
Di hari yang sama, dimana Farid tampak semangat berjuang. Dan keluarga Gunawijaya sudah siap berpiknik ke Bogor, dengan bahagia di tempat lain terjadi hal berbeda.
****
"Terima kasih Nyonya" ucap ART menerima amplop coklat yang berisi pesangon dari majikanya.
"Maafkan aku ya Bi, aku hanya bisa kasih segitu" ucap Sang Majikan.
"Tidak apa-apa Nyonya. Bahkan, jika masih diijinkan, saya tidak apa-apa tidak digaji, asal ikut Nyonya merawat babay El. Saya sayang sama Baby El, Nyonya" turur Asisten rumah tangga dengan tulus.
Membuat majikanya terharu.
"Terima kasih sudah merawatnya dengan baik ya, mulai sekarang aku yang akan merawatnya sendiri" jawab Sang Majikan dengan suara sendu.
"Iya Nyonya, semoga Baby El sehat"
"Maafkan aku suka marah, marah, maafkan aku dan ayah ayahku ya"
"Iya Nyonya. Semoga Nyonya dan Tuan selalu sehat. Saya juga minta maaf kalau saya melayani Nyonya ada kesalahan"
"Tidak, tidak ada yang salah dari kalian" jawabnya lagi.
"Sebelum kalian pergi, bolehkah aku memeluk kalian?" ucap Sang Majikan dengan mata berkaca-kaca.
Lalu mereka berpelukan. Hanya itu ungkapan rasa terima kasih yang bisa majikan itu berikan.
Menyadari, dalam hidup akan ada masa surut dan berkembang. Dan kini mereka temui nasa buruk itu.
Kadang arti seseorang akan terasa saat kita kehilanganya. Besarnya ketulusan dan berartinya seseorang akan terlihat saat dirinya dalam keterpurukan.
Dan kini dia tahu. Saat semua yang dia punya pergi, saat dia terpuruk. Teman-teman yang dia banggakan tidak ada yang menolehnya. Semua pergi.
Kepedihanya dia rasakan sendiri. Dan justru yang setia berbuat baik adalah Asisten Rumah Tangga. Orang yang selama ini tidak dia anggap keberadaanya.
"Saya pamit Nyonya" tutur Asisten rumah tangga Intan. Setelah melepaskan pelukanya.
"Iyah, hati-hati ya. Semoga kalian mendapatkan pekerjaan baru" jawab Intan melepaskan asisten rumah tangganya.
Secara resmi hari itu Intan memulangkan semua asisten rumah tangganya. Membiarkan mereka hidup dengan arahnya sendiri.
Setelah semua pergi. Intan kemudian masuk ke rumahnya menggendong putranya masuk ke rumah. Di tatapnya getir rumah mewahnya itu.
Tanpa bisa dia tahan, air matanya menetes. Intan tidak bisa menyembunyikan Kesedihanya. Sinta sudah memberi kabar keberangkatanya ke Paris pagi ini. Kini Intan sendirian, dan Intan memilih untuk menyerah.
"Mommy mommy, milk" panggil El meminta minum susu dengan menunjuk dot susunya.
__ADS_1
"Okey boy. Mommy buatkan ya. Wait mommy di sini" ucap Intan meletakan anaknya di karpet di depan tv.
Pekerjaan yang biasa dilakukan oleh baby sitter kini Intan harus mengerjakanya sendiri. Intan berjalan ke dapur. Sekaleng susu bubuk dengan merek tertentu dia buka, ternyata hanya tinggal sedikit.
Intan menelan ludahnya. Lalu dibuka lemari tempatnya menyimpan stok susu. Dicarinya kaleng susu yang sama dengan yang dia pegang.
"Hiks hiks" airmata Intan menetes lagi. Benda yang dia cari tak ditemukan.
"Bagaiamana ini? Bahkan susu untuk El habis" batin Intan menundukan kepala.
Stok susu El yang biasanya ada bergerdus-gerdus sudah habis, tidak bersisa.
Lalu ditolehnya anaknya sedang bermain memegangi mainan berbentuk bebek yang mengeluarkan cahaya dan suara. El tampak bahagia tidak tahu bahan makananya habis.
Intan melanjutkan kewajibanya. Mengisi botom dot dengan air hangat dan dingin. Diambilnya susu bubuk seadanya, sampai Intan balik-balik kaleng itu, berharap masih ada sisa dan tidak terasa hambar untul El.
"Ini milk-nya honey" ucap Intan ke anaknya memberikan susu buatanya.
El pun meneguknya. Tapi kemudian El menyerahkanya lagi ke Intan.
"No no no, no enyak" ucap El memberitahu, susu buatan mamanya tak seenak buatan bibinya selama ini.
Tentu saja rasanya berbeda. Susu El kali ini berbeda takaran, rasanya hambar, susunya tidak berasa. Karena Intan hanya memasukan susu sisa yang hampir habis.
Lalu Intan bangun untuk mengelabuhi El. Intan menambahkan sesendok gula mencampurnya dan memberikannya lagi ke anaknya.
