira. Mira berharap setelah makan bisa ngomong baik-baik, dan mengkonfirmasi hubungan Alya dan Ardi.
"Boleh" jawab Alya mengangguk setuju pergi makan. Karena kebetulan sudah jam makan siang dan pasien juga pas sepi, lalu mereka ke kantin.
Mereka berdua memesan makan. Siang ini Alya memesan bakso, dengan sambal yang banyak. Dokter Mira yang selama ini tau Alya sering bawa bekal dan hanya jajan jus sedikit heran Alya makan jajanan tidak sehat.
"Tumben jajan bakso?" tanya Mira mengeluarkan unek-uneknya.
"Iyah, nggak tahu perut rasanya enek terus, bawaanya mual, pusing. Jadi pengen yang seger-seger Dok!" jawab Alya menceritakan keadaanya.
Saat Alya menyantap baksonya. Tiba-tiba Alya mendengar televisi di kantin yang sedang menyiarkan acara gosip. Alya menjatuhkan sendoknya dan memperhatikan pembawa acara menyampaikan gosip. Di situ terpampang wajah suaminya menghadiri acara peresmian hotel yang sangat mewah. Tapi di situ juga ada kata-kata yang sangat tidak masuk akal.
"Lelaki yang dipacarinya adalah Ardi Gunawijaya Putra pewaris Gunawijaya Grup. Dia juga belum menikah di usianya yang mendekati kepala tiga"
Di situ berjalan foto-foto suaminya duduk-duduk minum bersama salah satu artis yang memang digosipkan mempunyai kelainan. Setelah itu foto suaminya berjalan dipapah berdua dengan laki-laki masuk ke kamar sebuah hotel.
Alya menghela nafasnya tidak percaya. Mira menatap Alya dengan serius, karena memang itu yang hendak Mira tanyakan. Mulut Alya tercekat tidak bisa berkata-kata. Wajah Alya pucat dan mengeluarkan keringat dingin.
"Tidak mungkin Mas Ardi gay, bahkan dia sangat mesum dan bernafsu terhadapku. Dia bisa melakukanya lebih dari satu kali dalam semalam. Apa dia menikahiku hanya karena anak dan pewaris? Apa itu alasanya dia tidak mengumumkan pernikahan kita?"
Nafas Alya ngos-ngosan. Alya memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.
"Alya" panggil dr. Mira meraih tangan Alya. "Kamu kenapa?" tanya Mira pelan. Sebenarnya Mira ingin mengulik banyak hal dari Alya tapi takut menyakiti Alya dan menyinggungnya. Mira akhirnya memilih diam.
Alya hanya tersenyum menjawab Dokter Mira. "Nggak apa-apa Dok!"
Dari arah luar kantin, Anya datang berlari mencari Alya dengan tergopoh-gopoh. Padahal Anya seharusnya jaga sore, dia berangkat 30 menit lebih awal, dan langsung mencari Alya.
"Alya" panggil Anya antusias ke Alya. Alya dan Mira menoleh ke Anya keheranan, bisa-bisanya jaga sore sudah sampai di rumah sakit di jam segini.
"Al... Ni sepupu lo kan?" tanya Anya to the point, menunjukan timeline di akun gosip instagram.
Mira semakin kaget dan tidak mengerti. Anya mengatakan Ardi sepupu Alya? Gery cerita melihat Alya berciuman dengan Ardi? Puzzle apa ini? Akhirnya Mira memilih diam menjadi penonton, pura- pura tidak tahu.
"Iya kan ini sepupu lo yang nginep di apartemen megayu bareng kita? Bener kan?" tanya Anya menggebu-gebu.
Mendengar gosip tentang suaminya yang sangat memalukan Alya mengurungkan niatnya memberitahu Anya kalau Ardi suaminya. Bahkan Alya merasa sangat jijik terhadap dirinya sendiri. Lelaki yang hampir setiap hari menidurinya selama sebulan lebih ini seorang yang digosipkan mempunyai hubungan dengan artis laki-laki.
"Aku nggak yakin itu Mas Ardi" jawab Alya lirih mencoba mengelak.
"Tante Lo dan Om Lo, keluarga Gunawijaya?" tanya Anya polos memojokan Alya.
"Iya" Alya mengangguk.
"Ya berarti iya dong, ini tuh sepupu lo. Pantes aja dia songong banget waktu itu. Natap gue aja ogah, ih amit amit. Ternyata dia kelainan" celethuk Anya dengan semangat ikut membenarkan gosip di TV.
Anya tidak sadar pendapatnya semakin menghunjam hati Alya. Sementara Mira yang curiga kalau Alya bukan sepupu Ardi menatap Alya penuh telisik.
Dan benar saja, air mata Alya menetes. Alya tidak bisa menyembunyikan perasaanya. Gosip dan pernyataan Anya sangat menyakiti Alya. Alya tidak mungkin menikahi lelaki kelainan.
"Lo nangis Al?" tanya Anya tiba-tiba.
Alya bangun dari duduknya tidak bisa berkata-kata. Alya bingung mau jawab apa. Jujur kepalang malu dan akan membuatnya tersudut. Tidak jujur Alya tidak bisa menutupi kenyataan dan perasaanya, berita ini entah benar atau tidak sangat menyakiti perasaanya.
Alya memegang pelipisnya. Tiba-tiba pandanganya kabur dan kunang-kunang. Alya berjalan sempoyongan.
"Alya" panggil Mira dan Anya bebarengan.
__ADS_1
Tidak lama Alya terjatuh pingsan.