
Setelah operan jaga, Alya membersihkan badanya dan bersiap pulang. Saat Alya hendak masuk, Mira tampak turun dari mobilnya.
Meski menahan kantuk, Alya tidak ingin menyiakan kesempatan. Alya ingin meluruskan kejadian kemarin.
"Mba Fitri, saya mau menemui seseorang dulu" tutur Alya pamit ke Fitri.
"Siapa Nyonya?"
"Kepo banget sih?"
"Maaf Nyonya. Itu bagian dari tugas saya" jawab Fitri sopan dan menunduk.
"Hem. Dia Dokter Mira, seniorku, suamiku kenal kok. Udah ya, keburu pergi orangnya!" ucap Alya cemberut meninggalkan Fitri.
Fitri hanya memperhatikan majikanya berjalan mengejar seseorang.
"Dokter Mira tunggu" panggil Alya ke Mira.
Alya berjalan setengah berlari mengejar Mira yang hendak masuk ke rumah sakit.
"Ada apa Al?" tanya Mira dengan ekspresi enggan, bercampur rasa tidak enak.
"Boleh ngobrol sebentar?" tanya Alya ramah dengan tersenyum.
"Oke" jawab Mira singkat.
Lalu Alya dan Mira duduk di bangku taman rumah sakit.
"Ehm" Mira berdehem merasa tidak nyaman.
"Sebenarnya saat di toko perhiasan kemarin. Alya mau tanya sesuatu, tapi karena ada mas Ardi, jadi Alya tunda" tutur Alya memulai bercerita.
"Apa yang mau kamu tanyakan?"
"Kenapa Dokter Mira tega ninggalin Alya di kafe bareng Mba Intan kemarin?"
"Gue cuma mau nolongin Intan dan kasih tau Lo" jawab Mira ketus dan terus terang.
"Nolongin?" tanya Alya heran.
"Gue khawatir Al sama Lo, gue juga kasian sama Intan. Ardi tuh nggak bener. Oke suami lo emang punya segalanya, tapi bukan berarti dia bisa berbuat semaunya sama perempuan" jawab Mira merasa benar dan ingin menyadarkan Alya siapa suami Alya.
"Apa maksud Dokter Mira bicara begitu?"
"Al, Intan berhak menuntut tanggung jawab Ardi. Dia single parents, selama ini dia menderita membesarkan anak seorang diri. Gue tau lo nggak mungkin mau berbagi suami. Tapi apa lo nggak kasian sama anak Intan?" jawab Mira masih ingin membuat Alya sadar.
"Dok. Anak Mba Intan bukan anak suamiku" jawab Alya mantap dan menyanggah penjelasan Mira. Benar kata Dokter Gery, Mira terhasut Intan.
Mira tersenyum sinis menatap Alya.
"Al. Lo nggak kasian sama anak Intan? Lo nggak bayangin gimana di posisi Intan. Mereka tunangan lama, ditinggalin gitu aja" jawab Mira lagi merasa Alya jahat.
"Dok. Saya kasian sama Mba Intan dan anaknya. Makanya kami ijinkan Mba Intan kembali bekerja di yayasan. Tapi Dok, Mba Intan tidak sedikitpun membahas anaknya pada pertemuan kemarin. Dia datang untuk memprovokasiku, agar kami bertengkar" jelas Alya memberitahu Mira kenyataanya.
Mendengar perkataan Alya, Mira terdiam. Mira menelan ludahnya merasa malu.
"Benarkah?" tanya Mira.
Alya mengangguk iba ke Mira.
"Alya percaya suami Alya. Dan Alya yakin Dokter Mira juga kenal Mba Intan dan suami saya dengan baik".
"Bukanya dia menemuimu untuk perjuangkan hak anaknya?" tanya Intan lagi tidak ingin terlihat salah.
"Nggak sama sekali Dok. Untungnya, Mas Ardi sudah lebih dulu menjelaskan keadaan Mba Intan" tutur Alya menjelaskan kebenaranya.
Mira diam tidak menjawab menyadari kesalahanya. Tapi masih enggan meminta maaf.
"Di sini Alya mau minta tolong ke Dokter Mira. Tolong kasih tau Mba Intan. Kalau memang Mba Intan masih mau bekerja di yayasan. Bekerjalah profesional. Maka kami juga akan memperlakukan dia dengan profesional, itu ujud simpati kami terhadap anak dan kehidupan Mba Intan" jawab Alya ramah dan bijak.
