Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
111. Ditunda lagi


__ADS_3

"Mohon maaf Nyonya. Saya hanya mendapatkan foto ini, sopir Tuan Ardi hampir saja memergoki kita. Jadi kita langsung pergi" ucap salah satu anak buah Intan.


Intan membuka foto dari anak buahnya. Wajah perempuanya tidak terlihat. Hanya terlihat Ardi memeluk perempuan di teras rumah di komplek perumahan.


"Saya tidak menemukan data mengenai Nyonya Berlian di kota ini. Rumah itu ternyata kos-kosan Nyonya. Daerah situ dekat dengan RSUD X dan Kampus Y, kemungkinan perempuan itu mahasiswa atau pegawai rumah sakit yang berasal dari luar" jawab anak buah Intan.


Saat Ardi keluar dari kantor Intan menyuruh orang untuk mengikuti Ardi. Intan ingin tau siapa Berlian. Untungnya Arlan dengan sigap menyadari kalau mobil anak buah Intan selalu mengikutinya. Jadi berhasil mengusir sebelum tahu wajah Alya.


Intan menganggukan kepalanya. "Ardi pacaran sama mahasiswa? Atau orang medis? Bukan pengusaha atau anak pengusaha. Menarik" gumam Intan menerka -nerka sendiri.


"Selidiki perempuan ini!" perintah Intan. Kedua anak buah Intan pun pergi bersiap menyelidiki kos-kosan Anya.


Intan menggenggam ponselnya dengan geram. Berfikir dalam hati. "Kalau dihubungkan sepertinya ada hubunganya dengan cerita Sinta. Apartemen Megayu dan perumahan Griya Asri itu dekat. Tapi perempuan yang Sinta ceritakan namanya Alya bukan Berlian" gumam Intan dalam hati.


Intan pun melajukan mobilnya menemui Sinta. Satu hari lagi pembukaan Restokafe Panti yang di danau. Pintu pertama Intan akan masuk kembali ke panti. Intan harus menyiapkan segalanya dengan baik.


****


Istana Tuan Aryo.


Sekitar jam 8 malam mobil Alphard Ardi masuk ke istana Tuan Aryo. Seperti biasanya Alya selalu tertidur jika naik kendaraan suaminya, apalagi jika perjalanan lebih dari 30 menit. Alyapun tertidur dengan nyaman di pangkuan suaminya. Seperti anak kecil yang nyaman berlindung, apalagi tinggi Alya yang hanya sepundak Ardi.


Meski sedikit pegal Ardi membiarkan istrinya terlelap. Ardi juga sangat bahagia, entah kenapa, setiap bersentuhan dengan istrinya seperti ada energi positif yang mengalir. Ardi menjadi tenang, nyaman dan bahagia.


"Tuan" ucap Arlan saat menghentikan mobil di depan istana Tuan Aryo.


"Ya, kenapa?" jawab Ardi lirih tidak ingin membuat istrinya kaget.


"Saat di rumah teman nyonya seperti ada mobil yang mengintai kita. Saya berhasil mengusirnya" tutur Arlan ragu menceritakan kejadian janggal tadi siang.


"Cari tahu siapa? Apa dia sempat melihat istriku?" jawab Ardi geram khawatir orang itu menyelakai istrinya.


"Saya kurang yakin Tuan, mobil itu berhenti di dekat pohon di depan rumah ke 3 dari kanan".


"Hmm!" Ardi berfikir sejenak. "Carikan pengawal perempuan untuk istriku"


"Saya butuh waktu Tuan"


"Dia cuti 10 hari, 3 sebelum cutinya berakhir bawa dia ke hadapanku" jawab Ardi.


"Baik Tuan"


Ardi diam mengeratkan rahangnya. Siapa yang berani mengikutinya? Anak buah Intan? Anak buah Tuan Wira? Atau orang yang tidak ingin Ardi mewarisi Gunawijaya grup?


Arlan bingung karena tuanya masih duduk di mobil bersama istrinya padahal sudah sampai rumah, sudah malam juga. Arlan juga ingin segera bertemu anak istrinya. Apa Arlan menunggu, atau keluar duluan. Akhirnya Arlan turun dan membukakan pintu mobil tuanya.


"Mau dibangunkan atau digendong Tuan?" tanya Arlan sedikit kikuk.


"Bagaiamana aku bisa gendong bangun saja susah" jawab Ardi menggerutu merasa Arlan hanya bosa-basi.


