Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
248. Obat Nyamuk


__ADS_3

“Kau tau? Papah sudah lama alergi darah!” ucap Tuan Aryo dingin. 


Di dalam ruang kerja rumah keluarga Tuan Aryo. Anak bapak itu sedang duduk berhadapan. Jarang- jarang mereka berbicara seperti itu jika bukan tentang hal penting. 


“Ya Pah!” jawab Ardi paham maksud ayahnya. 


“Jangan kau kotori tangan Gunawijaya dengan hal yang tidak berguna begini, waktumu bersama anak dan istrimu lebih berharga dari pada untuk mengurusinya. Biar oranglain yang urusi” tutur Tuan Aryo menasehati. 


“Iya Pah” jawab Ardi. 


Di ruangan kerja ayahnya itu, Ardi meminta pendapat ke ayahnya. Membereskan Mira dengan aturan Gunawijaya atau menyerahkanya pada polisi.


Saat masih muda dulu, menghadapi musuh atau penghianat, Tuan Aryo lebih suka mengurusnya sendiri daripada lapor polisi.


Entah dengan cara menyiksa dan memukulinya sampai babak belur dan puas. Atau mengurung dalam tempat yang sangat menyeramkan, membiarkanya kelaparan dan ketakutan sampai memohon dan menyerah minta ampun. Tapi yang pasti mereka antimembunuh.


Tapi sekarang, entah karena Mia salah satu orang yang disayang sebelumnya, atau karena menyadari sudah tua waktunya memikirkan akhirat. Tuan Aryo ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan damai dan menyerahkan ke polisi saja.


Tuan Aryo juga tidak berminat menemuinya atau ikut mengurusinya. Kali ini dia percaya anaknya bisa. 


“Mia cuma boneka, dia tidak akan berguna apa- apa. Biar polisi yang mengurusnya, kita fokus siapkan keamanan untuk pestamu saja!” tutur Tuan Aryo lagi. 


“Baik Pah. Lalu bagaimana dengan Tuan Wira dan Lila Pah?” tanya Ardi lagi. 


“Dia sudah kehilangan banyak hartanya, ruang geraknya tidak akan banyak. Lihat saja, orang kita akan segera menemukanya! Kau harus tunjukan ke papah bisa selesaikan masalah ini dengan baik” jawab Tuan Aryo mantap. 


Ardi diam, itu artinya ayahnya mau cuci tangan dan tidak mau ikut campur terhadap masalah Ardi. Karena Ardi sendiri yang dulu melanggar perintah ayahnya, untuk tidak bekerja sama atau berhubungan dengan Tuan Wira. Malah Ardi melanggarnya. 


“Siap Pah!” jawab Ardi lagi. Intinya Ardi harus tangkap Lila sendiri. 


“Ya sudah, papa mau mandi, setelah itu kita sarapan bersama. Urusan kantor beres kan?”


“Beres Pah! Selama Ardi tidak ke kantor, Dino cukup handal menanganinya” jawab Ardi. 


"Jaga cucu Papah dengan baik. Papah sudah tidak sabar pensiun dan nimang cucu" ucap Tuan Aryo dengan hangat. Jarang-jarang Ardi mendengar ungkapan perkataan seperti itu dari ayahnya.


"Siap Pah" jawab Ardi bahagia.


Tuan Aryo mengangguk tersenyum lalu mereka pergi.


Ardi kemudian menelpon anak buahnya, memberi perintah membawa Mia ke polisi saja bersama Ciko. Rupanya Tuan Aryo dan Bu Rita tidak ingin melihat wajah Mia di kantor polisi. 


Bagi mereka itu memilukan, mereka ingin mengingat Mia yag aktif, lucu dan berani. Tuan Aryo tidak ingin melihat Mia yang ternyata seorang penghianat. 


Ardi kemudian masuk ke kamarnya. Alya, istri manisnya sudah berganti pakaian. Hari ini acaranya adalah ambil pakaian couplean untuk keluarga dan sahabat mereka dari butik. 


“Cantik banget istri Mas, mau kemana sih?” tanya Ardi memeluk dan mencium bahu Alya.


“Mau ikut Mamah Mas, biar nanti bajunya Lian bagiin ke Anya dan Dinda di rumah sakit, rencana mendadak sih, jadi kita bagiinya udah jadi baju, semoga pada muat dan suka dengan modelnya” jawab Alya menyambut pelukan suaminya dengan balas memegang tanyan Ardi.


“Muat- muat, kalau bajunya udah jadi sekalian kan malah bagus modelnya kembaran, daripada kemarin pas di Gery. Kan Cuma sama warnanya aja, kita juga memudahkan teman-teman nggak perlu jahit lagi” jawab Ardi membanggakan diri.