"Kenapa kamu tidak sampaikan langsung?" tanya Mira merasa kecelik.
"Suamiku tidak memberiku ijin untuk menemuinya, apalagi menjelaskanya. Dia sahabat Dokter Mira kan?"
Mira menelan ludahnya lagi. Ternyata Mira salah menilai. Dan sekali lagi Alya menunjukan sisi baiknya yang membuat Mira semakin malu. Lalu Mira teringat Gery lagi.
"Ok" jawab Mira dingin dan mengangguk tapi tetap belum minta maaf.
"Alya berharap Dokter Mira bisa menyampaikanya dengan baik. Oh iya, selamat ya Dok"
"Selamat apa?"
"Alya denger Dokter Mira sebentar lagi mau menikah. Semoga ini keputusan terbaik Dokter, dan tidak ada penyesalan" tutur Alya pelan.
"Apa maksudmu bilang begitu?" tanya Mira sedikit tersinggung.
"Apa Dokter yakin, Dokter benar-benar sudah melupakan Dokter Gery? Apa dokter yakin bisa mencintai suami Dokter tanpa bayangan Dokter Gery?"
"Lo nggak perlu khawatirin gue. Gue bahagia dengan pilihan gue" jawab Mira mengalihkan pandangan menghindari tatapan Alya.
"Semoga lancar ya Dok"
"Kenapa lo khawatirin gue? Lo tau darimana?"
"Kemarin suamiku dan Dokter Gery ketemuan"
"Gery cerita tentang gue?" tanya Mira sedikit berbunga hatinya. Ternyata Gery memikirkanya.
"Tentu saja. Alya salut sama Dokter Gery, dia punya hati yang besar, demi kebahagiaan Dokter Mira meski hatinya sedih"
"Lo nggak usah ngarang Al. Lo bicara apa sih?"
"Alya sedih dengan kisah kalian. Padahal Alya berharap kalian bersatu. Kasian Dokter Gery" tutur Alya sedih dan jujur.
__ADS_1
"Al. Lo nggak usah sok-sokan simpati sama dia, kita emang nggak ada hubungan apa-apa, dia juga pasti bahagia kok" jawab Mira menepis harapan di hatinya.
"Nggak Dok. Alya tau Dokter Gery tuh patah hati, Dokter Gery itu cinta sama Dokter Mira"
"Sory Al, gue nggak mau denger lagi. Kerjaan gue banyak" jawab Mira tidak ingin keputusanya menikah menjadi goyah.
"Apa Dokter Mira tidak tahu kalau Dokter Gery mencintai Dokter?"
"Al, Gery tuh cintanya sama Lo. Buka gue"
"Dokter Gery hanya kasian dan penasaran ke Alya Dok. Bukan cinta, hubungan kita sebatas kakak dan adik"
"Sory Al. Gue bukan pelarian atau pengganti. Gue juga nggak percaya apa yang lo katakan. Gue sibuk! Udah kan?" jawab Mira lagi tidak ingin membahas Gery.
"Maaf, Alya hanya sampaikan apa yang Alya tau Dok" jawab Alya lagi tapi Mira justru bangun dan meninggalkan Alya.
Alya hanya diam menatap Dokter Mira pergi dengan tatapan kasian. Apa karena pertemanan mereka belum lama, sehingga Dokter Mira tidak mempercayainya? Kenapa justru Dokter Mira lebih percaya Intan.
"Semoga kamu nggak menyesal Dok" gumam Alya dalam hati lalu berjalan ke mobil.
"Ayok pulang Mbak" ucap Alya ke Mba Fitri.
"Baik Nyonya" jawab Fitri menyalakan mesin lalu mereka meninggalkan rumah sakit.
"Sejak kapan kamu bisa nyetir?" tanya Alya ingin tau tentang asisten yang dipilih suaminya ini.
"Ehm" Fitri berdehem seakan ingin menyembunyikan sesuatu dalam hidupnya.
"Saya nyetir dari lulus SMA, Nyonya"
"Wah hebat ya. Kamu udah cantik, pinter nyopir, pinter bela diri lagi. Ck. Kok kamu mau sih cuma jadi asistenku begini?" tanya Alya mengagumi sopirnya.
"Saya menyukai pekerjaan ini, apalagi bersama Nyonya" jawab Fitri jujur.
"Jangan panggil Nyonya. Kita seumuran. Panggil Mba aja!"
