Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
143. Traveling


__ADS_3

****


Di Jogja.


Di Rumah Bu Mirna pagi itu langit masih petang, kabut juga tebal, bahan dinginya udara seperti es yang menusuk ke tulang-tulang. Adzan subuh berkumandang. Menggugah umat muslim untuk beranjak menunaikan kewajiban.


Bu Mirna yang sudah bangun sejak pukul 3 menunaikan tahajud beranjak dari mihrabnya. Menggulung mukenah bagian bawah dan sajadahnya. Bukan untuk mengakhiri sujudnya, tapi berniat pindah tempat ibadah ke masjid.


Farid yang terbiasa bangun subuh juga sudah bangun. Meski udara dingin Farid berusaha melawanya. Menyadari dia sedang menumpang di rumah orang, Farid tidak mau bermalas-malasan.


"Udah bangun to Le? Bagaimana tidurnya nyenyak? " tanya Bu Mirna bertemu Farid di ruang tengah.


"Alhamdulillah nyenyak banget bu. Ibu mau jamaah?" tanya Farid sopan.


"Iya le, Mau ikut?" tanya Bu Mirna.


"Boleh Bu, saya ambil sarung dulu" jawab Farid ramah.


Bu Mirna tersenyum melihat laki-laki bertubuh atletis dan berwajah tenang itu. Farid memang laki-laki yang sholeh dan berhati baik. Jika saja dulu Bu Mirna tidak melarang Alya, laki-laki ini yang menjadi menantunya.


Tapi Bu Mirna percaya, garis tinta Tuhan yang terbaik. Niat Bu Mirna dulu melarang Alya menerima pinangan Farid karena Bu Mirna ingin Alya menyelesaikan magangnya. Bu Mirna juga tidak tahu seluk beluk dan orang tua Farid.


Bu Mirna tidak menyesali perbuatanya. Bu Mirna percaya Ardi jodoh terbaik Alya. Jodoh yang menurut Tuhan sesuai dengan Alya. Menerima segala kekurangan dan kelebihan sifat Alya.


Belum tentu jika Alya dan Farid bersatu orang tua Farid menerima Alya dengan baik. Begitu juga jika Farid tau kejelekan Alya belum tentu Farid bisa menerimanya.


Anya yang masih merasa takut terhadap Ardi juga sudah bangun. Anya bertekad membuktikan ke Ardi kalau mereka sahabat yang baik dan tahu diri. Pagi ini Anya memaksa dirinya bangun subuh dan bersiap ke dapur. Meski itu semua sama sekali bukan kebiasaanya.


Saat Anya membuka pintu, Anya mendengar dan melihat Farid dan Bu Mirna berbincang. Anya menutup pintunya kembali dan memilih menunggu Farid pergi.


"Aa Farid memang baik dan sholeh, apa itu sebabnya abi sangat percaya dan menyukainya" batin Anya di balik pintu.


Anya membuka pintu setelah dipastikan Farid dan Bu Mirna keluar rumah. Anya ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk sholat. Kemudian Anya membangunkan Dinda.


Kemudian Farid berjalan di belakang Bu Mirna, menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan yang masih petang. Farid menjadi kagum ke Bu Mirna, ternyata Alya dilahirkan dari rahim sebaik Bu Mirna.


Seharusnya yang sekarang berjalan menemani Bu Mirna, Ardi sebagai menantunya. Ah tapi biarlah. Bu Mirna tidak mau memaksa orang yang sudah dewasa. Bu Mirna yakin suatu saat nanti Ardi sadar sendiri.


Sementara Alya dan Ardi. Sebagai satu-satunya pasangan suami istri di rumah masih belum bangun. Aktivitas malamnya membuat keduanya tidur lebih malam dari yang lain.


Alya masih terlelap dipelukan suaminya. Keduanya masih sama-sama polos. Sentuhan kulit dengan kulit yang terbalut selimut menjadi obat paling manjur melawan udara dingin di rumah Alya. Semakin dingin udaranya semakin Ardi mengeratkan pelukanya.


Dinginya udara di pagi itu juga membangunkan benda pusaka Ardi yang sempat tertidur. Nasehat dan saran Dokter Sisa mereka lupakan. Alya dan Ardi sama-sama mengingkari kesepakatan berpuasa sampai trimester dua, dari kemarin.