Sambil menyusu, Intan menepuk-nepuk baby El agar tertidur.
Setelah El tertidur Intan bangun, melihat ke kamar, kardus-kardus tempatnya packing sudah rapih. Lalu dilihatnya kalender di dinding. Hari ini waktunya, hari ini tanggalnya. Tanggal yang tidak pernah dia bayangkan kedatanganya.
"Pah, ayo bangun kita harus bersiap-siap" panggil Intan ke Ayahnya yang sedang tertidur lemah.
"Kita mau kemana Nak?" tanya Tuan Didik.
"Intan udah cari kontrakan kok, Pah" jawab Intan.
"Uhuk... uhuk.. Papah mandi dulu ya" jawab Papah Intan sambil batuk.
"Iya Pah" jawab Intan.
Kemudian Intan menelpon jasa penyewa mobil bak. Tidak lama sebelum mobil bak datang, pintu rumah Intan diketok seseorang. Intan kemudian keluar.
"Selamat pagi Nyonya" sapa tamu Intan setelah dibukakan pintu rumah.
"Pagi Pak" jawab Intan membalas.
__ADS_1
Intan meneliti tampilan dua orang laki-laki yang menjadi tamunya. Intan tau siapa mereka.
"Hari ini sudah jatuh waktunya anda dan keluarga anda meninggalkan rumah ini Nyonya" tutur kedua tamu Intan sambil menunjukan surat tugas.
"Iya Pak saya tau. Saya tinggal nunggu mobil jemputan kok" jawab Intan
"Sesuai dengan amanat dari Bank, semua barang mewah dan perabotan juga masuk dalam sitaan Nyonya" tutur pegawai Bank lagi.
"Iya saya tau" jawab Intan lesu dan mengangguk pasrah.
Tidak lama mobil bak datang, mereka kemudian membawa baju-baju dan beberapa barang yang boleh dibawa Intan, ayahnya dan anaknya.
Dengan deraian air mata dan langkah berat. Intan dan ayahnya berjalan maju, meninggalkan rumahnya yang kini di depanya dipasang tanda barang sitaan. Termasuk mobil Intan dan koleksi tas mewahnya, semua disita.
Semenjak putus hubungan dengan Gunawijaya Grup, perusahaan ayah Intan sering merugi. Untuk menutupi kerugianya ayah Intan berhutang pada bank.
Tapi semakin lama perusahaan bukan semakin baik, melainkan terus merugi, bankrut dan gulung tikar.
Dan kini ayah Intan menanggung banyak hutang, sehingga semua harta Intan dan Tuan Didik harus disita untuk jaminan.
"Kamu harus bertahan Nak" batin Intan di dalam mobil bak, menggendong anaknya.
Sesaat Intan memandang jalanan. Memory beberapa hari lalu datang. Dimana Intan menyadari kesalahanya.
Bayangan dia kembali ke keluarga Gunawijaya hilang. Bahkan rencana balas dendamnya hancur berantakan dan justru menghancurkanya.
"Maafkan ibu Nak" ucap Intan lagi memangku Baby El.
Hari lalu Intan masih sempat berfikir mencelakai Alya dengan obat yang dia beli dengan harga mahal. Tapi belum sempat dia gunakan, saat Intan lengah, dengan kepolosan anaknya, Baby El mengobrak abrik isi tasnya.
"Mom mom, nii pa pa?" ucap Baby El dengan polos memegang racun yang Intan simpan. Bahkan menggigit bungkusnya.
Ingatan Intan masih sangat jelas. Rasanya sangat takut dan bersalah. Entah apa yang akan terjadi selnjutnya jika baby El berhasil mbuka bungkus racun dan menghisapnya.
Denga reflek, Intan segera merebutnya dan mengambilnya. Intan membuangnya tanpa pikir panjang, Intan melupakan berapa harga racun itu dan untuk apa. Intan langsung memeluk Baby El kencang.
"Terima kasih Tuhan, Engkau selamatkan anakku" batin Intan sambil menangis menyadari kesalahanya.
Dan di saat yang bersamaan, Intan kedatangan tamu. Tamu dari bank mengantarkan surat pemberitahuan, kalau rumahnya harus segera ditinggalkan. Rumahnya sudah menjadi barang jaminan.
"Papah kenapa tidak memberitahu Intan?" omel Intan ke ayahnya hari kemarin saat petugas penyitaan datang.
"Maafkan Papah Nak. Sebenarnya ini sudah lama diberi peringatan. Papah tidak ingin menyakitimu" jawab Papah Intan membuat Intan semakin sadar.
Dan sejak hari itu Intan menyerah. Dirinya sudah kalah telak. Jangankan mengusik atau mencelakai Alya. Kini Intan harus benar-benar berfikir bagaimana caranya hidup.
__ADS_1
Semua barang mewah yang dia punya juga harus dijual untuk menyambung makan.Intan hanya diberi waktu 2 hari untuk menyelamatkan diri.
Dan kini Intan sedang dalam perjalanan, bersiap hidup baru dalam kesederhanaan. Semua kemewahan yang pernah dia punya dan dia impikan, semua sirna.