"Iya Mba"
"Emang suamiku nyuruh apa ke kamu sampai kamu kepo sama temenku?"
"Saya harus memastikan orang yang menemui Nyonya bukan orang jahat"
"Isssh. Nggak usah terlalu saklek gitu kerjanya. Santai aja!"
"Saya hanya bertugas memastikan Nyonya tidak bertemu orang yang Tuan Ardi catat dan menyakiti Nyonya"
"Oh gitu? Hemm. Aku nggak selemah itu kok. Bikin laporan yang baik-baik aja. Biar kita berdua sama-sama enak, oke?"
"Baik Nyo, ehm Mba"
"Bagus" jawab Alya menyandarkan kepalanya ke jok mobil.
Sesaat Alya tidur, tapi saat di lampu merah Alya terbangun. Alya kaget saat dia menyadari dia tidak berada di jalan menuju ke rumah mertuanya ataupun apartemen suaminya.
"Isya Alloh hafal Mba"
"Terus kita mau kemana?"
"Ke kantor Tuan Ardi Nyonya"
"Hah? Ke kantor? Ngapain? Aku semalam nggak tidur lhoh. Aku mau istirahat"
"Maaf Mba. Ini perintah Tuan Ardi"
"Aduh buat apa ke kantor sih?"
"Tuan Ardi hanya berpesan mengantar Nyonya ke kantor, lalu saya boleh beristirahat"
"Hoh" jawab Alya heran tidak habis fikir dengan suaminya. Alya terdiam menggigit bibirnya cemas.
"Ya ampun! Jangan bilang Mas Ardi mau minta jatah? Ahh, aku capek banget. Kenapa suamiku tega banget sih?" gumam Alya membayangkan tugasnya yang akan menguras keringatnya.
Tidak lama mereka sampai di kantor Gunawijaya. Satpam dan resepsionist kenal dengan wajah Alya.
Perempuan berjilbab yang memakai gamis berwajah mungil dan manis ini adalah menantu dari pemilik gedung itu. Pegawai Tuan Aryo membungkukan badanya menyambut Alya.
Alya membalasnya dengan senyum manis dan lesung pipitnya. Dengan setia Fitri mengantar ke tempat kerja petinggi perusahaan yang settinganya lebih mirip rumah.
"Selamat Pagi Nyonya" sambut salah satu staf Ardi. Melihat Alya keluar dari lift.
"Pagi" jawab Alya ramah.
"Tuan Ardi berpesan, Nyonya istirahat terlebih dahulu di ruangan Tuan Ardi. Kami ditugaskan untuk menyediakan makanan yang diinginkan Nyonya. Silahkan ditulis di sini Nyonya" tutur karyawan Ardi sopan memberikan ballpoint dan kertas.
"Ah begitu ya?" tanya Alya kikuk, dilayani dengan banyak orang membuat Alya risih dan tidak nyaman.
"Memang suamiku kemana?"
"Tuan Ardi sedang memeriksa tempat proyek Nyonya. Sekitar 2 jam lagi akan kembali ke kantor" jawab karyawan sopan.
"Ooh. Ya" jawab Alya mengangguk lalu menuliskan makanan yang ingin Alya makan.
Setelah Alya masuk. Fitri kemudian pamitan untuk pulang dan beristirahat. Alyapun mengijinkan Fitri untuk pulang dengan ramah.
Alya masuk ke ruangan suaminya. Masuk ke ruangan kecil tempatnya beristirahat. Ingatan Alya masih nampak jelas, saat suaminya meminta haknya di ruangan itu beberapa waktu lalu.
"Ck. Jangan bilang Mas Ardi menyuruhku kesini, karena hal itu? Dasar laki-laki! Ya Tuhan, dosa nggak sih sekali saja aku menghindar, aku benar-benar lelah. Aku ingin tidur di rumah" Alya duduk melamun membayangkan suaminya.
Di atas kasur, Ardi sudah menyiapkan baju tidur untuk Alya. Hanya Ardi yang punya ide segila itu. Sengaja mendesain ruang kerjanya ada kamar khusus. Istri pulang kerja bukan disuruh istirahat ke rumah malah disuruh tidur di kantor.
"Semoga pekerjaanya lama, aku harus tidur! Apa aku kunci aja ya pintunya?" gumam Alya berfikir menghindari suaminya.
Kemudian Alya bangun dan berniat mengunci kamar. Tapi ternyata kuncinya tidak ada.