Mendengar Tuannya menggerutu Arlan diam.


"Kamu boleh pulang, biar gue parkirin sendiri" jawab Ardi. Arlan mengangguk dan berpamitan pada Tuanya.


Kini Ardi berdua dengan Alya di mobil.


"Maafin mas sayang" ucap Ardi merasa banyak bersalah ke istrinya. Alya harus memasuki kehidupan yang berbeda dari perempuan kebanyakan setelah menikah denganya.


Ardi menepuk pipi Alya lembut.


"Sayang, bangun udah sampai" ucap Ardi lembut sambil tersenyum. Alya membuka matanya perlahan, Alya masih menatap suamiya mengumpulkan kesadaran. Kepalanya terasa agak pusing.


"Lian pusing Mas" ucap Alya manja.

__ADS_1


"Bangun dulu sayang, mas mau parkirin mobil takut ujan" jawab Ardi.


"Huum" Alya mengangguk dengan imut, membuat Ardi tambah cinta. Lalu Alya bangun dan duduk menyandarkan kepala di jok mobil. Ardi berpindah tempat ke depan memarkirkan mobil di garasi besarnya.


Mata Alya terbelalak. Dua bulan menjadi istri Tuan Muda keluarga Gunawijaya, ini pertama kalinya dia masuk ke garasi suaminya. Garasinya bukan garasi rumah, tapi seperti sourum mobil. Koleksi mobil suaminya dan mertuanya ada 10. Mulai dari yang klasik sampai yang terbaru. Ternyata sekaya ini suaminya.


"Masih pusing sayang?" tanya Ardi berdiri di depan pintu jok tempat duduk Alya.


"Nggak" jawab Alya menggelengkan kepalanya masih terbengong.


"Mau mas gendong?" tawar Ardi.


"Ih nggak ah, jalan sendiri juga bisa" jawab Alya.


Lalu Ardi mengulurkan tanganya. Alyapun meraih tangan suaminya hangat dan keluar dari mobil. Alya mengedarkan pandangnya ke Garasi. Mobilnya terlihat terawat semua. Alya menelan salivanya heran.


"Mas" panggil Alya lembut.


"Iya sayang" jawab Ardi menatap istrinya hangat dan mengeratkan genggaman tanganya.


"Ini mobil Papah semua?"


"Lebih tepatnya punya mas. Papah cuma tiga" jawab Ardi tegas. Alya langsung melotot melihat suaminya dan menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Ardi heran.


"Mas koleksi barang kaya gini nggak dipakai dosa tau!" tegur Alya cemberut dan berusaha melepaskan tangan suaminya.


"Dipakai kok!" jawab Ardi membela diri karena memang Ardi penyuka mobil.


"Masa. Mas meninggal semua ini nggak dibawa mas? Perasaan mas paling suka si merah sama Alphard ini? Yang lain nggak pernah dipakai. Dua mobil itu cukup, ngapain punya sebanyak ini?" tanya Alya lagi protes.


Ardi hanya tersenyum melihat istrinya. Bingung mau jawab apa. Ardi sendiri punya komunitas yang suka koleksi mobil. Dan menurutnya biasa saja.


"Udah nggak usah dipikirin, ayo masuk, mas belum mandi. Mas juga laper belum makan" ajak Ardi merangkul istrinya tidak ingin berdebat.


Padahal teman-teman Ardi di luar lebih gila dari Ardi. Alya masih berdecak kesal. Pantas saja rumah Mama Rita gede banget.


Alya dan Ardi masuk ke istana Tuan Aryo lewat pintu belakang. Pak Yang sang koki sudah menyiapkan makan malam. Ardi dan Alya menuju ke kamarnya. Membersihkan badanya terlebih dahulu.


"Lian siapin air hangat ya" ucap Alya lembut.


"Katanya sayangnya mas ini pusing, udah istirahat aja. Mas siapin sendiri"


"Ih, kan aku lagi pengin siapin buat mas" jawab Alya tersinggung niatnya baiknya ditolak.


"Ya ya. Emang udah nggak pusing?" tanya Ardi dewasa dan hangat.


Alya menggelengkan kepalanya dengan manis. Melihatnya Ardi menjadi gemas. Lalu Ardi mencium kening Alya.