“Hehehe iya sih, tapi kan seharusnya kita bisa punya persiapan lebih matang. Dokter Gery kan nikah urgent. Kalau kita nikah udah berbulan-bulan” jawab Alya.


"Nggak apa-apa resepsi kita tetap indah kok. Cup" ucap Ardi tetap membela diri sambil mencium kepala Alya.


“Mas, hari ini Lian jaga lembur, sore malam ya!” tutur Alya pamitan.


“Emang kamu nggak capek? Katanya sering kram?” tanya Ardi dengan nada tidak suka. Alya menolak keinginan Ardi dengan alsana kesehatan malah sekarang mau kerja lembur.


“Kan nanti bagi tugas dengan dokter lain Mas! Ini konsekuensi Lian sering ijin, bayangin jadi Dinda yang udah jagain Lian? Kasian kan? Jadi Lian harus bayar jaga juga” jawab Alya memberi tahu.

__ADS_1


Alya tau bekerja lembur tidak baik. Tapi Alya yakin temanya nanti akan memakluminya dan membiarkan dia banyak istirahat. Alya juga tidak mau dzolim ke Dinda, udah selalu jagain jdawal Alya masa nggak dibayar.


“Ya.. tapi mas jadi tidur sendiri” jawab Ardi mengeluh lagi.


“Mau ikut jaga?” tanya Alya berniat hanya ngetes aja, biar Ardi mengerti jadi suami nakes emang akan menemui waktu dimana Ardi harus tidur sendiri.


“Beneran boleh ikut?” tanya Ardi beneran malah menanggapi serius pertanyaan Alya.


“Heeh?” Alya bengong merasa salah ucap dan tidak mengira Ardi akan menyambut perkataanya.


“Oke pulang kerja mas ke rumah sakit!” ucap Ardi bersemangat.


“Maas” ucap Alya nggak percaya dan berniat melarang dan mengurungkan niat suaminya


“Nanti berangkat sama Mas. Jangan berangkat kerja sebelum mas jemput!” sahut Ardi tidak membiarkan Alya bicara lebih banyak.  


“Mas, kan udah ada Fitri! Mas juga ja-” tutur Alya merasa kasian dengan suaminya jika harus bolak balik urusin dia padahal udah lelah bekerja.


“Biar aja dia di rumah gantiin Mia. Mas yang jadi sopir kamu!” ucap Ardi kekeh tidak memberi kesempatan Alya beralasan melarangnya.


“Tapi!” ucap Alya terpotong.


“Ssstt,  nglawan suami itu dosa!” ucap Ardi mengeluarkan senjatanya. 


“Ish” Alya hanya mendesis lalu dari luar terdengar suara ketukan pintu. Mereka berdua kemudian membuka pintu sekaligus beranjak keluar. 


“Ada apa Mah?” tanya Ardi ternyata ibunya yang mengetuk pintu. 


“Faisal udah nunggu kamu dari tadi, apa rencanamu setelah ini? Kalian mau kemana?” tanya Bu Rita dengan nada getir. 


Ardi diam menghela nafasnya. Lalu menatap ibunya. 


Bu Rita kemudian diam dan matanya berkaca- kaca sambil menelan ludahnya. Melihat hal itu Alya mendekat dan meraih bahu mertuanya untuk menguatkan.


Alya tau bagaimana perasaan Bu Rita. Bu Rita dulu yang memungut Mia dengan penuh cinta dan sepenuh hati. 


Memberinya makan tempat tinggal dan pendidikan, Mia sendiri yang memilih mengabdi di rumah itu padahal Bu Rita sudah memberi pilihan berkarir di luar.


Alya tahu, sakit dan kecewa Alya tidak seberapa dibanding sakitnya hatinya Bu Rita. Bu Rita pasti merasak lebih terhianati.


“Kalau Mamah nggak sanggup buat ketemu Mia, nggak usah dipaksain Mah. Kita jenguk Mang Adi aja!” tutur Alya pelan.


Bu Rita mengangguk. 


“Ya!” jawab Bu Rita pelan dan tidak banyak bicara.


Lalu mereka turun ke meja makan. Ardi mempersilahkan Faisal masuk, bahkan mengajak Faisal untuk makan bersama dengan keluarga itu.


Tuan Aryo meskipun seram dan tampak dingin tapi hatinya baik. Di kesempatan itu, dia juga mengutarakan terima kasih kepada Faisal dan Mang Adi. Sudah mengabdikan banyak waktu dan tenaganya untuk keluarganya. 


“Terima kasih Tuan” jawab Faisal hormat dan santun ke Tuan Aryo. 


“Istri dan menantuku akan jenguk bapakmu, maaf saya ada rapat penting jadi tidak bisa ikut menjenguk ayahmu!” ucap Tuan Aryo lagi. 


“Suatu kehormatan Tuan, jika Nyonya besar bersedia menjenguk ayah saya” jawab Faisal merendah. 