__ADS_1
"Haish dari awal menikah sampai sekarang kebiasaanya masih sama. Suka banget nyimpen kunci" gerutu Alya kesal.
Kemudian Alya memilih merebahkan badanya.
Belum Alya terlelap karyawan Ardi datang membawa makanan pesanan Alya. Nasi dan ayam geprek, es jeruk, jus mangga dan sekotak salad buah.
"Terima kasih Mba" ucap Alya sopan. Menghargai karyawan Ardi.
Sebelum tidur Alya memilih makan salad buah. Setelah mengisi perutnya Alya bersantai sejenak, kemudian tidur, mengistirahatkan badanya setelah tadi malam bekerja keras.
Membaca pesan dari anak buahnya, istrinya sudah menunggu dan kebetulan semua pekerjaan sesuai mau Ardi. Ardi mempercepat kunjunganya dan segera kembali ke kantor.
"Dimana istri saya?" tanya Ardi ke staff nya.
"Nyonya sedang istirahat Tuan" jawab Staff Ardi.
"Ok"
Ardi segera masuk. Alya masih tertidur di ruangan kecil lengkap dengan jilbabnya. Baju yang Ardi siapkan tidak dipakainya.
Ardi berdecak melihat wajah lelah istrinya. Kemudian Ardi kembali bekerja meneliti beberapa berkas yang dibawakan Dino.
Setelah selesai, Ardi kembali masuk ke tempat istirahatnya dan membuka lemari. Saat Ardi masuk Alya terbangun.
"Udah bangun Sayang? Mas ganggu yah?" tanya Ardi pelan lalu duduk di samping Alya.
"Mas Ardi?" tanya Alya gelagapan, lalu melihat jam di atas nakas.
"Duh, kok Mas Ardi baliknya cepet banget sih, aku kan masih ngantuk" gumam Alya dalam hati.
"Kenapa tidur pakai baju panjang sih Yang? Mang nggak susah, kusut nanti bajunya" tanya Ardi perhatian.
Mendengar pertanyaan Ardi, Alya salah tingkah dan memeluk badanya cemas.
"Mas. Lian ngantuk banget. Lian minta maaf ya!" ucap Lian memelas.
Mendengar istrinya memasang wajah lemas Ardi mengangguk, dan kasian. Tapi untuk maaf untuk apa?
"Iya Sayang, tidurlah" jawab Ardi melihat jam tanganya.
"Mas nggak marah kan? Maafin Lian yah. Lian janji nanti kalau udah enakan Lian mau" jawab Lian lagi.
Mendengar ucapan Alya Ardi terhenyak kemudian tersenyum kecil. Lalu memandangi istrinya dengan tatapan lucu.
"Kok mas ketawa?" tanya Alya polos
"Ehm. Emang kenapa?"
"Jangan marah, please yah. Nanti aja ya. Mas lanjutin kerja aja. Lian mau tidur lagi" tutur Alya polos mengira suaminya mengajak Alya melakukan sesuatu.
Ardi kemudian paham maksud Alya dan ingin mengerjainya.
"Emang nanti mau apa?"
Alya menelan ludahnya, diam dan malu sendiri dengan ucapanya.
"Emm. Mas, mas, nyuruh Lian ke sini? Bukan karena ingin itu?" tanya Alya malu-malu.
"Ingin apa?"
"Ehm"
"Apa?" tanya Ardi mendekatkan wajah.
"Mas siapin baju ini? Bukan untuk itu?"
"Itu apa?"
"Itu?" jawab Alya menggerakan tanganya memberi kode.
"Pletak" Ardi menyentil kepala Lian.
"Uuuh. Sakit!"
"Dasar mesum, sebenarnya yang pingin itu mas atau kamu? Kalau mau bilang aja"
"Nggak nggak bukan gitu. Terus ngapain Lian pulang kerja disuruh kesini?"
"Hemm! Mas nyuruh kamu ke sini buat jemput Mamah Papah"
"Mamah Papah?"
"Iya, siang ini Mama Papa balik"
"Oooh. Hihi maaf" jawab Alya nyengir karena salah sangka.
"Padahal Mas nggak kepikiran lho. Tapi karena kamu duluan yang ingetin, kamu harus tanggung jawab"
"Tanggung jawab apa?"
"Kasih itu!"
"Itu apa?"
"Yang kamu bilang tadi!"
"Mas.. Nanti di rumah aja ya!"
"Sekarang!"
"Mas!"
"Dosa lho kalau bantah"
__ADS_1