Apalagi setelah diperiksa dan dipastikan dengan second opinion mereka. Tempat plasenta dan janin Alya baik. Tidak ada pembukaan serviks juga. Alya juga tidak mengalami kram perut ataupun nyeri punggung.


Meski puasa dan menunda jauh lebih aman, tapi Ardi tidak mengindahkan. Apalagi setelah diajari cara yang aman, yaitu tidak penetrasi di dalam. Karena kandungan prostatglandin dari cairanya bisa membahayakan.


Dokter juga menjelaskan jika kromosom bayi normal, letak implantasi janin normal, rahim normal, maka semua aman. Penjelasan itu membuat Ardi lebih nekat dan bersemangat.


Tuntutan dari benda pusaka Ardi itupun membuatnya bangun. Ardi kembali menggarap ladang gandumnya. Memberikan sentuhan surgawi yang kata orang bernilai ibadah dan memberi banyak pahala untuk Alya.


Menyadari ada yang traveling menjelajahi tubuhnya Alya terbangun.


"Maas" panggil Alya lembut sambil menggliat. Otak dan tubuhnya memberikan respon yang berbeda. Alya berusaha mencari letak jarum jam dinding di kamarnya.


"Udah ya Mas. Kan semalam udah" tutur Alya lembut memegang tangan suaminya, menahan tangan Ardi agar tidak berjalan lebih jauh. Alya melihat jam dinding sudah jam 04.45.


"Dingin sayang, Mas mau lagi" bisik Ardi manja.


"Udah subuh, nanti kita kesiangan lho subuhnya. Udah bangun yuk! Lian takut," tegur Lian lembut.


Lian merasa tubuhnya sangat lelah. Tapi suaminya masih selalu bersemangat dan tampak sehat.


"Sebentar aja yah. Biar mandinya sekalian. Mas janji ikuti kata dokter" jawab Ardi menawar.


Pasrah apapun yang terjadi, Lian memilih mempercayai suaminya. Menjalankan kewajibanya sebagai istri. Lian juga ingin Ardi tetap di sisinya. Menjalani kehidupan bahagia sampai tua.


Buat Lian pagi itu rasanya sudah tidak seindah sebelumnya. Lian hanya menggenapi tugasnya. Dia hanya pasrah mengikuti suaminya. Di otak Alya hanya dipenuhi doa semoga aman dan suaminya cepet selesai menuntaskan hajatnya.

__ADS_1


****


Bu Mirna dan Farid pulang dari jamaah. Meski tidak jelas terdengar, saat melewati kamar Ardi, Farid mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar.


Farid tersenyum dan geli sendiri. Ada bara panas yang bersarang di dadanya. Bukan lagi karena cemburu, tapi karena Farid menyadari, sekarang juga sudah waktunya Farid menikah. Farid harus berjuang mendapatkan Anya menjadi istrinya.


Farid meletakan sarungnya kembali ke kamar. Kemudian keluar, berniat ke kamar mandi di dekat dapur, Farid ingin jalan pagi menikmati pemandangan perkebunan teras siring di sekitar rumah Alya. Tapi semua itu dia urungkan, ternyata Dinda dan Anya sedang di dapur.


"Lagi pada ngapain?" tanya Farid menyapa Anya dan Dinda.


"Lagi mau bikin teh Kak, sama mau masak. Tapi kita bingung mau masak apa? Kita nggak bisa masak" jawab Dinda polos.


Sementara Anya diam saja, menahan rasa canggung di hatinya saat bertemu dengan Farid. Sejak semalam Anya bertempur sendiri dengan perasaanya. Anya menunduk menghindari pandangan Farid


"Benarkah dia akan jadi suamiku, apa iya Farid orang yang akan menghabiskan waktu di sepanjang hidupku. Apa iya Farid orang yang akan jadi ayah dari anakku. Ah tidak- tidak" itulah yang selalu memenuhi otak Anya sampai susah tidur.


"Wah calon-calon istri solekhah kalian. Makasih ya teh nya" jawab Farid melirik ke Anya yang tampak menunduk.