Setelah selesai makan mereka semua kemudian bergegas sesuai dengan keperluan masing- masing. Ardi diantar Pak Arlan, Tuan Aryo diantan Pak Rudi, Bu Rita dan Alya diantar Fitri, dan Bu Mirna diantar Mang Diman.


Kini Bu Mirna benar- benar diperlakukan sebagai Nyonya besar dan bekerja seperti guru sungguhan. Bahkan Bu Mirna pergi sendiri tanpa Bu Rita.


“Kita jenguk Mang Adi dulu ya Sayang” ucap Bu Rita di dalam mobil.

__ADS_1


“Iya Mah, kita beli parcel dulu ya Mah!” 


“Ya!” 


*****


Setelah membersihkan dirinya Dokter Nando sudah berpakaian rapih dengan kemeja kotak kotak warna biru dan abu- abu dipadu dengan celana kain rapih.


Dengan tubuhnya yang tinggi dan sekarang ototnya sudah berisi, Dokter Nando memang masih tampak gagah dan bugar. Semakin tua malah semakin matang.


Kini dokter Nando siap menjalankan tugasnya sebagai dokter bedah. Dan kini ketiga dokter spesialis itu berkumpul di meja makan.


“Gimana rasanya Pah? Enak nggak?” tanya Mira dengan percaya diri dan mulai akrab dengan mertuanya. Mental Mira memang sekeren itu.


“Enak” jawab dokter Nando mengunyah makanan di depanya. 


Lalu dengan kepercayaan dirinya Mira menyuapi suaminya dengan mesra. Sengaja memanasi mertuanya. Merek berdua tidak tahu bahkan Dokter Nando sudah lebih panas dan memergoki mereka lebih jauh ketimbang suap-supanan.


Dokter Nando seperti menjadi obat nyamuk di hadapan anak dan menantunya sekarang. Gery dan Mira memang benar- benar kurang ajar. Mereka pantas disebut anak dan menantu durhaka.


“Pah. lebih enak lagi kalau ada yang suapin Pah!” ucap Gery akhirnya memberanikan diri ngecengin bapaknya 


“Uhuk- uhuk” Dokter Nando yang dari kemarin tidak nyaman karena keseringan nemuin adegan panas secara gratis itu langsung batuk. 


“Minum dulu Pah!” ucap Mira memberikan minum sambil menahan ketawa.


Mira dan Gery memang sekongkol mau memprovokasi ayahnya untuk menikah lagi. Mereka juga sedang mengorek kehidupan pribadi bapaknya. 


Dokter Nando kemudian minum, dengan pelan. Lalu menatap Gery anaknya yang gesrek dengan seksama. 


“Maksudmu apa? Papah bisa makan sendiri!” jawab Dokter Nando dingin, dan mulai menyadari kalau ternyata anaknya sengaja memanasinya. 


“Pah, papah makin hari tambah ganteng lho Pah!” ucap Gery lagi masih ngledekin Papahnya. 


“Baru tau? Kamu pikir kamu ganteng dari siapa kalau bukan nurunin dari papah? Kalau papah nggak ganteng mamahmu nggak mau sama papah” jawab Dokter Nando malah menyombongkan diri.


“Ehm.. maksud Gery bukn gitu Pah” jawab Gery. 


“Maksudmu apa?” tanya Dokter Nando. 


“Gery sekarang udah nikah Pah, Gery mau urusin keluarga Gery. Gery pengen papah punya temen di rumah dan urusin papah!” tutur Gery akhirnya mengungkapkan niat baiknya. 


“Hmmm” Dokter Nando hanya berdehem.


"Sebenarnya Papah punya pacar nggak sih Pah? Kok papah betah menjomblo selama ini" tanya Gery tidak sopan.


"Kamu ngomong apa sih?" tanya Dokter Nandi merasa anaknya benar-benar kurang ajar.


"Pah. Gery pengen Papah nikah lagi" ucap Gery.


"Ehm" Dokter Nando berdehem lagi, tidak menolak dan tidak menjawab malah mengambil air minum kemudian bangun. Entah, Dokter Nando setuju atau tidak dengan pendapa Gery.


“Masakan kalian enak. Papah berangkat dulu. Selamat bekerja” tutur Dokter Nando malah pamitan.


“Pah!” panggil Gery melihat Ayahnya bangun.


“Papah berangkat” jawab Dokter Nando. 


“Gery dan Mira malam pulang ke apartemen ya Pah!” teriak Gery karena Dokter Nando seperti menghindari anak dan menantunya. 


Dokter Nando terus berjalan ke depan tidak menoleh ke Gery. Entah apa ekspresinya mendengar anak dan menantunya mau meninggalkannya. Sedih atau senang? Tidak ada yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2