"Ya udah siapin. Temani mas mandi juga boleh"


"Lian udah mandi di kos Anya" jawab Alya masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bathub suaminya. Setelah penuh Alya menyiapkan handuk dan pakaian suaminya.


Ardi menyunggingkan bibirnya dan tersenyum sambil berjalan ke kamar mandi. "Makasih sayang" ucap Ardi saat bertemu di tempat pakaian.


"Lian tunggu, jangan lama-lama" ucap Alya memberi peringatan.


"Iya, nunggunya di dalem aja, temenin mas mandi. Nggak kangen apa?"jawab Ardi tersenyum penuh arti


"Kangen?" tanya Alya polos kan dari tadi udah bareng.


"Kangen junior mas" bisik Ardi ke Lian

__ADS_1


"Ish, mesum teros" jawab Alya sambil mendesis.


"Kan Lian sendiri yang bilang nungguin mas".


"Lian tunggu buat isyaan bareng. Lian belum sholat isya mas. Mas juga belum kan?"


Ardi menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena merasa malu. Mereka berdua memang belum sholat isya. Ardipun mandi secukupnya. Lalu mereka sholat bareng setelah itu makan ke bawah.


Di meja makan sudah tersedia menu makan malam yang disiapkan Pak Yang. Yang menu makanya adalah makanan western.


"Lian temenin mas aja ya?" ucap Lian.


"Kenapa nggak makan?"


"Lian nggak ngerti, mas kan orang Jawa. Ini semua menu apa sih? Kenapa mas suka banget makanan begini?" jawab Lian jujur.


"Hemmm, Omanya mas kan dulu di sini. Mas ikutin oma" jawab Ardi menerangkan.


"Hum, Lian tadi udah makan nasi lamongan. Udah kenyang"


"Ya ya" jawab Ardi segera makan. Selesai makan mereka berdua naik ke atas. Alya mengganti pakaianya dengan pakaian tidur yang dulu disediakan pas awal nikah. Kini Alya sudah tidak malu lagi mengenakanya. Alya pun terlihat cantik dan menggoda, dengan baju tidur minim berwarna merah dan rambut tergerai.


"Kok pakai baju itu? Sengaja mau nyiksa mas ya?" tanya Ardi nggak jelas.


"Lah lemari adanya ini, tas Lian masih di bagasi mobil" jawab Lian jujur.


"Ya udah nggak apa-apa, mas seneng kok"


"Hemm. Udah tidur nggak usah mikir kemana- mana" jawab Alya tau dan paham kelakuan suaminya. Alya pun naik ke tempat tidur dan memakai selimut.


Ardi memandangi istrinya ragu. Ardi ingin membuka pembicaraan tentang Farid, Intan dan Lila. Tapi dimulai darimana dulu. Malam ini mut istrinya sedang sangat bagus. Alya menjadi manis, penurut dan imut. Ardi tidak ingin merubahnya jadi mode on macan lagi.


"Kok bengong? Mikirin apa?" tanya Alya melihat suaminya melamun.


"Apa adhe masih marah sama mas?"


"Hemm, sebenernya masih, tapi Lian mau belajar buat nggak marah terus" jawab Lian tersenyum memiringkan tidurnya menghadap ke suaminya.


Ardi bersyukur mendengar jawaban Lian. "Huft" Ardi menghela nafas pelan bersiap cerita ke Lian.


"Ehm, sayang"


"Hemmm, apa?"


"Udah liat videonya yang mas kirim?"


"Udah"


"Sekarang percaya kan sama mas?"


"Iyah percaya, huam" jawab Alya pelan sambil menahan kantuk.


"Itu semua ulah Lila, dia rekan bisnis mas. Dia suka sama mas" lanjut Ardi ingin memberitahu Alya.


"Huam" Alya mendengarnya sambil menguap dan mulai memejamkan matanya


"Sayang, mas mau ngomong" ucap Ardi lagi.


"Hemmm" jawab Alya setengah sadar.


"Mas besok mau ketemu Farid, mas akan bilang tentang kita, kamu mau ikut? Baiknya ngobrol di luar atau di panti ya?" tanya Ardi ragu. Tapi tidak ada jawaban.


"Yang" panggil Ardi, tidak ada jawaban. Ternyata Alya kembali tertidur.

__ADS_1


"Hmmmm" Ardi menghela nafasnya kecewa. Bercerita tentang Intannya harus diundur lagi. Lalu Ardi ikut memejamkan matanya.


****


__ADS_2