"Denger-denger Bu Mirna itu penjual makanan lho. Katanya masakanya enak. Tanya Bu Mirna aja" sambung Farid memberi ide.


"Oh iya ya" jawab Dinda.


Dan benar saja, Bu Mirna keluar kamar menuju ke dapur. Bu Mirna datang dengan daster ala emak-emaknya. Dengan kepala di tutup ciput rapat. Bu Mirna tersenyum ke mereka.


"Lagi podo ngopo Le? Nduk?" tanya Bu Mirna ramah dan menenangkan.


"Ini bikin teh, Bu. Silahkan diminum" jawab Dinda ceria menunjukan teko berisi teh dan gelas tertata di meja.


"Wah matursuwun Nduk ayu. Alya dimana?" tanya Bu Mirna tidak melihat anaknya. Ternyata belum bangun sendiri.


"Ehm Ehm" Farid berdehem menyembunyikan apa yang dia dengar. Farid bisa menebak apa yang sedang Alya lakukan bersama suami gesreknya.


"Alya semalam udah cuci alat masak dan piring banyak Bu. Sekarang giliran kita yang masak" jawab Anya bijak.


"Ajarin kita masak ya Bu" sahut Dinda.


"Coba keluarkan isi kulkas ada apa aja!" tutur Bu Mirna mulai membimbing tamunya.


Anya segera pun membukanya, ada tempe dan bahan sop. Lalu Bu Mirna mengajari Anya dan Dinda membuat sop dan tempe mendoan. Sementara Farid memilih mengambil sapu dan bersih-bersih.


Setelah mandi keramas, sholat subuh dan mengeringkan rambut Ardi baru membuka pintu kamarnya. Untungnya Alya memakai jilbab jadi mudah menyembunyikan rambut dan lehernya.


Saat Ardi dan Alya keluar kamar, tempe mendoan dan teh hangat sudah terhidang di meja ruang tamu. Bekas Farid dan Dika rebahan nonton bola juga sudah rapih.


Bahkan Farid sudah duduk di teras dengan rambut basah dan wangi. Lengkap memakai sneakers nya. Farid tampak sedang berbincang dengan seseorang di telpon. Farid sudah siap untuk berangkat traveling.


Alya masuk ke dapur, ternyata dapur juga sudah rapih. Tempe goreng, sop dan sambal sudah tersaji di meja. Di dalam kamar mandi terdengar gemericik air. Rupanya salah satu dari Anya dan Dinda sedang mandi.


Alya mengusap tengkuknya merasa malu. Ternyata dirinya dan suaminya kesiangan.


"Mas Ardi benar-benar tidak tahu malu ih" gumam Alya duduk di kursi.


Suara gemericik air berhenti gagang pintu kamar mandi berputar. Anya dengan rambut basah dan wajah segar keluar dari kamar mandi. Wajahnya berbinar dengan tatapan takut dan sungkan menatap Alya. Sementara Alya menatap malu ke Anya. Kemudian Anya mendekat ke Alya masih dengan handuk di tangan.


"Al. Gue minta maaf ya. Tentang semalem" ujar Anya menunduk dan merasa tidak nyaman sudah dimarahi suami Alya.


"Minta maaf? Apa salahmu?" tanya Alya tercengang seharusnya Alya yang minta maaf karena bangun siang. Temanya bekerja keras dirinya malah asik bergumul dengan suaminya. Begitu fikir Alya.


"Lo sehat dan baik-baik aja kan? Maaf semalam nggak bantuin kamu dan ninggalin kamu" ucap Anya menunduk.


"Ehm. Ehm" Ardi datang dari depan mendengar permintaan maaf dari Anya. Ardi memberi kode ke Anya jangan membahas ke Alya.


Siap-siap nih Ardi dimarahi Alya balik


Mendengar langkah dan suara Ardi, Anya memucat. Seperti nasehat Farid Anya mengumpulkan keberanian meminta maaf. Padahal mau Ardi sudah lupakan saja. Tapi justru Anya membuka mulut dan minta maaf.


"Kak Ardi, untuk yang semalam saya minta maaf, saya harap Kak Ardi tidak marah lagi dan memaafkan saya" tutur Anya sopan dan menunduk


"Glek" Ardi menelan salivanya. Mata Alya sudah melotot ke arahnya.

__ADS_1


"Iya Dokter Anya. Saya juga minta maaf sudah bicara kasar. Terima kasih" jawab Ardi lirih dan sopan. Siap menerima omelan dari istrinya.


"Ini maksudnya apa ya?" tanya Alya mulai curiga. Lalu Anya memilih pamitan. Tapi saat hendak pamit dicegah Ardi.


"Kalian libur sampai kapan?" tanya Ardi tidak menjawab pertanyaan Alya.


"Nanti sore rencana balik ke Jakarta Kak"


"Naik apa?"


"Pesawat"


"Udah pesen tiketnya?"


"Belum, rencana abis ini Kak" jawab Anya lagi.


"Ikut gue aja. Naik pesawatku. Kasih tau Farid" jawab Ardi dingin.


"Baik Kak" jawab Anya mengangguk menoleh ke Alya lalu pamit siap-siap jalan-jalan. Karena ternyata Dika dan mobil jeep traveling lava tournya sudah datang.


"Mas ini maksudnya apa? Kok Anya minta maaf terus Mas mau ke Jakarta nanti sore? Mas jelasin!" ucap Alya bingung.


"Dino telpon sayang, perusahaan butuh Mas. Maaf Mas nggak bisa lama-lama di sini. Masalah Anya, nggak usah dibahas. Udah lupain!" jawab Ardi dingin dengan ekspresi malas.


"Kok gitu sih Mas, Lian masih pengen di sini. Ibu lho belum sembuh. Lian nggak usah ikut boleh nggak?"


"Nggak! Kamu ikut Mas!"


"Maaas"


"Nggak ada tawar menawar! Pulang ke Jakarta nanti sore!"


"Ck. Terus Ibu gimana? Lian nggak suka naik pesawat. Lian di sini aja yah sampai cuti Lian abis"


"Nggak sayang. Pesawat papah nyaman kok. Kamu bisa tidur sama Mas. Kita ajak ibu kalau ibu mau. Abis ini kita temui Lastri dan keluarganya buat jaga rumah ini"


"Maas?" panggil Alya manyun dan menunduk.


Alya belum mau ke Jakarta lagi. Meski di kampungnya sepi, jauh dari peradaban, dan tidak ada pelayan. Alya merasa kampung halamanya tempat ternyaman untuknya.


"Hiks hiks" Alya mengeluarkan jurusnya dengan menangis merayu Ardi. Memohon agar diijinkan tetap tinggal di Jogja untuk beberap hari.


"Jangan nangis gitu dong sayang? Mas mohon mengertilah. Papah nggak ada di Jakarta, Mas nggak bisa ningalin kantor lama-lama"


"Mas ke Jakarta aja. Lian tetap di sini temani ibu"


"Mas nggak bisa jauh dari kamu. Apalagi pergi tanpa kamu" jawab Ardi memegang tangan Lian. "Pulang sama Mas, oke!"


"Cuma berapa hari aja Mas" Lian masih berusaha menawar.


Dari arah ruang tamu Bu Mirna datang. Bur Mirna menggelengkan kepalanya melihat anak dan menantunya sedang tawar menawar. Ada saja yang jadi bahan perdebatan.


"Kok kalian masih di sini. Itu lho Nak Dika udah datang" tutur Bu Mirna.


"Kita nggak ikut Bu" jawab Ardi sopan.


"Yo, setidaknya keluar, sepertinya mereka mau berangkat" jawab Bu Mirna lagi.


"Nggeh Bu" jawab Lian menyeka air matanya. Lalu mereka keluar menyapa Dika, Supir Jeep, dan teman-teman nya.


"Handhphone kalian dijaga! Hati-hati ya" tutur Lian memperingati sahabatnya.


"Sayang banget ya Al lo nggak ikut" keluh Anya menatap Alya.


"Nggak apa-apa mobilnya kan nggak muat. Siap-siap basah-basahan" jawab Alya ramah.


"Oke kita berangkat yah!" pamit Dinda.


"Iya. Hati-hati, happy traveling ya" jawab Alya ceria. Mereka berlimapun pamit ke Bu Mirna dan Ardi.

__ADS_1


__ADS_2